
Langkah kaki Donna terhenti ketika melihat ruangan luas di depannya dipenuhi oleh kegelapan. Tidak mengherankan jika Raihan mematikan semua lampu, pria itu pasti sedang menyesali kejadian tujuh tahun yang lalu. Mengingat kejadian itu, Donna menjadi merasa bersalah karena ia ikut andil dalam pembunuhan Shasa.
Andai saja waktu itu ia tidak memperlakukan Shasa dengan buruk, mungkin rasa bersalahnya tidak akan menjadi separah ini. Tapi sudahlah kejadian itu telah lama terjadi lagipula Raihan juga sudah memaafkannya.
Donna mengerutkan keningnya ketika indera penciumannya dipenuhi oleh aroma alkohol yang menyengat. Bahkan aroma alkohol di ruangan ini lebih menyengat daripada aroma alkohol diluar. Sepengetahuannya Raihan tidak pernah minum sampai separah ini.
Raut wajah Donna tiba-tiba berubah menjadi panik. Wanita itu langsung mencari keberadaan saklar lampu dengan bantuan senter dari handphonenya. Namun saat menemukannya, saklar lampu di ruangan itu sama sekali tidak berfungsi.
"Sial!"
Dengan kalang kabut Donna mencari Raihan menggunakan senter dari handphonenya. Sepuluh menit berlalu dan ia tidak menemukan siapa-siapa, semua kamar yang ada di ruangan itu telah ia cek satu persatu dan hasilnya tetap sama.
"Astaga, apa yang telah aku pikirkan! Mana mungkin pria tangguh seperti Raihan mencoba untuk bunuh diri"
Peluh yang membasahi wajahnya ia usap dengan perlahan. Perasaannya menjadi sedikit lega karena hal yang dikhawatirkannya tidak terjadi. Namun pikirannya tidak akan bisa tenang sebelum menemukan bos gilanya itu.
Donna menggerutu sepanjang lorong, wanita itu sedikit menyesal mengapa ia harus menjadi tangan kanan Raihan. Sekuat dan sehebat apapun ia tetaplah seorang wanita, pekerjaannya yang berbahaya bisa merenggut nyawanya kapan saja. Belum lagi perintah yang diberikan Raihan terkadang tidak termasuk dalam bagian dari pekerjaannya.
Mau bagaimana lagi coba, lagipula ia sudah terlalu dalam terjun di dunia gelap bersama dengan Raihan. Mau tidak mau ia harus tetap bersyukur karena sampai detik ini ia masih bisa bernafas. Tentu saja dengan bayaran setimpal yang membuatnya selalu tersenyum bahagia.
"Loh, Raihan mana? kok Lo sendirian?"
Wanita itu tetap diam tidak menjawab pertanyaan beruntun yang Kendra tanyakan padanya. Bartender bernama Kendra itu menyodorkan sloki kepada Donna yang sudah duduk manis didepannya.
Setelah meminum Vodka pemberian Kendra dalam satu tegukan, Donna membuka suaranya.
"Raihan nggak ada di kamarnya" tutur Donna dengan nada suara yang lesu.
Gelas sloki nya yang telah kosong kembali ia sodorkan kepada Kendra. Gerakan tangannya seolah meminta Kendra untuk mengisi gelasnya lagi. Namun bukannya menuangkan Vodka, Kendra malah menuangkan air mineral.
"Lo kesini kan mau jemput Raihan, masa Lo ikutan mabuk juga" cibir Kendra membuat Donna mencebikkan bibirnya.
"Lagian Lo bukannya nyari Raihan malah datang kesini, apa jangan-jangan Lo suka sama__,"
"Lo bukan tipe Gue!"
Kendra terkekeh melihat ekspresi Donna yang terlihat malas meladeninya. Wanita dengan jaket merah itu meninggalkanya begitu saja setelah meminum air mineral pemberiannya tadi.
"Kendra sialan!"
__ADS_1
Donna merasa detak jantungnya menjadi tidak beraturan. Candaan dari Kendra tadi membuatnya merasa tidak nyaman. Mana mungkin ia bisa menyukai pria yang jelas-jelas bukan tipenya.
Disaat Donna ingin membuka pintu mobilnya, ekor matanya sekilas melihat mobil berwarna hitam terparkir tak jauh dari tempatnya parkir. Setelah diperhatikan lebih jelas lagi, mobil itu terlihat seperti mobil milik Raihan.
"Jika mobilnya masih terparkir disini, Raihan pasti juga masih ada disini"
Donna terdiam sejenak, selang beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi panik. Wanita itu berlari secepat mungkin kembali masuk kedalam.
Kendra yang dikagetkan oleh kedatangan Donna langsung ikut menyusul dan meninggalkan pekerjaannya.
***
"Terimakasih"
Dompet kulit berwarna hitam itu kembali dimasukkan ke dalam saku celana miliknya. Dilihat dari wajahnya Evan nampak sama sekali tidak sadar dompetnya terjatuh.
"Ngomong-ngomong kalian menemukannya dimana?"
"Di lantai dua, saat anda ingin menemui perempuan yang memakai dress berwarna merah muda"
Evan mengerutkan keningnya, mengingat-ingat kapan dirinya ingin menemui perempuan memakai dress berwarna merah muda. Gadis yang berdiri disamping pemuda itu melototi pacarnya.
Pemuda yang berdiri dengan menggandeng tangan pacarnya itu tersenyum sungkan karena tidak tahu nama warna-warna seperti itu.
Ingatan Evan kembali pada wanita yang makan malam dengan gadis kecil mirip dengan kakaknya. Muncul perasaan yang kuat dalam hatinya mengatakan gadis kecil itu adalah anak Raihan.
"Wanita itu sangat judes, kami hanya memintanya untuk mengembalikan dompet ini kepada anda karena kami kira mungkin kalian saling mengenal. Tetapi perempuan itu malah membuat kami merasa jengkel"
Evan diam mendengarkan gadis itu menumpahkan kekesalannya pada wanita yang memakai dress peach.
"Heii sudahlah jangan begitu" Pemuda itu memenangkan gadisnya yang sudah terlanjur emosi.
"Apakah kalian bisa menjelaskan ciri-ciri wajahnya seperti apa? apakah mirip dengan gadis kecil yang duduk didepannya?"
Sepasang kekasih itu saling terdiam, pertanyaan dari pria didepannya terlalu banyak hingga sulit dimengerti oleh otak mereka.
"Perempuan itu terlihat masih muda, gadis kecil yang duduk didepannya itu mungkin adiknya"
Terdapat rasa kekecewaan yang mendalam ketika dua orang didepannya mengatakan perempuan itu terlihat masih muda dan wajahnya tidak mirip dengan gadis kecil.
__ADS_1
"Baiklah terimakasih telah mengembalikan dompet suamiku"
Tiba-tiba Misha yang tadinya duduk menemani tuan Robert kini sudah berdiri di samping Evan. Wanita itu membuka tasnya kemudian mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya.
"Ini terimalah"
Misha menyodorkan uang yang diambilnya itu kepada sepasang kekasih didepannya. Namun bukannya menerima pemberiannya, pemuda itu malah tersenyum.
"Kami ikhlas mengembalikan dompet milik suami anda"
Setelah pamit kepada Evan, dua orang itu pergi meninggalkan Misha dan Evan yang masih berdiri ditempatnya.
"Sayang, apa yang kau bicarakan dengan mereka?"
Misha sudah melingkarkan tangannya di lengan Evan, mengajak suaminya itu untuk kembali ke meja mereka.
"Lepaskan tanganmu, Aku masih ada urusan penting"
Bukannya melepaskan tangannya, Misha malah menahan Evan yang ingin lepas darinya.
"Evan kau masih punya urusan dengan tuan Robert, bagaimana kau bisa ingin meninggalkannya"
Astaga hampir saja Evan melupakan tuan Robert malam ini. Mau tidak mau ia harus kembali menemui tuan Robert dan membahas hubungan kerjasama yang akan dilaksanakan kedepannya.
"Maaf tuan Robert__,"
"Tidak apa-apa, saya tahu anda memiliki urusan yang lebih penting"
Evan tersenyum sungkan, untung saja rekan kerjanya ini murah hati.
Belum sepuluh menit berbincang dengan tuan Robert, getaran dari saku jasnya mengalihkan perhatiannya. Evan menatap tuan Robert seolah meminta izin untuk mengangkat telepon.
"Silahkan"
Evan mengerutkan keningnya ketika membaca nomor kontak yang menelponnya. Tumben sekali wanita ini menelponnya. Setelah menggeser tombol hijau keatas, Evan menempelkan benda pipih itu pada telinganya.
"Apa!"
Belum ada satu menit setelah mengangkat telpon, raut wajah Evan tiba-tiba berubah menjadi tegang. Evan langsung memanggil pelayan dan membayar semua tagihannya. Setelah meminta maaf berulangkali kepada tuan Robert, Evan pergi meninggalkan tuan Robert dengan kalang kabut. Begitupula dengan Misha yang masih bingung apa yang sedang terjadi.
__ADS_1