Lord Of Chronos And Choros

Lord Of Chronos And Choros
Api hitam Tyrian


__ADS_3

DUK


DUK


DUK


BRUGH.. BRUGH..


AARRGGHHH


AAARRGHH


Kilatan mata berwarna ungu gelap itu memancarkan kegelapan yang begitu pekat hingga kemudian di sekitar musuh langsung muncul api hitam. Kemampuan yang istimewa, karena hanya dimiliki oleh keturunan asli Acfica, namun sepertinya Tyrian tidak menyadarinya. Dia jarang mengeluarkan kemampuan istimewa nya ini jika tidak sedang dalam kondisi sangat terdesak.


Disebut istimewa karena api hitam pekat ini adalah api yang lebih kuat dari api suci para dewa karena api ini berasal dari neraka paling dasar, dimana hanya ada kegelapan saja di sana. Api ini tidak akan bisa dipadamkan oleh kekuatan apapun yang ada di Anchestral Land ini, karena api hitam ini hanya akan padam jika objek yang dibakarnya sudah benar-benar menjadi abu.


Benar saja, semua musuh langsung hangus terbakar hingga tercium bau gosong yang sangat menyengat di hidung. Semuanya lenyap dalam sekejap mata, dan api hitam pekat itu mulai menghilang begitu objeknya sudah menjadi abu. Monster yang begitu banyak menyerang pasukan Tyrian tadi, kini sudah melebur menjadi abu.


YEEAAAAYYYYY


HIDUP MY LORD...


HIDUP MY LORD...


Pasukan Tyrian bersorak senang karena pemimpin mereka berhasil membuat musuh kalah telak dengan kekuatannya. Tyrian pun menghela nafas lega karena satu masalah ini telah selesai, kini dia hanya perlu untuk segera membantu Fandim yang tengah menyelamatkan rombongan Amanecer.


Tyrian menatap bangunan kastil tua yang sudah hancur bagian atasnya. Bisa dia lihat dengan jelas puing-puing bangunan itu tercecer di tanah. Andai orang awam yang melihatnya, pastilah mereka tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di balik puing-puing bagian atap kastil yang sudah roboh itu. Namun mata Tyrian, yang merupakan mata naga itu, sekaligus keturunan penyihir putih yang terakhir, mampu untuk menembus puing-puing itu.


" Sial... " Tyrian mengumpat.

__ADS_1


" Kalian semua, sisir tempat ini dan pastikan tidak ada yang bisa lolos.. Kemudian siapkan lorong waktu dengan segera.. Aku akan membantu Fandim.. " titah Tyrian.


" Baik My Lord.. "


Sedetik kemudian Tyrian langsung melesat menuju kastil tua itu. Dia menghempaskan semua puing-puing yang menutupi jalan yang bisa dia gunakan untuk masuk ke dalam bagian bawah kastil tua ini. Tempat dimana Fandim dan pasukannya berada dan sedang melawan musuh yang menjaga tempat itu.


BOOM


DUK


DUK


Tyrian lekas masuk ke dalam celah yang tadi dibuat oleh pasukan Fandim. Dia lekas menuju ke tempat pasukannya yang sudah kewalahan menghadapi musuh yang ternyata semakin lama semakin bertambah banyak. Sepertinya musuh kali ini memiliki kemampuan beregenerasi sehingga ketika dibunuh, mereka akan membelah diri menjadi dua kali lipatnya.


" KALIAN SEMUA MUNDUR.. " teriak Tyrian dari arah belakang pasukan Fandim. Tyrian berlari mendekat dan langsung mengeluarkan api hitam nya karena hanya dengan api hitam pekat itulah makhluk yang beregenerasi akan benar-benar mati.


AAARRGGHHHHH


BRUGH


BRUGH


Satu per satu monster tadi terjatuh di tanah dan langsung hangus terbakar dan menjadi abu. Setelah menunggu selama beberapa waktu, pasukan Fandim yang kini dipimpin Tyrian langsung melanjutkan langkah mereka menuju ke bagian terdalam dari lorong ini. Tyrian dan pasukannya tidak memiliki banyak waktu atau mereka akan terjebak di tempat ini selamanya.


" Yang mulia.. Itu dia, panglima Fandim.. " salah satu dari pasukan Tyrian berseru ketika melihat ketua mereka tengah bertarung dengan monster yang besarnya empat kali lipat dari monster yang. mereka hadapi tadi.


Fandim melompat menghindari serangan empat monster yang sangat besar. Meski memiliki tubuh yang besar, rupanya monster itu juga sangat cepat sekali dalam bergerak. Membuat Fandim yang ruang geraknya terbatas menjadi kewalahan. Dengan lorong yang tidak besar ini, dia harus menghadapi empat monster yang besarnya memenuhi ruang di lorong ini.


Meski segesit apapun dia menghindari serangan monster itu, tapi tetap saja ada kalanya dia terkena pukulan bahkan sampai terhempas menabrak dinding saking kuatnya serangan keempat monster itu. Luka di tubuh Fandim bahkan lebih banyak dibandingkan luka anak buahnya.

__ADS_1


" Aku akan membukakan celah untuk kalian, sekarang yang harus kalian lakukan adalah masuk ke ruangan itu dan membebaskan rombongan Amanecer dan lekas bawa mereka keluar.. " ujar Tyrian memberikan instruksi.


Belum juga anak buahnya menjawab, Tyrian sudah melesat menuju ke empat monster dan melakukan tendangan serta pukulan yang begitu kuat membuat monster itu mundur beberapa langkah. Kesempatan itu dimanfaatkan Fandim untuk mengeluarkan kekuatan sihirnya dengan mengumpulkan elemen udara dan membuat sebuah serangan dimana udara terhempas ke arah monster dan langsung menyayat tubuh mereka. Tidak banyak memberi dampak pada tubuh monster itu, tapi setidaknya bisa menghentikan pergerakan mereka sejenak.


Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Tyrian, disaat monster teralihkan dengan serangan Fandim, Tyrian langsung saja melakukan serangan dengan menusuk langsung ke arah soul stone milik para monster itu. Dengan hancurnya soul stone, maka para monster itu akan langsung mati di tempat tanpa bisa lagi bergerak.


Ketika celah sudah terbuka, pasukan Tyrian segera maju dan menuju ke sebuah ruangan berada di ujung lorong. Mereka mendobrak pintu itu, namun sayang pintu mereka justru terpental. Sepertinya pintu itu diberi sebuah sihir yang membuatnya tidak bisa dibuka oleh sembarangan orang. Melihat hal itu Fandim lekas maju ke depan dan langsung merapalkan mantra membuka segel kunci pintu itu.


CEKLEK


Pintu terbuka lebar dan dapat mereka lihat rombongan dari Amanecer terlihat tergeletak tidak sadarkan diri. Beberapa pasukan segera masuk ke dalam, Fandim pun juga ikut masuk. Beruntung rombongan pangeran Codnille ini hanya sedang tidak sadarkan diri karena pengaruh mantra tidur musuh. Fandim lekas membuat sihir pembalik sehingga efek mantra yang membuat rombongan pangeran Codnille tidak sadarkan diri ini lekas sadar.


" Eh... Kalian.. " ujar Codnille begitu dia tersadar.


" Apa anda baik-baik saja yang mulia? " tanya Fandim yang langsung mengecek kondisi Codnille.


" Hm.. Hanya kepala ku saja yang pusing.. Sepertinya mereka membuat kami tidak sadarkan diri dan masuk ke dalam ilusi yang mereka buat. " Codnille berdiri dibantu oleh Fandim.


" Kalian semua lekaslah!!! Kita harus keluar sekarang juga karena terowongan waktu sudah aktif.. " teriak Tyrian dari luar ruangan.


" Haish.. Orang itu tidak ada sikap haru sama sekali bertemu dengan saudaranya setelah saudaranya diculik.. " gerutu Codnille.


" Jangan banyak bicara kau, atau kau aku tinggal.. " Tyrian menatap tajam Codnille. Saudara sekaligus sahabat baiknya itu selalu saja sukses memancing emosinya.


" Ck.. " Codnille berdecak pelan dan lekas keluar dari ruangan itu.


Terowongan waktu benar-benar sudah aktif ketika Tyrian dan pasukannya keluar dari area kastil tua itu. Mereka berlari dengan cepat sebelum waktu terowongan itu berakhir. Satu per satu pasukan Tyrian dan juga rombongan dari Amanecer lekas masuk ke dalam terowongan itu. Menyeberangi ruang dan waktu, menuju ke hutan Blagden di seberang sana.


" Selamat datang kembali, Yang mulia.. "

__ADS_1


__ADS_2