Lord Of Chronos And Choros

Lord Of Chronos And Choros
Sesuatu yang akan bangkit


__ADS_3

Matahari bersinar begitu terang pagi ini, sinarnya bahkan sampai masuk ke celah-celah jendela hingga mengenai wajah Alaglosa yang masih terlelap. Waktu sudah menunjukan hampir jam makan siang, tapi sepertinya Alaglosa masih betah bergelung dalam selimut. Salahkan saja suaminya, yang semalam terus dan terus menerjangnya hingga pagi hampir menjelang. Menurut Tyrian, tubuh Alaglosa benar-benar sangat indah sehingga gairah yang sudah tuntas kembali muncul.


Usapan lembut mengenai pipi Alaglosa, membuatnya bergerak semakin mendekat ke arah dimana yang dia tahu di sana ada suaminya. Rasanya nyaman berada dalam pelukan pria satu ini. Hatinya pun merasa damai, mungkin karena ini adalah hal yang seharusnya dia lakukan dulu.


" Bangun putri pemalas... Matahari bahkan sudah condong ke timur dan kau masih asyik tidur.. " suara ini,, Alaglosa mengingat bagaimana suara ini semalam terus bersahut-sahutan dengan suaranya saling mendesah dan mengerang bersama. Mengingatnya Alaglosa malu sendiri, hingga dia semakin menyembunyikan wajahnya di dada polos suaminya.


" Kau sedang memancing ku ya? Apa kau mau lanjut satu ronde lagi? Anggap saja pengganti waktu pagi tadi.. "


" Ish.. Semalaman apa masih kurang, bahkan selesai baru pagi menjelang tadi.. Sekarang kau sudah berbicara hal yang mesum lagi... Minggir aku mau mandi.. " Alaglosa mendorong tubuh suaminya.


Tyrian terbahak melihat tingkah istrinya ini, sungguh hiburan tersendiri memiliki Alaglosa di dalam kehidupannya ini. Rasanya tidak bisa dibayangkan, andai wanita yang kini menjadi istri itu tidak bersamanya. Mungkin dunia akan kiamat saat itu juga.


Tyrian meninggalkan sang istri yang akan membersihkan diri. Dia sudah bangun dari tadi bahkan sudah membersihkan diri di kamar pribadinya. Setelah selesai, Tyrian kembali ke kamar sangat istri memang karena masih belum puas memandangi wajah cantik dan imut milik istrinya itu


" Siapkan air mandi untuk nyonya kalian..!! " titah Tyrian pada pelayanan yang ada di luar kamar Alaglosa.


Setelah Tyrian pergi, Alaglosa turun dari ranjang dan langsung menutupi tubuhnya yang sudah banyak sekali bercak merah ulah suaminya itu dengan jubah mandinya. Malu juga jika ada yang melihat dirinya dengan banyaknya bekas percintaan mereka semalam. Alaglosa berjalan ke pintu lain yang bukan mengarah ke kamar pribadi suaminya, melainkan pintu itu adalah ruangan untuk dia membersihkan diri dan juga menyimpan pakaian yang dia miliki.


Begitu masuk, mata Alaglosa membulat sempurna ketika melihat siapa-siapa saja yang ada di depannya ini. Dua pelayan paling dia sayangi selama ini tiba-tiba saja sudah ada di tempat dimana dia berada. Lalu siapa yang menjemput mereka? Kapan?

__ADS_1


" Kalian disini? Bagaimana ceritanya? " tanya Alaglosa pada Bhuralea dan Briareth.


" Pertama selamat nyonya atas pernikahan anda.. Kedua, kami tiba kemarin malam dan kami dijemput oleh urusan dari yang mulia Lord Tyrian." jawab Bhuralea begitu sopan.


" Kenapa dengan nada bicara mu? " tanya Alaglosa menatap curiga pelayan pribadinya ini.


" Dia begitu senang karena anda menikah dengan calon pewaris wilayah selatan. Jadi dia sedang berlatih untuk menjadi pelayan pribadi Lady Alaglosa.. Begitu kiranya nyonya.. " Briareth yang menjawab.


Alaglosa langsung terbahak mendengar bagaimana pelayan pribadinya mulai bertingkah. Jujur saja Alaglosa tidak nyaman dengan itu semua, mereka terbiasa bersikap santai selama dua tahun ini. Bahkan tidur pun di kamar yang sama, tapi baik Bhuralea ataupun Briareth tidak sama sekali melupakan tata krama mereka sebagai pelayan. Tapi menurut Alaglosa, yang ini sangat berlebihan.


" Kau mengulangi lagi.. Aku akan meminta suami ku mengganti mu.. " Alaglosa menatap tajam Bhuralea.


" Ish... Nyonya tidak asik sama sekali.. Saya kan sedang latihan nyonya.. " protes Bhuralea kembali ke tabiat aslinya.


Alaglosa pun langsung mandi dengan dibantu oleh dua pelayan kepercayaannya. Alaglosa memilih berendam dengan air yang hangat yang sudah diberi wewangian yang bisa merilekskan badannya. Terbukti, begitu tubuhnya berendam, rasanya yang sakit sudah tidak lagi sakit. Akibat percintaan panas penuh gelora semalam, tubuh Alaglosa rasanya remuk redam. Sungguh sangat pegal sekali, tapi sekarang tubuhnya sudah kembali rileks.


Tidak bisa dipungkiri Alaglosa begitu bahagia karena yang melayaninya adalah pelayan dan pengasuhnya sendiri. Alaglosa mengingat dengan jelas di kehidupan sebelumnya, kedua orang ini mengalami ketidakberuntungan karena dirinya. Bhuralea dibunuh ketika menghalangi Assassin milik raja muda yang membawa Alaglosa untuk diculik. Sedangkan Briareth yang Alaglosa ketahui harus meregang nyawa tak lama setelah Alaglosa dipenjara. Alasan kenapa Briareth dibunuh saat itu pun Alaglosa tidak tahu hingga dia mati dipersembahkan untuk dewa.


Keasyikan melamun, sampai Alaglosa tidak sadar dia sudah berendam terlalu lama. Kesadarannya kembali saat dia merasakan perutnya sangat lapar sekali. Dia pasti sudah melewatkan sarapan dan juga makan siang karena kelelahan semalam memuaskan suaminya. Tidak boleh mengeluh Alaglosa, bukanlah melayani suami adalah hal yang disukai oleh dewa. Kau bisa mendapatkan berkah.

__ADS_1


Ketika turun ke lantai bawah, mata Alaglosa bertemu tatap dengan mata ayah mertuanya. Alaglosa langsung menunduk karena malu melihat tatapan mengejek dari ayah mertuanya. Kenapa bisa Tyrian yang dingin dan tidak tersentuh itu bisa memiliki ayah modelan seperti ayah mertua Alaglosa ini. Alaglosa langsung tersadar dan berusaha mengenyahkan pikiran barusan karena dia teringat ayah mertuanya bisa membaca pikiran seseorang.


" Tentu saja dia anak ku.. Hanya saja sifatnya itu menurun dari ibunya.. Bisa apa aku, toh wajahnya sudah mewarisi ketampanan ku.. " ujar Kaisar ketika Alaglosa menyapanya.


" Tidak bisa kan anda tidak setiap saat melakukannya.. Sungguh saya merasa sangat berdosa karena ini.. " Alaglosa menatap sang ayah mertua penuh iba.


" Kau pikir aku bisa mengaturnya.. Tentu saja tidak. Aku sendiri kalau boleh jujur juga tidak suka dengan hal itu.. Membuat ku pusing saja mendengarkan pikiran orang-orang yang aneh itu.. " Kaisar tiba-tiba saja kesal.


Kaisar pun pergi meninggalkan Alaglosa dengan wajah yang merah padam karena malu. Sepertinya kehidupannya di kehidupan yang ini akan sangat ramai dan dipenuhi dengan berbagai macam perasaan yang sesungguhnya. Tidak seperti kemarin dulu, dia bahagia namun hanya sebuah semu belaka.


" Hans... Dimana suami ku? " Alaglosa bertanya pada kepala pelayan yang mengurusi kastil keluarga selatan di wilayah ibukota Amanecer.


" Yang mulia sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan count muda Ellwort dan yang mulai pangeran Codnille.. " Hans menunduk memberi hormat setelah menjawab pertanyaan Alaglosa.


" Terima kasih... " Alaglosa melangkahkan kakinya ke halaman belakang yang di tumbuh banyak sekali bunga-bunga yang indah.


Alaglosa duduk sambil menikmati teh didampingi oleh kedua pelayan pribadinya. Tidak ada yang bicara, hanya Alaglosa yang melihat hamparan bunga sambil sesekali menyesap tehnya. Kebiasaan yang tidak bisa berubah bahkan ketika dia sudah menjalani dua kehidupan yang berbeda.


Pikirannya melayang jauh ke masa dimana dulunya dia bersama dengan pria yang kini menyandang status sebagai suaminya. Kenangan dimana mereka duduk di sebuah taman yang ada di daerah pinggiran ibukota. Keduanya sengaja bertemu di sana secara diam-diam. Alaglosa ingat betul dengan kata-kata yang diucapkan Lord Tyrian saat itu.

__ADS_1


" Jika kau berubah pilihan atau lelah.. Aku masih tetap menawarkan hal yang sama, pergilah dengan ku.. Maka dunia beserta isinya akan ada di bawah kaki mu... "


Memikirkan itu, di kehidupan ini dia sudah bersama dengan pria itu. Lalu apakah dunia dan isinya akan berada di bawah kakinya? Sejujurnya tanpa Alaglosa sadari, kebersamaan dirinya dengan Tyrian telah membangkitkan sesuatu dalam diri mereka berdua. Sesuatu yang bisa membuat dunia berada di bawah kaki mereka.


__ADS_2