Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Tawaran Misi Baru


__ADS_3

"Sha, kau tidak apa-apa?" Carol melambaikan tangannya tepat didepan wajah Shasa, namun wanita itu tetap diam tidak memberikan respons apapun.


"Sha!"


"Ah iya, ada apa?" Shasa tersadar dari lamunannya setelah Carol menepuk-nepuk pundaknya.


"Kau tidak apa-apa? sudahlah jangan sering melamun itu tidak baik bagi kesehatanmu, apalagi jika kau melamunkan masa lalumu"


Shasa menganggukkan kepalanya pelan, memang benar apa yang Carol katakan kepadanya. Sudah berkali-kali ia mendapatkan nasihat dari teman baiknya itu namun ia tetap saja melamunkan masa lalunya.


"Sekali lagi Gue liat Lu ngelamun lagi_," Carol menjeda kalimatnya kemudian berdiri dari kursi yang didudukinya.


"Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku!" Wanita bertubuh bak jam pasir itu menatap Shasa tajam sebelum keluar dari ruangan.


"Jangan dengarkan ucapan Carol, otaknya memang seringkali tidak digunakan jika sedang berbicara" sahut Alan membuat Shasa meringis pelan. Pasangan macam apa itu, saling menjelekkan satu sama lain, pikir Shasa.


"Ngomong-ngomong soal masa lalu, Lu ngga kangen sama Evan?"


Evan? Entahlah bagaimana dengan sahabat lamanya itu. Dua tahun yang lalu ia sempat mendengar kabar jika pria yang sudah ia anggap sebagai kakak itu menikah.

__ADS_1


Sampai sekarang ia sudah tidak mencari tahu tentang Evan lagi, cukup dengan kebohongan besar yang dilakukannya dimasa lalu membuatnya merasa sedikit muak dengan Evan. Lagipula, pria itu pasti mengira dirinya sudah tiada.


***


Dua hari kemudian


Wanita berambut pendek itu melambaikan tangannya hingga bus sekolah yang Allin naiki hilang dari pandangannya. Saat Shasa hampir menutup pintu rumahnya, sebuah mobil masuk kedalam halaman rumahnya dan berhenti tepat didepannya.


Shasa memutar bola matanya jengah setelah tahu pemilik mobil mewah itu.


"Bagaimana?" tanya Alan sesaat setelah turun dari mobilnya.


Shasa membuka pintunya malas kemudian mempersilahkan Alan duduk di ruang tamu.


Dua orang dewasa yang saling duduk berhadapan itu terdiam cukup lama, usai Alan menawarkan misi baru kepada Shasa dan wanita tidak juga menjawab keputusan apa yang akan diambil.


Shasa terlihat mempertimbangkan misi yang Alan tawarkan kepadanya. Misi yang sebenarnya sudah tiga kali ditawarkan oleh Alan dan sebanyak tiga kali juga ia menolaknya setelah tahu targetnya berada di negaranya dulu.


Shasa menolaknya mentah-mentah meskipun cukup menguntungkan dirinya jika ia menyanggupi misi itu. Kenangan buruknya tentang masa lalunya membuatnya trauma menginjakkan kakinya di negara itu lagi.

__ADS_1


"Bayaran tiga kali lipat, bagaimana?"


"Tidak!"


Alan mengusap wajahnya kasar hampir menyerah dengan sikap keras kepala Shasa.


"Kenapa tidak menyuruh orang lain saja untuk melakukannya?" tanya Shasa kesal kepada Alan yang terus-menerus memaksanya menerima misi itu. Banyak pembunuh bayaran handal selain dirinya dan Alan tetap bersikukuh memilihnya.


"Kau punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh pembunuh bayaran lainnya, Shasa!"


Oh ayolah, wajah memelas Alan membuat Shasa tidak tega melihat pria yang menolong hidupnya memohon kepadanya seperti itu. Tapi rasa traumanya kembali ke Negara itu menghalanginya untuk menerima misi dari Alan.


"Aaarggh, Gue terima misi itu dengan syarat imbalan empat kali lipat dari harga sebelumnya"


Wajah Alan seketika berbinar mendengar Shasa menyetujui misi yang ditawarkannya. Sedikit demi sedikit rencana yang dibuatnya bersama dengan Carol pasti akan membuahkan hasil. Jika tidak membuahkan hasil sama sekali, setidaknya ia dan Carol sudah berusaha dan tidak ada salahnya untuk mencoba bukan.


"Oke, deal?"


"Deal!"

__ADS_1


__ADS_2