
Belum selesai Shasa mengucapkan kalimatnya, tangannya sudah diseret terlebih dahulu oleh Raihan. Pria itu menyeretnya secara paksa untuk mengikutinya masuk kedalam rumah.
Brak!
Raihan menutup pintu kamar dengan keras kemudian melepaskan genggamannya.
"Cuci tanganmu sekarang!"
Shasa masih diam tak percaya dengan apa yang Raihan lakukan padanya. Baru kali ini dirinya diperlakukan kasar oleh pria itu. Bahkan Nenek yang tadi sedang duduk didepan teras ikut mengernyitkan dahi ketika melihat Raihan menyeret paksa Shasa.
"Cepat cuci tanganmu atau..!"
Nyali Shasa tiba-tiba menciut, dengan cepat ia masuk kedalam kamar mandi kemudian mencuci tangannya diwastafel. Saat tangannya sudah bersih, Shasa memandang wajahnya didepan cermin.
Ini bukan sifat Queensha Zeline, siapa wanita yang merasukinya ini? membuatnya menjadi takut ketika Raihan membentak dan menyeretnya secara paksa.
Diusapnya buliran bening yang menetes diujung matanya.
Shasa menatap lekat wajahnya didepan cermin, wajah cemasnya lama-lama berubah menjadi datar. Shasa meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilakukannya tadi itu tidak salah dan Raihan tidak berhak untuk memarahi dan membentaknya.
"Shasa!"
Suara Raihan membuat Shasa sadar, dirinya terlalu lama didalam kamar mandi jika hanya mencuci tangan saja.
Dibukanya pintu itu perlahan kemudian menatap wajah Raihan yang nampak datar. Shasa bahkan sampai bingung apa yang sedang Raihan rasakan sekarang.
Pria itu menunjukkan wajah datarnya, tapi suaranya menandakan sedang marah.
__ADS_1
Ceklek
Shasa menutup pintu kamar mandi kemudian mendekati Raihan yang sedang duduk di sofa tak jauh dari pintu.
"Aku ingatkan! jangan pernah mengacau halaman belakang rumah!" Raihan mengucapkannya dengan datar tanpa memandang wajah Shasa.
"Memangnya kenapa?" tanya Shasa menatap wajah Raihan, ia masih berdiri tak jauh dari Raihan. Sedangkan pria itu duduk tenang di ujung sofa.
"Kau bilang kenapa?" tanya Raihan balik dengan mata yang menatap wajah Shasa tajam.
Shasa terdiam lalu menatap balik Raihan yang menatapnya tajam. Tatapannya seolah meminta penjelasan mengapa Raihan menatapnya dengan tajam.
"Aku berhak melakukan apapun yang Aku sukai" ucap Shasa dengan mata yang berkaca-kaca. Tatapannya masih terpaku pada Raihan.
"Memangnya Kau siapa? ini adalah rumahku dan Aku berhak untuk melarang mu!"
"Aku? A-aku siapa?"
Shas tersenyum aneh kemudian menghirup nafas dalam.
"Aku adalah orang yang sudah kau nikahi!"
Mata Shasa sudah tidak dapat lagi menahan perasaan kecewanya. Air matanya menetes pelan, bibirnya bergetar melihat Raihan yang juga menatapnya datar.
Tidak bisakah Raihan mendekatinya kemudian memeluk dan menenangkannya?
Sekian detik terlewati dan pria itu masih duduk santai tanpa menghiraukan Shasa yang wajahnya dipenuhi oleh lelehan air matanya.
__ADS_1
Shasa menghitung tiap detiknya, jika detik ke lima belas dan Raihan masih diam Shasa tak segan akan pergi dari rumah ini.
Dua belas...
Tiga belas...
Empat belas...
Lima belas...
Shasa mengusap air matanya kasar kemudian berjalan cepat keluar dari kamar yang menyesakkan dadanya.
Shasa terisak pelan kemudian keluar dari rumah itu dengan cepat. Nenek yang masih duduk di teras depan, semakin khawatir ketika melihat cucu mantunya berjalan cepat kemudian berlari saat dipinggir jalan.
Nenek memanggilnya dan berusaha mengejarnya, tapi terlambat Shasa sudah masuk kedalam taksi yang dihentikannya.
Kali ini wajah Nenek berubah menjadi marah, wanita tua itu berjalan cepat kembali ke rumahnya kemudian masuk begitu saja ke kamar Raihan.
"Apa yang kau lakukan pada istrimu?"
Suara Nenek terdengar kesal, sementara orang yang ditanya masih terlihat santai.
"Nek__,"
"Jangan panggil Aku Nenek sebelum kau temukan kemana perginya Shasa"
BRAK!
__ADS_1
Raihan menghela napasnya berat, kedua matanya terlihat memerah dengan bibir yang bergetar. Tak lama kemudian ujung matanya mengeluarkan setetes buliran bening.