Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Kalah Telak


__ADS_3

"Tadi siapa?" tanya Raihan dengan ekspresi wajah yang masam.


"Teman" jawab Shasa singkat karena masih jengkel pada Raihan dan juga masih terkejut akan ucapan Alan tadi. Shasa memainkan gulungan kertas pemberian Alan saat berjabat tangan tadi kemudian memasukkannya ke dalam tas.


***


Sementara itu di tempat lain, Alan tersenyum lebar. Akhirnya selama bertahun-tahun berpisah dengan Shasa, gadis kesayangan itu muncul pada kehidupannya lagi. Walaupun harus menelan kekecewaan saat tahu Shasa sudah menikah.


Sebenarnya pertemuan pertama dengan Shasa saat di lift, saat bersama dengan tiga wanita paruh baya. Alan ingin menyapanya, tetapi saat itu wajah Shasa tampak cemas jadi Alan memutuskan untuk lain kali saja.


Takdir begitu mendukungnya hingga saat dirinya sedang berada di lift sendirian, seorang wanita masuk dengan wajah cantik yang sembab dan wanita itu adalah Shasa. Saat diajak ke Bar, Shasa juga mengiyakan permintaannya, sepertinya hubungan dengan suaminya sedang tidak baik-baik saja.


Begitulah cerita pendek awal pertemuan pertama setelah bertahun-tahun tidak bertemu.


***


"Shasa, kumohon jangan mendiami ku seperti ini" keluh Raihan pada Shasa yang terus-menerus mengacuhkannya. Jujur tentang bekas kemerahan itu ia tak sengaja membuatnya.


Shasa memutar bola matanya jengah lalu menutup pintu kamar dengan kasar.


"Hentikan! kau merengek sepanjang jalan, memalukan!"


Yah walaupun tidak ada yang tahu bahasa yang Raihan gunakan, tapi tetap saja rasa malu itu ada.


"Raihan mmm_,"


Raihan mendorong tubuh Shasa lalu menguncinya pada tembok. Salah siapa terus-menerus mengacuhkannya.


"Maafkan Aku, atau besok kamu tidak bisa berjalan!" Ancam Raihan menghimpit tubuh Shasa hingga mentok sampai tembok.


Sedangkan Shasa, wanita itu malah tersenyum kemudian mengangkat wajahnya menantang. Kedua tangannya sudah melingkar indah pada leher Raihan.


"Siapa takut" balas Shasa tepat pada telinga Raihan, ingat Shasa bukanlah seorang wanita yang mudah ditaklukkan oleh pria. Buktinya sampai tiga bulan lamanya Raihan baru bisa menjebol gawang pertahan miliknya.

__ADS_1


"Akan ku buat kau kelelahan sebelum Aku puas" ucap Shasa sembari mengusap tengkuk Raihan dan meniupnya pelan.


"Oh ya? Aku merasa tertantang" sahut Raihan dengan suara berat dan mata sayunya.


"Tapi bukan sekarang!"


Shasa mendorong tubuh kekar Raihan hingga pria itu terhuyung ke belakang. Wajahnya tampak kecewa tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi tersenyum menggoda.


"Awas kau nanti malam!" ancam Raihan kemudian memeluk tubuh Shasa dan mengecupi wajahnya.


"Raihaaan geliiii--haha hahaaa"


Tok tok tok


Raihan menghentikan aksinya, kemudian menatap mata Shasa dalam, seolah sedang bertanya 'siapa orang yang mengetuk pintu?'. Shasa menjawabnya dengan gerakan mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa dirinya juga tidak tahu siapa yang mengetuk pintu.


Karena tidak ada yang mau membuka pintu, akhirnya Shasa mengalah dan membuka pintunya. Saat pintu terbuka, seorang wanita memakai kacamata hitam tersenyum kepada Shasa. Sedangkan Shasa hanya diam menatap wanita itu dari bawah sampai atas, seolah sedang menilai penampilan wanita didepannya.


"Apakah Tuan Raihan ada?" tanya wanita itu mencoba untuk melihat kedalam kamar hotel yang Shasa tempati.


"Raihaaaaan"


Merasa namanya dipanggil, Raihan dengan cepat menghampiri Shasa yang sedang terlihat marah. Tangannya dilipat didepan dada, dahinya berkerut dan tatapan matanya tajam.


"Iya, ada apa Sayang?" Tanya Raihan selembut mungkin untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.


"Ada wanita yang mencarimu" jawab Shasa ketus sembari memalingkan wajahnya dari Raihan.


Astaga, siapa wanita yang berani membuat Shasa menjadi cemburu seperti ini, habislah sudah rencananya nanti malam. Pikir Raihan mengutuk wanita yang sudah membuat Shasa menjadi marah lagi, padahal baru saja baikan.


"Donna, ada apa?" tanya Raihan malas, saat tahu wanita yang mencarinya itu adalah Donna.


Tidak ingin bermaksud apa-apa membawa Donna ikut honeymoon nya tanpa seizin Shasa, Raihan tidak ingin pekerjaannya terbengkalai karena honeymoon. Jadi sekalian saja membawa Donna untuk melimpahkan pekerjaannya pada sekretarisnya itu.

__ADS_1


Mata Shasa terbuka lebar saat tahu wanita yang mencari Raihan adalah Donna. Shasa tersenyum meremehkan kemudian melirik kearah Raihan dan Donna yang sedang berbincang di tengah pintu.


"Heh, tidak sebanding dengan ku" gumam Shasa pelan, meremehkan penampilan dan sopan santun Donna.


Donna kalah telak jika dibandingkan dengan Shasa. Shasa wanita yang istimewa dan sudah langka jenisnya, sementara Donna wanita itu hanya seujung kelingking jika dibandingkan dengan Shasa.


"Masuk saja, dan jelaskan dengan baik" ucap Raihan menyuruh Donna untuk masuk dan duduk sebentar. Shasa yang melihat hal itu hanya menatap Donna datar kemudian pergi dari ruangan itu.


Inilah Shasa, wanita ini tidak suka membohongi dirinya sendiri. Jika memang tidak menyukai orang lain, maka Shasa akan secara langsung menunjukkan ketidak sukaannya. Bukan seperti wanita lain yang malah tersenyum untuk menutupi rasa tidak sukanya.


Tunggu dulu bukankah tadi pagi Alan memberikan gulungan kertas padanya. Shasa membuka tasnya kemudian mencari kertas pemberian Alan tadi.


Shasa membuka gulungan kertas yang ada pada tangannya, ternyata kertas itu berisi nomor Alan. Shasa tersenyum setidaknya ia bisa berkomunikasi dengan Alan setelah dirinya kembali ke negaranya.


Untuk memastikan apakah nomor yang dipegangnya benar-benar milik Alan, Shasa menekan tombol telepon kemudian menempelkan benda persegi canggih itu pada telinga kirinya.


"Ciao, con chi?" halo, dengan siapa? sapa Alan dari seberang sana. Shasa tersenyum ternyata nomor ini benar-benar milik Alan.


"Hai tampan, kau sudah melupakan ku?" goda Shasa membuat Alan tertawa.


"Astaga, akhirnya kau menghubungi ku juga!" ucap Alan seolah sudah menunggu telpon dari Shasa sejak lama.


"Kau tidak ingin tahu bagaimana Aku bisa mengenali mu?" tanya Alan membuat Shasa kembali bertanya-tanya dari manakah Alan tahu akan identitas aslinya.


"Sebaiknya kita bertemu untuk membicarakan hal ini" pinta Shasa di iyakan oleh Alan, Shasa meminta bertemu dengan Alan supaya Raihan tidak curiga akan identitas aslinya. Shasa belum siap untuk membongkar identitas aslinya pada Raihan.


"Ngobrol sama siapa?" tiba-tiba Raihan datang mengejutkan Shasa yang masih ingin berbicara dengan Alan.


"Baiklah kita bahas saat pertemuan saja, selamat siang"


Bohong Shasa kemudian mematikan sambungan telepon secara sepihak. Jangan sampai Raihan tahu kalau dirinya sedang berbicara dengan Alan.


"Dimana Donna?" tanya Shasa kembali merubah wajahnya menjadi datar, Raihan hanya menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata susah juga menetralkan rasa cemburu pada Shasa.

__ADS_1


"Udah pergi dari tadi kok" jawab Raihan selembut mungkin, jangan sampai Shasa kembali marah hanya karena kedatangan Donna. Padahal Donna mencarinya juga karena pekerjaan bukan yang lainnya.


__ADS_2