Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Desert Eagle


__ADS_3

"Sha! Shasa!!"


Evan terkejut sekaligus bingung bukan main melihat Shasa memegang kepalanya lalu jatuh diatas lantai kotor dan dingin.


Hey! apakah tembakan Evan meleset mengenai Shasa? Bukankah Mr. Fi yang terkena timah panas kenapa Shasa ikut ambruk.


Saat Evan tergesa-gesa mendekati Shasa, bisa ia dengar dengan Jelas nama Raihan lah yang dipanggil bukan namanya. Padahal Shasa hanya berjarak sepuluh meter dari tempatnya berdiri sedangkan Raihan berada berpuluh kilo meter dari tepian kota saat ini.


Ingin ku mengumpat sekeras mungkin, tetapi dalam keadaan seperti ini Shasa lebih penting dari apapun!


Evan menggendong Shasa lalu menempatkannya di kursi penumpang sedangkan ia menyetir.


Mobil bermerek Skoda Superb yang dikemudikan Evan pun berjalan menjauh meninggalkan mayat-mayat segar baru saja meninggal. Biarkan anak buahnya yang mengurus semua itu. Saat ini tujuan utamanya hanya satu yaitu rumah sakit terdekat.


"Rai-Raihan"


Shasa meracau tidak jelas padahal matanya masih tertutup rapat, Evan yang semula fokus mengemudi pun menoleh kearah Shasa. Sekali lagi dirinya kecewa karena nama Raihan yang selalu terucap dari mulut Shasa walaupun sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Sialan!


Hanya stir mobil yang bisa digunakan Evan untuk melampiaskan amarahnya, ia memukul stir mobil keras lalu berbelok menuju kearah dimana tempat Raihan tinggal, semua ini hanya demi untuk Shasa, tidak untuk yang lainnya.


Evan sangat berharap jika dirinya lah yang menjadi orang terpenting Shasa seperti dulu. Jika Shasa mendapat masalah pasti namanya yang menjadi ucapan pertama yang disebut.


Namun semua kini berubah, baru saja beberapa hari pernikahan Shasa dan Raihan tetapi Shasa sudah melupakan dirinya.


Lalu bagaimana jika pernikahan mereka berlangsung selama bertahun-tahun apakah Shasa akan amnesia tentang persahabatan dengan dirinya?


***


"RAIHAN! RAIHAN!"


Sambil menggendong Shasa dikedua tangannya, kaki Evan menendang-nendang pintu rumah Raihan sekuat mungkin sehingga mengakibatkan kegaduhan luar biasa.


Jika Shasa tidak sedang berada dalam gendongannya mungkin pintu rumah Raihan sudah ia dobrak sejak awal kedatangannya.


"Iyaaaa, sebentar" sahut seseorang dari dalam dengan suara kesal yang kentara, siapa coba yang tidak marah jika ketenangannya diganggu oleh orang yang tak mempunyai etika dalam bertamu.


Saat pintu terbuka muncul Raihan dengan wajah yang tak kalah terkejut melihat istrinya digendong ala bridal style oleh Evan.


Hampir saja Raihan ingin menyeret Shasa dari dekapan Evan, tetapi Evan lebih dahulu masuk kedalam tanpa mengucapkan sepatah kata, ia menatap sinis Raihan yang mengikutinya dari belakang.


"Cepat panggil dokter!" titah Evan tak terbantahkan, ditidurkannya Shasa diatas ranjang lalu menyelimutinya. Sedangkan Raihan sibuk menelpon dokter yang biasa memeriksanya ketika sakit.


"Secepatnya dok!" ucap Raihan sebelum mengakhiri panggilannya.


"Loh!, nak Shasa kenapa?"


Nenek yang tadi sibuk menanam bunga dihalaman belakang ikut masuk kedalam rumah karena suara kegaduhan.


Tadinya ia pikir teman Raihan berkunjung namun dugaannya salah, sekarang yang dilihatnya malah cucu mantunya tak sadarkan diri dan dua pria dihadapannya sedang memancarkan aura membunuh satu sama lain.


"Apa yang telah kau lakukan pada istriku!" Sesabar-sabar nya Raihan pasti ada batasnya, jika ia dipukul maupun dimusuhi oleh Evan hal itu tidak menjadi masalah.


Tetapi jika keadaan nya seperti ini apakah ia akan tetap diam saja? tentu saja tidak jawabannya, semenjak pagi dirinya khawatir akan keadaan Shasa dan sekarang terbukti dengan kepulangan Shasa dalam kondisi tak sadarkan diri.


"LO BILANG APA!!"


Evan yang sudah terlanjur naik pitam mencengkeram kerah baju milik Raihan, tetapi reaksi Raihan tidak seperti kemarin yang hanya diam saja, kali ini Raihan membalas Evan dengan cengkeraman di kerah bajunya, tak kalah kuat dengan yang ia lakukan pada Raihan.


"LO NGAPAIN ISTRI GUE!!"


Teriak Raihan tepat didepan wajah Evan, saking geramnya Evan tanpa ba bi bu satu pukulan melayang mengenai sudut bibir Raihan.


Memangnya dirinya tega menyakiti sahabatnya sendiri? lagipula jika dirinya sedang tidak bersama dengan Shasa lalu siapa yang akan menyelamatkan satu-satunya sahabat yang ia miliki ini? apakah Raihan pria yang dari luarnya saja terlihat seperti tidak bisa bela diri.


Hampir saja Raihan membalas Evan dengan bogem mentah tetapi suara nenek membuatnya sadar, bukan waktu yang tepat untuk saling menunjukan kekuatan.


"HEH! Kalian ini kenapa? bukannya menghawatirkan Nak Shasa malah adu jotos!"


Nenek melerai agar tidak terjadi keributan yang lebih besar lagi. Keadaan cucu mantunya saja masih belum sadarkan diri malah dua orang pria dihadapannya saling adu jotos. Memangnya Shasa akan langsung terbangun jika melihat pertunjukan tinju secara live?


Nenek keluar meninggalkan Evan dan Raihan yang masih tetap memancarkan aura permusuhan padahal mereka sudah duduk berjauhan.


Raihan duduk ditepi ranjang mengamati wajah lusuh milik Shasa sedangkan Evan duduk di sofa tak jauh dari pintu kamar.


Tak lama kemudian pria paruh baya lengkap mengenakan jas khusus berwarna putih datang bersama nenek yang menunjukan letak kamar Raihan.

__ADS_1


"Sudah berapa jam pasien tak sadarkan diri?" tanya dokter paruh baya yang fokus mengeluarkan stetoskop beserta tensimeter dari tas yang dibawanya tadi.


"Sekitar tiga jam yang lalu" jawab Evan mengingat-ingat saat Shasa pingsan di gudang tua, Raihan dan Nenek lumayan terkejut mendengar penuturan Evan barusan.


Setelah Dokter memeriksa keadaan Shasa lalu menjelaskan keadaanya, ketiga orang yang telah mengkhawatirkan Shasa itupun bernapas lega karena tidak ada yang salah pada kondisi Shasa, hanya kekurangan asupan makan dan kelelahan.


"Lo nggak punya uang? masa Shasa ngga Lo kasih makan!"


Evan menyindir Raihan yang raut mukanya terlihat seperti bersalah. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Raihan, pria itu sibuk dengan pemikirannya sendiri sejak tadi.


Astaga! semua ini salahku membiarkan Shasa meminum alkohol sampai mabuk lalu paginya aku terlambat bangun sehingga tidak mengetahui entah kemana kepergiannya, memangnya apa yang telah Shasa lakukan sampai kelelahan?


Raihan mengamati wajah lusuh Shasa, terdapat sebuah noda berwarna merah di kerah baju yang dipakai istrinya menyita semua perhatiannya.


Raihan sudah membungkuk ingin melihat lebih jelas noda apa itu sebenarnya. Tetapi keinginannya gagal karena kaos bagian belakangnya ditarik secara kasar oleh Evan.


"Eh! Dasar pria gila! Lo ga liat Shasa masih pingsan? Dasar otak mesum!"


Tak segan-segan Evan mencibir Raihan sampai Raihan diam tak berkutik.


Gila! Shasa masih pingsan situ malah mau nyium, disini masih ada Gue goblok!


Raihan menggeleng-gelengkan kepalanya, sebenarnya si otak mesum itu dirinya atau Evan?


Hanya melihat kerah baju yang dipakai Shasa bukan berarti dirinya ingin mencium paksa Shasa, lagipula apa masalahnya jika ia akan mencium Shasa kan mereka sudah SAH. 


"Apakah Shasa sering meminum alkohol?"


Terbesit pertanyaan diotaknya yang langsung ia tanyakan pada Evan yang notabenya sebagai seorang sahabat, pasti Evan mengetahui sebagian besar kebiasaan istrinya.


Sering? jawabannya salah besar karena alkohol dijadikan minuman sehari-hari oleh Shasa


"Shasa tidak pernah minum alkohol!"


Evan berbohong, bagaimanapun atau apapun yang terjadi Shasa masih tetap menjadi sahabatnya, jadi ia harus menjaga image Shasa kepada siapapun termasuk suaminya sendiri yaitu Raihan.


Terkadang Evan juga bertanya-tanya mengapa Shasa masih memiliki tubuh ideal. Padahal setiap hari mengkonsumsi minuman alkohol terkadang juga merokok disaat pikirannya sedang sangat kacau, mungkin hanya sekali atau dua kali dalam satu bulan jika dihitung.


Mata elang milik Raihan masih tetap memperhatikan Shasa lekat, ia tidak memperdulikan ocehan Evan di belakangnya yang tengah menceramahinya panjang lebar akan suatu hal.


Itu apa?


Lagi-lagi Raihan mendekat kearah Shasa, parahnya tangannya telah sempurna menyentuh bagian paha milik istrinya. Evan yang sedari tadi melihat gerak-gerik Raihan dibuat melongo dengan sifat mesum yang dimiliki Raihan.


"Lo sadar kal....." ucapan Evan seketika terpotong karena melihat Raihan saat ini tengah menyingkap rok yang dikenakan oleh Shasa.


Hampir dirinya ingin menggeplak kepala Raihan tetapi ia langsung bungkam melihat benda yang baru saja diambil Raihan dari balik rok span yang Shasa kenakan.


"Sudah kuduga!!" gumam Raihan pelan sembari mempermainkan barang yang ia pegang.


"Dari mana Shasa mendapatkan pistol berbahaya ini, Hah!!" Raihan menyentak Evan yang masih diam membeku tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Pistol Desert Eagle, senjata api yang memiliki kemampuan daya tembak luar biasa, pistol yang bisa membuat target menjadi hancur seketika, bagaimana Shasa bisa memegang pistol seberat dua kilogram ini hah! Mengapa bisa berada pada tangan Shasa!" ucap Raihan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.


Darimana Raihan bisa tau pistol ini bernama Desert eagle?


"Sudah selesai bicara? sekarang giliranku!" Evan tersenyum sinis lalu merampas pistol itu dari genggaman Raihan.


"Dari mana Lo tau pistol ini bernama Desert Eagle dan bagaimana caramu bisa menjelaskan secara rinci senjata api satu ini? padahal Lo itu cuma seseorang dari kalangan bawah?"


Evan mencerca Raihan dengan pertanyaan yang selalu membuatnya mencurigai sikap Raihan.


Posisi mereka kini terbalik tadinya Evan yang diam membeku tanpa mengucapkan sepatah katapun, kini giliran Raihan yang diam membisu setelah mendengar semua kebenaran terucap dari mulut Evan.


"Loh! Nak Evan kok belum pulang?"


Tiba-tiba nenek datang ke kamar Raihan tanpa mengetuk pintu.


Setelah mendengar kondisi Shasa baik-baik saja Nenek memilih untuk mencari angin segar di depan teras sekalian menghantar dokter sampai pintu utama rumah.


Terimakasih Nenek telah menyelamatkanku


Kedatangan Nenek secara tiba-tiba membuat Evan menjadi gelagapan dan langsung menyembunyikan pistol seberat dua kilogram tersebut di balik pakaian yang dikenakannya.


"Baiklah saya pamit, tolong jaga Shasa dengan baik" ucap Evan sebelum pulang karena dirinya sadar, secara tidak langsung Nenek telah menyuruhnya enyah dari sana.


"Nenek tua yang sangat mencurigakan" gumam Evan pelan lalu melajukan mobil yang ia naiki semakin cepat menjauh dari rumah Raihan.

__ADS_1


***


"Errrrgh"


Shasa terbangun sambil memegangi kepalanya yang sangat pusing, tenggorokannya kering serasa berhari-hari tidak meminum air, ditambah seluruh badannya terasa capek dan pegal.


"Air" lirihnya pelan, Shasa melihat sekitar ruangan yang ditempatinya seperti tidak asing. Tanpa ia sadari seseorang membuka pintu sembari membawa sebuah nampan entah berisi apa.


"Kamu sudah siuman?" Raihan mempercepat langkah kakinya untuk mendekati Shasa yang terlihat kesusahan hanya untuk duduk saja.


"Sini aku bantu"


Nampan yang ia bawa tadi diletakan diatas nakas dan membantu Shasa untuk duduk menyender di sandaran tempat tidur. Setelah duduk dengan baik Shasa baru sadar jika sebelum ia pingsan tadi bersama dengan Evan, lalu dimana Evan sekarang?


"Evan dimana?" tanya Shasa cemas karena mengkhawatirkan kondisi sahabatnya.


Raihan tersenyum kecut mendengar Shasa menanyakan tentang Evan padahal dirinya baru saja sadar dari pingsan selama berjam-jam. Apakah didalam otak Shasa hanya terisi kekhawatiran tentang Evan saja?


"Dia baik-baik saja"


Shasa menganggukan kepalanya untuk menanggapi jawaban yang diberikan oleh Raihan, ia juga percaya Evan tidak akan kenapa-kenapa.


"Aa" ucap Raihan sembari menyodorkan sendok berisi bubur yang baru saja ia ambil dari mangkok diatas nakas, namun Shasa menolak dengan memalingkan wajahnya kearah yang lain.


"Aku bisa makan sendiri" ucapnya sebelum Raihan memaksanya untuk makan.


Setelah Shasa menghabiskan buburnya ia menyadari ada yang aneh dengan dirinya, Shasa memejamkan matanya lalu memegang dahinya.


Astaga gue belum mandi dan pakaian ini masih melekat sejak kemarin sore!


"Apakah ada yang sakit?" tanya Raihan gugup karena melihat Shasa memejamkan matanya, barangkali ada yang sakit ia akan mengajak Shasa untuk pergi ke rumah sakit.


Shasa terdiam ketika telapak tangan Raihan menyentuh dahinya, bukan hal itu yang menjadi alasan terdiamnya Shasa melainkan jarak diantara mereka hanya sejengkal saja.


Sehingga ia bisa merasakan hangatnya hembusan nafas Raihan. Hatinya menjadi berdegub tak karuan melihat wajah Raihan dari jarak sedekat ini, sudah ia usahakan untuk tidak fokus pada bibir Raihan namun keadaan memaksanya untuk tetap mengamati benda kenyal berwarna pink cerah alami itu.


Disaat tatapan mereka saling bertemu sepersekian detik tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun diantara mereka. Tangan kanan Raihan masih menyentuh dahi Shasa sedangkan tangan kirinya merengkuh pinggang Shasa erat.


Jarak diantara mereka semakin menipis terkikis oleh tatapan satu sama lain, hanya kurang beberapa centi bibir mereka akan bertemu, namun sebuah ketukan dari luar kamar menggagalkan moment penting mereka.


Shasa mendorong dada Raihan pelan untuk mengalihkan rasa malunya yang begitu besar, Raihan kemudian bangkit dan berjalan kearah pintu untuk melihat siapa yang telah menggangu moment pentingnya.


What the hell! ya ampun besok gue wajib mampir kerumah sakit gila deh kayaknya, mau ditaruh mana coba muka Gue?


Shasa menutup matanya pelan lalu menarik nafas panjang guna menebalkan mukanya nanti saat berhadapan dengan Raihan, ia tak pernah berpikir bisa melakukan hal memalukan seperti itu dalam hidupnya.


Satu hal lagi yang membuatnya merasa aneh, kenapa ia tidak mendorong atau menampar Raihan saat bibir mereka hampir bertemu. Jika bukan terdengar ada suara ketukan dari balik pintu, entah apa yang akan terjadi pada detik ini.


Raihan membuka pintunya dengan malas. Ternyata benar dugaannya jika Neneklah yang mengetuk pintu kamarnya, memang siapa lagi yang tinggal dirumahnya selain dirinya, Shasa, dan juga nenek.


"Nak Shasa sudah siuman belum?" tanya nenek dengan wajah tanpa dosanya, Raihan meringis melihat nenek kesayangannya ini bertanya dengan wajah tak tau apa-apa padahal nenek sudah mengganggu aksinya sore ini.


"Sudah" jawab Raihan memberi Nenek jalan masuk, mungkin Nenek hanya ingin tau cucu mantunya sudah sadar atau belum, tetapi mengapa waktunya disaat tidak tepat.


Nenek terkikik geli melihat wajah Raihan karena sebenarnya nenek sudah melihat perbuatan mereka, salah siapa tidak menutup pintu? yah sekalian saja nenek menggangu momen mereka.


"Dasar anak muda" gumam nenek pelan.


Nenek mendekati Shasa lalu duduk di tepi ranjang, tatapannya kini berubah menjadi tatapan yang dipenuhi dengan rasa bersalah.


"Nak! maaf kan Nenek ya?" ucap nenek lirih karena sudah membuat cucu mantunya menjadi seperti ini, Nenek tidak menduga hanya karena bualannya semalam membuat Shasa pergi entah kemana, Shasa lumayan terkejut mendengar Nenek meminta maaf kepadanya.


"Nenek waktu itu hanya membual tentang Dee dan juga Raihan" ucap nenek sembari memegang kedua tangan Shasa


What the fu*k!! jadi gue udah kemakan bualan Nenek?


"Oh, Nenek tidak perlu meminta maaf lagipula waktu itu Shasa pergi juga bukan karena Raihan kok"


Bohong Shasa sambil tersenyum, tidak mungkin kan dirinya berkata jujur pergi ke kelab malam hanya karena bualan nenek tentang Raihan pergi bersama Dee.


Saat ini perasaan lega bercampur malu menjadi satu dalam diri Shasa, lega karena Raihan tidak pergi bersama Dee dan malu karena tingkah yang berlebihan.


Raihan duduk di sofa sembari memperhatikan tingkah Nenek dan juga Shasa yang tengah tersenyum bahagia. Jujur ia tak paham dengan apa yang mereka bahas, tetapi ia tadi sempat mendengar Nenek mengucapkan maaf kepada Shasa karena telah membohongi istrinya.


Tiba-tiba Raihan teringat dengan pistol Desert Eagle yang ia ambil dari holster paha yang dikenakan Shasa dibalik rok.


Raihan sangat ingin bertanya langsung tetapi ia takut malah membuat Shasa menjadi marah. Jadi hal tentang pistol Desert Eagle akan menjadi rahasianya bersama dengan Evan, jika pria itu tidak membongkarnya ke Shasa tapi.

__ADS_1


__ADS_2