
Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, sudah beberapa kali Shasa mencoba untuk tertidur tapi matanya tak kunjung terpejam.
Wanita itu memilih untuk bangkit dari posisi tidurnya, mengambil pakaian dari dalam lemari kemudian mengganti piama tidurnya dengan dress hitam yang barusan ia ambil.
Dress yang kini dipakai Shasa bukan dress panjang biasa. Namun dress ketat tanpa lengan yang hanya dapat menutup kakinya sampai lutut.
Rambutnya ia biarkan tergerai bebas sedangkan untuk makeup, Shasa sama sekali tidak memoles apapun diwajahnya.
Setelah merasa penampilannya layak untuk dipakai, Shasa memakai high heels setinggi sepuluh centimeter. Tidak lupa dengan membawa tas mewah di tangan kirinya.
Shasa membuka pintu kamarnya pelan, takut membangunkan penghuni di Markas. Namun dugaannya salah, setelah turun dari lantai dua Shasa malah mendapati anak buahnya sedang berkumpul.
"Kenapa kalian belum tidur?"
Mau tak mau Shasa harus menyapa mereka, walaupun dengan suara datar yang sama sekali tidak enak didengar oleh telinga.
"Persediaan senjata kita mulai menipis Bos" jawab salah satu dari mereka. Shasa hanya mengangguk lalu kembali melangkah melewati kumpulan anak buahnya.
Belum sampai lima langkah, anak buahnya yang tadi menjawab pertanyaannya kini memanggilnya. Membuat Shasa berhenti lalu menoleh kebelakang.
"Bos sendiri mau kemana?"
Mendengar pertanyaan dari anak buahnya, Shasa hanya diam menatap bawahannya itu dengan datar.
Oh astaga, mungkin di dunia ini Shasa lah satu-satunya seorang Mafia Queen yang menganggap bawahannya seperti rekannya sendiri.
Akan tetapi hal itu lah yang membuat Shasa menjadi merasa nyaman dan bisa bergaul dengan mudah bersama anak buahnya yang rata-rata umurnya lebih tua darinya.
***
Shasa turun dari mobilnya kemudian melangkah masuk kedalam tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi. Baru satu langkah kakinya masuk ke ruangan itu, bau alkohol langsung menyeruak memenuhi rongga pernapasannya.
"Hai cantik?"
Shasa tersenyum mendapat sapaan dari pria asing yang barusan dilewatinya.
Dua jam Shasa berada di sana namun kali ini Shasa bertekad untuk tidak mabuk dan ia benar-benar melakukannya.
Disaat Shasa ingin menyesap minumannya, pandangannya tak sengaja melihat siluet tubuh yang mirip dengan postur tubuh suaminya. Shasa terkekeh pelan kemudian menyesap minumannya.
Akan tetapi setelah benar-benar melihat dengan jelas bahwa orang itu adalah Raihan. Shasa menghentakkan gelasnya keras kemudian mengambil tasnya dan bangkit dari duduknya.
Shasa perlahan mulai mendekat ke arah Raihan. Memastikan apakah pria itu benar-benar berada di tempat yang seharusnya tidak dipijak oleh ustadz alim sekelas Raihan.
"Lo ngapain disini?"
Shasa menatap wajah Raihan datar. Kini ia tak lagi mendongak untuk berhadapan langsung dengan Raihan. High heels sepuluh centinya benar-benar membuat tingginya hampir menyamai tinggi Raihan.
"Kamu sendiri ngapain disini?" Raihan ingin memeluk Shasa namun wanita itu mundur selangkah membuat Raihan kembali terdiam.
"Maaf salah orang" Shasa membalikkan badannya namun tangannya terlebih dahulu digandeng oleh Raihan.
"Kita selesaikan masalah ini secara dewasa"
__ADS_1
Shasa ingin menolak namun lagi-lagi Raihan berhasil menariknya.
***
"Lepas!"
"Kita selesaikan di rumah"
"Enggak!"
Shasa menghentakkan tangan kanannya keras sehingga tangan Raihan yang menggenggamnya lepas.
"Gue gak bisa balik ke rumah Lo lagi!"
"Rumahku adalah rumahmu"
Shasa tersenyum sinis kemudian berbalik untuk segera pergi meninggalkan pria yang saat ini sedang mengacaukan pikirannya.
"Nenek nggak mau nganggap Aku sebagai cucunya kalau kamu gak balik ke rumah"
Shasa berhenti sejenak lalu memutar tubuhnya ke belakang.
"Bukan urusan Gue!"
Raihan mencelos mendengar kalimat yang diucapkan oleh Shasa.
"Bisa nggak kamu jangan bersikap kekanak-kanakan?"
Apa, kekanak-kanakan? hoooo bagaimana mungkin anak-anak bisa menjadi Mafia Queen.
Sebagian orang yang berlalu lalang mulai memperhatikan perdebatan sepasang suami-istri itu. Shasa tau hal itu tidak baik tapi ia juga tidak bisa menerima permintaan Raihan.
"Jangan permalukan dirimu, kita pulang sekarang"
Shasa hendak menolak tetapi suara tak enak terdengar oleh indera pendengarannya.
"Hei kalian berdua! udah tua juga nggak malu bertengkar di tempat umum"
"Tua? heh dasar orang g__,"
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Shasa sudah ditarik menjauh dari tempat itu oleh Raihan.
"Aku ga bisa pulang dengan penampilan seperti ini" ucap Shasa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ada baju ganti di mobil"
***
Prak!
Shasa mendengus kesal, barang-barangnya jatuh sementara dirinya masih sibuk memakai pakaian ganti di dalam mobil milik Raihan.
Pria itu tidak mengijinkannya ganti di tempat lain. Beralasan bahwa tidak aman jika seorang wanita mengganti bajunya ditempat yang ramai.
__ADS_1
"Dasar tidak berguna!" Shasa mengaduh kesal ketika tangannya tidak sampai menggapai hp miliknya yang terjatuh.
Disaat Shasa hampir menggapai handphone miliknya, sebuah benda berbentuk silinder dengan ujung yang runcing menggelinding tepat disamping hp miliknya.
Shasa bergegas meraih handphone miliknya, tak lupa dengan barang yang barusan ia lihat.
Bibir Shasa tertarik menampilkan senyum tipis yang aneh. Benda berwarna emas yang saat ini dipegangnya bukan miliknya dan Shasa yakin akan hal itu, karena ia tak pernah menggunakan peluru semacam ini.
"Ini apa?" Shasa menunjukkan peluru yang ditemukannya kepada Raihan yang baru saja masuk kedalam mobil.
Raihan menunjukkan gelagat aneh, pria itu menatap Shasa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dapat dari mana?" tanya Raihan tanpa menjawab pertanyaan dari Shasa sebelumnya.
"Bisa tidak jawab pertanyaan ku terlebih dahulu! ini apa?"
Pria itu menegakan punggungnya lalu menatap Shasa datar sembari berkata,
"Itu Peluru"
"Mengapa ada peluru di mobilmu?" lanjut Shasa masih menatap Raihan dengan curiga.
"Karena__,"
"Karena peluru ini milikmu! benar bukan?" ucap Shasa yang membuat Raihan terlihat semakin gugup.
"Yang benar saja, mana mungkin Aku punya peluru" elak pria itu sembari terpaksa tersenyum.
Tak ingin menjadi perdebatan baru, Shasa turun dari mobil Raihan kemudian masuk kedalam mobilnya sendiri.
***
Disinilah Shasa sekarang, didepan sebuah rumah minimalis modern yang ditinggalkannya tadi pagi. Dan sekarang ia kembali lagi saat dini hari.
"Turunlah dan jangan membuat keributan" ucap Raihan disaat Shasa melepaskan sealtbelt nya.
"Maksudnya, jika aku datang ke rumah ini__,"
"Ayolah Sha, sekarang sudah pukul dua pagi tidak baik jika kau memulai perdebatan"
Shasa mengerutkan keningnya, apa? sejak kapan Raihan bersikap seolah dirinya sebagai awal dari pertengkaran.
"Kalau begitu gue balik ke rumah Evan aja" ucap Shasa ingin memakai sealtbelt nya namun dicegah oleh Raihan.
"Maaf, turunlah"
Disaat Shasa turun dari mobil tiba-tiba badannya limbung kesamping membuat Raihan menjadi cemas dan mengkhawatirkannya.
"Kau tidak apa?"
"Aku hanya ingin istirahat"
"Baiklah"
__ADS_1
Raihan membuka pintu rumah diikuti Shasa dari belakang, tujuannya yang tadi ingin memperjelas masalah kini menjadi berubah karena tubuhnya sudah tidak kuat untuk diajak melakukan perdebatan.