Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Tidak Pantas


__ADS_3

Pintu kamar terbuka pelan, Raihan mengintip kedalam melihat istrinya sedang tidur dalam kegelapan.


Raihan melepas pecinya lalu diletakkan kembali kedalam lemari, mengganti baju koko nya dengan kaos dan sarungnya menjadi koloran berwarna hitam.


Lama sekali Raihan menatap punggung Shasa, kemudian ikut berbaring disamping Shasa yang sedang membelakanginya.


Sementara itu Shasa membuka matanya karena merasa ada guncangan dari belakang. Pelan sekali tangan Raihan merengkuh perut Shasa, sedangkan wajahnya ia taruh diceruk leher putih milik istrinya.


Shasa diam menikmati sentuhan lembut diperutnya, sedangkan nafasnya sudah tak beraturan karena hembusan nafas Raihan seakan sedang menari diceruk lehernya.


Dengan cepat Shasa memutar badannya kearah Raihan, pria itu awalnya nampak terkejut mungkin karena mengira dirinya sudah tertidur.


"Apa yang kamu lakukan?" Desis Shasa menatap netra Raihan dalam, pria itu tersenyum kemudian mengecup keningnya.


"Tidurlah, sudah malam" ucap Raihan lembut sembari mengelus rambut panjangnya.


Shasa mengangguk lalu tidur dengan memeluk Raihan, dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah suaminya ini tidak ingin menjadikan dirinya sebagai milik suaminya, seutuhnya?


Mengapa Raihan selalu membuatnya menjadi gila?


Mengapa Raihan tidak pernah menuntaskan permainan yang selalu dimulainya?


Mata Shasa terpejam kuat untuk menghilangkan semua pertanyaan-pertanyaan yang selalu duduk dalam pikirannya. Sedangkan Raihan menatap kosong langit-langit kamarnya, ia tahu Shasa sedang kecewa padanya.


Tiba-tiba Raihan tersenyum, muncul sebuah ide yang akan menggantikan rasa kecewa Shasa kepadanya.


"Shasa?"


Shasa yang pada awalnya belum tidur, mendongak menatap wajah Raihan yang diterangi oleh cahaya rembulan.


"Ada apa?" jawab Shasa memperhatikan bulu mata Raihan yang mirip dengan bulu matanya, ah lucu sekali membayangkan Raihan jadi perempuan, pasti akan menjadi wanita cantik yang diidamkan para pria.


"Kosongkan jadwalmu Minggu depan" ucap Raihan disertai senyum tipisnya yang manis.


Shasa mengerutkan dahinya, lalu bertanya.


"Kenapa?"


"Karena kita akan honeymoon, sayang" jawab Raihan melebarkan senyumnya, Shasa terbengong mendengar kalimat Raihan barusan. Apakah telinganya sedang rusak atau memang Raihan benar-benar mengajaknya pergi honeymoon.


"Kemana?"

__ADS_1


"Rahasia dong"


Shasa memutar bola matanya jengah kemudian kembali kedalam pelukan Raihan. Diam-diam perempuan itu tersenyum, rasa kecewanya tergantikan oleh kalimat yang barusan diucapkan oleh Raihan.


***


"Aaaaaaakh"


"Pisau atau senapan?"


Wanita itu tersenyum kemudian mengangkat wajahnya. Wajah yang aslinya cantik dan anggun itu sekarang berubah menjadi menyeramkan dan penuh darah.


Terdapat bekas tamparan, sayatan, dan memar disekitar bibir, mata dan juga hidung yang berdarah.


"Dasar wanita kejam! kau bahkan tidak tahu apa itu belas kasihan" desis wanita itu menahan rasa sakit diwajah dan tubuhnya, wanita itu memalingkan wajahnya lalu berkata.


"Kasihan ya, pria alim yang menjadi suami mu itu, siapa namanya? ah iya RAIHAN"


PLAK!


Satu tamparan keras Shasa layangkan pada pipi wanita itu, tangannya mengepal kuat, nafasnya memburu, matanya memerah karena menahan amarah.


"Mengapa kau membuntuti ku secara diam-diam?" tanya Shasa lebih halus daripada pertanyaan yang dilontarkan sebelumnya.


"Karena kamu tidak pantas untuk menjadi seorang pendamping hidup Raihan, pria itu baik, sedangkan kau.... kau itu seperti ini" Jelas wanita itu meneteskan air matanya.


Bukannya Shasa jahat ataupun apapun itu, yang jelas wanita dihadapannya saat ini sudah membuntuti dirinya selama dua hari terakhir dan wanita tak dikenal ini juga sudah tahu tentang dirinya.


"Jadi, kau mencintai suamiku?" tanya Shasa penasaran dengan motif wanita ini membuntuti dirinya lalu mengatakan bahwa dirinya tidak pantas hidup bersama dengan Raihan.


"Tidak! aku hanya ingin mencari keadilan untuk Raihan!" jawab wanita itu sembari mengepalkan tangannya.


Shasa memejamkan matanya, tersenyum sekilas kemudian meninggalkan wanita itu sendirian didalam hutan gelap yang dihuni oleh berbagai macam jenis hewan buas.


"Hilangkan semua apa yang dia ketahui tentang kita! jadikan ia seolah-olah ditikam oleh hewan buas dan hanyutkan ke sungai!" titah Shasa kepada dua orang yang berpatroli di luar Markas nya.


"Siap!"


Shasa berjalan pelan menuju kamarnya dilantai atas, pikirannya sedang tidak baik-baik saja. Ingatan tentang perkataan wanita tadi benar-benar sangat menggangu, apakah benar dirinya tidak pantas menjadi pendamping hidup Raihan?


Benar-benar menyebalkan bertemu dengan wanita gila tadi, untung wajahnya sudah rusak, jadi ada sedikit rasa puas dalam hatinya.

__ADS_1


"Wah wah wah! Nona besar sedang sakit hati" teriak Evan yang baru saja datang dari pintu belakang, pria itu menertawai Shasa yang sedang kacau.


"Dasar tidak berguna!"


Plak!


"Astaga, sakitnya" rintih Evan mengelus kepalanya yang terkena gamparan dari Shasa.


Shasa melengos lalu pergi meninggalkan Evan sendirian dilantai bawah. Salah siapa menertawakan penderitaannya yang sedang dalam level tinggi, tidak memberi solusi pula.


"Dasar cewek, huh!" kesal Evan sembari menendang sofa disekitarnya lalu pergi ke luar untuk bersantai dengan yang lainnya.


***


Sementara itu di tempat lain dimana para manusia sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Seorang pria datang ke Kantor Shasa membawakan makan siang seperti biasa, dengan senyuman yang hangat Raihan bertanya kepada Resepsionis yang berada di lobi kantor Shasa.


"Permisi, apakah Nona Shasa sedang berada di tempat?" tanya Raihan sopan kepada Resepsionis yang terlihat lebih tua darinya.


"Maaf Pak, Nona Shasa sedang tidak berada di tempat sejak tadi pagi" jawab Resepsionis ramah sembari tersenyum hangat.


Raihan tersenyum datar kemudian pergi meninggalkan kantor Shasa dengan emosi yang bercampur aduk.


Hal ini selalu terjadi, setiap tanggal tertentu Shasa pergi dari rumah beralasan sedang ada perjalanan bisnis ataupun tidak ada kabar sama sekali.


Raihan tahu ada hal yang Shasa sembunyikan darinya, tapi biarlah semua terjadi apa adanya. Disaat yang tepat nanti, pasti akan terbongkar dengan sendirinya.


Saat Raihan sudah sampai di kantornya, wajahnya berubah menjadi datar, tatapannya tajam, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa takut.


"Donna!!"


Mendengar namanya dipanggil Donna berjalan cepat menuju ke dalam ruangan boss nya.


"Ya, Tuan?" Donna menundukkan kepalanya menunggu Raihan memberinya perintah.


"Selidiki kemana saja Shasa pergi hari ini!" titah Raihan dengan nada tegas dan menunjuk kearah Donna.


"B-baik Tuan" ucap Donna memejamkan matanya kemudian pamit untuk menjalankan perintah.


"Selalu saja begini, huh, baiklah dimana kamu sekarang Nona?" gumam Donna setelah keluar dari ruangan yang menurutnya kedap oksigen itu.

__ADS_1


Ya kedap oksigen, karena setiap kali masuk pasti akan sulit bernapas, apalagi setiap Tuannya memberi perintah yang sulit dan mustahil untuk dilakukan.


Tetapi karena dirinya sudah bekerja lama dan juga sudah menjadi tangan kanan Raihan, Donna selalu bersabar dan berusaha sebaik mungkin untuk memberikan hasil terbaik dari setiap perintah Tuannya.


__ADS_2