
Dengan langkah kaki yang berat Shasa berjalan gontai meninggalkan Allin sendirian. Tidak susah untuk menemukan keberadaan kantin di rumah sakit besar ini, hanya perlu mengikuti petunjuk yang terletak disetiap sudut persimpangan.
Untuk menghindari duduk bersebelahan dengan orang asing, Shasa memilih kursi single yang langsung berhadapan dengan taman mini. Sembari mununggu pesanannya datang, secara tidak sengaja ekor matanya menangkap pemandangan yang tidak biasa dilihatnya.
Dari tempatnya duduk sekarang, indera pengelihatannya bisa dengan jelas melihat seorang pria tua menggandeng seorang perempuan lanjut usia dengan penuh kasih sayang. Sepasang kakek dan nenek itu terlihat sangat mesra, seolah melupakan warna rambut mereka yang sepenuhnya telah berwarna putih.
Perasaan aneh tiba-tiba muncul dalam lubuk hatinya yang paling dalam, namun Shasa hanya bisa berandai-andai dirinya menghabiskan seluruh hidupnya bersama seorang pria yang mencintainya setulus hati. Shasa tersenyum kecut, mungkin jalan hidupnya tidak ditakdirkan untuk hal konyol semacam itu.
Lamunan Shasa buyar ketika seorang pelayan mengantarkan nasi goreng beserta teh hangat yang dipesannya. Ketika suapan ketiga berhasil ia telan, perasaan bersalah kepada Alan muncul kembali dan hal itu berhasil membuatnya merasa tidak tenang.
Dengan perasaan yang campur aduk shasa menghubungi nomor Alan. Pada dering yang pertama sampai dering yang kedua pria itu tak juga mengangkatnya, hingga pada dering ketiga suara cempreng khas Carol terdengar.
Shasa mengurungkan niatnya untuk memberitahu langsung pada Carol, namun jika bukan sekarang mau sampai kapan ia tidak memberitahukan bahwa Allin menginap di rumah sakit dan dirinya harus menunda pekerjaannya terlebih dahulu.
Shasa langsung terdiam ketika omelan panjang dari seberang telepon membordirnya dengan kalimat berisi kemarahan dan kekhawatiran. Sampai-sampai sendok berisi nasi goreng yang sedikit lagi masuk kedalam mulutnya terhenti begitu saja.
"Carol..."
Nasi goreng yang menunggu untuk dilahap itu kembali diletakkan diatas piring setelah Shasa menghela nafasnya.
"Allin udah mendingan kok dan_,"
"Lo itu nggangep gue sebagai apa sih? masa nunggu Allin sampai parah dulu baru ngabarin gue!"
"Carol.. dengerin gue dulu!'
__ADS_1
"Ya, ya, ya. Gue bakal aduin kelakuan lo sama Alan! Sekalian biar Alan nyuruh orang lain buat gantiin misi lo!"
"Please Carol, gue minta maaf. Gue nggak bermaksud buat__,"
Shasa kembali menghela napasnya, seharusnya ia tidak memeritahukan hal ini langsung kepada Carol. Meskpun niatnya memang baik, tapi tadi malam ia benar-benar kehilangan arah dan tak memikirkan apapun kecuali keselamatan Allin.
Tidak ingin mendengarkan ocehan Carol yang semakin melantur kemana-mana, Shasa berniat mematikan sambungan telepon secara sepihak. Namun niatnya ia urungkan ketika suara cempreng Carol berganti dengan suara Alan.
"Sha, lo baik-baik aja kan? sorry kalau Carol ngomong hal-hal yang buat lo sakit hati. Mulutnya emang nggak pernah disaring sebelum ngomong"
Belum sempat Shasa menanggapi pertanyaan dari Alan, suara cempreng Carol kembali terdengar dan kali ini kata-kata Carol berhasil menohok hatinya.
"Apaan sih! Shasa tuh yang selama ini cuma anggap kita sebatas orang luar!"
"Carol, kita nggak tahu apa yang Shasa alamin langsung. Jangan buat kesimpulan kalau Shasa cuma anggap kita orang luar"
"Sha!"
Suara Alan kembali terdengar namun kali ini suaranya lebih jelas dan tidak ada lagi suara Carol.
"Sorry, gue baru ngabarin Allin masuk rumah sakit sekarang. Keadaanya tadi malam bikin gue nggak bisa mikirin apa-apa selain bawa Allin ke rumah sakit doang"
"Iya Shasa gue tahu, lo jangan mikirin omongannya Carol. PMS kali bini gue, makannya jadi emosian kaya gitu"
Shasa berusaha sekuatnya untuk tidak tertawa tapi pada akhirnya ia tidak bisa menahannya. Cinta benar-benar bisa membuat Alan jatuh sejatuhnya pada pesona Carol.
__ADS_1
"Anak gue sakit apa emangnya? Carol udah heboh nyiapin segala keperluannya buat nyusul lo sekarang juga"
"Apa! Alan gue mohon cegah Carol buat terbang kesini. Lagian gue telpon kalian bukan buat minta datang kesini, gue cuma minta buat nunda kerjaan gue sementara waktu karena kondisi Allin yang nggak memungkinkan buat gue tinggal sendirian"
Setelah mengutarakan keinginanya dan langsung disetujui langsung oleh Alan, Shasa mematikan sambungan telepon dengan rasa lega yang luar biasa. Tanpa ijin dari Alan ia tidak bisa begitu saja meningggalkan pekerjaannya.
Lagi-lagi ia merasa sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang-orang baik disekelilingnya. Kehadiran Allin mengubah seratus persen mengenai pemikiranya tentang keberadaan anak yang hanya akan menyusahkan. Tuhan menunjukan kekuasaannya secara langsung kepadanya melalui putrinya.
Mengingat Allin yang sendirian di kamar inapnya, Shasa bergegas menyelesaikan sarapannya yang kesiangan. Satu porsi nasi goreng dan teh hangat mengisi penuh perutnya yang kelaparan, sebelum beranjak dari tempatnya duduk Shasa menengok sepasang kakek dan nenek tadi namun dua orang itu ternyata sudah tidak lagi duduk bercengkerama. Mungkin sudah kembali ke ruang rawatnya atau mungkin saja mencari udara ditempat lain, pikir Shasa.
Kali ini langkah Shasa terlihat terburu-buru, setengah jam lebih ia meninggalkan putrinya seorang diri terbaring diatas brankar. Sekarang ia lebih terlihat seperti tengah berlari kecil, pikirannya yang buruk membuatnya takut akan menjadi nyata.
Setelah sampai didepan pintu ruang Allin dirawat bersamaan dua orang perawat keluar dari ruang rawat bernomor 210 yang hanya dibatasi oleh ruang rawat nomor 209.
Shasa hampir membuka pintu didepannya namun pembicaraan dua orang perawat yang berjalan kearahnya itu berhasil menghentikan tangannya yang hampir menarik handle pintu.
"Kita tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kehidupannya, tapi bisa-bisanya mencoba untuk bunuh diri" ucap perawat bertumbuh tambun tapi memiliki senyuman manis.
"Mungkin saja stress" jawab rekannya yang memegang rekap medis disertai senyum hangat sekilas.
"Padahal masih muda ganteng pula, untung saja nyawanya masih bisa diselamatkan"
Shasa masih mematung ditempatnya berdiri, meskipun dua perawat itu telah berlalu dan menghilang dipersimpangan lorong tetapi kalimat yang didengarkannya barusan masih terngiang-ngiang dikepalanya.
"Bunuh diri?" Shasa menggumam dengan rasa tidak percaya. Merasa masa bodoh dengan kehidupan orang lain, dengan segera ia membuka pintu untuk memastikan kondisi Allin.
__ADS_1
Namun jauh di dalam lubuk hatinya antara sadar atau tidak, Shasa merasakan perasaan khawatir yang tidak tahu kepada siapa rasa khawatirnya ditujukan.