
Shasa terduduk diam di kamarnya, menanti kepulangan orang yang tinggal satu atap bersamanya.
Dua jam berlalu...
Terdengar suara mobil masuk ke halaman depan rumah, hingga tak lama kemudian Raihan masuk kedalam kamar dengan wajah yang terlihat bahagia.
Pria itu mengecup kening Shasa sayang, kemudian beranjak untuk mengganti pakaiannya.
"Sampai kapan kamu mau membohongiku?" tanya Shasa datar, pandangannya lurus menatap ke depan.
"Aku tidak pernah membohongimu, sayang" jawab Raihan mendekat kearah Shasa yang duduk ditepian ranjang.
"Omong kosong! brengs*k!"
Shasa berteriak keras, wanita itu sontak berdiri dengan belati ditangannya. Shasa berniat menusuk jantung Raihan namun gagal karena pria itu berhasil menghindar.
Dengan semua amarahnya yang membludak, disertai rasa penyesalan yang mendalam. Shasa kembali menyerang hingga lengan kiri pria itu tersayat.
"Apa yang kau lakukan!"
Berulangkali Raihan mencoba menghindari serangan Shasa, namun Shasa semakin gencar melakukan hal gila hingga lengannya tertusuk dan berdarah.
Disaat Shasa berhasil menguasai keadaan, kurang beberapa detik wanita itu menancapkan belatinya di jantung Raihan. Suara pintu terbuka membuatnya menoleh.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Raihan, dengan cepat tangannya membungkam mulut Shasa. Awalnya Shasa memberontak, tapi tak lama kemudian wanita itu pingsan karena kekurangan oksigen.
***
Perlahan mata Shasa mulai terbuka, tidak ada yang sakit pada bagian tubuhnya. Namun saat Shasa ingin bangkit dari posisinya. Sebuah rantai mengikat pergelangan kaki kirinya. Rantai sepanjang satu meter yang terhubung dengan ranjang.
Samar-samar telinganya mendengar keributan dan adu mulut dari ruang depan. Shasa terdiam mencoba mendengarkan pembicaraan sengit itu.
"Dasar brengs*k! Lo ngebunuh bokap nyokap Shasa dan sekarang Lo bahkan berencana membunuh Shasa!!"
"Semua itu karena Elo yang mulai duluan! kalau Lo nggak deketin Shasa, Gue gak akan pernah bunuh orangtuanya!
"Dan Lo nyiksa Gue, Lo gak bisa deketin Shasa karena Lo itu pecundang! bukan karena Gue yang deket sama Shasa!"
__ADS_1
BUGH!
"Hentikaaan! biarlah semua itu berlalu, kalian berdua itu cucu Nenek. Tidak seharusnya kalian bertengkar"
Wanita tua itu mengehentikan kalimatnya sejenak kemudian kembali berucap.
"Apalagi kau Raihan! kau sudah berjanji tidak akan pernah bertengkar dengan adikmu. Tapi sekarang kau malah melukai Evan!"
Terdengar suara Nenek yang menangis histeris. Dilanjutkan dengan suara adu mulut antara dua kakak beradik yang tidak kunjung berhenti.
Shasa menangis tanpa suara, sekarang dirinya benar-benar kehilangan kepercayaannya kepada dua pria sekaligus.
"Kau bahkan meminta Nenek untuk membantumu menjerat Shasa dalam pernikahan sakral yang kau buat-buat"
"Aku mencintainya, karena dia memang milikku sejak awal"
Kepingan masa lalu kini bermunculan pada kepalanya.
Dulu disaat dirinya masih berada di tanah air, ia berteman dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah Evan. Evan tidak sendirian karena beberapa kali pernah membawa teman laki-lakinya yang Shasa tidak tahu namanya.
Awalnya semua berjalan dengan baik, namun lama-kelamaan teman Evan yang Shasa tidak tahu namanya itu jarang ikut bermain dengannya. Bahkan seringkali dirinya menemukan luka lebam di tubuh Evan.
Setelah tiga hari kepergian orangtuanya. Ibu dari Evan meninggal karena serangan jantung. Dengan diselimuti duka yang mendalam, Shasa mau tidak mau harus melayat almarhum ibu dari sahabatnya.
Evan juga sama sedih dengannya, saat itu yang Shasa ketahui Evan adalah anak tunggal. Ia tidak tahu bahwa orang yang dulunya bersama Evan adalah Raihan, kakak Evan.
Semuanya berjalan seolah Evan adalah anak tunggal selama bertahun-tahun.
Shasa tersadar dari lamunannya ketika seorang wanita tua masuk kedalam kamarnya. Wanita tua itu masih dengan mata sembab dan penuh air mata berjalan pelan mendekatinya.
"Maafkan Nenek, Nenek hanya ingin mengabulkan permintaan terakhir orang tuamu untuk menjodohkan mu dengan Raihan"
"Dan Raihan membunuh kedua orangtuaku sebagai imbalannya?"
"Tidak Nak! Raihan mencintaimu sejak dulu, tapi Raihan mengira bahwa kau dijodohkan dengan adiknya, Evan. Itu-- itu yang menyebabkan Raihan membunuh__,"
"Karena dia adalah seorang pecundang!"
__ADS_1
"Bukan Nak, Rai__,"
"Dan Nenek berbohong tentang kecelakaan waktu itu? hingga Aku harus menikahi si brengs*k itu"
Shasa tertawa pelan lalu mengalihkan pandangannya dari tatapan Nenek yang mengiba.
Pikirannya kini kembali ke dua jam yang lalu, dimana ia menemukan map dokumen berwarna hitam yang ditemukannya di laci meja ruang bawah tanah.
Halaman pertama dokumen hitam itu berisikan nama lengkapnya, Queensha Zeline.
Pada halaman selanjutnya, ia tak menyangka kalau biodata miliknya tertulis lengkap pada halaman tersebut. Bahkan pekerjaannya yang sekaligus menjadi seorang Mafia Queen.
Tubuh Shasa menenggang ketika tahu bahwa Raihan sudah tahu semua tentang dirinya. Jatuh bangun perusahaannya, bahkan musuh-musuhnya.
Dihalaman selanjutnya, betapa terkejutnya dirinya saat tahu terdapat mind mapping. Bukan, masalahnya bukan pada mind mapping itu, tapi pada tiap kalimat yang ditulis di mind mapping itu.
Nama Kedua orangtuanya, Arin dan Adson terpampang jelas tertulis pada kepala mind mapping. Kemudian berlanjut namanya, hingga nama Evan.
Dibawah mind mapping itu terdapat sebuah note bertuliskan.
#Jika Arin dan Adson tewas maka, Shasa akan bergantung pada Evan. Lalu jika Evan tiada, maka Shasa akan menjadi milikku.
Dengan nafas yang tercekat Shasa membuka secara acak dokumen itu. Entah pada halaman berapa, terdapat tulisan tangan menggunakan tinta berwarna merah.
Haha, seharusnya Gue gak bunuh kedua orang tua Shasa. Karena dari awal Shasa memang akan dijodohkan sama Gue.
Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita sayang, termasuk Evan. Sekalipun Tuhan.
Jantung Shasa terasa berhenti berdetak saat itu juga. Diakhir tulisan tangan dengan tinta merah itu, terdapat sebuah tanda tangan dengan stempel yang membuat Shasa semakin terbanting dengan kenyataan.
Shasa tahu dengan jelas, tidak sembarang orang memiliki stempel sah seperti pada dokumen ini
Ia punya satu, dan orang yang menulis tulisan ini berarti memiliki posisi yang sama seperti dirinya.
Jika dirinya seorang Mafia Queen, maka Raihan juga seorang pimpinan Mafia yang tak kalah hebatnya.
Tangan Shasa terkepal kuat, ia menyudahi ingatan dua jam yang lalu. Shasa tak mau terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri karena kebenaran itu.
__ADS_1
Saat ini adalah saatnya berpikir untuk melepaskan rantai yang mengikat kakinya dengan ranjang.