
Tyrian dan Alaglosa kini tengah berada di sebuah tempat yang mana tempat ini merupakan sebuah daerah yang ada di jaman dahulu kala. Jaman yang jauh sebelum Anchestral Land dibagi menjadi empat bagian wilayah. Tempat yang dipercaya sebagai tempat dimana makhluk naga hidup.
Tujuan mereka datang ke tempat ini untuk mengungkap permasalahan yang terjadi diantara para naga. Sebuah peristiwa yang akhirnya menjadi bencana besar yang mana membuat Anchestral Land mengalami perang panjang selama bertahun-tahun lamanya. Perang yang menjadikan Iynx, Bialus dan Acfica sebagai pahlawan saat itu.
" Kita harus kemana? " tanya Alaglosa ketika mereka sudah berada di sebuah bangunan yang semi permanen.
" Kita telusuri saja tempat ini.. Siapa tahu kita akan menemukan petunjuk nantinya. Lagipula kita yang berpindah ini hanyalah jiwanya, jika kita menemukan bahaya maka kita tinggal meninggalkan saja tempat ini.. " ucap Tyrian.
Perkembangan latihan mereka berdua memang meningkat pesat. Tyrian sudah bisa mengendalikan perputaran waktu hingga dia bisa kembali ke masa lampau. Untuk masa depan, sepertinya Tyrian harus lebih banyak berlatih lagi jika ingin berpindah waktu ke masa depan.
Alaglosa sendiri memang masih belum bisa memindahkan tubuhnya sendiri ke tempat yang dia mau. Kemajuan pesat miliknya untuk saat ini Alaglosa bisa memindahkan mahkluk hidup atau benda mati bersamanya, meski untuk makhluk hidup hanya jiwanya saja yang berpindah. Dan kemajuan lainnya yang mana kini Alaglosa bisa menentukan kemana dirinya akan berpindah.
" Kita mulai dari pintu itu saja.. " Alaglosa menunjukkan sebuah pintu yang sangat besar berada di sisi sebelah kanan lorong yang mereka telusuri.
" Kenapa pintunya besar sekali ya? " ucap Tyrian merasa heran. Alaglosa hanya mengedikan bahunya karena dia pun tidak tahu. Namun keduanya langsung terlonjak kaget ketika ada sosok yang keluar dari pintu itu. Dan sosok itu sangatlah besar, dengan tanduk di kepalanya dan sayap di bagian punggungnya.
Sepertinya itu adalah bentuk dari naga yang mengubah bentuk aslinya menjadi bentuk menyerupai manusia. Hanya saja, yang menjadi perbedaan mereka tiga kali lipat lebih besar dari manusia, dan mereka memiliki tanduk dan sayap yang mana manusia tidak memilikinya. Sosok mereka mencerminkan kekuatan yang luar biasa hebat, karena mereka makhluk terkuat di daratan ini.
" Kita lihat apa yang ada di dalam.. " Tyrian menggandeng tangan Alaglosa ketika masuk ke dalam ruangan dibalik pintu itu.
" Kamar? " beo Alaglosa. Dihadapannya ada sebuah ranjang yang sangat besar sekali, dan terbaring di sana sosok yang sama dengan sosok yang tadi keluar dari ruangan ini. Namun sepertinya ada beberapa bagian yang berbeda.
" Dia tidak memiliki tanduk, tapi telinganya lebih mirip telinga elf dibandingkan sosok tadi. Eh... orang ini.. " gumam Alagkosa merasa tidak asing dengan apa yang dilihat nya ini.
__ADS_1
" Kenapa? "
" Tidak... Hanya aku merasa pernah melihat wajah ini, tapi lupa dimana.. "
" Melihatnya? Memangnya siapa naga yang pernah kau lihat? "
" Naga? Yang pernah ku lihat.... Ah... iya aku ingat... Dia... Acfica... " pekik Alaglosa ketika dia mengetahui siapa sosok yang berbaring di ranjang itu.
Tyrian melihat ke arah Alaglosa dan sosok yang tidur di ranjang itu secara bergantian. Dirinya saja yang notabene keturunan Acfica, tidak pernah tahu bagaimana rupa dari Acfica. Lalu kenapa bisa Alaglosa tahu dan mengatakan pernah bertemu. Tyrian merasa ini perlu ditanyakan ketika nanti mereka sudah kembali ke kastil lagi.
" Kenapa melihat ku seperti itu? " Alaglosa belum menyadari bahwa Tyrian mencurigai sesuatu dari ucapannya.
" Tidak... Tapi, aku jadi penasaran dimana kau pernah melihat sosok Acfica itu? Kenapa kau bisa tahu dia adalah Acfica? " akhirnya Tyrian bertanya karena tidak bisa menahan keingintahuan nya.
Tyrian tidak percaya sepenuhnya, tapi dia pikir disini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membahas ini. Jadi Tyrian pun mengiyakan saja penjelasan sang istri yang menurutnya sedikit tidak cocok untuk dikatakan itu.
Alaglosa paham betul bahwa jawabannya tidak memuaskan bagi suaminya. Tapi anggap saja itu jawaban yang kini tepat. Alaglosa untuk sekarang ini harus mengutamakan tujuan mereka datang ke tempat ini, dibandingkan membahas tentang mimpinya.
" Apa perlu kita lihat-lihat apa yang mungkin bisa kita dapatkan di ruangan ini? Tapi, kira-kira siapa sosok yang tadi keluar dari ruangan ini ya... ? " Alaglosa sedikit banyak penasaran.
" Jasraj tidak mungkin, karena sosok tadi lebih tampan darinya.. " Tyrian mengomentari.
" Kau itu sepertinya sangat tidak suka dengan Jasraj.. Apa kalian punya dendam pribadi? " Alaglosa sampai terheran.
__ADS_1
" Kau pikir pria mana yang akan cocok dengan lelaki yang pernah menculik istrinya? Jelas tidak akan ada... Ossa.. " jawab Tyrian kesal.
Alaglosa mengedikan bahunya acuh, dibahas pun juga hanya akan memperkeruh suasana dan membuat mereka tidak bisa mendapatkan petunjuk. Tidak ingin memperpanjang masalah, keduanya berpencar dan memeriksa ruangan yang bisa dipastikan kamar Acfica itu.
Alaglosa menemukan sebuah perkamen, dan Tyrian menemukan sebuah benda yang sepertinya tidak asing di ingatannya. Tapi dia butuh berpikir lebih lama untuk memastikan apa benda itu. Sedangkan Alaglosa sendiri yang sudah tidak sabar dengan isi perkamen itu, langsung membukanya. Dan dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
" Apa isinya? " tanya Tyrian yang melihat sang istri nampak serius memandangi perkamen yang dipegang nya.
" Emm... Sepertinya aku.... Tidak bisa mengartikan apa tulisan ini.. Apa kau bisa? " Alaglosa menyerahkan perkamen itu pada Tyrian. Ekspresi Tyrian langsung berubah datar menanggapi kekonyolan sang istri. Tidak paham tapi dipandangi seolah dia memang memahaminya.
Tyrian mengetahui tulisan dalam perkamen itu adalah tulisan kuno yang pernah dia pelajari saat masih bersekolah di sekolah khusus wilayah selatan yang memang mempelajari sejarah para naga. Sedikit dia bisa mengartikan tulisan itu, meski ada beberapa bentuk tulisan yang dia tidak tahu apa artinya.
πΊππππππππ πππππ ππππ πππππππ ππππππππ πππππππ πππ ππππππ ππππππ πππππππ ππππ πππ π. πππππ ππππ πππππππππ πππππππππ πππ ππππππ πππππππ π’πππ ππππππ πππππ πππ ππππππ ππππ, π’ππππ π½πππ.
πΌπππππππππ ππππ πππππππ πππππππ πππππππ ππ πππππππ πππππππ πππππππ ππππππ ππππ’ππππ πππππππππ ππππ πππππ πππππππ πππ ππππππππππ πππππππππ πππ πππππππ ππππππππ ππππππ πππππ πππππππππππ πππππ π’πππ πππππ πππππ.
πππππ ππππ π½πππ, πππππππ πππππππ πππππππ πππ πππππππππ πππππππ πππππππππππ πππ π. πΌπππ πππππππππ ππππ ππππππππ πππππππππ’π..
" Tidak kah itu aneh? Atau kau mungkin salah mengartikannya.. " Alaglosa merasa bahwa yang terbaca dari perkamen itu tidak benar.
" Aneh.. Tapi aku tidak salah mengartikannya.. " ucap Tyrian yakin.
" Kalian memang tidak salah mengartikannya.. Naga adalah makhluk yang menampung semua kegelapan yang ada di dunia ini... Namun, jalan untuk menciptakan perdamaian, bukanlah dengan cara menyerap kegelapan itu... "
__ADS_1
Alaglosa dan Tyrian berjingkat kaget saat mendengar ada suara lain yang terdengar sangat berat tapi juga lembut disaat bersamaan. Mata keduanya membola melihat sosok yang menatap keduanya dengan tatapan yang tidak terbaca.