
"Aku cinta kamu" ucap Raihan kemudian mencium dahi Shasa lembut.
"Selamat malam" Ucapnya lagi, Raihan menarik selimut untuk menutupi tubuh Shasa dan tubuhnya yang tidak mengenakan sehelai benangpun.
Sedangkan Shasa hanya tersenyum, nafasnya masih memburu. Seluruh tubuhnya dipenuhi oleh peluh, aktivitas yang barusan dilakukannya cukup menguras tenaga.
Beberapa menit kemudian mata Shasa kembali terbuka, tangannya melambai diatas wajah Raihan. Tidak ada respon apapun dari Raihan, menandakan pria itu telah tertidur pulas. Shasa bangkit dari posisinya sekarang lalu berjalan kearah kamar mandi.
Sungguh ini bukan hal yang Shasa ingin lakukan, tetapi keadaan memaksanya untuk melakukannya.
Apartemen dijalan xx lantai 4 nomor 92
Shasa kembali membaca pesan yang dikirim oleh Alan beberapa jam yang lalu. Apakah pria itu tidak masalah jika dirinya menemuinya di jam sekarang. Sudahlah, Shasa merapikan pakaiannya kemudian membuka pintu secara diam-diam.
Kota yang dikunjunginya sekarang memang terkenal akan kesibukannya, bahkan selarut ini masih ada banyak kegiatan yang terjadi. Shasa melambai kearah taksi kemudian masuk dan menunjukkan arah yang akan ditujunya.
***
Sudah sepuluh menit berlalu tetapi Shasa masih diam mematung didepan sebuah pintu apartemen bernomor 92. Shasa ingin mengetuk pintunya tetapi takut kalau mengganggu tuan rumah, apalagi kalau Alan tinggal bersama dengan orangtuanya.
"Hai kau sudah menunggu lama" ucap seseorang membuat Shasa menoleh kebelakang.
"Alan?" gumam Shasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lelah kakinya berdiri didepan pintu, ternyata orang yang ingin ditemuinya malah berada di luar rumah.
"Ayo masuk" ajak Alan sembari membuka pintu. Setelah pintu terbuka Alan masuk kedalam duluan, diikuti Shasa dari belakang.
"Kau tinggal sendirian?" tanya Shasa saat Alan menyalakan lampu ruang tamunya. Pria itu mengangguk kemudian meletakkan kantong plastik yang dibawanya tadi diatas meja.
Perhatian Shasa terfokuskan pada sebuah bingkai foto, foto itu tampak tidak asing dimatanya. Foto seorang pria merangkul pundak seorang gadis manis yang tengah tersenyum lebar.
Tiba-tiba ingatan Shasa kembali ke masa lalu, dimana saat dulu ia masih memiliki banyak teman. Memiliki sekumpulan anggota yang sama-sama menyukai hal-hal berbahaya.
"Masih ingat dengan foto itu?" tanya Alan mendekati Shasa kemudian mengangkat bingkai itu dan mengusap foto seorang gadis yang sedang dirangkulnya dulu.
"Kau sungguh Alano, Alan ku?" Mata Shasa membulat lalu mengusap wajahnya kasar.
Plak!
"Dasar brengs*k! kenapa kau tidak bilang dari awal hah!"
__ADS_1
"Astaga, tamparan mu masih saja menyakitkan!" Keluh Alan memegang pipi kanannya yang barusan ditampar oleh Shasa.
Sedangkan Shasa, wanita itu memasang wajah datarnya, menatap Alan dengan tajam. Sungguh ini pertemuan yang sangat mengejutkan baginya.
"Hehe, apakah Aku berubah menjadi lebih tampan?" goda Alan menyugar rambutnya kebelakang.
Shasa terdiam, senyuman dibibir Alan masih sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Dimana pertemuan terakhir itu menyebabkan mereka putus kontak selama bertahun-tahun.
"Ayolah, jangan seperti ini Ratuku"
Alan memeluk sahabatnya, sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Disaat Alan memeluk Shasa, disaat itu juga punggung Shasa terlihat naik turun. Terdengar isakan pelan, Alan tahu Shasa tengah menangis.
Sebenarnya Alan juga ingin menangis, tapi tidak bisa, mana ada pria ikut menangis disaat wanita yang dipeluknya juga menangis. Alan menepuk-nepuk punggung Shasa pelan, berusaha untuk menenangkan emosi sahabatnya.
"Maaf, Aku tidak hadir saat pemakaman Paman dan Bibi"
Alan melepaskan pelukannya kemudian menghapus air mata Shasa yang tak henti-hentinya menetes. Shasa tersenyum, ini kali pertamanya menangis didepan seorang pria. Bahkan Shasa tidak pernah menunjukan kelemahannya dihadapan Evan.
"Tidak masalah, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ucap Shasa mendorong tubuh Alan membuat pria itu tertawa.
"Baru saja kau menangis dan sekarang kau kembali ke wujud asli mu!"
Alan mengajak Shasa duduk, rasanya menyenangkan bisa bertemu dengan sahabat lamanya ini. Hanya saja ada yang kurang, mereka harusnya bertiga, bukan hanya berdua.
Seorang gadis tergesa-gesa turun dari mobilnya, kakinya melangkah cepat untuk segera menemui orang yang dirindukannya.
"Hei, tunggu aku!" teriak laki-laki dari belakang, laki-laki itu berlari untuk mengejar gadis yang sudah dianggap sebagai adiknya sendiri.
"Evan, ayo cepat!" teriak gadis itu memeletkan lidahnya, mengejek Evan yang berlari mengejarnya dari belakang.
"Awas saja kau, Sha!" teriak Evan mempercepat larinya, setelah berhasil menangkap gadis nakal didepannya, Evan memegang tangan Shasa erat.
"Jangan pernah meninggalkan Aku sendirian, ya" ucapnya sembari mengacak rambut Shasa gemas.
"Anak-anak, ayo makan dulu, setelah itu kalian baru boleh bermain" tutur seorang wanita menarik tangan Shasa dan Evan.
"Tapi Ma, Sha__,"
"Baiklah, baiklah, Evan! jaga putri Mama yah" ucap wanita yang dipanggil Mama itu menitipkan putrinya untuk dijaga oleh Evan.
__ADS_1
"Siap Mah" jawab Evan semangat.
Dulu Evan memanggil Mamanya Shasa dengan sebutan Tante. Tapi lama-kelamaan Sebutan itu berubah menjadi Mama dan Shasa juga tidak mempermasalahkan hal itu.
Tok tok tok
Evan mengetuk pintu rumah yang bersebelahan dengan rumah Shasa, lama pintu kayu itu tidak terbuka. Shasa mulai tidak sabar, tangannya dilipat kedepan kemudian menendang pintu didepannya dengan kuat.
Brak!
"Iyaa, sebentar!" teriak wanita dari dalam rumah yang terdengar agak marah. Siapa coba yang tidak marah ketika ada tamu yang menendang pintu rumahnya dengan tidak sopan.
"Siapa?"
Saat pintu terbuka, awalnya wanita pemilik rumah itu ingin memarahi orang yang menendang pintunya. Tapi saat tahu orang yang tidak sopan itu adalah Shasa dan Evan, wanita itu tertawa kemudian membuka pintu rumahnya dengan lebar.
"Maaf Tante, kami sudah tidak sopan" ucap Evan merasa tak enak hati dengan kelakuan Shasa yang menurutnya terlalu bar-bar.
"Santai saja masuklah, jangan sampai adikmu membuat masalah dengan anak Tante"
Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, parah! sampai-sampai Tante didepannya ini hafal dengan kelakuan Shasa. Evan menaiki tangga, menyusul Shasa yang sudah naik dulu.
BUGH!
Tiba-tiba sebuah bantal besar melayang dan mengenai wajah Evan. Baru saja melangkah masuk kedalam kamar sahabatnya, tetapi malah sudah disambut dengan meriah seperti ini.
"Hai bro!" sapa laki-laki yang melempar bantal, sementara Shasa hanya tertawa melihat Evan dikerjai oleh Alano.
"Akhirnya kita bisa bertemu lagi" ucap Alan memeluk Evan erat, sama seperti yang dilakukannya tadi saat Shasa masuk kedalam kamarnya.
"Aku ikuuuut" rengek Shasa kemudian bangkit dari duduknya, berlari kecil kearah Alan dan Evan, Shasa ikut memeluk dua laki-laki yang berstatus sebagai sahabatnya.
Alan tersenyum lebar, akhirnya bisa bertemu dengan kedua sahabatnya lagi. Evan dan Shasa hanya mempunyai kesempatan satu kali dalam setahun untuk bisa bertemu dengannya.
Dulu sebelum Shasa pindah dari Italia, Shasa adalah sahabat Alan. Tapi entah kenapa kedua orang tua Shasa memutuskan untuk pindah ke negara lain membuat Shasa dan Alan sulit untuk bertemu.
Saat Shasa kembali ke Italia ternyata Shasa mempunyai sahabat baru, namanya Evan. Disitulah mereka bertiga menjadi sahabat, setiap kali Shasa berkunjung ke Italia, Evan selalu ikut untuk berkumpul bertiga bersama.
"Sampai jumpa" Shasa dan Evan melambaikan tangannya, mereka berdua sedih karena mereka harus kembali pulang ke negaranya. Berbeda dengan Alan, Alan tersenyum untuk menutupi rasa sedihnya.
__ADS_1
Mereka bertiga tidak tahu kalau hari itu adalah hari terakhir mereka bisa bertemu dengan Alano. Hingga saat Shasa honeymoon di Italia, Shasa bisa kembali dipertemukan dengan sahabat lamanya.
Flashback Off