Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Pria Gila


__ADS_3

Langkah kaki Evan tiba-tiba terhenti ketika akan menaiki anak tangga didepannya, ekor matanya melihat seorang wanita yang memakai dress berwarna peach diujung ruangan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Wanita yang duduk berhadapan dengan gadis kecil itu tidak terlihat wajahnya. Hanya wajah gadis kecil yang bisa dengan jelas Evan lihat. Evan merasa seperti tidak asing melihat gadis kecil itu. Wajahnya mirip seperti wajah Raihan tetapi tidak sepenuhnya mirip.


Apakah diam-diam Raihan telah memiliki anak haram tanpa sepengetahuannya.


Disaat Evan hampir menemui wanita dan gadis kecil itu, tiba-tiba Evan mengurungkan niatnya. Evan mengerutkan dahinya, untuk apa ia menemui dua orang asing itu. Jika ia mengenal wanita itu tidak apa-apa. Tetapi jika dia tidak mengenalnya, akan menjadi sangat tidak sopan karena mengganggu makan malam orang lain. Entah mengapa perasaannya menjadi sedih ketika harus kembali naik ke lantai tiga.


Tanpa Evan sadari benda berwarna hitam terjatuh dari saku celana miliknya. Mungkin karena ia terlalu fokus dengan wanita yang sedang duduk bersama anak kecil itu, konsentrasinya menjadi terpecah.


Shasa yang merasa ada orang dibelakangnya menoleh kebelakang namun ternyata tidak ada siapa-siapa. Hanya ada meja belakangnya yang ditempati oleh sepasang anak muda.


Tatapan matanya secara tiba-tiba menuju kearah anak tangga, di sana terdapat seorang pria memakai setelan jas berwarna hitam. Tidak lama kemudian pria itu menghilang dari pandangannya.


Merasa tidak ada sesuatu yang penting Shasa kembali melanjutkan makan malamnya bersama dengan putrinya.


Tidak lama kemudian sepasang anak muda yang mejanya berada tepat dibelakang Shasa menemui Shasa membawa sebuah dompet hitam yang ditemukannya.


"Permisi kak"


Shasa menoleh ketika pria muda dibelakangnya tadi memanggilnya dengan sebutan 'kak'. Shasa mengerutkan keningnya, ia merasa tidak ada urusan dengan sepasang kekasih didepannya ini. Mengapa mereka memanggilnya, mungkinkah ada sesuatu yang penting.

__ADS_1


"Kami menemukan ini tak jauh dari meja kami"


Pemuda itu menyodorkan dompet kulit berwarna hitam ke meja Shasa. Ekspresi wajah Shasa yang heran menjadi semakin keheranan karena itu adalah dompet milik pria. Bagaimana bisa dua orang ini memberikan dompet ini kepadanya padahal jelas-jelas ia seorang wanita.


Belum sempat Shasa menanyakan mengapa dompet kulit berwarna hitam ini diberikan kepadanya. Pemuda itu menjelaskannya terlebih dahulu.


"Dompet ini memang bukan milik anda, tetapi milik pria yang tadi akan menemui anda"


Menemuinya? Jelas-jelas dikota ini tidak ada satupun pria yang mengenalnya.


"Mungkin tadi itu pacarnya"


"Mengapa kalian tidak mengembalikannya saja sendiri?"


Sepasang kekasih itu saling berpandangan, tidak ada dari mereka yang menjawab pertanyaan dari Shasa.


***


"Sial!"


Entah sudah berapa kali wanita yang memakai jaket merah itu mengumpat. Tidak hanya mengumpat, wanita itu juga mengutuk orang yang menelponnya untuk datang kemari.

__ADS_1


Setelah sampai didepan sebuah pintu, dengan segala kesabaran yang tersisa wanita itu membuka pintunya perlahan. Baru satu langkah menginjakkan kakinya ditempat itu, bau alkohol yang menyengat menusuk indera penciumannya. Wanita itu kembali mengumpat dalam hatinya.


Semakin masuk kedalam ruangan itu semakin terdengar keras pula dentuman musik. Ditambah dengan suara bising dari orang-orang yang memenuhi ruangan, wanita berambut pendek itu semakin merasa jengkel. Andaikan saja pria itu bukan atasannya, mana mungkin ia bersedia datang ke tempat seperti ini.


"Kau yang menelponku tadi?"


Seorang bartender yang sedang meracik minumannya menoleh ketika wanita yang memakai jaket merah bertanya kepadanya dengan nada yang tinggi. Wanita itu pasti marah karena ialah yang menelponnya tadi.


"Maaf Donna, kali ini Evan tidak bisa dihubungi. Jika aku tidak menghubungimu siapa lagi yang akan membawa pulang pria gila itu"


"Jika dia tau kau menyebutnya pria gila, dia tidak akan segan membunuhmu"


Bartender itu hanya mengangkat bahunya sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Dimana dia?"


"Seperti biasanya"


Donna memutar bola matanya kesal kemudian meninggalkan bartender itu, ia harus segera mengantarkan atasannya pulang. Biasanya hal yang seperti ini diurusi oleh Evan sendiri, tapi entah kemana Evan pergi malam ini sampai harus dirinya yang menjemput bos gilanya pulang.


Setelah melewati beberapa lorong yang hanya diterangi oleh lampu temaram. Akhirnya Donna berdiri didepan pintu bertuliskan VIP bernomor tujuh. Tangan Donna sudah terangkat untuk mengetuk pintu, namun Donna mengurungkan niatnya. Wanita itu langsung membuka pintunya dan masuk tanpa mengucapkan permisi.

__ADS_1


__ADS_2