
Mata elok itu tak kunjung terpejam sedangkan matahari hampir menunjukkan dirinya. Detik demi detik berlalu, pemilik mata elok itu terbangun dari tempat tidurnya. Kaki jenjangnya menyentuh lantai-lantai kamar. Wanita itu menghela nafasnya panjang, raut wajahnya menunjukkan betapa gelisahya hatinya.
Sesaat kemudian wanita itu menoleh kebelakang, wanita itu terdiam cukup lama menatap wajah pria yang sedang terlelap disampingnya.
"Berhenti menatapku atau kau akan kembali jatuh ke lubang yang sama!"
Misha tergagap kemudian mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, ia tidak menyangka Evan bisa tahu dirinya tengah menatap kagum pria itu.
Evan yang terlanjur terbangun kemudian menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya. Pria itu duduk membelakangi Misha, tangannya yang kekar menggapai celana hitam yang tergeletak tak jauh dari tempat tidurnya. Setelah memakai celana hitam itu, Evan berdiri berjalan meninggalkan Misha yang masih duduk membelakanginya.
Disaat Evan hampir keluar dari kamar, suara Misha mengehentikan langkahnya
"Mau kemana?"
__ADS_1
"Bukan urusanmu!"
Misha tersenyum tipis dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat sikap Evan yang dingin kepadanya membuat dadanya terasa sesak.
Ingatannya kembali ke dua tahun yang lalu, tahun dimana hidupnya berubah total karena kehadiran Evan.
Dirinya tidak pernah dinginkan hadir di dunia oleh kedua orangtuanya. Ibunya seorang pelac*r sementara Ayahnya pemabuk berat yang hidupnya dihabiskan untuk berjudi. Setiap orang yang ia panggil Ayah itu memenangkan judi, pria itu akan mengabulkan sebagian permintaannya. Tetapi jika pria itu kalah, maka ia yang akan menjadi sasaran pertama alasan kekalahannya.
Ibunya jarang sekali berada dirumah, sekalipun wanita itu dirumah. Melihat putri satu-satunya dihajar oleh suaminya, wanita itu sama sekali tidak perduli. Ibunya biasanya tambah mengompori Ayahnya untuk lebih menyiksanya lagi.
Sekeras apapun ia berteriak memohon, tidak akan ada satupun dari mereka yang peduli. Mereka seperti orang asing dalam hidupnya.
Hingga disaat ia lulus dari sekolah menengah akhir, Ibunya meninggal karena serangan jantung. Sedangkan satu-satunya orang yang menjadi keluarga, yang ditakdirkan sebagi orangtuanya itu malah menjualnya kepada pria berhidung belang.
__ADS_1
Masa mudanya begitu hancur, ia sama sekali tidak mempunyai teman. Pola pikirnya dari tahun ke tahun semakin berubah menjadi buruk. Ia haus akan kekuasaan dan kekuatan.
Disaat ia benar-benar putus asa untuk melanjutkan hidup, tiba-tiba takdir membawanya pada seorang pria kaya raya. Ia tidak akan melewatkan kesempatan emas yang hanya muncul satu kali dalam hidupnya itu.
Pria itu sering mampir ke klub malam yang ia tempati bekerja. Beberapakali ia mencoba untuk menggoda, pria itu sama sekali tidak tergoda ataupun tertarik padanya. Namun ia tidak pernah menyerah, ia harus memperbaiki jalan hidupnya, satu-satunya cara yang mudah adalah dengan menikahi orang kaya. Dengan begitu ia akan mendapat kekuasaan dan kekuatan, dan yang paling penting adalah ia tidak perlu lagi bekerja sebagai seorang jala*g murahan seperti mendiang Ibunya. Bertahun-tahun ia lewati menjadi seorang pelac*r, dengan menikahi orang kaya hidupnya pasti akan terjamin.
Segala upaya ia lakukan agar mendapatkan perhatian dari pria itu. Sekalipun upaya yang ia lakukan merugikan orang lain, ia tidak akan menghiraukannya. Pria tampan kaya raya itu harus berhasil menjadi miliknya.
Seolah takdir juga ikut mendukungnya, pria itu berhasil ia jebak. Jebakan klasik yang ia gunakan benar-benar membuatnya menjadi seorang Nyonya besar. Dengan mencampur obat tidur diminumnya, pria itu ia bawa ke penginapan disekitar perumahan warga.
Sesuai dengan rencana yang ia buat, disaat pagi hari tiba ia berteriak sekencang mungkin. Warga sekitar yang mendengarnya berbondong-bondong untuk melihatnya. Tepat dengan rencananya, warga yang taat pada peraturan dan terlihat agamis memaksa pria kaya raya itu menikahinya.
Setelah dua jam menunggu kehadiran Ayahnya, Dengan wajah yang terlihat penuh keraguan pria itu menjabat tangan Ayahnya. Dengan sekali tarikan nafas, pria itu mengucapkan kalimat sakral yang mengikatnya dalam tali pernikahan. Dengan disaksikan beberapa orang warga dan seorang kepala desa, mimpinya sekarang benar-benar menjadi kenyataan.
__ADS_1