
"Sha, kamu pake baju Nenek nggak apa-apa kan?" tanya Raihan membuka pintu kamarnya sembari membawa sebuah daster berwarna coklat muda.
Evan yang duduk menemani Shasa, sontak berdiri mendekati Raihan yang masih berdiri di dekat pintu.
BUGH!
Tanpa perhitungan apapun sebuah bogem mentah melayang mengenai perut Raihan. Tentu saja Evan yang memberinya, ia tak ikhlas jika sahabat sekaligus Boss nya memakai barang bekas, apalagi sebuah pakaian tidak layak yang di pegang Raihan saat ini.
Apa Raihan berpikir Shasa kekurangan uang sehingga tidak bisa membeli sebuah baju? omong kosong, jika Shasa membeli baju bukan hanya baju saja yang dibelinya namun tokonya pun bisa dibeli. Itulah yang dipikirkan oleh Evan saat ini.
Raihan meringis, ini bukan pertama kalinya Evan menjotos perutnya tapi yang entah keberapa kalinya. Semenjak ia mengucapkan ijab kabul rasanya ia hanya di beri hadiah sebuah bogem mentah oleh Evan yang katanya berstatus sebagai sahabat Shasa
Apakah salah meminjamkan sebuah baju ganti untuk Shasa, lagipula daster yang dipegangnya juga milik Nenek nya sendiri?
"Lo pikir Shasa pembantu hah!"
Evan mencengkeram kuat kerah kemeja Raihan, sedangkan Shasa hanya diam menyaksikan Evan membelanya dari pakaian kumuh dan dekil itu.
Lama-kelamaan Shasa mulai bosan dengan sikap Evan yang menganggap Raihan seperti seorang musuh.
"Evan, bisa berhenti nggak? Gue capek liat Lo berdua berantem mulu!"
Shasa berusaha melerai, ia hanya bisa memejamkan mata dan menekan pangkal hidungnya. Lama-lama ia bisa menjadi cepat tua jika harus melerai agar Evan dan Raihan tidak menciptakan kerusuhan.
Mungkin dua manusia didepannya ini merupakan seorang musuh di kehidupan sebelumnya, terbukti dari mereka yang selalu bertengkar setiap bertemu.
Baiklah-baiklah Evan mengalah kemudian kembali duduk di samping Shasa begitupun dengan Raihan. Raihan duduk berseberangan dengan Evan dan Shasa, tunggu dulu! bukankah Shasa istrinya! mengapa malah Raihan yang harus menjaga jarak?
"Model apa?" tanya Evan ke Shasa, membuat sang pemilik nama mengernyitkan dahi tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh sahabatnya.
Evan memutar bola mata jengah, karena Shasa tidak mengerti apa yang dimaksud. Sebelum Shasa benar-benar penasaran dengan pertanyaan nya, Evan segera melanjutkan ucapannya.
"Mau pake baju model apa?"
Shasa baru mengerti lalu menjawab pertanyaan Evan dengan satu kata yaitu.
"Terserah"
Salah satu jawaban yang tak ingin Evan dengar dari mulut Shasa. Jawaban terserah itu yang bagaimana? bisa saja ia membeli bikini, piyama, dress atau apapun yang bisa dikenakan Shasa, termasuk karung?
Tiba-tiba Evan tersenyum, sebuah ide melintas pada otaknya.
"Ukuran underware lo masih sama atau udah nambah?" tanya Evan agak keras agar Raihan juga mendengarnya.
Mamp*s lo! gue tau ukuran underware milik Shasa. Ejek Evan dalam hati.
Sebuah pertanyaan yang barusan meluncur dari mulut Evan membuat Raihan terbakar. Shasa adalah istrinya seharusnya hanya ia yang mengetahui ukuran underware milik Shasa, bukan seorang pria yang mengaku sebagai sahabatnya itu.
BRAKK!
Otomatis Shasa dan Evan terkejut mendengar gebrakan meja dihadapannya.
"Sha! ikut Aku! kita beli baju sekarang!"
Ajak Raihan pada Shasa, tatapan matanya menandakan amarah yang tak bisa diartikan. Hampir saja tangan Shasa di pegang oleh Raihan namun segera ditepis oleh Evan.
"Van cepet! baju sialan ini sangat tidak nyaman!" tutur Shasa datar tanpa menatap Evan.
"Baiklah"
Sebelum Evan keluar dari kamar Raihan, ia tersenyum puas melihat Raihan yang nampak di abaikan oleh Shasa. Jangan pernah berharap Lo bisa ngerebut Shasa dari gue!
__ADS_1
Raihan kembali duduk lalu menatap intens Shasa, Benarkah sekarang dia istriku? Aku merasa seperti dipermainkan olehnya. Pikir Raihan dalam hati, sungguh rasanya seperti sedang dipermainkan oleh wanita yang sudah sah menjadi istrinya ini.
Shit! Tatapan Raihan seakan ingin menelanjangiku!
RAIHAN POV
Bisakah aku mendapatkan sedikit kepeduliamu? Jika memang benar kita berjodoh, maka Aku hanya bisa berdoa dan berjuang agar kamu mengerti jika Aku adalah suamimu yang sah dimata agama dan hukum. Agar kamu bisa menghormatiku sebagaimana seorang istri menghormati suaminya.
Jika memang dalam seminggu diriku gagal mendapatkan sedikit rasa kasih sayangmu Aku hanya bisa pasrah terhadap tuhan, walaupun kamu menganggap pernikahan ini sebagai permainan belaka maka pemikiranmu salah.
Bagiku pernikahan adalah sebuah ikatan sakral yang hanya akan terjadi satu kali dalam hidupku. Aku tidak akan pernah mengucap kata cerai sekalipun jika kamu yang memintanya, Aku akan tetap berusaha menjadi imam yang baik untukmu dan untuk calon anak-anak kita kelak.
Masih ada sebuah pertanyaan yang masih berputar-putar dalam benakku, semenjak perjalanan menuju ke rumah Shasa bagaimana bisa tiga mobil sekaligus mengikuti mobil yang kami naiki.
Lalu, apakah mataku yang salah melihat atau memang benar-benar nyata? Shasa memakai holster paha berisi dua buah pistol dan beberapa pisau tajam. Apa mungkin Shasa memakainya sejak acara ijab kabul?
NORMAL POV~
Oh astaga, apakah matanya menginginkan sebuah tusukan dari salah satu pisau yang kumiliki? Tatapan menjijikan ini tidak pernah kudapat.
Sebelumnya jika masih ada seseorang yang menatapku seperti ini pasti akan mendapatkan sebuah hadiah berupa timah panas di kepalanya.
"Darimana kamu mendapatkan pistol?" tanya Raihan memecahkan kesunyian yang sejak tadi memenuhi kamarnya.
"Bukan urusanmu!"
"Pistol Glock-20, ringan dan tipis tetapi mematikan, salah satu pistol langka yang tidak mungkin bisa digunakan oleh sembarang orang, darimana kamu mendapatkannya?" tanya Raihan sekaligus menjelaskan pistol yang digunakan Shasa melawan beberapa orang tadi.
Pistol langka? di markasku pistol semacam ini hanya menjadi tumpukan barang yang biasa-biasa saja.
"Lalu?"
jawab Shasa santai sembari menekan goresan yang darahnya mulai mengering karena tidak di bersihkan.
Konsentrasi Raihan teralihkan karena melihat darah kering di pergelangan tangan Shasa, Raihan kemudian berjalan keluar meninggalkan Shasa sendirian berada di kamar.
"Apa pedulimu?" jawab Shasa menatap punggung Raihan yang berjalan keluar dari kamar.
Tak lama kemudian Raihan membuka pintu tangannya membawa sebuah baskom kecil berisi air hangat dan handuk kecil.
Setelah meletakan baskom di meja, Raihan mulai mencelupkan handuk kecil lalu memerasnya. Diraihnya tangan Shasa perlahan, kemudian membersihkannya dengan sangat lembut dan telaten.
Diam-diam Shasa memperhatikan Raihan yang merawat luka goresan di tangannya. Bukan! bukan tangannya yang menyita perhatannya. Namun wajah tampan Raihan yang sejak tadi menjadi pusat utama tatapan Shasa, tanpa ia sadari sebuah senyum kecil mengembang di wajah cantiknya.
"Ehem!"
"Lo ngapain Sha?" tanya Evan yang baru masuk ke kamar Raihan dan membawa paper bag, Shasa sontak melepaskan tangannya dari genggaman tangan Raihan.
Evan memberikan paper bag itu kepada Shasa.
"Ganti pakaian Lo! gue mau beli makanan bentar!"
Shasa mengangguk lalu masuk kedalam kamar mandi. Bertepatan saat Shasa keluar dari kamar mandi suara adzan berkumandang menandakan panggilan sholat untuk umat islam.
"Kamu udah wudhu Sha?" tanya Raihan saat melihat Shasa kembali duduk di sofa sembari memainkan ponsel.
"Udah" jawab Shasa singkat, padahal dirinya dikamar mandi hanya mandi dan mengganti baju tidak mengambil air wudhu. Raihan hanya mengangguk kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Raihan kan nggak mungkin tau!
***
__ADS_1
Beberapa menit kemudian
"Udah sholat apa belum?" tanya Raihan ketika keluar dari kamar mandi.
"Udaaah" jawab Shasa malas, matanya masih enggan untuk mengalihkan perhatian dari handphone miliknya.
"Tapi kenapa duduknya masih sama kayak tadi?" tanya Raihan sambil tertawa pelan mendengar kebohongan dari mulut Shasa.
Mamp*s! turunlah harga diriku
"Yaudah sini, sholat bareng aja"
Raihan mengambil sejadah lalu menggelarnya menghadap ke kiblat. Shasa beranjak dari sofa dan memakai mukena yang tadi siang juga ia pakai.
"Assalamualaikum wr.wb"
Salam terakhir Shasa langsung melepas mukenanya dan pergi diam-diam keluar kamar tanpa sepengetahuan Raihan. Shasa tak ingin kejadian tadi siang terulang, ketika Raihan mencium dahinya dan dirinya malah mematung.
Raihan kebingungan disaat ia menoleh kebelakang ternyata hanya tersisa mukenanya saja, lalu Shasa menghilang kemana? pikirnya.
Raihan kemudian membuka pintu kamar dan terpampang jelas Shasa berada di ruang keluarga, disana juga ada Evan yang tengah memindahkan makanan ke piring.
Rumah Raihan sederhana namun bergaya modern. Hanya ada dua kamar dirumahnya, satu milik Nenek dan satu miliknya yang berada tepat di depan ruang keluarga, jadi Raihan bisa melihat dengan jelas apa yang sedang dilakukan Shasa.
"Lo kenapa Sha?" tanya Evan memindahkan nasi ke piring miliknya, ia sempat bertanya-tanya karena melihat Shasa berjalan pelan sebelum duduk di hadapannya saat ini.
"Untung Raihan nggak nyosor jidat Gue lagi"
"Uhuk! uhuk!"
"Eh lo kenapa Van?"
Shasa membantu membuka botol minuman di atas meja lalu memberikannya ke Evan, baru suapan pertama Evan tersedak mendengar Shasa disosor Raihan.
"Evan kenapa?"
Raihan ikut duduk bersebelahan dengan Shasa, sekarang Shasa berada ditengah-tengah Evan dan Raihan. Bukannya menjawab Shasa malah memberi piring berisi nasi lengkap dengan lauknya ke hadapan Raihan. Shasa memutar bola matanya jengah.
"Makanlah!"
"Kamu juga belum makan bukan? mau aku suapi?" tanya Raihan sembari menggeser duduknya lebih dekat ke arah Shasa.
"Uhuk! Uhuk!"
"Lo kenapa lagi sih Van!!" Sekarang Shasa mulai paham dengan situasinya saat ini.
Dua manusia sialan!
Akhirnya Shasa pindah ke sofa tunggal dengan sepiring nasi di tangannya, hanya suara dentingan sendok beradu dengan piring menemani makan siang yang kesorean.
****
"Chanel televisi yang lain saja!" bentak Evan ke Raihan.
"Chanel ini lebih bermanfaat daripada chanel yang kamu sebutkan!" sergah Raihan tak terima ketika remote televisi miliknya di rebut oleh Evan.
Tumben Raihan berani lawan Evan?
Shasa menutup telinganya dengan kedua tangan, ia malas mendengar pertengkaran antara Evan dan Raihan hanya karena chanel televisi.
Menurut Shasa semua chanel televisi sangat tidak berfaedah jika tidak ada yang menonton karena Evan dan Raihan sibuk bertengkar, televisi dihadapannya malah dikacangin kan sakit hatinya si televisi.
__ADS_1
Yap! setelah menghabiskan makanan yang di beli oleh Evan mereka bertiga menonton televisi, tetapi malah berakhir dengan pertengkaran hebat dua manusia sialan di hadapan Shasa.
Otak mana yang tidak lelah melihat dua orang dewasa yang selalu bertengkar setiap kali bertemu.