Lord Of Chronos And Choros

Lord Of Chronos And Choros
Tidak menolak dan tidak menerima


__ADS_3

POV ALAGLOSA


Aku benar-benar merasakan lega karena terbebas dari situasi yang tidak mengenakan tadi. Beruntung sekali jendral Kaida lewat sehingga aku bisa selamat dari pria yang katanya adalah calon suami ku, tapi kenyataannya pria itu adalah dewa kematian yang dikhususkan untuk ku.


" Jendral... Terima kasih sudah menyelamat ku dari situasi yang tidak menyenangkan tadi.." ujar ku masih terus berjalan bersama dengan Kaida. Entah kemana langkah kaki kami akan membawa, yang jelas kami nyaman berjalan bersama begini.


" Tidak menyenangkan? Bukankah yang mulia putra mahkota adalah calon suami anda?" tanyanya sedikit penasaran. Dia pun bertanya karena ingin menuntaskan rasa penasaran itu sendiri meski raut wajahnya menampilkan kesedihan saat bertanya.


" Calon suami? Aku bahkan berharap tidak akan ada benang merah di dalam takdir kami.. Sungguh." kedua mata kami bertemu. Baik aku dan dia sama-sama saling melihat satu sama lain dengan perasaan berkecamuk.


" Jika aku katakan bahwa dia adalah pembawa kematian bagi ku, apa anda akan percaya?" tanya ku yang entah kenapa ingin bertanya seperti itu pada pria di samping ku ini.


" Kenapa anda bisa mengatakan hal seperti itu? Jika hal ini didengar oleh putra mahkota, maka anda akan disangka menyumpahinya.." candanya tidak ingin jika kami terus membicarakan putra mahkota.


" Tapi kenyataannya memang begitu.. Karena itu, malam dimana kita bertemu untuk pertama kali, akku mengatakan bahwa aku membutuhkan bantuan anda untuk melakukan sesuatu.. Apa anda mau mendengarkan ucapan ku kali ini?"


Pria bernama Kaida terdiam menatap mata ku untuk mencari sebuah kebenaran dari mata ku. Dan benar saja, mata dengan warna hijau emerald ini sama sekali tidak menunjukan adanya kebohongan. Aku yakin jika sekarang ini dia pasti berpikir dari mana aku bisa mengetahui ini semua. Tapi aku tidak mungkin mengatakan padanya tentang apa yang aku alami karena pria ini pasti tidak akan percaya.


" Maaf sebelumnya tuan putri, tapi apa yang bisa saya lakukan untuk anda? Dan kenapa harus saya?" tanyanya.

__ADS_1


" Bawa aku pergi dari tempat ini tanpa ada yang mengetahuinya. Dan kenapa anda, karena anda adalah seseorang yang baik hati.. Aku yakin anda akan menolong ku. " ujar ku begitu percaya diri.Tapi sepertinya kepercayaan diriku tidak berbalas karena nyatanya dia diam saja seribu bahasa.


Aku jadi berpikir apakah aku terlalu membebaninya dengan masalah yang bukan urusannya. Atau karena memang dia tidak percaya pada ku dan enggan membantu karena itu. Entah yang mana yang benar, tapi jujur saja aku sedikit kecewa dnegan ketidakpastian yang dia tunjukan pada ku. Dia tidak menolak juga tidak menyanggupi permintaan ku. Lalu apakah aku masih memiliki harapan?


" Tidak perlu anda berpikir terlalu keras jendral.. Akku sungguh tidak ingin membebani anda.." ujar ku berusaha menenangkan diri ku sendiri.


POV KAIDA


Melihatnya menampilkan wajah kecewa karena aku yang tidak memberinya kepastian, jujur saja hati ku terasa sakit. Bukan aku tidak mau membantunya, tapi aku tidak bisa karena ada sesuatu yang mengikat keluarga ku. Sejujurnya, keluarga ku memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Amanecer. Kami memiliki perjanjian dimana keluarga ku harus tetap mengutamakan keluarga kerajaan Amanecer, di atas rakyat ku sendiri.


Keamanan Anchestral Land berada di tangan keluarga ku dan tentunya itu membuat kami tunduk dengan kepemimpinan King Kriston dari kerajaan Amanecer meski kami tidak suka sekalipun. Jika dia benar adalah calon istri dari putra mahkota, maka aku akan melanggar perjanjian keluarga ku dengan kerajaan karena membantu melarikan calon putri mahkota.


Ingin aku memeluknya dan membawanya pergi bersama ku. Sejak pertama melihatnya aku sudah memiliki ketertarikan yang tidak bisa aku jelaskan secara gamblang. Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan ku pada gadis ini, dimana pun dia berada. Rasanya dia seperti memiliki magnet yang menarik ku untuk selalu berada di dekatnya. Inikah yang disebut dengan cinta?


" Maafkan saya tuan putri.. Saya belum bisa memberikan anda jawaban sekarang.." ujar ku agar dia tidak berkecil hati. Entah aku tidak tahu kenapa aku mengatakan ini padanya. Aku tidak memikirkan bagaimana nanti, yang aku tahu aku hanya tidak ingin melihatnya kecewa.


" Tidak usah dijadikan beban, jendral. Ini memang tidak ada sangkut pautnya dengan anda, tapi aku dengan lancang meminta bantuan anda. " sudah aku duga dia kecewa. Dengar saja cara bicaranya, terdengar begitu putus asa.


" Maafkan atas kelancangan saya. Tapi saya sungguh tidak ingin memberikan anda harapan semu, karena saya tidak bisa memutuskan membantu anda atau tidak.. Ini karena anda adalah...."

__ADS_1


" Calon putri mahkota ya..." dia langsung memotong ucapan ku. Sepertinya dia benar-benar sangat kecewa.


" Eh.... Kemana kita akan pergi? karena mengobrol dengan anda membuat saya tidak tahu kemana kaki kita melangkah.." aku sengaja mencari pembicaraan lain agar dia tidak sedih.


Aku yakin gadis cantik di samping ku ini tahu jika aku sengaja mengubah topik pembicaraan karena kesedihannya. Dan seolah dia memikirkan perasaan ku, dia tetap menanggapi obrolan kami. Aku sangat cocok ketika berbincang dengannya. Atau karena aku mencocokan diri dengan gadis ini.


" Ini adalah jalan menuju ke istana lama.." jawabnya.


" Apa yang membuat kalian pindah ke istana yang baru? Apa ada sebuah peristiwa yang aneh?" tanya ku berusaha membuatnya melupakan kesedihannya karena ku.


" Sejak ibu ku meninggal. Ayah mengatakan disana terlalu banyak kenangan antara ayah dan ibu, jadi beliau menutup istana lama dan membangun istana baru di tempat yang ramai tadi. " aku manggut-manggut. Ternyata ada juga kejadian seperti itu di dunia ini.


Kami pun berjalan menuju ke sebuah bangunan luas mirip dengan kastil tapi ini terlihat sedikit sederhana, tapi sangat besar sekali. Aku bisa melihat beberapa penjaga ada di kawasan itu. Aku pun sebenarnya merasa aneh karena bangunan tua saja bisa sampai disediakan penjaga. Apa ada sesuatu yang disembunyikan di tempat ini. Aku mulai berpikir tentang masalah ini.


" bagaimana menurut anda rumah ku? Apakah bagus?" dia sekarang terlihat lebih baik dari yang sebelumnya.


" Bagus... Tapi menurut saya jauh lebih baik bangunan kastil yang ada di wilayah selatan. Tempat dimana mahkluk naga pernah tinggal.." jawab ku yang jelas justru sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Dan lihatlah sekarang, dia bisa memperlihatkan raut wajah yang lucu dengan bibir yang ditekuk begitu.


" Hahahahaha... Anda lucu sekali jika berekspresi seperti itu.. Saya beruntung bisa melihatnya..." ujar ku membuat dia malu.

__ADS_1


Mata kami bertemu sesaat, aku bisa melihat pipinya merona karena ucapan ku barusan. Tapi aku tidak bohong, bahwa dia terlihat sangat lucu dan aku senang karena hal itu. Jantung ku berdetak dengan kencang saat melihat dia tersenyum pada ku. Oh, lihatlah sekarang dia mencoba untuk membalas ku. Apa dia bisa mendengar detak jantung ku saat ini? Apakah dia merasakan yang aku rasakan? Akku berharap suatu saat nanti, aku bisa mendengar jawaban pertanyaan ku ini.


__ADS_2