Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Oleh-oleh


__ADS_3

Perjalanan selama 16 jam cukup membuat Shasa kelelahan. Walaupun ini bukan kali pertama dirinya naik pesawat, tetap saja menguras tenaga. Entahlah setengah hari duduk diam di pesawat membuatnya merasa bosan, apalagi Raihan juga ikut tertidur.


Disinilah Shasa sekarang, didepan sebuah rumah minimalis modern tapi sangat nyaman untuk ditinggali. Sudah seminggu Shasa meninggalkan rumah ini, rasanya ada yang menggelitik ketika sadar kalau rumah ini sudah hampir lima bulan ditempatinya.


"Terimakasih"


Shasa tersenyum pada pak supir taksi kemudian membayar ongkos, sedangkan Raihan bertugas menurunkan koper dari bagasi.


Tok tok tok


Shasa mengetuknya tiga kali, namun lama tidak dibuka oleh Nenek. Raihan sudah memanyunkan bibirnya karena lelah dan tidak sabar meletakkan dua koper yang dibawanya sekarang.


Koper yang isinya berbagai macam oleh-oleh untuk orang terdekat, awalnya Raihan berencana untuk menaruhnya di koper Shasa, tapi wanita itu menolak keras hingga akhirnya berbagai oleh-oleh itu ditaruh dikopernya.


"Loh! cucu Nenek sudah sampai yah!" jerit bahagia terdengar dari pagar luar rumah.


Shasa dan Raihan spontan menoleh kebelakang dan melihat Nenek yang tersenyum lebar membawa beberapa sayuran.


"Mana oleh-oleh milik Nenek?" tanya Nenek antusias hingga sayur yang dibawanya tadi dilempar diatas meja teras.


"Oleh-oleh apa Nek?" tanya Raihan mengerutkan dahinya, bukannya Nenek tidak minta untuk membawakan oleh-oleh? kenapa sekarang Nenek memintanya.


"Ya cicit lah! masa Nenek kamu bawain oleh-oleh tikus, kan nggak lucu, hahahha"


"Nenek bilang apa barusan?" tanya Shasa memastikan apakah pendengarannya sedang tidak baik atau Nenek yang memang sedang melantur. Mana ada setelah pulang dari honeymoon langsung punya anak, ada-ada saja Neneknya ini.


"Ah dasar kuno, masa Nenek cuma becanda kalian malah bengong gitu!" Nenek berdecak kesal kemudian mengambil sayur yang dilemparnya tadi.


"Dasar Nenek kamu!"


Shasa ikut masuk kedalam meninggalkan Raihan yang masih bingung akan ucapan Neneknya tadi.


"Emang bisa langsung jadi ya?" gumam Raihan bertanya kepada dirinya sendiri.


"Hiiii, lama-kelamaan bisa gila Aku!"


Raihan menggelengkan kepalanya cepat kemudian menyeret dua koper berat itu masuk kedalam. Daripada memikirkan ucapan Nenek yang tidak masuk akal, mending tidur untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


***


"Terimakasih yah"

__ADS_1


"Sama-sama"


Shasa tersenyum senang, sweater rajut pilihannya ternyata sangat disukai oleh Nenek, tidak sia-sia Shasa memilih hampir selama satu jam.


"Oh ya Nek, habis ini Shasa keluar sebentar yah"


"Raihan udah tau? ini hampir Maghrib loh, masa mau pergi sekarang"


Shasa terdiam, bukankah lebih baik tidak ada Raihan daripada pria itu tidak mengijinkannya pergi ke luar. Raihan sejak jam tiga sore sudah berangkat ke masjid untuk menunaikan Sholat Ashar sekalian tidak pulang sampai Sholat Isya selesai.


"Cuma sebentar kok Nek"


Kegigihannya itulah yang membuat Nenek mengalah berdebat dengan Shasa, yasudahlah! terserah saja.


***


Dalam kegelapan malam, cahaya rembulan yang bersinar terang terhalang akan dedaunan rimbun. Dinginnya malam itu seolah menusuk sampai tulang. Wanita bermata tajam yang lewat ditengah hutan itu bagaikan baja, tidak basah saat disiram air dan tidak meleleh saat dipanaskan.


Brak!


Pintu mobil tertutup kencang, wanita cantik itu melangkah memasuki pintu Markas yang sudah dianggapnya sebagai rumah sendiri. Tangan kanannya menenteng botol transparan, sehingga dapat dilihat isinya berupa cairan bening dan tidak berwarna.


Tak tak tak


"Tumben, kesini?"


Plak!


Pria itu mengusap kepalanya yang baru saja terkena gamparan dari Shasa.


"Gimana sih Van! sebenarnya otak kecil Lo itu bisa bekerja nggak sih"


Shasa ikut duduk disebelah Evan, menemani sahabatnya yang terlihat kelelahan bekerja. Bahkan dipangkuan Evan masih ada laptop yang menyala dengan tampilan layar yang Shasa tak tahu dengan jelas apa isinya.


Diam-diam Shasa merasa bersalah karena menyerahkan pekerjaannya selama satu minggu penuh kepada Evan. Mau bagaimana lagi, tidak ada orang yang Shasa percaya selain Evan.


"Mana oleh-oleh nya?" tanya Evan merenggangkan otot-ototnya lalu menutup laptop dan meletakkannya di atas meja.


Shasa memutar bola matanya jengah kemudian meletakkan botol yang dibawanya tadi didepan Evan. Pria itu mengkerutkan dahinya lalu beralih menatap ke arah Shasa yang duduk disampingnya.


"Hanya ini?" tanya Evan tak percaya sembari mengangkat botol itu dan membaca tulisan yang tertempel pada tubuh botol.

__ADS_1


Setelah membaca tulisan pada botol, Evan membelalak tak percaya apa yang Shasa berikan padanya. Minuman beralkohol sejenis Vodka yang langka dan sulit untuk ditemukan, jelas harganya bisa membangun sebuah perusahan bahkan bisa lebih.


"Lo ngabisin uang berapa cuma buat beli botol ini?" tanya Evan yang hanya dibalas senyuman oleh Shasa.


Shasa tak perduli dengan uang yang akan ia buang demi membuat Evan bahagia. Bahkan hanya uang saja Shasa tidak bisa membayar apa yang Evan lakukan untuknya.


"Van, sia-sia tau nggak Gue bawa senjata sebanyak itu tapi nggak ada gunanya sama sekali" Protes Shasa memajukan bibirnya seolah kesal dengan apa yang Evan sarankan pada dirinya sebelum berangkat ke Italia.


"Namanya juga buat perlindungan diri, selama Gue gak ada disamping Lo" jawab Evan kesal lalu meneguk Vodka yang Shasa berikan tadi.


"Makasih ya bang, udah sayang sama Adek" ucap Shasa tergelak lalu memeluk Evan dari samping.


"Najis! pelukan sama wanita yang udah ternodai kayak Elo!" ucap Evan jijik dengan apa yang Shasa katakan barusan, tetapi Evan menerima pelukan Shasa. Memberi sahabat kesayangan itu sebuah kecupan singkat di dahinya.


***


Dua minggu berlalu pernikahan Shasa dan Raihan sudah menginjak bulan ke enam. Semuanya baik-baik saja, Shasa merasa bahagia bisa menjalankan pernikahan selama enam bulan ini tanpa ada gangguan. Jikalau ada gangguan pasti hanya masalah kecil yang terjadi seperti pernikahan pada umumnya.


Shasa juga tidak tahu apakah Raihan sudah mengetahui identitas aslinya atau belum. Padahal sudah setengah tahun hidup bersama satu atap rumah.


Matahari mulai naik memancarkan sinar hangatnya pada permukaan bumi yang gelap. Sepasang manusia itu masih terlelap dalam tidurnya, saling memeluk memberikan kehangatan pada satu sama lain hingga pancaran sinar matahari yang masuk ke dalam celah kamar tidak dihiraukan.


Drrrrrrrrt Drrrrrt Drrrt


Getaran dari benda pipih dibawah bantal Shasa membuat wanita itu mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk.


Diambilnya benda berbentuk persegi canggih itu, lalu membaca id yang tertera pada layarnya. Terdengar helaan kasar setelah tahu orang yang menggangu tidurnya adalah Evan.


Shasa bangkit kemudian berjalan ke teras kamar, membuka pintu transparan lalu keluar menghirup udara pagi yang menyejukkan hati.


"Halo, Lo ngapain ganggu Gue?" tanya Shasa pelan karena sebagian nyawanya masih ketinggalan di alam mimpi.


"Shasa, dengerin Gue baik-baik! buka telinga Lo dan jangan sampai Raihan tahu apa yang akan Gue omongin!"


Terdengar suara Evan yang serius membuat Shasa merasa ada hal penting yang akan Evan bicarakan padanya.


"Apa?" tanya Shasa penasaran, matanya yang semula masih mengantuk kini sepenuhnya terbuka.


".........."


"Apa!"

__ADS_1


Shasa menutup mulutnya, matanya membulat sempurna. Kakinya terasa lemas setelah mendengar apa yang Evan ucapkan barusan.


__ADS_2