
Ruangan itu seketika hening, beberapa orang yang berada disana mulai menyadari akan suatu hal. Salah satu orang yang berdiri disamping Raihan menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada yang lain untuk keluar dari ruangan itu secara perlahan.
Namun belum sempat orang-orang itu melangkahkan kakinya tiba-tiba.
"KELUAAAR!!"
Teriakan lantang Raihan menyebabkan hutan yang semula hening berubah menjadi kacau, burung-burung riuh berterbangan menjauh dari rumah kosong itu. Begitupula dengan orang-orang yang berada didalam, mereka dengan cepat meninggalkan Raihan. Membiarkan atasannya menyadari hal gila yang baru saja dilakukan.
"Aaarggh, apa yang Aku lakukan!!"
Raihan memegangi kepalanya serta menjatuhkan pistol yang berada di tangan kanannya. Pria itu kemudian berlari kearah Shasa, melepas simpul tali yang mengikat seluruh tubuh wanita itu.
Berulangkali Raihan menyentuh wajah Shasa dan memeluknya berharap wanita itu tidak tewas. Namun apa yang dilakukannya malah membuat perut Shasa semakin mengeluarkan banyak darah. Kilasan ingatan beberapa jam yang lalu memenuhi isi kepala pria itu.
Saat terbangun dari pingsannya dan menyadari Shasa tak lagi berada di kamarnya. Raihan segera menghubungi Donna, memerintahkan kepada wanita itu untuk segera mencari Shasa.
__ADS_1
Akibat perbuatan Shasa, secara tidak sengaja membangkitkan sifat kejam yang pernah melekat pada diri Raihan.
Raihan tidak bisa mengendalikan kemarahannya, pria itu berpesan kepada Donna agar sedikit memberi pelajaran kepada Shasa. Perempuan itu harus sadar, dirinya benar-benar mencintainya dan tidak akan ada orang yang bisa lari darinya.
"Jika Shasa tidak bisa bersamaku, maka orang lain juga tidak akan bisa bersamanya, siapapun itu"
***
Pria itu mulai menyesali perbuatan yang dilakukannya. Kegilaannya saat marah menjadikannya seperti orang bodoh. Pria dewasa itu mulai menangis, rasa cintanya yang berlebihan dan ketakutannya akan kepergian Shasa merubahnya menjadi sebuah obsesi gila.
"Tidak, tapi mungkin iya" Wanita berambut pendek itu mengusap kepalanya pening. Jika bukan karena perintah dari Raihan sendiri ia tidak akan pernah berani menyentuh perempuan milik tuannya itu.
Didalam ruangan kumuh itu Raihan menghentikan tangisnya, meraih kepala Shasa lalu mengecup kening Shasa pelan. Setelah meletakkan perempuan itu dilantai Raihan beranjak meninggalkan perempuan itu.
Langkah lebarnya menuju pistol yang tergeletak tak jauh dari pintu. Raihan perlahan mengambilnya lalu mengarahkan pistol itu tepat dikepalanya.
__ADS_1
Donna beserta komplotannya seketika terdiam, tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekati Raihan.
Pada detik terakhir disaat Raihan hampir menarik pelatuk pistol yang dipegangnya tiba-tiba.
DUUAAAR!!
Ledakan besar bersamaan dengan kobaran api meluluh lantahkan tempat itu. Raihan terpental sangat kuat kedepan membuatnya selamat dari kayu besar yang jatuh tepat di tempatnya berdiri tadi.
Orang-orang yang berada ditempat itu terkejut sekaligus sadar ada kelompok lain yang menyerang mereka.
Raihan yang kesulitan bangun berusaha masuk kedalam puing-puing bangunan itu, namun Donna beserta yang lainnya mencegahnya.
"SHASAAAA!!!"
Pria itu berteriak keras memanggil nama wanitanya disaat tubuhnya dibantu masuk kedalam mobil oleh anak buahnya. Mobil yang Raihan naiki dengan cepat meninggalkan tempat itu, meninggalkan rumah kosong itu hancur terbakar.
__ADS_1
Disaat mobil Raihan sudah tidak terlihat lagi, sebuah mobil misterius melaju tak kalah kencang meninggalkan tempat itu melalui jalan yang berbeda dengan jalan yang Raihan lewati.