Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Map Dokumen Hitam


__ADS_3

Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, kali ini Shasa lebih memilih mengurung diri daripada harus ikut sarapan. Mengingat kelakuannya kemarin membuatnya menjadi merasa malu jika harus berhadapan langsung dengan Nenek.


"Aku nganterin Nenek ke luar bentar yah" pamit Raihan mengecup kening Shasa sayang.


"Iya" jawab Shasa singkat mengalihkan pandangannya.


Setelah beberapa menit Raihan pamit mengantar Nenek pergi keluar. Shasa menjadi semakin gelisah, jantungnya berdetak tak karuan disertai peluh yang membasahi wajahnya.


Entah sudah berapa kali Shasa mondar-mandir mengintip halaman belakang rumah. Rasa penasarannya sejak hari itu semakin membuncah kala dirinya menemukan peluru di mobil Raihan.


Shasa menghembuskan nafasnya panjang kemudian mengumpulkan semua keberanian yang ada dalam dirinya.


Sebelum pergi ke halaman belakang rumahnya Shasa mengambil sekop dan palu, ia akan menggunakan kedua benda itu untuk membongkar tatanan kayu misterius itu. Juga untuk mencari kebenaran yang selama ini dicarinya.


***


Peluh sebesar biji jagung membasahi seluruh tubuh Shasa, sudah setengah jam dirinya mengeluarkan tenaganya demi membongkar kayu didepannya.


Dugaannya salah, ternyata kayu itu sangat berat ditambah susunannya yang rapi membuat Shasa semakin kesulitan untuk mengangkatnya.

__ADS_1


Dak! dak! dak!


Usahanya tidak sia-sia, Shasa mendapatkan celah diantara jejeran kayu yang satu dengan yang lainnya.


Perlahan Shasa mulai mengangkat kayu yang paling pinggir kemudian dilanjut sampai diujung lainnya.


Wajah Shasa sudah tak karuan dengan peluh yang bercucuran. Wanita itu menguatkan hatinya, melihat sebuah pintu berbentuk persegi yang terlihat sudah lama tidak pernah disentuh oleh siapapun.


Tangan Shasa terulur mengangkat pintu itu secara perlahan. Saat pintu sudah terangkat sempurna, sebuah tangga besi menyambutnya.


Detak jantung Shasa semakin berdetak kencang, diraihnya tangga itu lalu meloncat kedalam. Satu persatu anak tangga itu Shasa pijak, hingga kakinya menapak dasar sebuah ruangan.



Apa yang kini dilihatnya membuatnya harus menahan napas sejenak. Senjata yang berjejer rapi didepannya ini bukanlah replika ataupun hanya mainan. Semuanya nyata dan bukan halusinasi semata.


Shasa terdiam sejenak kemudian segera beranjak melangkah melihat apapun yang bisa dilihatnya.


Sampai di ujung ruangan terdapat meja kerja dengan laci yang terbuka. Didalamnya terdapat sebuah laptop yang terlihat masih bagus.

__ADS_1


Shasa meraihnya kemudian duduk dan membuka laptop itu secara perlahan. Namun sial, laptop itu sudah tidak bisa digunakan.


Tangan Shasa menarik satu persatu laci yang terdapat di meja itu, hingga pada laci paling bawah. Terdapat sebuah map dokumen berwarna hitam.


Tangan Shasa terulur mengambilnya, semula tidak ada yang aneh dengan map dokumen itu. Tapi setelah map di buka, sebuah nama tercantum jelas pada halaman pertama.


"Queensha Zeline"


Shasa semakin tidak paham dengan semua ini, hingga beberapa halaman dibuka.


Shasa terdiam seketika, pandangannya kosong. Jari-jarinya kini bahkan tidak sanggup untuk membuka halaman selanjutnya.


Terungkap sudah siapa orang yang selama ini ia cari. Pembunuh kedua orangtuanya.


Antara percaya atau tidak, orang yang selama ini dicarinya ternyata sangat dekat dengannya. Shasa menangis tanpa suara, membiarkan hatinya untuk sepenuhnya percaya bahwa orang itu benar-benar telah membohonginya.


Hancur sudah rasa percaya yang selama ini ia bangun untuk orang itu.


Shasa mengusap air matanya kasar, kemudian bangkit dari duduknya. Tangannya mengepal kuat, siap untuk membunuh dalang dari pembunuh kedua orangtuanya.

__ADS_1


__ADS_2