
Pertemuan yang dihadiri oleh semua orang yang memiliki andil dalam penanganan masalah bencana alam yang akan menimpa wilayah selatan ini, sekarang berubah suasana menjadi sangat tegang. Muncul perbedaan pendapat yang mana mengikuti tradisi atau mengikuti perkembangan jaman. Disini, Kaisar sangat dilema menentukan keputusan, karena beliaulah yang menjadi penentu akhir keputusan.
Ucapan Alaglosa memang tidak salah, bahkan itu sangat lah benar. Hanya saja, masyarakat di wilayah selatan sejak dulu hingga kini sudah terbiasa menjalani seperti apa yang selama ini disebut tradisi oleh pendahulu Kaisar. Yang menjadi pertanyaan di benak Kaisar, apakah masyarakat bisa mengikuti perubahan, atau justru memperkeruh keadaan sekarang.
Tyrian pun paham dengan kegelisahan yang dialami oleh ayahnya. Ucapan sang istri sebenarnya mendapatkan dukungan darinya. Bukan karena tidak menghargai tradisi di wilayah selatan, hanya saja saat ini kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk melakukan sesuai saran Lopus dan justru saran dari Alaglosa lah yang sangat tepat digunakan sekarang. Tapi, mengingat sang ayah, Tyrian pun ragu untuk mengungkapkan pendapatnya.
" Pertemuan kita akhiri sampai disini saja dahulu.. Biarkan Kaisar memikirkan langkah yang tepat yang harus kita lakukan.. Hanya saja perlu kalian ingat, tradisi bisa dikalahkan dengan kondisi dan situasi yang genting.. " ucap Tyrian membubarkan pertemuan.
" Baik My Lord.. " Lopus mewakili semua orang menjawab ucapan Tyrian. Kemudian dia pun mengajak semua orang untuk keluar dari ruangan itu.
Begitu para petinggi kerajaan wilayah selatan keluar dari ruangan pertemuan tadi. Suara riuh orang berkomentar tentang pendapat Alaglosa mengisi sepanjang perjalanan mereka kembali ke tempat mereka bertugas. Ada sebagian yang setuju dengan ucapan Alaglosa karena memang kondisi saat ini tidak memungkinkan mengurangi jumlah pasukan yang memang tidak banyak itu.
Hanya saja, banyak diantara mereka yang tidak setuju, bahkan ada yang mengatai Alaglosa sok tahu dan orang awan di wilayah ini. Beruntung tidak ada dari pihak Tyrian yang mendengar, atau orang yang mengatai Alaglosa akan langsung dipotong lidahnya oleh Tyrian.
Di dalam ruang pertemuan yang kini hanya ada tiga orang saja, suasananya memang sudah mencair. Namun kecanggungan masih menyelimuti ketiga orang yang berada di ruangan itu. Hanya Alaglosa saja yang sama sekali tidak mengubah mimik wajahnya karena dia percaya dia tidak melakukan kesalahan disini.
" Ayah.. Maafkan aku, tapi aku harus mengatakan bahwa ucapan istri ku benar adanya.. Kita tidak bisa mengurangi jumlah pasukan karena tidak memiliki satu saja informasi tentang kekuatan dari monster ini dan apa akibat dari kemunculannya.. " ucap Tyrian langsung mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
" Kau paham kan, bahwa selama ini kita berpegang teguh pada tradisi. Mengubahnya hanya dalam waktu semalam, hanya akan memunculkan pemberontakan dari mereka semua.. " ucap Kaisar yang merasa semakin dilema saat putranya justru membenarkan ucapan menantunya.
" Kalau begitu tinggal kita membuat situasi yang membuat masyarakat tidak memiliki pilihan selain mengikuti apa yang akan pemerintah terapkan.. Yang paling ditakutkan dari masyarakat yang tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup adalah ketika mendapatkan badai besar, maka semuanya akan luluh lantah.. " Kaisar menghela nafas mendengar menantu kesayangannya ini tetap kekeh dengan pendapatnya.
" Beri aku waktu untuk berpikir.. Semua ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu semalam.. " pinta Kaisar memelas.
" Tentu.. Asal yang mulia paham bahwa waktu kita tidak banyak.. " Alaglosa pun pamit untuk menjalankan tugasnya setelah tertunda karena pertemuan tadi.
Tyrian dan Kaisar sama-sama menghela nafas lelah setelah melihat Alaglosa meninggalkan ruangan ini. Bukan tidak menyukai Alaglosa, tapi karena sifat Alaglosa yang sangat kritis itu, membuat kedua orang ini takut jika Alaglosa akan dipersulit oleh para petinggi kerajaan dan masyarakat. Kedepannya, hidup Alaglosa tidak akan berjalan dengan mulus jika mendapatkan kebencian dari semua orang.
" Dia tidak salah ayah.. Ucapan Ossa itu benar karena kita kekurangan pasukan.. " Tyrian berucap dengan bahasa informal ketika hanya berdua dengan sang ayah.
" Kita harus menciptakan situasi yang membuat rakyat dan para petinggi tidak memiliki kemampuan untuk menolak kita, ayah.. "
" Kita pikirkan masalah itu segera.. Jika kau tetap kekeh dengan saran istri mu, maka bantu ayah menciptakan situasi yang bisa menekan mereka semua.. " Tyrian mengangguk.
Setelah perbincangan singkat itu, ayah dan anak ini pun berpisah untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Rencananya hari ini, Tyrian akan pergi ke gunung berapi yang dalam hitungan hari itu akan segera meletus. Tyrian ingin melihat dengan kepalanya sendiri situasi genting ini. Mungkin, dia bisa menemukan cara untuk mengatasi ini semua agar tidak perlu banyak korban berjatuhan.
__ADS_1
" Fandim.. Bawa pasukan mu dan ikut aku ke tempat yang menjadi sumber masalah kita kali ini.. " titah Tyrian tidak dapat diganggu gugat.
" Baik Tuan ku.. " Fandim langsung mengerjakan apa yang tuannya perintahkan.
Begitu pasukannya siap, Tyrian langsung memacu kudanya menuju ke tempat yang sekarang ini mencuri perhatian semua penghuni wilayah selatan. Tyrian berharap dia bisa mendapatkan petunjuk ketika pergi ke sana. Selain itu, tujuan Tyrian ke tempat itu untuk memastikan apakah bisa menjalankan rencana sesuai ucapan Lopus, atau mengusahakan rencana milik sang istri.
Butuh waktu setengah hari untuk sampai ke tempat yang dituju oleh Tyrian dan pasukannya. Ketika sampai di tempat tujuan, langit sudah menjadi gelap. Tapi hal itu tidak menyurutkan tekad Tyrian untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri kondisi dari gunung berapi yang kembali aktif setelah seratus tahun lebih itu.
" Tuan. Apa tidak sebaiknya anda istirahat terlebih dahulu? " tawar Fandim.
" Kau dan yang lainnya istirahat dulu.. Besok pagi, berkumpul di kaki gunung karena aku ingin kalian semua melakukan sesuatu.. Dan tugas ku sekarang memastikan apa yang akan aku tugaskan pada kalian besok.. " titah Tyrian yang langsung diangguki Fandim. Bohong jika dia dan pasukannya tidak kelelahan, karena sebelum melakukan perjalanan ini, mereka sudah lebih dulu berlatih persiapan ketika bencana yang akan terjadi itu tiba.
Tyrian seorang diri menaiki jalanan yang mengarah ke sebuah bangunan yang merupakan tempat para pengamat untuk mengamati aktifitas gunung berapi. Bangunan itu, cukup besar karena di dalamnya terdapat cukup banyak orang yang bekerja di bawah pengawasan Lopus. Mungkin juga, Lopus sudah berada di bangunan ini seusai dia mendatangi pertemuan pagi tadi.
Kedatangan Tyrian, disambut oleh marquess Vollin yang mulai beberapa waktu yang lalu, ditunjuk Kaisar untuk menjadi penanggung jawab tempat ini.
" Kenapa anda tidak mengabarkan kedatangan anda terlebih dahulu, My Lord.. " Marquess Vollin memberi hormat.
__ADS_1
" Aku ingin melihat situasi dan kondisi saat ini, sebelum aku membuat keputusan untuk masalah pasukan yang akan disiagakan di Basilik dan Eldrogo.. " ujar Tyrian.
" Mari saya antar anda untuk berkeliling, My Lord.. " marquess Vollin memimpin jalan untuk Tyrian melihat-lihat kondisi di sekitar gunung berapi ini.