
Enam hari berlalu
Hari ini langit terlihat gelap, angin berhembus kencang bersamaan dengan rintik hujan yang perlahan turun. Orang-orang berdatangan memakai pakaian serba hitam. Membawa payung hitam, juga menenteng keranjang berisi taburan bunga.
Deretan karangan bunga buka duka cita nampak memenuhi area pemakaman hingga tepi jalanan.
Seorang pemuka agama membacakan doa terakhir untuk kepergian wanita hebat itu. Ketika doa selesai dipanjatkan, orang-orang mulai menaburkan bunga yang mereka bawa.
"Tante turut berduka cita dan turut berbelasungkawa, semoga kepergiannya bisa membuatmu lebih kuat lagi"
Laki-laki muda itu hanya tersenyum singkat, membiarkan seorang wanita itu memeluknya. Mungkin wanita yang tak dikenalnya itu adalah salah satu teman dari mendiang ibunya.
Setelah memeluk anak dari mendiang sahabatnya, Carrie menghapus air matanya lalu menatap kasihan pada bocah cantik yang berdiri tepat disamping Evan.
"Sha, bagaimana kalau Shasa tinggal bersama dengan Tante?"
Bocah itu menggelengkan kepalanya pelan, menahan agar air matanya tak membasahi pipinya. Cukup dua hari yang lalu bocah itu membiarkan dirinya menangis, tapi kali ini Shasa menguatkan hatinya untuk tidak menangis lagi.
"Sebelumnya terimakasih Tante, tapi Shasa akan tinggal bersamaku" ucap Evan menyela Carrie yang akan membujuk Shasa untuk ikut tinggal bersamanya.
"Bagaimana kalau Shasa tinggal sama Tante saja?"
Wanita itu tetap bersikukuh membujuk Shasa untuk ikut bersamanya. Carrie merasa tak yakin jika anak dari Mafia hebat itu akan aman jika tinggal bersama Evan. Apalagi keduanya masih berstatus sebagai remaja labil yang belum tahu tentang kejamnya dunia yang digeluti orang tuanya.
__ADS_1
Shasa lagi-lagi menggelengkan kepalanya, ia tak begitu kenal dengan Carrie. Ia takut jika Carrie bukanlah orang yang baik.
Melihat Shasa yang sedikit tidak nyaman berbicara dengannya, Carrie hanya menghela nafasnya pelan. Membiarkan dirinya untuk tidak memaksa Shasa ikut tinggal bersamanya.
"Baiklah, semuanya tergantung padamu" Carrie mengelus rambut Shasa pelan kemudian merangkulnya.
"Evan, jaga Shasa baik-baik ya, jangan buat bocah manis ini menangis, dunia yang terlihat indah ini banyak kekejaman dibaliknya jadi berhati-hatilah!"
Evan mengangguk yakin bahwa dirinya bisa menjaga Shasa yang sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
"Tante pamit ya, kalau Shasa berubah pikiran Tante masih di kota ini"
"Terimakasih, tapi mungkin tidak akan" jawab Evan menyakinkan Carrie.
***
"Ayo pulang!"
Evan menggenggam tangan Shasa erat, mengajak sahabatnya untuk pulang sebelum hujan lebat mengguyur pemakaman itu. Namun Shasa menggeleng, menarik tangan Evan untuk mengajaknya ke tempat lain.
"Ayo pulang, sebentar lagi pasti hujan lebat" Evan kembali menarik tangan Shasa, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Laki-laki muda itu sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan membiarkan sahabatnya menangis lagi. Untuk saat ini ia tidak memperbolehkan Shasa ke sisi lain pemakaman itu. Ia takut sahabatnya akan menangis begitupula dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Tapi aku ingin melihat kedua orangtuaku"
"Tidak! kita harus pulang sekarang!" Evan semakin gugup menghadapi Shasa, suara bocah itu hampir seperti ingin menangis.
"Kumohon hiks"
Evan segera memeluk Shasa, membiarkan sahabatnya menumpahkan semua rasa sakit yang tidak diperlihatkan kepada siapapun.
"Kita lihat sebentar saja ya"
***
Dua orang itu kini berdiri tepat didepan dua nisan bertuliskan dua nama yang sangat mereka kenal. Shasa sudah tidak bisa mengendalikan tangisnya, sedangkan Evan hanya memeluk sahabatnya erat agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkan.
Shasa semakin terisak keras, dunianya seolah hancur setelah kepergian kedua orangtuanya akibat kecelakaan. Tapi tidak sampai disitu, Tuhan seolah tidak puas dengan kesedihannya. Wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri kini ikut meninggalkannya.
"Ayo! kapan-kapan kita akan kesini lagi"
Shasa tau Evan sangat sedih dengan kepergian ibunya, tapi sahabatnya itu berpura-pura teguh. Entah untuk apa, namun tatapan matanya menjelaskan semua yang dirasakannya.
***
Tanpa sepengetahuan kedua orang itu, seorang pria muda dengan tubuh basah kuyup meneteskan air matanya berulangkali. Penyesalan yang mendalam kini terasa begitu berat jika hanya diungkapkan dengan kata-kata.
__ADS_1
Perbuatannya membuat dirinya kehilangan wanita hebat yang melahirkan dan merawatnya. Semuanya karena dirinya, bahkan gadis manis itu ikut merasakan akibat dari perbuatan brengs*knya.
Rasa bersalahnya akan semakin bertambah jika adik satu-satunya tahu alasan kematian ibunya dan gadis manis itu juga akan membencinya jika tahu penyebab kecelakaan kedua orangtuanya.