Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Kesialan


__ADS_3

"Astaga.."


Shasa tersadar dari kebodohannya ketika sinar matahari mulai menghilang dari pengelihatannya dan lampu-lampu yang tampak di jalanan mulai dinyalakan. Dirinya terlalu sibuk bermain bersama dengan Allin sampai melupakan keperluan penting yang seharusnya disiapkan sejak siang tadi. Shasa merutuki dirinya sendiri ketika mengingat bahwa ia hanya mandi satu kali dan tidak mengganti pakaiannya sejak semalam. Oh, sekarang baunya pasti melebihi bau kambing dan kenyataan yang harus diterimanya karena kelalaiannya adalah ia sama sekali tidak membawa baju ganti.


Andai saja tadi siang saat Allin tertidur ia gunakan kesempatan itu untuk pulang sebentar dan mengambil keperluannya. Pasti tidak akan sesusah ini untuk meninggalkan Allin sendirian.


"Allin, mama tinggal sebentar ya nak. Masa mama bau kambing gini, nanti kalau Allin pas dipeluk sama mama muntah-muntah kan nggak lucu" bocah itu tertawa sebentar kemudian mengerucutkan bibirnya.


"Tapi mama jangan lama-lama ya, Allin takut sendirian di rumah sakit" ujar Allin sembari mengedipkan matanya beberapa kali.


"Iyaaaa, cuma sebentar kok. Nanti Allin juga ditemenin sama suster, kalau ada apa-apa Allin pencet tombol yang ini ya nak" Shasa menunjukan tombol berwarna merah yang berada tepat disamping brankar. Allin mengangguk paham kemudian memeluk Shasa sebentar sedangkan Shasa membalasnya dengan mengecup kening Allin penuh kasih sayang.


***


Sementara itu ditempat lain, seorang pria meremas rambutnya dengan frustasi. Tangannya mengepal erat ketika getaran yang berasal dari handphonenya tidak juga berhenti, padahal sudah ia setel sedemikan rupa agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggunya. Namun entahlah mengapa benda berbentuk persegi panjang itu tidak bisa diajak untuk berkompromi.


"Sialan!" desis Evan penuh amarah mengambil gawainya untuk dimatikan sepenuhnya. Nampak sekilas dari notifikasi terdapat puluhan panggilan tak terjawab berserta satu pesan yang membuat darahnya mendidih.

__ADS_1


Misha:


Sayang, jangan lupa untuk membeli makan malam. Hari ini aku malas memasak.


Evan memejamkan matanya kemudian membanting benda berbentuk persegi panjang itu ke sembarang arah. Sama seperti kejadian sebelum-sebelumnya, setelah emosinya mereda Evan bangkit dari duduknya dan mengambil benda tak bersalah itu. Ah, kasihan sekali handphone tak berdosa ini, setiap hari pasti menjadi sasaran emosinya. Entah dibanting ataupun dilemparkan ke sembarang arah. Untung saja tidak pecah ataupun hancur, mungkin memang sengaja diciptakan sekuat baja.


Hari ini dunia seolah-olah sedang memusuhinya. Saudaranya yang bodoh mencoba untuk mengakhiri hidupnya namun sayangnya gagal dan berakhir di rumah sakit. Tidak apa-apa jika pria itu mencoba bunuh diri disaat sedang tidak punya pekerjaan penting. Namun entah apa yang dipikirkannya, Raihan malah memilih waktu yang tidak tepat. Dengan sangat terpaksa ia menggantikan posisi Raihan untuk mengurus perusahaan yang sedang berada dalam ambang kehancuran.


Tidak cukup dengan Raihan yang terlalu naif, ia juga harus berhadapan dengan Misha yang gila. Ah betapa tidak beruntungnya ia bertemu dengan Misha dan menikahi perempuan itu. Bagaimana mungkin seorang yang seharusnya menjalankan tugasnya dirumah dengan baik malah melemparkan tanggungjawabnya kepadanya.


Mungkin ia tidak akan marah jika sesekali Misha menyuruhnya untuk membeli makan diluar dengan alasan malas memasak. Hanya sesekali, tidak setiap hari. Tapi wanita gila itu dengan sesuka hati menyuruhnya membeli makan diluar setiap hari.


Setelah penat memantau monitornya dan tak kunjung menyelesaikan pekerjaannya dikantor milik Raihan, Evan memutuskan untuk pulang dan kembali mengerjakannya besok.


Mengingat pesan yang Misha kirimkan padanya tadi membuat Evan mau tidak mau harus membeli makan malam sendiri. Sial sekali hidupnya. Misha benar-benar tidak becus menjadi seorang istri.


Setidaknya jika malas memasak atau kemungkinan paling besar adalah tidak bisa memasak, wanita itu bisa menggunakan smartphonenya untuk memesan makanan secara online dan tidak perlu menerornya dengan puluhan panggilan hanya sekedar untuk menyuruhnya membeli makan malam.

__ADS_1


Dijaman sekarang ini semua sudah serba canggih, dan wanita itu juga sudah difasilitasi internet yang cukup hanya untuk memesan makanan. Mengapa wanita itu tidak memanfaatkannya dengan baik dan tetap saja bertingkah seperti hidup pada jaman purba.


Pernah suatu kali saat dirinya benar-benar lelah dan terpaksa pulang larut malam. Ia memutuskan untuk tidak menggubris pesan Misha dan berakhir tertidur dalam kondisi kelaparan.


Mengapa ia tidak membeli makanan secara online saja? rasa penatnya mengalahkan rasa laparnya. Sehingga ia tidak lagi memperdulikan cacing-cacing yang meronta-ronta diperutnya.


Namun dengan kurang ajarnya, ditengah malam saat Evan terbangun dari tidurnya. Secara tidak sengaja ia melihat Misha tengah makan dan terlihat seperti orang yang tidak makan berabad-abad lamanya. Padahal wanita itu sebelumnya sudah makan malam sendirian tanpa menawarinya makan. Ah sudahlah Evan semakin muak ketika kembali mengingatnya.


Setelah pesanan yang dipesannya selesai, Evan kembali melanjutkan perjalananya. Sesampainya di persimpangan jalan, Evan teringat akan kesepakatannya dengan Donna. Wanita itu akan menjaga Raihan hanya saat siang hari dan saat malam hari maka akan bergantian dengan dirinya.


Ingin sekali ia kabur dari tanggungjawabnya dan membiarkan pria dewasa itu terbaring sendirian tanpa pengawasan. Tetapi ia tidak akan membiarkannya, bisa-bisa Raihan kembali mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Segalanya akan menjadi rumit jika saudaranya itu mati secepat ini. Maka dari itu ia tidak akan membiarkan Raihan sendirian, meskipun harus mengorbankan waktu istirahatnya.


Hanya memikirkannya saja, berduaan dengan pria yang memilik ego setinggi langit itu pasti akan sangat membosankan. Dirinya paling tidak hanya akan dianggap seperti debu dan tak akan pernah diajak mengobrol layaknya saudara. Oh astaga, rasanya masih sulit dipercaya Raihan adalah saudaranya. Raihan saja menganggapnya seperti orang asing.


Evan menepikan mobilnya dan masuk ke dalam supermarket. Ia membutuhkan asupan makanan yang sangat banyak untuk menghadapi Raihan nanti.


Setelah selesai memasukkan beberapa snack pilihannya, Evan berniat untuk ke kasir. Namun pandangannya tidak sengaja melihat jajaran buah-buahan yang sudah tertata rapi didalam parcel. Evan mengambil satu dan berniat untuk memakannya sendiri. Bukan untuk diberikan kepada Raihan, enak saja pria itu dibawakan buah. Sedangkan dirinya diberikan setumpuk permasalahan kantor yang sebenarnya bukan tugasnya.

__ADS_1


Beberapa saat setelah mengantre didepan kasir, seperti biasanya kasir dengan senyum yang menawan menawarkan beberapa promo yang kebanyakan ditolak oleh pembeli. Hitung-hitung meringankan beban kerja para kasir dan tak ingin berlama-lama membiarkan wanita didepannya mengoceh lebih lama lagi, Evan memilih salah satu promo dengan hadiah boneka kecil berbentuk beruang.


Evan menyimpan barang belanjaannya di jok belakang kemudian pulang dengan hati yang gembira hanya karena melihat senyum kasir yang lebar setelah dirinya memilih dua produk yang sedang diskon.


__ADS_2