Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Takdir?


__ADS_3

Pintu rumah itu terbuka, seorang remaja masuk kedalam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Wanita yang juga duduk di kursi ruang tamu itu menatap tak suka saat cucunya yang baru saja masuk tidak mengucapkan salam seperti biasanya.


"Dari mana saja kau! apakah kau tidak menghormati Ibu yang baru saja meninggal? kau malah keluyuran tidak jelas"


Pria muda yang duduk tak jauh dari Nenek menggertak kepada Adiknya yang baru saja masuk kedalam rumah setelah semalam tidak pulang sama sekali.


Tanpa sedikitpun merespon apa yang Kakaknya katakan, remaja itu berjalan cepat kearah Kakaknya dengan wajah merah dan tangan yang mengepal.


BUGHH! BUGH! BUGH!


Tangan kekar Raihan berusaha menghentikan tonjokan Adiknya yang membabi buta. Jika biasanya ia akan membalas tonjokan itu lebih keras, kali ini pria muda itu tidak sedikitpun untuk berniat membalasnya. Ia tak ingin Ayah dan Neneknya menilai dirinya buruk.


Evan mencengkeram erat kerah baju Raihan, nafasnya berantakan, matanya melotot merah dengan tangan kanan yang masih terkepal kuat.


"KEPAR*T!! BERANINYA KAU MERENCANAKAN PEMBUNUHAN KEDUA ORANG TUA SHASA DAN MEMBUNUH IBU KANDUNGMU SENDIRI!!"


BUGHH!


Sekali lagi kepala Raihan terbentur dinding dibelakangnya, wajahnya babak belur dihajar oleh Adiknya sendiri. Hidungnya mimisan serta sudut bibirnya yang berdarah membuat wajahnya terlihat semakin mengenaskan.


Nenek berteriak histeris melihat Evan menonjok Kakaknya secara membabi buta. Teriakan Nenek itu berhasil membuat Alex datang dari dalam.


"Hentikan Evan!"


Tangan kanan Evan sudah hampir mengenai wajah Raihan, namun gertakan itu berhasil membuatnya menghentikan perbuatannya.


Tepat dibelakangnya seorang pria yang ia panggil Ayah, berdiri tegak dengan wajah berkerut tidak senang melihatnya.


"Apa yang kau lakukan pada Kakakmu!"


Evan melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Raihan, remaja itu terdiam mendengar kalimat yang barusan terlontar dari mulut Ayahnya.

__ADS_1


Evan melangkah pelan ke arah Alex, mendekati pria itu dengan senyum tipis yang terlihat aneh.


"MENGAPA AYAH MASIH TETAP MEMBELANYA!!"


Kesabaran Evan sudah habis, remaja itu hampir saja menonjok Ayahnya jika tubuhnya tidak diseret kebelakang oleh Raihan.


Evan memberontak berusaha melepaskan tangannya dari Saudaranya itu, Ia tidak sudi jika tubuhnya disentuh oleh pembunuh seperti Raihan.


"Kau bisa menghajarku sepuasmu, tapi jangan sekali-kali kau memukul Ayah!"


BUGH!


Raihan mengusap sudut bibirnya yang kembali berdarah, memandang Adiknya penuh amarah.


"Ibumu meninggal terkena serangan jantung, bukan karena Raihan"


Pria itu mencoba memegang pundak anak bungsunya, memberinya pengertian bahwa Istrinya meninggal karena serangan jantung bukan karena anak sulungnya. Namun Evan segera menjauh ketika tangan ayahnya hampir menyentuh pundaknya.


"Benar, memang bukan karena Raihan Ibu meninggal"


"TAPI IBU MENINGGAL KARENA TAHU ANAK KESAYANGANNYA MEMBUNUH KEDUA ORANG TUA SHASA!!"


Setelah membuat Nenek, Alex dan Raihan terdiam, Evan melangkah meninggalkan orang-orang itu dengan perasaan amarah yang tidak tertahankan.


Disaat Evan hampir memegang gagang pintu rumah itu, Raihan kembali mengucapkan kalimat yang membuatnya merasa bahwa saudara yang lebih tua darinya itu benar-benar seorang Bajing*n.


"Rahasiakan hal ini dari Shasa, jangan biarkan gadis kecil itu mengetahuinya! sampai kapanpun!"


***


Andai saja saat itu Evan tidak berhenti sejenak ketika akan masuk kedalam rumahnya. Pembicaraan Nenek yang lumayan keras membuatnya mengetahui bahwa Raihan lah yang menjadi sumber dari semua kekacauan ini.

__ADS_1


Evan merasa sangat muak dengan semua hal yang terjadi padanya, jika Raihan seorang pembunuh maka sebentar lagi ia akan menjadi pembohong besar.


Bagaimana ia akan menghadapi Shasa saat tahu jika orang yang akan tinggal serumah dengannya adalah adik dari pembunuh kedua orangtuanya. Ia juga akan menjadi orang yang sama-sama bajing*n suatu saat nanti ketika rahasia ini terbongkar.


***


Mulai saat itu Nenek, Alex, dan Evan menyembunyikan tentang kebenaran penyebab kematian orang tua Shasa.


Bahkan Evan harus selalu berakting membantu Shasa menemukan pelaku pembunuhan yang sebenarnya Kakaknya sendirilah yang menjadi pelaku.


Alex yang juga pergi keluar negeri membiarkan Nenek mengurus kedua putranya. Mendidik Raihan agar menjadi pria yang lebih baik daripada sebelumnya.


Flashback Off


Disaat Nenek berhenti bercerita tentang masa lalu, Shasa menatap lekat wajah Nenek. Memastikan bahwa wanita tua itu sedang tidak berbohong kepadanya.


"Apakah pernikahanku juga telah direncanakan sebelumnya?"


Nenek yang mendengar pertanyaan dari Shasa segera menjawabnya cepat, tidak ingin ada kesalahpahaman.


"Tidak-tidak, Nenek tidak pernah merencanakan kecelakaan pada hari itu. Hanya saja saat Nenek tahu bahwa Nak Shasa lah yang menyelamatkan Nenek_,"


Kalimat nenek terhenti sejenak, tangannya menunjukan gerak-gerik seperti sedang tidak nyaman menceritakan hal ini kepada Shasa.


"Nenek berpikir mungkin ini sudah takdirmu menikah dengan Raihan, waktu itu Nenek memintamu menikah dengan cucu Nenek dan ternyata hal itu berhasil walaupun berkedok sebagai permintaan terakhir"


Shasa terdiam, mengapa Nenek dulu bertindak seolah Nenek lah yang mengetahui takdirnya menikah dengan Raihan?


Mengapa Nenek berpikir bahwa dengan menikahkan seorang pria pembunuh kedua orangtuanya disebut dengan takdir?


Mengapa dirinya sendiri juga terlalu naif terjebak dengan semua rencana Nenek dan Raihan?

__ADS_1


Mengapa saat ia menyadari keanehan-keanehan yang terjadi dirinya tidak sadar dengan semua kebohongan-kebohongan ini?


"Takdir yang Nenek buat berhasil membuat hidupku benar-benar hancur"


__ADS_2