Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Makan siang


__ADS_3

Sekilas melihat senyum sinis Shasa membuat perasaan Raihan sedikit was-was, aneh saja melihat Shasa seperti sedang merencanakan sesuatu. Jika sesuatu itu baik Raihan akan menerimanya dengan lapang tetapi jika hal buruk bagaimana?


"Biar aku saja yang mengemudi!" ujar Raihan membuka sealtbelt nya, ia khawatir jika Shasa yang mengemudi maka akan menyebabkan sebuah masalah.


"Kau tidak percaya padaku?" sahut Shasa dengan menantang, dahinya berkerut lalu menatap Raihan tajam.


"Aku percaya tapi bukankah seharusnya kamu yang duduk disini dan biarkan Aku mengemudi yah?" bujuk Raihan sekali lagi, biarkan Shasa merajuk kepadanya daripada harus terjadi hal yang buruk ketika istrinya mengemudi.


Shasa memasang wajah juteknya sepanjang perjalanan pulang, rencananya gagal untuk mengerjai Raihan. Seharusnya tadi ia yang mengemudi maka aksinya pasti sudah terjalankan, yah ia berencana untuk mengebut dan menyebabkan Raihan panik. Padahal hanya hal kecil yang akan ia laksanakan tetapi malah sudah dicegah oleh Raihan.


"Huh"


Shasa menghembuskan napasnya kasar, melihat Raihan mengenakan sarung dan baju koko membuat mood nya semakin memburuk. Ayolah? apakah ada pria muda jaman sekarang memakai pakaian seperti itu saat pergi ke mall.


"Sudah sampai, ayo turun!" ucap Raihan melepas sealtbelt nya dan membuka pintu mobil, pandangannya kembali kearah Shasa, gadis itu nampak marah tetapi dimatanya malah terlihat imut.


"Akh! sealtbelt sialan!" gumam Shasa menggeram, sabuk pengamannya tidak bisa dibuka alias macet. Moodnya yang buruk semakin menambah buruk hanya gara-gara sabuk sialan yang tidak mau lepas darinya. Diam-diam Raihan tertawa kecil mendengar istrinya mengumpat hanya karena masalah sekecil itu.


"Jangan membiasakan mengumpat, tidak baik!!" tutur Raihan sembari memajukan tubuhnya mendekat kearah Shasa lalu melepas sealtbelt dengan sabar.


DEGHH!


DEGH!


DEGH!!


Jantungku berdetak lebih kencang jika terus-terusan melihat Raihan dengan jarak sedekat ini!!


Ketika tatapan mereka bertemu muncul gejolak aneh dalam diri mereka, sesuatu yang membuat Shasa hampir memejamkan matanya. Raihan tersenyum sangat tipis membuat Shasa semakin hilang otak warasnya.


Tuk tuk tuk


Ketukan kaca mobil membuat Raihan dan Shasa tersadar jika mereka masih berada didalam mobil. Dengan cepat Shasa memalingkan wajahnya begitupun Raihan yang langsung keluar mengambil kantong belanjaan di bagasi.


"Ada apa nek?" tanya Shasa penasaran karena Nenek lah yang mengetuk kaca mobil tadi. Bisa ia lihat dengan jelas Nenek sedang menahan tawa.

__ADS_1


AKHH MEMALUKAN!!


"Tidak ada apa-apa, Nenek cuma mau penasaran kenapa kalian lama sekali didalam mobil?" tanya Nenek balik membuat Shasa gelagapan untuk menjawab.


"Ah ya sudahlah lupakan! kalian belum sarapan kan? maksud Nenek sekarang waktunya makan siang, jadi ayo memasak" ajak Nenek menggandeng tangan Shasa masuk kedalam rumah sedangkan Raihan berjalan dibelakang dengan dua kantong yang ia tenteng.


Seandainya Nenek tidak mengetuk kaca?


Raihan tersenyum sendiri memikirkan kejadian tadi di mobil, setelah sampai di dapur ia menaruh dua kantong belanjanya diatas meja makan. Raihan menuang segelas air putih ke gelas lalu meminumnya dalam sekali teguk, tatapannya menuju ke arah wanita yang tengah memasak bersama neneknya.


"Astaga! sejak kapan aku bisa memasak?" gerutu Shasa dalam hatinya, tidak mungkin kan mengucapkannya secara langsung. Jika ia berada di Markas ia tak perlu repot-repot seperti ini, hanya tinggal menyuruh pelayan dan dalam sekejap mata di hadapannya pasti sudah terdapat hidangan apapun.


"Nenek kebelakang dulu, lanjutin ya!"


Nenek melepas apronnya yang dipakainya lalu meninggalkan Shasa sendirian memasak, Raihan yang melihat Nenek pergi langsung tersenyum smirk.


kesempatan!


Sreeeeeekh


"Apa yang kau lakukan??" jerit Shasa pelan, siapa lagi jika bukan Raihan yang telah membuatnya kaget bukan main, tidak mungkin nenek yang melakukannya karena tangan Nenek tidak sebesar ini.


"Memangnya apa yang aku lakukan? sini aku bantu!" jawab Raihan seadanya lalu merebut mangkok berisi potongan selada dari tangan Shasa.


"Lepaskan tanganmu!!!" sarkas Shasa berusaha melepaskan lengan Raihan dari pinggangnya.


"Ssssst kamu mau Nenek melihat kita??" goda Raihan sembari mengeratkan lengannya sehingga tidak ada jarak diantara mereka.


Shasa langsung terdiam ketika Raihan mengancam menggunakan nama Nenek, astaga bagaimana jika Nenek melihatku seperti ini batin Shasa kesal.


"Raihan lepas! aku lapar, minggir lah apa kau tidak lapar?" Tanya Shasa sehalus mungkin, semoga saja Raihan merasa iba lalu melepaskannya.


"Ya aku sangaaat LAPAR!" jawab Raihan tepat ditelinga Shasa, membuat pemilik telinga merasa bulu romanya berdiri semua. Rasanya aneh dan sedikit merinding.


"Minggir nggak! atau?" ucap Shasa mengancam tetapi dengan nada seperti ketakutan.

__ADS_1


"Atau apa?" tantang Raihan semakin mengeratkan lengannya. Astaga betapa rampingnya pinggang Shasa sampai lengannya bisa memeluk tanpa gangguan sedikit pun.


"A-atau k-kau..."


"Atau kau ku jewer! minggir! duduk sana!" titah Nenek sembari menjewer telinga Raihan, dasar cucu mesum pikir Nenek.


"A-aduh Nek!! iya iya"


Raihan memelas karena telinganya terasa seperti dicabit oleh jepitan jemuran bahkan lebih baik menggunakan jepitan jemuran daripada harus dijewer oleh Nenek, rasanya itu loh!


"Nenek selalu saja mengganggu!" gumam Raihan pelan lalu duduk anteng memperhatikan Shasa tanpa mengedipkan mata.


Beberapa saat kemudian


"Nah sudah siap makanannya!" ujar Nenek meletakkan berbagai hidangan rumahan dimeja makan, sedangkan Shasa menyiapkan air minum dengan menuangkannya ke tiga gelas.


"Kau mau apa?" tanya Shasa kepada Raihan menawarkan apa saja lauk yang ingin dimakan oleh Raihan, Shasa tau hal seperti ini saja karena membaca dari novel yang ia koleksi.


"Kamu!" jawab Raihan spontan


Duh mulut lemes juga ya kamu!


Nenek memperhatikan pasangan dihadapannya dengan senyum mengembang, akhirnya ada yang menggantikan posisinya merawat cucunya.


"Yaudah! kamu ambil sendiri aja!" jawab Shasa jengah karena Raihan selalu bicara secara asal.


"Nek mau apa?" Sekarang ia gantian bertanya kepada nenek, bukankah yang tua juga harus diperlakukan seperti itu.


"Nenek sudah ambil kok, kamu makan yang banyak ya Nak Shasa!" titah nenek sembari mengelus punggung tangan Shasa dengan penuh kasih sayang.


Setelah makan siang selesai nenek pamit untuk ke kamar sedangkan Raihan menonton televisi di ruang keluarga, jadilah Shasa yang membereskan meja makan juga mencuci piring sendirian.


"Astaga sejak kapan pula gue jadi babu kek gini?" lirih Shasa kepada dirinya sendiri.


Ternyata roda dunia memang benar-benar berputar. Shasa yang semula hanya memegang senjata saja sekarang berubah menjadi memegang piring kotor dan kemoceng. Transformasinya terlalu jauh dari Mafia Queen menjadi babu, apa jadinya jika Evan mengetahui dirinya sudah turun pangkat.

__ADS_1


Memalukan!!


__ADS_2