
Alaglosa tercengang ketika melihat tingkah ayah mertuanya sekarang ini. Bisa-bisanya pria dengan usia lebih dari setengah abad itu tengah memamerkan otot perutnya dengan bertelanjang dada olahraga di samping kastil. Memang badannya sangat bagus, tapi apa perlu sampai segitunya juga. Para pelayan bahkan sibuk melihat betapa bagusnya bentuk badan dari Kaisar Proston ini.
" Alpus.. " Alaglosa memanggil asisten dari Kaisar.
" My Lady.. Ada perlu apa anda kemari? " tanya Alpus merasa heran.
" Apa yang sedang yang mulia lakukan? Bertelanjang dada di luar seperti ini.. Apa beliau tidak melihat semua pelayan melihatnya dengan tatapan seperti itu.. " protes Alaglosa.
" Maaf My Lady, tapi ini adalah kebiasaan yang mulia jika beliau dalam suasana hati yang buruk.. " ucap Alpus dengan senyum di wajahnya.
" Kenapa kau justru tersenyum? Apa yang mulia itu mesum sehingga senang sekali ditonton oleh para gadis begitu? Sungguh aneh.. " Alaglosa yang merasa malu sendiri akhirnya menghampiri ayah mertuanya.
" Apa yang sedang yang mulia lakukan disini? " tanya Alaglosa dengan nada kesal.
" Berikan jubah yang mulia.. " titah Alaglosa pada dayang pria yang membawa jubah Kaisar.
" Apa yang mulia tidak mau dilihat oleh banyak mata para gadis pelayan itu? Anda sudah masuk ke dalam usia lanjut jadi jangan bertingkah.. Apa anda merasa bangga badan anda masih bagus di usia yang sudah setengah abad ini sehingga ingin semua orang melihatnya..? " omel Alaglosa.
Kaisar yang diomeli oleh menantunya tiba-tiba saja langsung berkaca-kaca. Rasanya sudah lama sekali dia tidak pernah mendengarkan seseorang mengomel padanya. Hal itu begitu Kaisar rindukan, dan sekarang seolah Alaglosa membuat kerinduannya itu terbayarkan.
__ADS_1
Alaglosa yang melihat Kaisar tengah meneteskan air matanya langsung panik. Alaglosa takut jika yang mulai tersinggung dengan ucapannya dan jadi menangis.
" Yang mulia? " Alaglosa memanggil pelan.
" Hahahahahahahaha.... Sungguh aku merindukan adanya seseorang yang mengomel pada ku.. Ossa, ayo kita jalan-jalan sore.. " ajak Kaisar tiba-tiba.
" Apa yang mulia sedang mabuk? " ejek Alaglosa.
" Tentu saja tidak.. Ayo kita jalan-jalan.. Akan aku tunjukan sesuatu pada mu.. "
Keduanya pun berjalan terus mengarah ke belakang kastil. Disana ternyata ada sebuah kastil kecil, dan Alaglosa baru tahu tentang kastil kecil itu. Dikatakan kecil karena tidak sebesar kastil yang ada di bagian depan, dan tengah. Kastil depan biasanya untuk melakukan banyak pertemuan, katakan saja untuk bekerja. Kastil tengah lebih diperuntukan untuk pribadi, seperti beristirahat, ataupun makan. Lalu kastil kecil ini...
" Di kastil itu tertidur wanita yang aku cintai.. Bukan tertidur sebenarnya, tapi dia tidak akan pernah bangun lagi karena jiwanya tidak lagi bersamanya. Tapi,,,... " ucap Kaisar terdengar begitu sendu.
" Tapi?? " Alaglosa diam memperhatikan ayah mertuanya yang terlihat sangat sendu.
" Tapi ceritanya panjang... Kalau aku cerita bisa selesai besok malam.. Jadi ayo kita lanjutkan perjalanan kita.. " Alaglosa melongo. Benarkah ini yang namanya Kaisar, kenapa bisa semudah itu merubah raut wajahnya. Atau karena terlalu sering seperti ini jadi sudah terbiasa untuk mengubah raut wajahnya dan menutupi kesedihannya.
Malam harinya, hanya ada Alaglosa dan Kaisar. saja di meja makan, karena rencananya baru besok Tyrian kembali dari Fandor. Dua hari sebelum pesta syukur rakyat akan dilaksanakan. Tyrian tidak bisa berlama-lama di Fandor karena dia memiliki kepentingan dan tugas sebelum pesta ini di mulai. Keamanan selama berlangsungnya acara harus diperhatikan. Meski tidak akan ada masalah, tapi tetap saja harus diperhatikan dengan benar agar tidak sampai terjadi masalah yang tidak diinginkan.
__ADS_1
Alaglosa berniat untuk bertanya pada Kaisar tentang banyaknya praduga dan juga kejanggalan yang dia rasakan. Sore tadi, Alaglosa batal menanyakan hal itu karena melihat suasana hati Kaisar terlihat sedang tidak baik-baik saja. Besok Tyrian sudah kembali, jadi tidak ada lagi kesempatan jika bukan saat ini.
" Katakan dan tanyakan yang ingin kau katakan, sudah sejak sore kau menahannya. " ucap Kaisar yang memang tahu apa yang ingin dikatakan Alaglosa, tapi masih menghormati menantunya agar menantunya ini mengucapkan dahulu.
" Yang mulia... "
" Panggil saja ayah jika hanya berdua.. Aku sejak dulu ingin memiliki anak perempuan, tapi gagal karena lahir anak nakal itu.. Anggap saja aku ayah mu, toh ayah kandung mu aku juga mengenalnya.. Kami berperang bersama sejak dulu.. " ucap Kaisar. Alaglosa pun mengangguk sambil tersenyum, meski kepribadiannya aneh, tapi Kaisar ini memang ayah yang ramah dan baik.
" Saya sering sekali mengalami berpindah jiwa. Kadang berada di tempat yang tidak pernah saya ketahui itu dimana.. Awalnya pertama kali saya rasakan ketika di Fandor, lama kelamaan saya jadi sering mengalami nya.. Apakah ini adalah pertanda bahwa saya adalah pengendali ruang? " tanya Alaglosa.
" Kalau itu aku tidak bisa memberi mu jawaban pasti. Bisa iya bisa juga tidak.. Tapi memangnya kenapa jika kau pengendali ruang, apakah ada masalah? Atau kau takut akan ramalan ? " Alaglosa mengangguk.
" Ramalan itu kau hindari jika dewa berkehendak lain juga tidak akan bisa. Dengarkan aku Ossa, ketika kau memilih jalan berbeda dari masa lalu mu maka konsekuensinya adalah kau pun akan mengalami takdir yang mungkin saja berbeda. " kaisar meletakan sendok dan garpu nya, lalu melihat menantunya dengan tatapan yang sulit untuk Alaglosa artikan.
" Jika dimasa lalu kau hanya sebatas sampai dimana dirimu dipersembahkan, tapi dimasa ini mungkin lebih dari itu.. Bisa saja kau memiliki takdir lain, dan apabila dari awal kau siap akan konsekuensi nya, kenapa sekarang kau memikirkan tentang ramalan? "
Alaglosa terdiam, dia meresapi ucapan ayah mertuanya tentang konsekuensi dari pilihannya. Jika saat itu Alaglosa memilih menikah dengan Putra Mahkota Saturn, maka sekarang dia adalah putri Mahkota dan ketika usianya dua puluh lima tahun dia akan berakhir di persembahkan seperti kehidupan yang lalu. Tapi kali ini Alaglosa membuat pilihan yang berbeda, tentunya masalah yang berbeda pula yang akan dia hadapi kedepannya. Ini merupakan konsekuensi pilihannya, jika benar dia siap dari awal seharusnya dia memang tidak akan meributkan tentang ramalan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan itu.
" Setiap makhluk akan dihadapan dengan pilihan, tidak hanya dua bahkan bisa lebih dari itu. Sama halnya seperti diriku yang dihadapkan pada dua pilihan yang berat, dan dari pilihanku konsekuensinya aku harus berada di tempat ini.. Padahal seharusnya aku menjadi pewaris kerajaan Amanecer. Kenapa harus aku, karena itulah tujuan ibu ku dari selatan dinikahkan dengan ayah ku dari timur. Keturunan Acfica dan Bialus harus dipersatukan untuk membuat kedamaian diantara kedua belah pihak.. "
__ADS_1
Meski terkesan ambigu, karena detail masalahnya tidak dikatakan oleh Kaisar. Tapi jelas pilihan yang dia buat membuat semua jalan cerita berbeda. Amanecer harus dipimpin King yang serakah dan egois, lalu wilayah selatan dipimpin oleh Kaisar yang bijaksana. Selatan maju karena pemimpinnya, sediakan timur mulai merosot karena pemimpinnya yang serakah.