
"Akhirnya kalian bisa menemukan keberadaan Tante" ucap wanita itu menatap Shasa dan Evan bergantian. Senyuman ramah dan tatapan mata yang hangat, sempat membuat Evan dan Shasa mengernyitkan dahi.
Tatapan matanya yang hangat itu seolah nyata bukan hanya settingan belaka. Jika wanita didepannya ini memang orang jahat, Shasa pasti akan tahu saat melihat pertama kalinya. Tapi saat ini yang Shasa lihat adalah seorang wanita yang baik dan tidak mempunyai niat jahat.
"Carrie?" panggil Shasa dingin memastikan bahwa wanita didepannya ini bernama Carrie.
"Ya, panggil saja Tante Carrie" jawab Wanita itu tersenyum mengiyakan. Terlihat dari tatapannya, wanita didepannya ini seolah sedang merasakan rindu sekaligus rasa sedih. Shasa tahu itu benar, karena ia juga pernah berada diposisi itu.
"Kalian pasti mau menanyakan tentang kematian Arin dan Adson, benar bukan?"
Shasa terdiam begitupun dengan Evan yang ikutan tidak mengeluarkan suara. Membiarkan wanita yang bernama Carrie itu meneruskan kalimatnya.
"Kalian harus percaya sama Tante, bukan berm__,"
"Kenapa kami harus percaya pada Anda?" ucap Shasa memotong kalimat Carrie, wanita paruh baya itu tersenyum singkat kemudian berdiri dan masuk kedalam sebuah ruangan.
Evan mengangkat kedua bahunya ketika Shasa menatapnya dengan tatapan bertanya.
Lama tak kunjung keluar, Shasa mulai tak sabar dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu. Hingga akhirnya Carrie keluar membawa sebuah pigura berukuran sedang ditangannya.
"Lihatlah" ucap Carrie menyodorkan pigura itu kehadapan Shasa.
Sebuah pigura berisi foto tiga gadis muda yang terlihat sangat akrab.
Shasa terdiam cukup lama, satu diantara tiga gadis itu adalah Arin. Wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.
Berbeda dengan ekspresi Shasa yang sedih. Evan, pria itu tampak terkejut tapi berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Diantara ketiga gadis muda yang berada difoto itu, selain Arin mamanya Shasa. Ada satu wanita yang juga sangat-sangat Evan kenal.
"Tante, maaf kalau kedatangan kami tidak sopan" ucap Evan merasa tak enak hati masuk kedalam rumah orang tanpa izin.
Ada yang berbeda ketika tatapan mata Carrie jatuh pada wajah Evan yang sedang meminta maaf. Seulas senyum tipis muncul pada bibir Carrie tanpa sepengetahuan Shasa maupun Evan.
"Dulu Tante punya dua sahabat, namanya Arin dan Lorena ka__,"
"Lorena?" tiba-tiba Evan memotong kalimat Carrie, wanita paruh baya itu tersenyum misterius.
__ADS_1
"Ya namanya Arin dan Lorena kami bertiga bersahabat sejak SMP, kami memiliki hobi yang sama dan pada akhirnya kami menjadi seorang Mafia. Tahun demi tahun kami lewati hingga akhirnya Lorena menikah duluan, bersama seorang ustadz yang terkemuka di sebuah kota tak jauh dari kota tempat kami tinggal"
Shasa dan Evan menganggukkan kepalanya mendengar dengan teliti setiap kalimat yang diucapkan oleh Carrie.
"Tak lama kemudian Tante menyusul menikah dengan pria yang sama-sama memiliki profesi yang sama, yaitu menjadi seorang Mafia"
Carrie menjeda kalimatnya, wanita itu nampak menghembuskan napas panjang. Berbagai kejadian masa lalu kini memenuhi otak Carrie, kejadian-kejadian lama yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun akhirnya ia ceritakan juga kepada anak dari sahabatnya.
"Satu tahun kemudian Lorena melahirkan putra pertamanya, kami bertiga sangat bahagia. Tapi diantara kami ada satu yang merasa sedih karena belum juga menikah, orang itu adalah Arin"
"Tiga tahun berlalu, Lorena melahirkan putra keduanya. Sedangkan Tante masih menunda kehamilan, dan yang paling membahagiakan adalah Arin menikah dengan teman suami Tante. Pria yang dinikahi Arin adalah seorang Mafia yang kedudukannya tinggi"
"Dua tahun berlalu, Arin melahirkan seorang bayi perempuan yang dinamai Queensha Zeline. Tapi saat itu sebuah musibah terjadi, suami Tante meninggal karena pertarungan sengit melawan musuh"
Saat Carrie mengucapkan kalimat terakhirnya, raut wajah perempuan itu nampak sedih bahkan hampir meneteskan air mata. Tak ingin membuat Shasa dan Evan menunggu penjelasannya terlalu lama, Carrie melanjutkan kalimatnya dengan raut wajah sedih.
"Waktu berjalan begitu saja, awalnya semua baik-baik saja. Hingga identitas asli Lorena diketahui oleh suaminya, Lorena bahkan hampir bercerai. Tapi dengan ikhlas suami Lorena menerima Lorena apa adanya"
"Masalah pun tak henti disitu, Lorena menuduh Tante menggoda suaminya. Karena Tante tidak terima akhirnya Tante pergi dari kota itu dan pindah ke tempat lain"
Shasa terdiam, apa? kenapa Mamanya menjodohkannya dengan anak sulung dari sahabatnya.
"Lalu?" ucap Shasa penasaran karena Carrie tak kunjung melanjutkan ucapannya, wanita paruh baya itu sedang seperti melamun.
"Lalu, setelah lama tidak saling bertemu. Arin dan suaminya tiba-tiba datang ke rumah Tante dengan cara yang sama seperti kalian lakukan. Tante bahkan sangat terkejut karena mengetahui Arin bisa masuk kedalam rumah Tante tanpa ada seorangpun yang tahu"
Shasa tersenyum, astaga apakah semua bakatnya ini diwariskan oleh kedua orang tuanya.
"Kami bertiga berbincang lama, sempat juga Tante menanyakan kabarmu. Kata orang tuamu kau baik-baik saja, bahkan Arin bercerita kalau sifatmu mirip sekali dengan Adson"
"Tapi tanpa Tante sadari itu adalah pertemuan terakhir antara kami. Setelah dua hari sampai di Negaranya, Arin dan Adson tewas karena sebuah kecelakaan. Tante sangat terpukul bahkan Tante langsung bergegas untuk melihat apakah berita itu asli atau tidak"
"Namun kejadian itu benar-benar terjadi, ada seseorang yang menyabotase mobil milik Arin. Menyebabkan Arin meninggal bersamaan dengan Adson, yang saat itu mereka berdua sedang berada didalam mobil yang sama, yaitu mobil Arin yang sudah disabotase"
Mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Carrie, Shasa spontan menjadi marah. Shasa tahu kalau orang tuanya dibunuh dan Shasa berjanji untuk menemukan orang itu.
__ADS_1
"Disaat pemakaman orang tuamu, Tante melihatmu terpuruk diantara semua orang yang hadir. Tante sempat berpikir untuk merawat dan menganggap mu sebagai anak Tante sendiri"
"Tapi pikiran Tante saat itu langsung berubah setelah mendengar seorang wanita meyakinkan Tante untuk membiarkan mu tinggal bersama wanita itu__,"
"Lorena!"
Tiba-tiba Evan memotong kalimat Carrie, membuat wanita paruh baya itu kembali tersenyum misterius.
"Ya kamu benar wanita itu adalah Lorena, Lorena ingin Shasa tinggal serumah dengannya karena Shasa juga sudah dijodohkan dengan anak sulungnya. Tapi niat Lorena harus buyar bahkan sebelum bertemu dengan mu"
"Dua hari setelah kepergian pemakaman Arin dan Adson, hubungan Tante dengan Lorena mulai membaik. Kami mulai bercerita satu sama lain, mengenang masa-masa muda kami yang begitu menyenangkan"
"Tapi lagi-lagi Tante harus berduka karena Lorena tewas disebabkan oleh penyakit jantung"
"Sayangnya sampai sekarang masih belum ditemukan siapa pembunuh Arin dan Adson, Tante minta maaf, karena Tante tidak bisa menemukan keberadaan orang itu"
"Tidak masalah Tante, informasi yang baru saja Tante sampaikan sudah cukup untuk menambah informasi baru yang bahkan belum pernah saya ketahui"
Shasa tersenyum tulus, walaupun agak kecewa karena Carrie tidak tahu siapa pelaku pembunuh kedua orangtuanya.
"Oh iya, Tante sampai lupa, Namamu siapa Nak?" tanya Carrie menatap wajah Evan yang nampak berkeringat dingin. Wajah yang awalnya sekeras batu sekarang berubah menjadi seperti spons yang basah terkena air.
"Namanya Evan Tante, dia sahabat Shasa sejak kecil. Orang yang selalu ada buat saya disaat suka maupun duka " jawab Shasa membanggakan Evan didepan Carrie. Shasa terlihat bahagia ketika mulutnya itu membicarakan tentang Evan.
"Oh, tampan juga yah" timpal Carrie disertai dengan kekehannya. Bahkan Shasa juga ikut tertawa karena Carrie memuji ketampanan sahabatnya. Sedangkan Evan hanya tersenyum kikuk dengan keringat bercucuran yang membasahi wajahnya.
"Yasudah Tante makasih informasinya, kami pamit"
"Pamit kemana? istirahat disini saja"
Shasa menggelengkan kepalanya, ia dan Evan sudah memesan hotel didekat sini. Lagipula barang-barang yang dibawanya juga sudah berada di hotel.
"Permisi Tante, sampai jumpa lagi" pamit Shasa melambaikan tangannya pada Carrie yang berdiri di depan pintu.
Shasa berjalan duluan sedangkan Evan masih berada dibelakang, saat Evan menoleh kebelakang Carrie tersenyum lalu mengucapkan sesuatu tanpa mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Comeback"