
Lelucon macam apa ini? melihat pria yang selama ini dibangga-banggakannya menindih tubuh wanita lain. Shasa mengusap air matanya kemudian tersenyum lebar, tidak masalah, memang seperti inilah hidupnya.
Shasa melangkah meninggalkan kamar berisi pria dan wanita yang sedang saling menindih. Shasa menunggu lift terbuka kemudian masuk kedalam dengan wajah yang tertunduk. Jangan sampai orang lain melihat wajah menyedihkannya.
Di dalam lift hanya ada Shasa dan seorang pria tinggi yang terus menerus menatap wajahnya. Disinilah Shasa mulai tidak nyaman dengan tingkah pria asing disampingnya.
"C'è qualcosa che non va nella mia faccia, signore?" apakah ada yang salah dengan wajah saya, tuan? tanya Shasa mendongak menatap wajah pria disampingnya.
Shasa diam sejenak, jika dilihat lagi pria disampingnya ini tampan, tinggi dan terlihat berkelas. Sekilas ia seperti mengenali pria itu.
"Cantik" gumam pria itu pelan namun masih dapat didengar oleh telinga Shasa.
"Anda bicara apa tadi?" tanya Shasa untuk memastikan apakah pria disampingnya ini bisa menggunakan bahasa yang digunakannya sehari-hari.
"Nama saya Alano" ucap pria itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya. Shasa dengan senang hati menerima uluran tangan Alano dan memperkenalkan dirinya.
Saat lift terbuka sebagian besar orang yang berada di lantai dasar menatap Alano dengan wajah yang nampak takut sekaligus heran. Shasa tidak memperdulikannya, ia terus berjalan santai disamping Alano sesekali berbincang dengan pria yang baru ditemuinya itu.
"Apakah pakaianku ada yang salah?" tanya Shasa membenarkan dress biru selutut yang dikenakannya.
"Tidak" jawab Alano singkat sembari mempersilahkan Shasa untuk masuk kedalam mobilnya.
Karena pikiran dan perasaan nya sedang kacau, Shasa mengiyakan ajakan Alano untuk pergi ke Bar. Lagipula Bar adalah tempat yang tepat untuk membantu meredakan amarahnya yang ditahan sejak bertemu dengan Alano di lift tadi.
***
Sementara itu di tempat lain, Raihan buru-buru pergi dari lantai dua. Pria itu mengkhawatirkan Shasa karena sudah dua jam lebih ia tinggal untuk urusan yang mendesak.
Sesampainya Raihan di kamarnya, tidak ada satupun lampu yang menyala.
"Shasa?" panggil Raihan tetapi tidak ada sahutan sama sekali, Raihan membuka pintu kamar mandi dan didalamnya juga kosong.
Raihan mulai panik, memikirkan Shasa yang hilang entah kemana. Ditekannya nomor Shasa berkali-kali tetapi hasilnya nihil, nomor Shasa tidak bisa dihubungi.
***
"Hai visto una donna che indossava un vestito blu in questo modo? " tanya Raihan kepada Resepsionis menanyakan apakah ada seorang wanita memakai dress biru lewat disini.
Resepsionis itu mengangguk, bagaimana mungkin bisa melupakan kejadian langka itu. Atasannya berjalan berdampingan dengan seorang wanita.
Resepsionis itu mengatakan kepada Raihan, bahwa dirinya melihat seorang wanita memakai dress biru selutut, keluar dari hotel bersama atasannya yang terkenal akan anti wanita.
__ADS_1
Raihan berterimakasih kepada Resepsionis lalu kembali ke kamarnya. Perasaannya menjadi campur aduk, setelah mendengar bahwa istrinya pergi dengan pria lain selain dirinya ditempat asing seperti ini.
Baiklah Raihan akan menunggu sampai Shasa pulang dan bertanya tentang kejadian selengkapnya selama dirinya pergi karena suatu urusan yang mendesak.
***
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari tetapi Shasa belum juga kembali, Raihan bagun dari duduknya kemudian mengambil jaket, ia memutuskan untuk mencari Shasa disekitar sini.
Baru saja Raihan ingin membuka pintu, seseorang mengetuk pintu dari luar. Raihan segera membukanya, barangkali itu adalah Shasa.
Dugaan Raihan benar orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Shasa, wanita itu terlihat datar dan acuh kepadanya.
Shasa masuk kedalam kamar, melewati Raihan yang membukakan pintu. Sebenarnya Shasa ingin sekali meninju wajah polos Raihan, tapi sabar semua ada waktunya.
Shasa melepas cardigan nya kemudian membuangnya asal. Raihan yang melihat itu hanya menggelengkan kepala lalu memungut cardigan istrinya dan menaruhnya di sofa.
"Shasa"
Hening tidak ada jawaban dari wanita itu, Shasa sedang duduk didepan kaca rias membersihkan wajahnya. Raihan mulai kesal dengan tingkah Shasa, apa salahnya sehingga Shasa mendiaminya seperti ini.
Shasa berdiri dari duduknya kemudian berjalan pelan kearah ranjang. Saat hampir sampai di pinggiran ranjang, langkahnya terhenti, tangannya dicekal oleh Raihan.
"Kamu kenapa?" tanya Raihan dengan amarah yang sudah sudah ditahan sekuat mungkin.
"SHASA!" panggil Raihan dengan intonasi yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Shasa membalikkan badannya kemudian tersenyum kemudian.
BUGH!
Raihan terdiam mendapatkan bogem mentah dari istrinya. Rasanya tidak seberapa, tetapi maksud dari semua ini apa? apa maksud Shasa memberi bogem mentah kepadanya?
"Kurang?" tantang Raihan sembari tersenyum smirk.
BUGH!!
Satu bogem mentah kembali mendarat di pipi kanan Raihan, kali ini pukulan Shasa lebih keras dari sebelumnya, menyebabkan sudut bibir Raihan berdarah. Raihan dengan santai mengusap darah diujung bibirnya.
"Masih kurang?" Tantang Raihan yang menyebabkan emosi Shasa tersulut.
Tangan kanan Shasa sudah siap untuk memberikan bogem ketiga diwajah Raihan. Saat tangan Shasa sudah terayun untuk meninju wajah menantang pria didepannya, tangan Shasa terhenti.
__ADS_1
Tangannya dicekal oleh Raihan, pria itu tersenyum misterius kemudian mendorong tubuh Shasa hingga jatuh keatas ranjang.
Disaat Shasa ingin bangkit, tubuhnya sudah ditindih dengan tubuh Raihan. Pria itu ikut menjatuhkan dirinya diatas tubuh Shasa hingga tidak ada jarak diantara mereka.
"Sekarang giliran ku" ucap Raihan tepat di telinga kanan Shasa.
"Tidak akan kubiarkan!" sahut Shasa membisikkan kalimatnya ditelinga kanan Raihan.
Dengan secepat kilat Shasa mendorong keras tubuh kekar Raihan, kemudian memelintir tangannya dan menekannya dengan kuat dibelakang tubuhnya.
"Apakah sakit?" tanya Shasa menunggangi tubuh kekar Raihan yang tengkurap dengan tangan kanan dibelakang.
Raihan menahan rintihannya, jujur rasanya sangat sakit. Entah bagaimana bisa istrinya menjadi jago seperti ini.
Raihan tidak tahu kalau Shasa adalah seorang Mafia Queen yang menguasai ilmu beladiri dengan nilai tinggi yang mendekati nilai sempurna.
Krek!
Shasa tertawa mendengar tangan kanan Raihan yang ditekannya mengeluarkan suara yang sangat enak didengar ditelinga. Sedangkan Raihan menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sakit yang diberikan oleh Shasa.
Saat Shasa mulai lengah, tiba-tiba Raihan membalikan badannya menjadi telentang. Dengan cepat memegang kedua paha Shasa agar tidak bergerak bebas.
Shasa terkejut ingin segera bangkit dari posisinya sekarang, tetapi tidak bisa. Kedua pahanya dicengkeram kuat oleh Raihan hingga tidak bisa bergerak.
Posisi yang sungguh sangat sialan bagi Shasa. Apa-apaan ini? seharusnya sekarang Raihan yang memohon untuk dilepaskan. Bukan dirinya yang berusaha untuk bangkit, tapi malah berujung saling bergesekan dengan pria sialan yang telentang dibawanya ini.
"Lepaskan tanganmu!" titah Shasa kehabisan tenaga dan mulai menghentikan usahanya untuk menyingkir dari tubuh Raihan. Shasa diam, merasakan ada sesuatu yang menonjol..
"Sekarang giliran ku!" ucap Raihan sekali lagi, Shasa menggeleng ia tidak mau berhubungan dengan pria bekas. Ya, pria bekas wanita lain.
Raihan membalik posisinya, sekarang gantian Shasa yang telentang di bawah dan dirinya menindih tubuh Shasa. Raihan mulai mendekatkan wajahnya, hingga bibir mereka menyatu. Raihan ******* bibir Shasa lembut dan penuh dengan perasaan, hingga ciuman panas itu semakin menuntut dan membuat Raihan tidak bisa menahan hasratnya lagi.
"Raihan......" Erang Shasa pelan saat bibir Raihan sudah tenggelam di leher jenjangnya. Shasa mengerjap gugup namun sentuhan Raihan membuatnya terus mendesah pelan.
Ada keinginan untuk menolak sentuhan dari Raihan tetapi tidak bisa. Tubuhnya munafik, sedikit saja mendapatkan sentuhan dari Raihan maka dirinya seolah haus akan sentuhan itu, mendambakannya untuk lebih dan lebih.
Tangan Raihan bergerak pelan menarik resleting dress yang dikenakan Shasa, sehingga dress biru itu terbuka pada bagian belakangnya. Dengan perlahan Raihan menarik dress selutut itu sehingga memperlihatkan tubuh putih nan seksi milik Shasa yang hanya dibalut dengan pakaian dalam. Raihan membuang dress itu asal.
Inilah bagian yang Shasa lupakan, Shasa lupa tidak mencopot holster paha yang dikenakannya. Raihan tidak kaget melihat holster beserta beberapa senjata dipaha Shasa. Dengan sabar Raihan mencopot kedua holster itu kemudian ikut dibuang ke sembarang arah.
Raihan ikut melepaskan pakaian yang menempel pada tubuhnya. Hingga kini mereka sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun di tubuh mereka.
__ADS_1
Mata Raihan menatap wajah Shasa dalam-dalam kemudian menyatukan keningnya dengan kening Shasa.
"Aku mencintaimu" ucap Raihan parau dan mata sayunya yang tampak indah berkabut.