
"Suster tolongg!"
Beberapa orang yang berada didepan UGD terkejut mendapati seorang wanita berambut pendek mengendong anak kecil dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
Suster yang memang berjaga langsung membawa masuk Allin kedalam ruangan. Setelah tubuh kecil Allin dibaringkan di atas brankar, Shasa dengan gelisah keluar dari IGD dan membiarkan dokter memeriksa putrinya. Dalam hatinya ia berdoa agar putrinya baik-baik saja.
Sekembalinya dari tempat pendaftaran Shasa terduduk lesu didepan ruang IGD. Beberapa jam yang lalu setelah pulang dari makan malam putrinya itu masih baik-baik saja. Tapi setelah satu jam yang lalu Allin tiba-tiba demam tinggi.
Air mata Shasa menetes begitu saja tanpa aba-aba. Pikirannya dipenuhi oleh hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi pada putri semata wayangnya. Shasa dengan cepat mengusap air mata dipipinya, ia tidak boleh rapuh disaat seperti ini.
"Hai nak, kau tidak apa-apa?"
Shasa mendongak ketika seorang ibu-ibu duduk disampingnya. Dengan cepat Shasa menyunggingkan senyumnya, ia tidak mau ada orang lain mengasihaninya karena wajahnya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Apakah tadi adikmu?"
Shasa menggelengkan kepalanya, wanita paruh baya itu terlihat terkejut kemudian tersenyum.
"Dia putriku"
"Jangan terlalu bersedih, putrimu pasti akan baik-baik saja"
Wanita paruh baya itu mengusap punggung Shasa pelan. Dilihat dari tatapan matanya terdapat ketulusan yang tidak dibuat-buat.
__ADS_1
"Melihatmu aku menjadi mengingat mendiang putriku"
Dan kau mengingatkanku pada Mamaku.
Shasa tersenyum pilu melihat wanita paruh baya itu berulangkali mengusap punggungnya.
"Nona Shakia Reline"
Perhatian Shasa teralihkan ketika suster yang tadi membantu Allin muncul diambang pintu. Memanggil namanya dengan raut wajah seolah sedang mencari pemilik nama yang disebutkannya. Shasa segera berdiri kemudian tersenyum sopan pada wanita paruh baya yang menemaninya.
"Nona silahkan menemui dokter__,"
Ucapan wanita yang memakai seragam serba putih itu terhenti ketika Shasa terdiam melihat sekitarnya. Ternyata tidak hanya ia saja yang juga sedang cemas seperti ini. Dibelakangnya terdapat beberapa orang menangis tersedu-sedu dan kondisinya lebih buruk darinya.
Suster hanya tersenyum mengiyakan kemudian menyuruh Shasa menemui dokter yang tadi memeriksa Allin.
***
Tatapan Shasa kosong kearah depan, jemarinya masih tertaut dengan tangan mungil putrinya. Diusapnya punggung tangan kanan putrinya itu. Rasa khawatirnya semakin bertambah ketika dokter mendiagnosis putrinya terkena demam berdarah.
Saat ini Allin dipindahkan ke ruang rawat inap. Besok pagi putrinya itu harus melakukan serangkaian perawatan agar demam berdarah yang dialaminya tidak semakin memburuk.
Dilihatnya sebentar jam yang menunjukkan pukul dua dini hari. Meskipun kantuk menghampirinya berkali-kali Shasa tetap memilih untuk terjaga hingga kantuknya benar-benar tidak bisa ia tahan lagi. Shasa terlelap dengan kepala yang disenderkan disamping brankar tempat Allin terbaring.
__ADS_1
***
Sementara itu tepat hanya berjarak dua kamar dari kamar nomor 208. Kamar nomor 210 seorang pria berbaring diatas brankar dengan perban pada kepalanya. Terdapat orang lain juga diruangan itu, seorang pria yang tengah tertidur diatas sofa berukuran sedang tak jauh dari brankar.
Meskipun terlihat tidak nyaman tidur di sofa. Pria yang mengenakan setelan hitam itu tidak sedikitpun berniat untuk pulang dan meninggalkan saudaranya sendirian.
Waktu berlalu dengan begitu cepat. Udara dari sinar matahari yang begitu hangat membangunkan pria dengan setelan hitam itu. Tubuhnya yang kekar direnggangkan kuat-kuat, terdengar suara sendi-sendinya yang berbunyi 'krek' menandakan tidur pria itu tidak nyenyak.
Dilihatnya pria yang terbaring diatas brankar masih menutup matanya.
"Apakah dia benar-benar mati?" tanya Evan sembari mendekat kearah brankar. Tangannya ia dekatkan ke depan hidung pria yang lebih tua darinya itu.
"Ternyata masih bernafas" keluhnya sembari menghela nafasnya panjang.
Baru saja Evan mencari keberadaan handphone miliknya. Getaran dari saku jas hitamnya membuatnya langsung mengambil benda pipih itu dan menggeser layarnya untuk menerima telepon. Evan memutuskan untuk menerima panggilannya diluar agar tidak menggangu istirahat kakaknya.
Sepeninggal Evan keluar dari ruang rawat saudaranya. Raihan perlahan membuka kedua matanya, terdapat rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya.
Pria itu tersadar terbangun di ruangan berbeda. Semuanya serba putih. Apakah ia sudah benar-benar pergi dari dunia ini? Raihan tersenyum. Kalau segampang ini harusnya sejak tujuh tahun lalu ia bisa mengakhiri hidupnya tanpa harus menanggung rasa sedih dan rasa bersalah sedalam ini.
Tunggu sebentar jika aku telah tiada mengapa aku masih bisa merasakan kepalaku yang terasa seperti hampir pecah.
Saat Raihan menggerakkan lengannya, ada jarum dan selang infus yang menahan gerakannya. Bersamaan dengan itu seorang pria masuk kedalam ruangan mengenakan setelan hitam. Terjawab sudah pertanyaannya, ia belum mati. Seseorang telah menggagalkan rencananya dan seseorang itu kini tengah menatapnya tajam dari ambang pintu ruangan.
__ADS_1