
Bukan Shasa namanya kalau tidak mengikuti Evan secara diam-diam, setelah mobil Evan melaju tak lama kemudian sebuah taksi datang dari arah kanan.
Shasa melambaikan tangannya lalu masuk kedalam taksi tersebut, untungnya disaat seperti ini ada taksi yang lewat.
"Ikuti mobil yang di depan pak"
Shasa menunjuk kearah mobil Evan yang masih terlihat didepan sana.
Semakin lama mobil Evan semakin melaju kearah pinggiran kota, tetapi bukan jalan menuju ke Markas. Shasa semakin yakin kalau orang yang ditemui Evan pasti Raihan, entahlah Shasa merasa kalau Evan dan Raihan menyembunyikan sesuatu darinya.
"Stop, stop pak"
Shasa mengehentikan taksi yang dinaikinya ketika mobil Evan berhenti di depan sebuah gang sepi. Shasa menjaga jarak agak jauh dari mobil Evan agar tidak ketahuan kalau dirinya sedang membuntuti Evan secara diam-diam.
"Ini pak"
Dua lembar uang berwarna biru Shasa keluarkan dari saku rok nya, untung masih ada uang recehan untuk membayar ongkos taksi. Karena gugup bercampur takut tadi pagi menyebabkan Shasa lupa tidak menagih tas, dompet, ataupun hp nya yang sampai saat ini masih dibawa Evan.
Mungkin karena rasa penasaran yang tinggi, Shasa sampai tidak sadar kalau semenjak tadi ada mobil lain yang juga sedang mengikutinya dengan diam-diam pula.
Sedangkan di sisi lain Evan sedang khawatir, raut wajahnya nampak gelisah. Setelah turun dari mobil, dilihatnya sebentar gang yang ada didepannya saat ini.
Masuk atau tidak? Evan ragu untuk mengambil keputusan, tapi sekali lagi demi Shasa ia akan melakukan apapun.
Melihat Evan yang berjalan masuk kedalam gang sepi itu, Shasa mulai melakukan rencananya yaitu menguping dan menangkap basah Evan dan Raihan yang kemungkinan besar sedang bertemu di gang itu.
Angin sepoi-sepoi membuat suasana semakin mengerikan, tidak ada perumahan. Jalanan sepi, hanya beberapa kendaraan yang lewat dan satu pohon ringin yang menjulang tinggi seolah ada penghuninya.
Hiiii, Shasa bergidik ngeri membayangkan ada kuntilanak turun dari atas pohon ringin yang dijadikannya sebagai tempat menguntit.
"Amit-amit deh"
Karena jarak antara gang dengan tempatnya berdiri saat ini lumayan jauh, Shasa jadi tidak terlalu jelas melihat Evan yang sedang berbincang dengan seseorang di dalam gang itu.
Untuk mendapatkan hasil yang lebih mantap, akhirnya Shasa memutuskan untuk berjalan mendekati tempat Evan dan seorang perempuan sedang berbincang, tepatnya sedang beradu argumen.
Siapa perempuan itu?
Perempuan bertubuh langsing, berpakaian serba hitam dan memakai kacamata serta topi lebar yang membuat Shasa menjadi sulit untuk mengenali lebih jelas.
__ADS_1
Ternyata dugaan Shasa salah, Evan bukan menemui Raihan melainkan bertemu dengan perempuan misterius itu.
"Sekali lagi Gue ingetin! Gue gak bakal pernah mau berdamai! apapun ancaman dari Lo ataupun dia gak bakal mempan!"
Nampak pias wajah Evan yang terlihat marah dan menggertak kepada si wanita berpakaian serba hitam. Shasa bingung, siapa 'dia' yang dimaksud oleh Evan barusan, lalu kenapa wanita itu juga ikut mengancam Evan pula.
Ingin sekali Shasa menangkap basah Evan dan wanita itu, tapi diurungkan niatnya karena ia harus berjaga-jaga, bagaimana jika perempuan itu membawa senjata api. Walaupun ilmu bela dirinya sudah bisa dikatakan sempurna, tetapi jika berhadapan dengan senjata api ia lebih baik diam terlebih dahulu.
Krek!
"Sia_,"
Belum sempat menoleh kebelakang, mulut Shasa dibungkam oleh seseorang dari belakang.
"Eeemmpph"
Enggak, gak mungkin gue diculik kuntilanak!!
Sungguh, Shasa sudah berusaha untuk berteriak dan lepas dari dekapan Kuntilanak dibelakangnya. Tetapi setan satu ini tenaganya sangat kuat, melebihi dari tenaganya sendiri. Apa jangan-jangan setan ini ingin balas dendam karena dirinya sudah mengusik pohon angker tadi.
Berbagai macam pemikiran bercampur aduk menjadi satu didalam otak Shasa, hingga pandangannya mulai terlihat buram dan lama-kelamaan menjadi gelap.
Rasa khawatir sekaligus rasa bersalah muncul seketika melihat orang yang saat ini sedang ia bekap tidak sadarkan diri. Raihan mengendong Shasa lalu ia bawa lari kearah mobil yang jaraknya lumayan jauh.
Jangan sampai Evan tau Shasa pingsan karena ulahku!
***
FLASHBACK
Satu jam sebelum kejadian Shasa pingsan.
Setelah kepergian pak Na dari ruangannya, Raihan berbalik lalu menatap tumpukan dokumen yang belum di tangani olehnya. Tidak mungkinkan, hanya dengan dilihat saja semua tugasnya langsung bisa selesai.
"Arrrggh"
Tiga puluh menit berlalu tetapi tumpukan dokumen di meja Raihan masih sama tidak berkurang satupun. Sungguh hal ini tidak seperti biasanya, hari ini memang hari yang benar-benar terasa memusingkan daripada hari-hari sebelumnya.
Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam otaknya, mungkin ide ini akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Raihan mengambil smartphonenya untuk mencari nomor seseorang, kontak bernamakan 'Donna" ia tekan lalu terdengar sapaan sopan dari seberang sana.
__ADS_1
"Selamat siang tuan"
Terdengar suara feminim dari seberang sana yang menandakan telpon Raihan sudah diangkat oleh perempuan diseberang sana.
"Pergi ke gang y di jalan xx, sekarang juga! jangan lupa ingatkan pria itu dengan sabar dan jangan melukainya sedikitpun"
"Baik tuan"
Panggilan diakhiri secara sepihak oleh Raihan, pria itu tersenyum miring lalu kembali membuka handphone miliknya, sekarang saatnya untuk menghubungi pihak ke dua.
Send to Evan:
Datang ke gang y di jalan xx SEKARANG!, atau kedok aslimu kubongkar pada istriku, Shasa.
Raihan tersenyum puas lalu beranjak dari ruangannya, mobil Raihan melaju meninggalkan kantor untuk segera menemui Evan di tempat yang telah ditentukan olehnya.
Satu hal lagi, jangan sampai Nenek tau kalau hari ini ia akan membicarakan sesuatu yang penting dengan Evan, dan tentunya juga akan mengancam pria itu untuk tidak ikut campur rumah tangganya.
Sepertinya dewi fortuna sedang berada di pihaknya, saat berada di lampu merah Raihan melihat seorang wanita mengenakan kemeja press body dan rok span sedang melambai kearah taksi.
Sekitar 50 meter dari mobil yang Raihan naiki. Muncul rasa kesal dalam hati kecilnya ketika mengamati pakaian Shasa yang seperti kekurangan bahan. Tapi ya sudahlah, terpenting saat ini adalah membuntuti Shasa secara diam-diam.
Mau kemana dia?
Dahi Raihan berkerut mengingat arah yang ditujunya sama dengan taksi yang dinaiki Shasa saat ini.
Lucu sekali mereka bertiga, Evan dibuntuti Shasa sedangkan Shasa sendiri juga sedang dibuntuti oleh Raihan. Membuntuti orang yang sedang membuntuti orang juga.
Taksi yang dinaiki Shasa tadi kini berbalik arah lalu pergi, sekarang tinggal lah Shasa sendirian yang sedang bersembunyi dibawah pohon ringin yang rindang. Dugaan Raihan benar jika saat ini Shasa sedang menguntit Evan, lucu sekali rasanya melihat Shasa dengan wajah was-was seperti itu.
Tak lama kemudian Shasa berjalan pelan, semakin mendekat kearah gang yang didalamnya ada Evan dan Donna, orang suruhannya.
Merasa khawatir jikalau Shasa dilukai Donna, Raihan keluar dari mobilnya lalu berjalan agak cepat untuk menemui Shasa.
Krek!
Sialnya kaki Raihan menginjak ranting kering yang berada dibawah kakinya hingga menimbulkan suara nyaring. Karena gugup jika saja Shasa berteriak keras, tangan Raihan membungkam mulut Shasa cepat agar tidak menimbulkan kecurigaan Evan didalam sana.
Double sial lagi saat istri kesayangan ini malah tidak sadarkan diri karena bungkaman tangannya yang terlalu kuat. Raihan menggendong Shasa lalu berlari kearah mobilnya yang lumayan jauh, ia akan membawa Shasa pergi ke rumah sakit terdekat.
__ADS_1
FLASHBACK OFF