Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Tidak Banyak Berubah


__ADS_3

"Kau tahu tentang pembunuhan kedua orang tuaku?" tanya Shasa menatap Alan yang duduk berhadapan dengannya.


Alan menghembuskan nafasnya panjang kemudian memasang wajah seriusnya.


"Jujur, waktu kejadian itu aku mengira Paman dan Bibi benar-benar kecelakaan, tetapi beberapa tahun kemudian Aku kembali menyelidikinya, tetapi Aku masih belum bisa memastikan siapa dalang dari balik pembunuhan orang tuamu"


Shasa mengangguk, bahkan dirinya sendiri masih belum mengetahui orang yang merencanakan pembunuhan orang tuanya. Padahal sudah bertahun-tahun diselidiki namun hasilnya masih tetap sama saja.


"Tenanglah, aku juga masih menyelidikinya sampai sekarang, yah tanpa sepengetahuan mu tentunya" canda Alan membuat Shasa tertawa.


Astaga, sekarang Shasa tahu kenapa waktu di hotel beberapa orang menatap takut pada Alan. Sahabat lamanya ini terkenal akan kecerdikan dan kekuasaannya di Italia.


"Kenapa waktu itu kau datang ke hotel, apakah kau bermain dengan seorang wanita?" tanya Shasa penasaran dengan apa yang dilakukan Alan waktu itu.


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Shasa, Alan tertawa.


"Kau tidak tahu siapa aku?" tanya Alan balik, Shasa menggelengkan kepalanya tidak tahu, yang Shasa tahu dulu keluarga Alan termasuk keluarga yang disegani oleh semua orang di Italia.


"Aku juga seorang Mafia, sayang"


Tanpa Shasa sadari, saat ini Alan sedang memainkan sesuatu di jari telunjuknya.


"Pistolku!"


Alan mengangkat bahunya seolah tak tahu dengan apa yang dibicarakan oleh Shasa.


"Kau belum menjelaskan, darimana kau mendapatkan barangku"


Lagi-lagi Alan hanya mengangkat bahunya sembari tersenyum.


"Holster paha berisi beberapa senjata, benar bukan?" tanya Alan melemparkan pistol seberat dua kilo kearah Shasa. Dengan sigap Shasa menangkap pistol itu dengan mudah.


"Dasar! ooh jangan-jangan kau menyingkap dress ku saat di Bar?" tuduh Shasa mengarahkan moncong pistolnya tepat pada kepala Alan.


"Jujur, Aku kecewa saat tahu kau sudah menikah, sayangnya Aku bukan pria brengsek yang mengambil kesempatan saat kau sedang dalam keadaan susah"


Dulu Alan pernah bermimpi untuk menjadi suami Shasa, tapi mimpinya harus hancur karena saat Shasa kembali ke kehidupannya, Shasa sudah menjadi milik orang lain.

__ADS_1


Tidak masalah, Alan tak pernah berkeinginan untuk merusak hubungan orang lain, apalagi itu adalah sahabatnya sendiri.


"Ya, ya, aku tahu it--"


Drrrrrrrt Drrrrt Drrrrrrrt


Belum sempat Shasa menyelesaikan kalimatnya, getaran dari dalam tasnya membuat detak jantungnya berdetak kencang. Shasa takut kalau orang yang menelponnya itu adalah Raihan, alasan apa yang harus ia buat ketika Raihan tahu dirinya pergi keluar selarut ini.


"Angkat saja, barangkali itu suamimu!" titah Alan disertai senyum mengejeknya.


Lambat sekali Shasa membuka tasnya, mengambil benda lempeng nan canggih itu dengan hati yang was-was.


"Sialan!" umpat Shasa keras saat tahu id panggilannya bernamakan 'Evan'.


Shasa menekan tombol hijau keatas kemudian menempelkan benda canggih itu pada telinganya.


"Siala--"


"Dasar sombong Lo, mentang-mentang lagi bulan madu, udah lupa Lo sama Gue hah! udah lupa!"


"Gila Lo! hah! Lo udah gila!" ujar Shasa disertai emosi yang sudah naik sampai ubun-ubun.


Alan yang tidak mengerti arah pembicaraan Shasa hanya diam memperhatikan setiap perubahan ekspresi wajah Shasa. Hingga akhirnya Alan mulai penasaran dan ingin mengetahui dengan siapa Shasa mengobrol hingga berteriak dan mengumpat kesal.


Lama Shasa tak kunjung mengakhiri pembicaraannya, Alan memanggil nama Shasa kemudian mengangkat kedua alisnya seolah sedang bertanya 'Siapa?'.


Tak ada jawaban dari Shasa, wanita itu malah mengaktifkan tombol loud speaker. Alan mengernyitkan dahinya, apa yang sedang dilakukan Shasa?


"Van, Lo masih inget Alan nggak? Alano, cowok yang dulu sering bully Lo karena Lo pendek dan nggak tumbuh-tumbuh"


Pancing Shasa agar Evan termakan oleh ucapannya. Shasa ingin tahu apa reaksi Alan saat tahu Evan sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang selalu melindunginya.


"Lo bilang apa tadi? Alan? sampai mati Gue gak bakal lupa sama cowok sialan itu, sekarang dimana dia? bakal Gue hajar habis-habisan kalo ketemu!"


Shasa menutup mulutnya agar Evan tak mendengar suara tawanya yang sudah tak tertahankan setelah melihat ekspresi Alan berubah menjadi bingung sekaligus emosi.


"Bangk*, Sialan Lo! dasar manusia kecil!" Hina Alan tak segan-segan menyindir hal yang sungguh tidak bisa dijelaskan.

__ADS_1


Sedangkan Shasa, wanita itu tertawa keras mendengar pertengkaran dua pria yang sudah lama tidak saling berhubungan.


"Alan? itu suara Lo? ya ampun, suara Lo masih aja sama, mirip hewan b*bi yang lagi berak"


"Sialan Lo!!" umpat Alan sembari melirik kearah Shasa yang sedang menertawakan dirinya.


Ternyata tidak banyak yang berubah dari kedua sahabatnya, yang satu suka melihat pertengkaran dan yang satunya lagi suka membanggakan diri dan memandang rendah orang lain.


Andaikan saja Evan bisa ikut berkumpul dan bergurau bersama, pasti akan lebih menyenangkan lagi. Apalagi sudah lama Alan merindukan bacotan dari Evan yang biasanya bermulut pedas dan tajam.


"Udah ya Van, lain kali kita bertiga pasti bisa kumpul bareng lagi" ucap Shasa mengakhiri pembicaraannya.


"Kau tidak takut, suamimu mencarimu?" tanya Alan membuat Shasa menjadi terdiam.


Entahlah Shasa tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika Raihan tahu dirinya menemui Alan. Apalagi hanya berdua di apartemen Alan, Shasa tidak bisa membayangkan hal buruk terjadi padanya.


"Entahlah, biarkan saja semuanya terjadi dengan sendirinya" jawab Shasa sok puitis, tapi apa yang diucapkannya itu berbanding terbalik dengan apa yang dipikirkannya.


"Mau ikut ke Bar?"


Shasa menggelengkan kepalanya, sebenarnya ia ingin ikut bersenang-senang dengan Alan, tetapi Shasa sadar kalau dirinya bukan lagi seorang gadis yang bisa bebas berkeliaran tanpa izin dari siapapun.


"Yasudah, ayo Aku antar pulang" ajak Alan bangkit dari duduknya. Akhirnya Shasa lebih memilih untuk diantar pulang Alan daripada ikut pria itu ke Bar.


***


"Terimakasih, sampai jumpa" pamit Shasa melambaikan tangannya pada mobil Alan yang mulai menghilang dari pandangannya.


Sekarang ketakutannya akan benar-benar terjadi, Shasa mematung di depan pintu kamarnya sendiri. Sebenarnya Shasa ingin cepat-cepat masuk dan segera mengakhiri ketakutannya, tapi keberaniannya menghilang begitu saja.


Pintu terbuka pelan Shasa masuk kedalam dengan degub jantung yang tak beraturan. Lampunya masih mati dan Raihan masih tidur diposisi yang sama, sejenak Shasa menghembuskan nafasnya lega.


Untung pria ini tidak bangun dan mencarinya, bisa gawat kalau sampai ketahuan. Shasa kembali melepas semua pakaian yang melekat pada tubuhnya lalu ikut berbaring disamping Raihan.


Berulangkali Shasa mencoba untuk menutup matanya, tapi tidak bisa, kejadian dimana orang tuanya meninggal tiba-tiba memenuhi pikirannya. Siapa sebenarnya orang yang begitu tega membuatnya menjadi anak yatim-piatu.


Tangan Shasa mengepal, suatu hari nanti jika pelaku itu tertangkap Shasa tidak akan pernah membiarkannya begitu saja. Orang itu akan hidup dalam rasa sakit dan memohon kepadanya untuk segera mengakhiri hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2