Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Mrs. Davindra


__ADS_3

"Selamat siang, Mrs. Davindra"


Mr.Davindra mengulurkan tangannya bermaksud ingin berjabat tangan namun niatnya harus buyar, ia kembali menarik tangannya karena tidak ada tanggapan dari Shasa.


"Lo ngapain kesini?" tanya Shasa pada tamu yang tadi sempat mengulurkan tangannya namun tidak ia balas, Raihan terkekeh lalu menjawab pertanyaan istrinya dengan santai.


"Bekerja, untuk menafkahi kamu"


"Bukannya hari ini ada pertemuan dengan Mr. Davindra?" Shasa menoleh kearah Evan yang berdiri disampingnya, Evan bergidik tak tahu tentang kedatangan Raihan ke kantor Shasa.


"Ck! istri macam apa yang tidak tahu nama suaminya"


Raihan kembali terkekeh walaupun saat ini hatinya panas karena terbakar api cemburu setelah melihat kejadian tidak sepantasnya antara Shasa dan Evan.


Dasar pria brengs*k!


Raihan menatap Evan dengan tatapan tajam seolah Evan adalah mangsanya. Evan yang merasa ditatap Raihan tajam hanya acuh tak acuh, jika sedang tidak berada di kantor mungkin Raihan akan merasakan bogem mentah darinya.


Raihan Davindra


Shasa membaca dengan teliti sebuah kartu nama yang diberikan oleh Raihan, berulang kali dibaca nama yang tertera pada lembaran kecil tersebut namun masih tetap tidak berubah


Oh my God! jadi... Mr. Davindra adalah Raihan


Setelah menetralkan ekspresi wajahnya Shasa kembali bersikap formal kepada Raihan dan mulai bekerja secara profesional walaupun Raihan adalah suaminya.


***


Raihan menandatangani sebuah berkas menandakan pertemuan bersama Shasa telah selesai. Disaat Raihan telah berdiri menjauh hampir mendekati pintu, ia menoleh kebelakang lalu mengernyitkan dahi


"Mari makan siang bersama"


Raihan mengingatkan Shasa bahwa setelah pertemuan selesai dilanjutkan makan siang


"Baiklah Mr. Davindra"


Shasa terpaksa tersenyum lalu berdiri mengambil tas selempang dan mengikuti Raihan dari belakang, baru satu satu langkah melewati Raihan sebuah tangan besar merengkuh pinggang Shasa erat.


"Apa yang anda lakukan Mr. Davindra?"


Shasa berontak mencoba menyingkirkan lengan Raihan dari pinggangnya.


"Memangnya salah memeluk istriku sendiri?"


Raihan semakin mengeratkan rengkuhannya sehingga menghilangkan jarak antara dirinya dengan Shasa.


"Ini di kantor bukan dirumah!"


Shasa masih mendorong Raihan namun malah membuat Raihan semakin menguatkan rengkuhannya.


"Kalau begitu kita lanjutkan nanti dirumah saja" ucap Raihan santai lalu meninggalkan Shasa sendirian, hatinya masih terasa nyeri karena perlakuan Evan terhadap istrinya.


Dasar pria aneh sialan!


Disaat mereka telah sampai di restoran xx Shasa lebih memilih untuk pergi ke toilet daripada harus duduk hanya berdua dengan Raihan.


Jika Shasa bukan seorang yang menjunjung tinggi egonya maka ia akan langsung memuji Raihan. Bagaimana tidak memujinya, pria itu terlihat sangat tampan ketika mengenakan setelan kerja. Apalagi tatapan mata bagai elang namun lembut kepadanya itu terngiang dikepalanya. Satu hal yang masih melekat pada ingatan Shasa yaitu senyum manis milik Raihan.


"Tampan!" Shasa bergumam pelan sembari mencuci tangannya di wastafel.


Langkah Shasa terhenti ketika melihat tempat duduknya tadi diambil alih oleh seorang perempuan berjilbab?


Wait!


Perempuan itu sedang tertawa bersama Raihan, baru kali ini Shasa melihat Raihan tertawa sangat bahagia seperti itu. Jauh didalam lubuk hatinya ia merasa iri dengan perempuan yang bisa membuat Raihan sampai tertawa.


Dasar Raihan brengs*k!


Shasa melanjutkan langkahnya mendekati Raihan dan perempuan yang menduduki kursi miliknya. Raihan berhenti tertawa melihat Shasa berjalan kearahnya begitupun dengan perempuan berjilbab itu.


Shasa semakin merasa geram karena Raihan berhenti tertawa ketika melihat dirinya mendekati meja.


Ooh! jadi muram setelah melihatku, apakah diriku seburuk itu


"Perkenalkan dia Shasa dia i...."


"Saya rekan kerja Mr. Davindra"

__ADS_1


Shasa memotong kalimat Raihan yang akan menyebut dirinya berstatus sebagai istri Raihan. Shasa masih berdiri disamping wanita berjilbab itu dengan ekspresi datar seolah tak mempunyai ekspresi lainnya.


"Saya Dee temannya Raihan"


Dee menjulurkan tangannya ke arah Shasa, namun tidak dibalas oleh Shasa. Dee pun menarik tangannya kembali karena merasa malu tidak ditanggapi oleh Shasa.


Raihan hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Dee yang salah tingkah karena sikap Shasa yang dingin.


Astaga Dee, jangankan orang asing, aku yang berstatus sebagai suaminya saja tidak ditanggapi Shasa untuk berjabat tangan. Pikir Raihan dalam hati


Melihat Raihan tersenyum tipis kearah wanita yang bernama Dee membuat Shasa seolah seperti lalat diantara mereka berdua, emosinya makin meluap kala Dee juga tersenyum malu kepada Raihan.


Sialan!


"Permisi!"


Masih dengan wajah datarnya Shasa mengambil tas selempang miliknya diatas meja, lalu berjalan menjauh meninggalkan Raihan dan Dee yang masih kebingungan dengan sikapnya.


Shasa lebih memilih keluar daripada harus mengambil pistol dan menembakkan pelurunya ke kepala Dee atau menyobek mulut Dee menggunakan salah satu pisau tajam kesayangannya.


Merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya, Raihan mengejar Shasa yang terlihat semakin menjauh dari restoran dan berhenti di tepi jalan raya.


"Sha kamu mau kemana?" tanya Raihan sembari menarik tangan Shasa agar mau menghadap kearah dirinya.


Namun dugaan Raihan salah, bukannya Shasa melunak, Shasa malah menepis tangannya dengan kasar sampai terlepas.


"Bukan urusanmu!" jawab Shasa ketus lalu melambai dan sebuah taksi berhenti tepat dihadapannya. Raihan diam mematung ditepi jalan melihat kepergian taksi itu membawa istrinya pergi.


Apa salahnya sehingga Shasa bersikap seperti itu padanya? padahal ia hanya bertemu dengan Dee teman lamanya, sedikit mengenang masa lalu tentang kenakalan dirinya saat masih bersekolah dulu.


***


"Arrrggghh!"


Pikirannya masih dipenuhi dengan tawa Raihan yang begitu bahagia bersama si Dee. Shasa memijit pangkal hidungnya berkali-kali namun masih terasa pusing dan melelahkan.


Ceklek!


"Sha Lo ngga apa-apa?"


Evan masuk ruangan Shasa tanpa mengucapkan permisi, dirinya lebih mementingkan keadaan sahabatnya.


Tumben Shasa mengabaikan pekerjaannya?


Shasa mendongak melihat Evan berjalan kearahnya ia hanya tersenyum tipis lalu menatap jam kecil diatas mejanya, jam itu menunjukan pukul 17:03 menandakan waktunya pulang.


"Van! anterin kerumahnya Raihan aja ya?" pinta Shasa sembari berbenah merapikan dokumen diatas mejanya yang berantakan.


"Baiklah"


"Aku hanya ingin Nenek tidak curiga!"


Tanpa diminta penjelasan dari Evan, Shasa menjelaskan alasannya pulang ke rumah Raihan. Shasa tahu Evan khawatir dengannya karena selama ini Evan lah yang selalu melindunginya.


***


"Hati-hati dijalan, jangan lupa nanti makan malam yah!"


Shasa menuturi Evan mirip seperti anak kecil, namun hal inilah yang membuat Evan semakin menyayangi Shasa.


"Daaah"


Shasa melambaikan tangannya sampai mobil Evan benar-benar menghilang dari pekarangan rumah Raihan. Saat hendak berbalik berjalan ke arah pintu disana terlihat Nenek sedang duduk di teras sembari memperhatikannya.


"Assalamualaikum Nek"


Shasa mendekat kearah nenek lalu mencium punggung tangan nenek yang telah mengkerut. Nenek hanya menampilkan seulas senyum kepada Shasa.


Setelah Shasa masuk kedalam raut wajah nenek menjadi kecewa melihat Shasa tadi sangat perhatian dengan Evan.


"Astaga! ini sangat melelahkan!"


Shasa menghempaskan tubuhnya diatas ranjang empuk milik Raihan, hari ini bukan tubuhnya yang lelah melainkan hatinya yang lelah memikirkan betapa bahagianya Raihan bersama wanita bernama Dee. Padahal ia tidak memiliki rasa sedikitpun kepada Raihan, tapi entah kenapa ia tidak senang saja saat sesuatu yang menjadi miliknya direbut oleh orang lain.


***


Beberapa menit kemudian

__ADS_1


Ceklek!


Raihan masuk kamarnya dengan pelan takut membangunkan wanita cantik yang sedang terlelap diatas ranjang. Raihan menggelengkan kepala melihat Shasa masih mengenakan pakaian kerja lengkap beserta sepatu flat yang ikut menemani tidur, Raihan mendekati Shasa dengan tersenyum bahagia.


Cup


Raihan mencium dahi Shasa penuh sayang, jika dilihat dari jarak sedekat ini Shasa terlihat lebih cantik, apalagi dengan mata yang tertutup dan ekspresi yang meneduhkan bagi siapapun yang melihat.


Tetapi pada kenyataannya saat kedua mata cantik itu terbuka, hanya akan ada raut wajah dingin yang membuat siapapun merasa tidak nyaman berlama-lama berdekatan dengan Shasa.


Setelah merasa puas melihat wajah polos istrinya, Raihan mencopot sepatu flat yang dipakai Shasa dan meletakkannya di samping bawah ranjang.


***


Perlahan Shasa membuka matanya lalu menggeliat, ia duduk di tepi ranjang memastikan sekarang bukan berada di alam mimpi lagi.


Anehnya ia merasa seperti bermimpi dicium oleh Raihan saat tidur. Shasa segera ditepis jauh pikiran itu, mana mungkin Raihan menciumnya apalagi selama ini sikapnya terhadap Raihan seperti orang asing.


Shasa terbelalak melihat jam dinding menunjukan waktu 18:15, rasanya ia hanya tidur sekejap kenapa waktu terlalu cepat berlalu.


Mengetahui dirinya terlalu lama tertidur, Shasa segera bangkit untuk membersihkan diri.


Langkahnya terhenti tepat saat menggenggam gagang pintu kamar mandi. Pikirannya sedang melayang, ia kesini tidak membawa pakaian ganti sama sekali.


Tiba-tiba otaknya mendapatkan sebuh ide, Shasa menjauh dari kamar mandi menuju sebuah lemari besar dipojok kamar.


Begitu lemari terbuka kening Shasa berkerut melihat lemari hanya berisi kemeja lengkap dengan jas tidak ada satupun t-shirt ataupun baju santai lainya.


Shasa mengambil salah satu kemeja berwarna putih lalu ditempelkan pada tubuhnya. Terlalu besar dan kepanjangan itulah yang berada didalam otaknya sekarang, kemeja Raihan ukurannya dua kali lebih besar dengan tubuhnya.


Mengingat tidak ada pilihan lain Shasa hanya pasrah lalu menutup lemari dan kembali ke kamar mandi, sejenak didalam otaknya bertanya-tanya-tanya dimana keberadaan Raihan sekarang?


Waktu menunjukan pukul 18:30 Shasa keluar dari kamar mandi dengan wajah segar tidak seperti beberapa jam yang lalu, aroma maskulin dari kemeja Raihan semakin membuatnya merasa nyaman.


Shasa melipat lengan kemeja sampai siku karena terlalu panjang. Sedangkan bawahannya masih sama saat pergi kekantor pagi tadi yaitu rok span berwarna hitam selutut, rambutnya ia cepol dan menyisakan beberapa untaian.


Saat keluar dari kamarnya pertama kali ia lihat adalah nenek yang sedang menonton TV di ruang keluarga, Shasa mendekatinya lalu duduk bersebelahan dengan nenek.


"Nenek?"


Shasa menyapa Nenek dengan sopan sedangkan Nenek hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun, merasa diabaikan oleh Nenek ia mencoba untuk mencari topik pembicaraan.


"Oh ya nek! Raihan dimana?"


Shasa merutuki mulutnya yang malah membicarakan Raihan.


Mulut gue gini amat? padahal udah disekolahin mahal-mahal!


Akhirnya kamu penasaran dengan keberadaan suamimu, pikir Nenek sedikit menyunggingkan senyum tipisnya.


"Tadi nenek lihat, Raihan pergi dijemput oleh seorang perempuan kalau tidak salah namanya Dee?" tutur nenek sembari menatap Shasa untuk meyakinkan


DEG


Jantung Shasa seolah diremas oleh tangan tak kasat mata, hatinya sakit sangat sakit malahan mendengar suaminya pergi berdua dengan perempuan lain.


Dengan sangat sadar, Shasa tau dirinya baru mengenal Raihan tidak lebih dari tiga hari. Tapi entah kenapa dirinya merasa sangat tidak suka jika Raihan dekat dengan perempuan lain.


Untuk menjaga image nya Shasa hanya mengangguk pelan padahal saat ini ia sangat ingin meninju sesuatu sebagai pelampiasan.


"Kapan Nek?" tanya Shasa lagi kali ini memang sebuah pertanyaan dari dalam lubuk hatinya.


"Mungkin sekitar satu jam yang lalu?"


Hati Shasa kembali terasa sakit mendengar kepergian Raihan satu jam yang lalu, dirinya saat itu masih tertidur dengan nyenyak.


"Nenek juga tidak tahu kemana mereka pergi"


Ucapan nenek seperti mengompori Shasa, parahnya Shasa sudah terlanjur untuk mempercayai semua yang terlontar dari mulut nenek.


Baiklah Raihan! Gue juga bisa meniru perbuatan lo!


Shasa kembali berjalan kearah kamar Raihan meninggalkan Nenek sendirian diruang keluarga. Dengan cepat Shasa mengambil dompetnya lalu kembali keluar tanpa menghiraukan nenek yang memanggil namanya berulang kali.


Saat ini hanya ada amarah didalam diri Shasa. Bahkan ia sampai lupa jika sedang tidak mengenakan alas kaki, Shasa tidak memperdulikannya ia terus berjalan menjauh dari rumah Raihan.


Sampai Shasa menghentikan sebuah taksi dan membawanya pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


Ini kali pertamanya seorang Queensha Zeline pergi keluar rumah mengenakan pakaian berantakan. Tanpa memakai alas kaki dan hanya membawa dompet. Sedangkan ponselnya yang selalu ia bawa sengaja ditinggal diatas ranjang.


Setelah kepergian Shasa, Nenek tersenyum menyeringai karena rencananya berhasil.


__ADS_2