Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Ancaman


__ADS_3

Brak!


Beberapa orang menoleh ketika Evan menutup pintu mobilnya dengan kencang. Raut wajahnya masih sama seperti setengah jam yang lalu, begitupula dengan Misha yang masih terdiam semenjak Evan menamparnya.


Tadinya wanita itu berniat untuk membiarkan bekas tamparan dipipinya, namun hal itu tidak Evan biarkan. Evan mengancam jika Misha tidak segera menutupi bekas tamparannya, maka ia akan segera menceraikannya. Karena begitu takut tergeser dari posisinya sekarang, Misha dengan cepat menyamarkan bekas tamparan itu menggunakan bedak.


"Jaga sikapmu, jangan sampai membuatku malu didepan rekan kerjaku yang baru"


Misha menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Pikirannya masih dipenuhi dengan ancaman dari Evan yang akan menceraikannya. Setelah yakin Misha tidak akan membuatnya malu, Evan berjalan cepat meninggalkan Misha yang masih berdiri di parkiran.


Setelah sadar Evan telah meninggalkanya, Misha dengan cepat melangkahkan kakinya mengejar Evan yang jauh berada didepannya. Tapi Evan malah mempercepat jalannya seolah tidak mau jika harus berjalan bergandengan dengan Misha.


Hingga sampai didepan pintu restoran yang mewah Evan baru menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Misha. Evan bahkan menarik Misha untuk lebih dekat dengan dirinya.


Hiruk pikuk restoran mewah itu membuat Evan sedikit bingung dimana letak meja yang dipesan sebelumnya. Mau tidak mau Evan harus bertanya kepada resepsionis dan meminta pelayan untuk mengantarkannya ke meja yang telah ia pesan.


Ternyata meja yang ia pesan berada di lantai tiga. Evan memperhatikan ruangan yang ternyata hanya diisi oleh beberapa orang. Di lantai tiga juga tampak lebih tenang dan elegan daripada lantai yang sebelumnya.


"Tuan Robert?"


Pria yang yang mengenakan setelan jas berwarna biru tua itu menoleh ketika namanya dipanggil oleh Evan. Dengan seulas senyum tuan Robert berdiri lalu berjabat tangan dengan Evan.


"Silahkan"

__ADS_1


Pria yang umurnya terlihat terlihat lebih tua dari Evan itu mempersilahkan Evan dan Misha untuk duduk terlebih dahulu.


"Maaf atas keterlambatannya tuan Robert, terdapat hal penting yang harus saya selesaikan terlebih dahulu"


Evan meminta maaf dengan penuh penyesalan, ini pertama kali ia bertemu dengan tuan Robert dan dirinya malah terlambat datang hampir satu jam lebih dari waktu yang telah ditentukan.


"Tidak masalah tuan Evan, lagipula saya juga baru datang sekitar lima belas menit yang lalu"


"Cukup panggil Evan saja, saya merasa tidak enak jika tuan Robert memanggil saya seperti itu"


"Oh iya tuan Robert perkenalkan ini Misha. Misha, perkenalkan ini tuan Robert"


Misha yang namanya dipanggil oleh Evan, tersenyum anggun kemudian berjabat tangan dengan tuan Robert. Diam-diam Evan memperhatikan senyum Misha, senyum wanita itu terlihat seperti dipaksakan.


***


Gadis kecil itu kembali mengulangi pertanyaan yang sama seperti lima menit yang lalu, bibir mungilnya mengerucut dengan ekspresi wajah yang tidak sabar.


"Sebentar lagi pasti__,"


"Permisi, pesanannya"


Belum selesai Shasa mengucapkan kalimatnya, seorang pelayan datang membawa makanan dan minuman yang telah ia pesan.

__ADS_1


"Selamat menikmati"


"Terimakasih"


Shasa menarik sudut bibirnya ketika mendengar Allin mengucapakan terimakasih kepada pelayan itu. Begitu juga dengan Allin yang tersenyum lebar karena makanannya sudah berada dihadapannya.


"Allin mau nyoba punya Mama nggak?"


Allin menggelengkan kepalanya, bocah itu menelan makanannya baru menatap mata Mamanya.


"Punyanya Allin rasanya lebih enak, wleee"


"Coba, aaaaa"


Mata Allin membulat ketika makanan yang Shasa suapkan kepadanya rasanya jauh lebih enak daripada miliknya. Bocah itu mendengus, mengapa ia tadi tidak memesan sama seperti yang Mamanya pesan saja.


***


"Misha sialan!"


Pria yang mengenakan setelan jas berwarna hitam itu mengumpat dengan penuh kekesalan. Celana yang dikenakannya basah karena jus yang ditumpahkan oleh wanita yang diajaknya kemari.


Karena tahu amarah tidak akan membuat celananya menjadi kering, Evan mengambil tissue kemudian mengelapnya secara perlahan. Tissue memang tidak akan sepenuhnya membuat celananya kering tapi setidaknya bisa menghilangkan noda whip cream pada celananya.

__ADS_1


Kejengkelan Evan tidak sampai disitu saja. Restoran yang notabenya termasuk restoran mewah ini ternyata memiliki pelayanan yang buruk. Pelayan mengatakan bahwa toilet utama dilantai tiga sedang dalam keadaan rusak dan tidak ada tempat lain untuk membersihkan celana Evan yang basah. Dengan sangat terpaksa Evan harus turun ke lantai dua untuk membersihkan celananya.


Untung saja minuman yang Misha tumpahkan hanya mengenai celana bagian bawah dan sepatunya. Jika mengenai bagian yang lain ia pasti akan lebih malu.


__ADS_2