Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Jika Tuhan Menghendaki


__ADS_3

Brakk!


Raihan terkesiap dari lamunannya, seorang pria berpakaian formal lengkap dengan sebuah map dokumen ditangannya masuk kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pria itu berjalan cepat kearah tempat duduknya diikuti oleh wanita angkuh mengekor dibelakangnya.


Brak!


Sekali lagi Evan dengan lancang meletakkan map dokumen yang dibawanya tepat di depan wajah Raihan. Raut wajahnya menunjukkan ada yang tidak beres dengan isi map dokumen itu.


"Duduklah, kau bisa membicarakannya baik-baik"


"Setelah kau membuat perusahaan ini berada diambang kehancuran?"


Tangan Evan menarik kursi didepannya lalu duduk dengan wajah yang mengintimidasi. Misha yang mengekor dibelakangnya juga ikut menarik kursi untuk dirinya sendiri.


"Evan bisakah kau menyuruh jala*g itu pergi dari hadapanku?"


Kalimat yang baru saja dilontarkan Raihan berhasil menghentikan Misha yang hampir menduduki kursi yang ditariknya .


Ruangan itu kembali menjadi hening, Misha masih berdiri ditempatnya dengan tangan yang memegang erat kursi. Ucapan dari kakak iparnya berhasil membuatnya merasa sakit hati. Apalagi ketika melihat raut wajah Evan yang seolah menyuruhnya untuk pergi dari sini, harga dirinya seolah hilang didepan dua pria kakak beradik itu.


Tidak ingin terlihat begitu menyedihkan didepan suami serta kakak iparnya, Misha sedikit mengangkat kepalanya lalu berjalan dengan angkuh keluar dari ruangan itu. Suara high heels miliknya menggema menyusuri lorong kantor hingga tidak terdengar lagi.


"Seleramu sangat buruk"

__ADS_1


Raihan tersenyum sekilas menertawakan Adiknya yang terjebak pernikahan dengan jala*g murahan, bahkan asal-usulnya saja tidak diketahui.


"Setidaknya Aku gak akan bunuh Misha "


Raut wajah Raihan berubah berang ketika Evan mulai menyinggung tentang masa lalunya.


***


Dua Minggu kemudian...


Tidak terasa sudah hampir satu bulan Shasa dan Allin menempati rumah yang telah disewanya. Hidup mereka berjalan dengan mulus tanpa ada gangguan sedikitpun. Shasa yang awalnya selalu merasa cemas dengan ketakutannya, perlahan mulai berpikir positif dan merasa aman tinggal di kota ini.


Pria dari masa lalunya itu tidak akan pernah bisa bertemu dengannya ataupun dengan putrinya. Sekalipun jika Tuhan menghendaki, Shasa akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauh. Walapun ia harus pergi ke ujung dunia, Shasa akan melakukannya demi dirinya dan putri semata wayangnya.


"Lihat!"


Drrrrrrtt!


"Sebentar ya Allin, Om angkat telepon dulu"


"Hmm, iya Om"


Wajah Allin berubah menjadi murung ketika melihat langkah Om baik yang pergi semakin menjauh. Muncul rasa sedih di hati kecilnya ketika tahu sebentar lagi ia akan berpisah dengan Om baik.

__ADS_1


Sejak kejadian dua Minggu yang lalu, orang yang hampir saja menabraknya kini malah akrab dengannya. Om Han sering menemaninya seusai pulang sekolah. Mamanya yang selalu terlambat menjemputnya membuatnya mempunyai waktu untuk bermain dengan Om baik kesayangannya.


Terkadang jika Mamanya terlalu lama menjemputnya, Om baik akan mengajaknya makan siang, pernah juga beberapakali Om baik menghantarkannya pulang. Dengan hadirnya Om baik, Allin tidak merasa kesepian saat Mamanya sibuk dengan pekerjaannya.


"Sayang, ayo pulang! Maaf ya Mama terlambat lagi"


Allin menoleh kebelakang ketika seorang perempuan dengan wajah lelah memanggilnya. Bibir kecilnya tersenyum manis saat tahu Mamanya sudah menjemputnya.


"Mama lama banget" ucap Allin mengerucutkan bibirnya, kedua tangannya dilipat didepan dada seolah-olah sedang marah.


"Ya ampun Nona sepertinya sedang marah. Maafkan Mama ya Non, lain kali Mama nggak akan terlambat lagi"


"Iya, lain kali ngga boleh telat" jawab Allin menahan senyumnya sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Yaudah, ayo pulang"


Allin menganggukkan kepalanya kemudian berjalan kearah mobil hitam yang terparkir di tepi jalan.


Pria yang baru saja mengakhiri telponnya celingkungan mencari gadis kecil yang bersamanya tadi. Sesaat kemudian mata pria itu terarah pada seorang wanita yang berjalan kearah jalan raya bersama gadis kecil didepannya. Setelah sampai didepan sebuah mobil berwarna hitam, Wanita itu membukakan pintu mobil untuk gadis kecil yang dicarinya.


Pria itu menajamkan penglihatannya, wajah wanita yang berpakaian formal itu terlihat tidak jelas. Hampir dua Minggu berlalu dan ia tidak memiliki kesempatan sekali saja untuk bertemu dengan Ibu dari gadis kecil kesayangannya.


Disaat Shasa memasang sabuk pengaman untuk Allin, ekor matanya tidak sengaja melihat seorang pria dari kejauhan. Wajah pria itu tidak terlihat dengan jelas, namun Shasa merasa pria itu seolah sedang memperhatikannya.

__ADS_1


"Mah! Mama liatin apa sih?"


"Mama ngga liat apa-apa" jawab Shasa santai sembari memasang sabuk pengaman untuk dirinya sendiri. Peduli apa dirinya dengan pria tidak jelas yang menatap aneh mobilnya seperti itu.


__ADS_2