
"Gue udah nemuin orang terakhir yang ditemui bokap sama nyokap Lo sebelum kecelakaan itu terjadi"
"Apa!"
Shasa menutup mulutnya, matanya membulat sempurna. Kakinya terasa lemas setelah mendengar apa yang Evan ucapkan barusan.
Akhirnya setelah bertahun-tahun menyelidiki kasus rumit dan panjang itu, orang terakhir yang ditemui kedua orangtuanya bisa ditemukan dari persembunyiannya.
Ada perasaan aneh muncul pada lubuk hati Shasa, takut, bahagia, marah, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
Sedikit, kurang sedikit lagi pelaku pembunuhan itu pasti akan terungkap.
"Temui Gue di Bandara! kita temui langsung orang itu"
"Iya" jawab Shasa singkat mencoba untuk menahan semua perasaan yang sedang menguasai dirinya.
"Shasa, ada apa?"
Shasa membalikkan badannya, jantungnya berdetak kencang takut kalau Raihan mendengar pembicaraannya dengan Evan.
"Nggak ada apa-apa" jawab Shasa sebisa mungkin untuk tetap tersenyum, seolah tidak terjadi apa-apa.
Tapi nyatanya Raihan tahu ada hal yang sedang Shasa sembunyikan darinya. Terlihat sangat jelas dari nada dan mata Shasa yang tidak menatapnya saat bicara.
"Shasa, Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku"
Raihan tersenyum hangat lalu memeluk Shasa memberikan sedikit kekuatan untuk menenangkan Shasa. Tapi apa yang terjadi, Shasa malah mendorong tubuh Raihan hingga pria itu mundur beberapa langkah.
Raihan mengernyitkan dahinya, mulutnya terbuka ingin mengucapkan sesuatu tapi belum sempat karena Shasa sudah masuk kedalam kamar dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
Inilah hal yang paling sulit untuk dimengerti, Shasa seolah tidak mempercayainya. Menyimpan semua masalahnya sendiri, padahal Raihan sudah menawarkan diri untuk menjadi tempat keluh kesah setiap masalah yang sedang Shasa hadapi.
__ADS_1
Setengah jam berlalu, Raihan memberi waktu Shasa untuk menyendiri dan menenangkan dirinya yang kalut dalam masalah yang sama sekali tidak Raihan ketahui.
Saat Raihan membuka pintu kamar untuk melihat keadaan Shasa, lagi-lagi Raihan harus menguatkan kesabarannya. Melihat Shasa yang sudah rapi dengan pakaian kerja berwarna hitam dan sebelah tangannya yang menarik sebuah koper.
"Kamu mau kemana? Aku tahu kamu punya masalah tapi setidaknya kamu bisa kasih tahu ke Aku, kam__,"
"Diam!!"
Nafas Shasa memburu menandakan emosinya yang tidak terkontrol. Satu hal yang mungkin tidak Raihan ketahui, Shasa adalah wanita yang sulit mengendalikan perasaannya. Ketika Shasa bahagia maka dihari itu Shasa akan terus bahagia, tetapi jika Shasa marah atau sedih maka hari itu bukanlah hari yang baik untuk mendekati Shasa.
"Maaf" ucap Shasa menunduk menyadari bahwa sejak pagi tadi dirinya melampiaskan amarahnya kepada Raihan. Sulit rasanya untuk tidak berbicara kasar kepada Raihan, karena dirumah ini hanya ada Raihan yang sejak tadi menanyakan tentang masalahnya.
Bukannya Shasa tidak menghormati Raihan, tetapi masalahnya itu tidak ada sangkut pautnya dengan Raihan. Tidak mungkin Raihan bisa membantunya membongkar pelaku pembunuhan orang tuanya. Semuanya akan bertambah parah jika Shasa memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Raihan. Bisa-bisa identitasnya sebagai Mafia Queen juga ikut terbongkar.
"Sekarang Aku tanya, kamu mau kemana?" tanya Raihan mendekat kearah Shasa lalu menarik koper yang dibawa oleh istrinya itu.
Hening, Shasa tidak bisa memberitahu kepada Raihan. Diambilnya kembali kopernya dari tangan Raihan, menatap mata Raihan ragu kemudian memeluk pria itu erat.
"Sama siapa? kemana?" Dua pertanyaan yang juga tidak bisa Shasa jawab. Baiklah lebih baik berbohong saja daripada Raihan terus menerus menanyakannya.
"Ke Swiss, sama bawahanku"
Raihan mengangguk lalu menatap mata Shasa lekat. "Berapa lama?" tanya Raihan lagi untuk memastikan.
"Cuma 4 hari kok" jawab Shasa datar lalu melepaskan pelukannya.
Sudah cukup untuk basa-basi nya saat ini Shasa harus cepat berangkat Ke Bandara, karena Evan sudah mengatakan jikalau terlambat akan ada masalah baru yang muncul.
"Baiklah Aku berangkat dulu, sampaikan kepada Nenek juga yah" pamit Shasa menarik kopernya kemudian melangkah meninggalkan Raihan sendirian.
Setelah kepergian Shasa, ekspresi wajah Raihan berubah menjadi datar. Seulas senyum tipis muncul pada bibirnya, tatapan hangatnya tadi berubah menjadi dingin seolah tak tersentuh.
__ADS_1
***
Shasa menggeram pelan, tak percaya dengan apa yang terjadi. Belum satu bulan Shasa mengunjungi Negara ini, dan sekarang harus kembali ke Negara yang dua Minggu lalu dijadikannya sebagai tempat honeymoon.
ITALIA
Evan memutar bola matanya jengah, yang Shasa lakukan menurutnya terlalu berlebihan. Bukan salahnya ketika tahu orang yang selama dicarinya itu tinggal di Negara yang baru saja Shasa kunjungi selama satu minggu. Bukan salah Shasa juga karena tidak tahu kalau orang yang selama ini dicari adalah seorang wanita paruh baya.
Walaupun terdengar agak konyol, tetapi faktanya orang yang sudah lama diincarnya adalah seorang wanita. Awalnya Shasa mengira orang itu pasti seorang pria namun dugaannya salah total.
Terdengar agak memalukan tapi sudahlah, yang penting orang itu sudah ditemukan dan yang paling penting adalah saat ini Shasa sudah menginjakkan kakinya di Negara yang dulu pernah dijadikan sebagai rumahnya.
Bahkan Shasa hanya mengajak Evan seorang untuk menemui wanita itu. Sahabat sekaligus orang yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri, Evan pasti bisa menjaga dan melindunginya.
Selain itu menurut mata-mata yang dikirim oleh Evan, wanita itu hanya seorang wanita paruh baya biasa yang juga hidup sebatang kara. Tidak meremehkan, Shasa yakin wanita itu tidak akan sampai berani berulah apalagi membunuhnya.
***
Disebuah jalan dipinggiran kota, seorang wanita paruh baya terburu-buru untuk pulang setelah mengetahui dirinya sedang dimata-matai.
Wanita itu berjalan cepat menuju apartemen yang sudah ditinggalinya selama dua tahun terakhir. Apartemen yang sudah dianggapnya sebagai pelindung dari berbagai masalah yang menghantuinya beberapa tahun yang lalu.
Langkahnya semakin cepat, tidak memperdulikan beberapa orang yang melihatnya aneh. Saat sampai didepan pintu apartemen, wanita itu menghela nafas lega merasa bisa menghindar dari orang yang memata-matainya.
Tepat saat wanita paruh baya itu membuka pintu apartemennya, wanita itu terdiam. Terkejut atas kedatangan dua orang yang sedang duduk santai di ruang tamunya. Wanita paruh baya itu membalikkan badannya, menutup pintunya lalu menguncinya.
Pelan tapi pasti wanita paruh baya itu dengan santai berjalan kearah dua orang tamunya, orang yang selama ini ia tunggu akan kehadirannya.
Beberapa tahun penantian akhirnya dua orang ini berhasil mengetahui keberadaannya.
"Selamat datang" ucap wanita paruh baya itu sembari tersenyum hangat. Tidak mendapat respon dari dua orang tamunya, wanita itu ikut duduk berhadapan dengan orang yang bisa-bisanya masuk kedalam apartemennya tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1