
Shasa mengerjap, matanya menyipit ketika menyesuaikan dengan cahaya sinar matahari yang masuk diantara celah-celah jendela mengenai wajahnya.
Apakah ini sudah pagi? rasanya seperti baru tidur selama satu jam. Shas ingin merenggangkan otot-ototnya tetapi sebuah lengan besar melingkar pada perutnya.
Mata Shasa membelalak mengingat kejadian semalam. Oh astaga! sialan, dasar tubuh munafik! Shasa merasa malu akan dirinya sendiri. Bagaimana bisa seorang Mafia Queen yang menjaga kehormatannya, malah dengan mudahnya didapatkan oleh seorang pria bekas seperti Raihan.
Shasa menyingkirkan tangan Raihan kemudian duduk dipinggiran ranjang. Astaga! pinggangnya terasa sakit, apalagi tubuhnya yang berasa seperti terkena pukulan preman.
Aduh! bahkan sekarang dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun. Shasa bangkit kemudian mengambil cardigan yang semalam ditaruh diatas sofa oleh Raihan.
Shasa mengenakan cardigan itu, yah walaupun hanya menutupi bagian belakang tubuhnya. Sedangkan bagian bawah dan depan tubuhnya masih terlihat dengan jelas.
Ketika melihat sebuah pistol terletak dilantai, Shasa berjongkok kemudian memungutnya. Begitupula dengan kedua holster miliknya, Shasa mengambilnya kemudian menghitung senjatanya untuk memastikan jumlahnya. Semua jumlahnya sama seperti pada awalnya kecuali satu senjata, pistolnya kurang satu.
Shasa sudah mencarinya disegala arah, bahkan dikolong ranjang, tetapi pistolnya masih tidak bisa ditemukan. Rasa panik mulai menyerang, bagaimanapun juga ini negara orang lain, Shasa tidak bisa berbuat seenaknya.
Sibuk mencari pistolnya yang hilang, Shasa sampai tidak sadar jika Raihan sudah bangun dan memperhatikan gerak-geriknya yang mengundang hawa nafsu.
Saat Shasa masih berdiri, berpikir dimana terakhir tempat yang dikunjunginya. Raihan memeluknya dari belakang, awalnya Shasa terkejut, tetapi Shasa tetap membiarkan pria dibelakang tubuhnya ini memeluknya erat.
"Selamat pagi, sayang" ucapnya tepat ditelinga kanan Shasa.
Shasa tersenyum, apa ini yang selalu Raihan ucapkan pada wanita yang sudah dijamahnya. Kesabaran Shasa mulai habis saat tangan Raihan mulai bergerak menggerayangi tubuh bagian depannya.
Mengingat saat ini Raihan juga tidak memakai sehelai benangpun. Shasa hanya mencekal kedua tangan Raihan dan menguncinya pada bagian perutnya. Hal itu malah disalah artikan oleh Raihan.
"Semoga ada bayi kecil tumbuh disini" ucapnya membuat Shasa semakin emosi mengingat kejadian dilantai dua. Pria yang menindih seorang wanita itu adalah Raihan, Shasa tidak akan salah mengenali suaminya sendiri.
"Sudah berapa wanita yang kau tiduri?" tanya Shasa santai sembari mendongak menatap wajah Raihan. Pria itu tampak terkejut dengan pertanyaan yang barusan diucapkannya.
"Apa maksudmu?" tanya balik Raihan berusaha untuk membalik tubuh Shasa agar berhadapan dengannya.
"Berapa banyak wanita yang sudah kau telanjangi?" ucap Shasa lebih jelas lagi, Shasa terpaksa membalikan badannya karena paksaan dari Raihan. Tapi detik berikutnya Shasa menempelkan tubuhnya pada tubuh kekar Raihan karena tidak ingin melihat tubuh polos Raihan yang masih telanjang.
Raihan tersenyum mengejek melihat tingkah Shasa yang dengan sengaja menempelkan tubuh depan mereka.
"Kamu ingin tahu berapa banyak yang sudah kutelanjangi?" tanya Raihan sembari memainkan Rambut Shasa yang berantakan.
__ADS_1
"Ya" jawab Shasa singkat mencoba untuk tidak emosi, atau lebih jelasnya cemburu?
"Satu, kamu wanita pertama yang Aku sentuh dan wanita yang terakhir tentunya" jawab Raihan membuat Shasa mendongakkan wajahnya.
"Kau bercanda? bagaimana dengan wanita dilantai dua yang kau tindih?"
Raihan tertawa kecil kemudian diam menatap wajah Shasa yang sedang cemberut.
"Kamu cemburu?" tanya Raihan, Shasa dengan cepat menggeleng. Shasa tak ingin lama-lama disini bersama seorang pembohong.
Baru saja ingin mendorong tubuh Raihan, tapi pria ini malah menggendongnya ala bridal. Raihan duduk dipinggiran ranjang kemudian mendudukkan Shasa pada pangkuannya.
"Kamu tahu, kejadian itu tidak disengaja"
"Maksudnya apa ya_,"
"Sssssst! Aku belum menyelesaikan ucapanku, kejadian itu tidak disengaja, saat Aku ingin berjalan melihat isi laptop, sebuah karpet besar menyandung ku menyebabkan tubuhku tidak seimbang dan jatuh tepat diatas tubuh Donna"
Shasa diam mencoba untuk menjadi pendengar yang baik. Tunggu dulu siapa nama wanitanya, Donna?
"Tangan kanan ku sekaligus sekretaris ku"
Oke sekarang Shasa sudah tahu siapa wanita yang saat itu pernah ditemui oleh Evan di sebuah gang sepi. Bersiaplah Evan, kau akan mendapatkan masalah baru karena Shasa baru saja mengetahui nama wanita yang ditemui waktu itu.
"Kau pembohong!" tuduh Shasa mencoba untuk berdiri tapi dicegah oleh Raihan.
"Astaga, Sayang, wanita itu hanya sekretaris ku yang ikut kemari hanya untuk bekerja, kau tidak percaya?"
"Bagaimana bisa kamu bermain sehebat itu jika aku adalah wanita pertamamu?" Astaga apa yang barusan terlontar dari mulutnya.
Raihan tersenyum smirk, lalu memutar tubuh Shasa menjadi berhadapan dengannya. Shasa berusaha sekuat mungkin menarik cardigan nya untuk menutupi bagian tubuh depannya.Tapi sialnya bukan itu yang Raihan incar.
Drama kuda-kudaan pagi hari ini terjadi begitu saja, pada akhirnya dua manusia itu saling berlomba meneriakkan nama satu sama lain. Untung kamarnya kedap suara dan yang paling terpenting untung saja tidak ada Nenek disini.
***
Disinilah Shasa sekarang, di Restoran yang terletak tak jauh dari hotel. Wanita itu sedang menikmati sarapannya sendirian, lalu dimanakah Raihan? pria itu ditinggal Shasa karena Shasa jengkel padanya.
__ADS_1
Setelah Shasa mandi wanita itu baru sadar lehernya dipenuhi bekas kemerahan. Dengan sangat terpaksa Shasa harus memakai turtleneck dan bawahan jeans. Tetapi tetap saja aura cantiknya dikagumi oleh banyak orang.
"Hai cantik" Puji seorang pria yang langsung duduk di kursi kosong depan Shasa. Sontak Shasa mendongak melihat orang yang sudah memujinya cantik.
"Hai tampan" ucap Shasa saat tahu pria itu adalah Alano.
"Mau memesan makanan? akan kubayar nanti" tawar Shasa pada Alano, entahlah Shasa merasa nyaman bisa berteman dengan Alano.
"Tidak, aku hanya ingin duduk dan menatap wajah cantik ciptaan Tuhan" goda Alano membuat Shasa tertawa lepas, selain baik Alano juga termasuk orang yang humoris.
Shasa menghentikan kunyahan dimulutnya, kemudian mendongak menatap wajah Alano.
"Ada apa?" tanya Alano melihat Shasa menatapnya tidak biasa.
"Bisakah Aku memanggil namamu Alan saja? anggap saja itu nama panggilan kesayangan untukmu" pinta Shasa yang langsung disetujui oleh Alan. Shasa tersenyum girang bisa sedekat ini dengan pria berdarah campuran ini.
"Tapi ada syaratnya! Aku akan memanggil namamu Zee"
"Mengapa tidak?" Shasa mengulurkan tangannya kemudian disambut hangat oleh Alan.
"Zee dan Alan" ucap Alan mengulangi nama panggilan kesayangan masing-masing. Alan mengambil nama Zee dari potongan nama Shasa yaitu Queensha Zeline.
Raut wajah Shasa berubah menjadi serius kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Alan.
"Kau tahu tentang pistol milikku?" bisik Shasa pelan agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan nya. Alan tersenyum sekilas kemudian memasang wajah datarnya.
"Selamat datang di Negaraku, Mafia Queen"
Shasa terkejut kemudian kembali menetralkan wajahnya. Bagaimana Alan bisa tahu dirinya seorang Mafia Queen, padahal mereka baru bertemu semalam.
"Tenang saja Aku akan menjelaskannya"
"Menjelaskan apa?" tiba-tiba Raihan datang dengan wajah tak senang melihat ada pria lain menemani istrinya sarapan.
"Hai Bro" Alan berdiri kemudian menepuk pundak Raihan. Sebelum pergi Alan mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh Shasa.
"Sampai jumpa kembali" pamit Alan sebelum dirinya benar-benar pergi dari restoran. Shasa masih terdiam, tangan kanannya ia sembunyikan di bawah meja.
__ADS_1