
Mau tidak mau, sanggup atau tidaknya menahan malu, Shasa memutuskan untuk tetap melanjutkan sandiwaranya. Ia memilih untuk totalitas penuh dalam sandiwaranya. Setelah beberapa saat suster seakan memperlambat gerakan membuka pintu, pada akhirnya pintu itu terbuka juga. Degub jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat dari sebelumnya, ruangan yang tak jauh berbeda dengan ruang rawat Allin ini terasa mencekam.
Shasa menghembuskan nafasnya dengan rasa lega yang luar biasa ketika pria malang itu nampak tertidur dengan posisi membelakangi pintu dan tidak terlihat satupun orang lain yang menjaganya.
Tak hanya diam ditempatnya, Shasa perlahan bergerak pelan mendekati pria asing didepannya. Netranya mengamati seluruh isi ruangan, cat dinding yang seluruhnya berwarna putih, tiupan angin kencang yang mengibaskan gorden berwarna hijau pupus, juga seonggok kaos berwarna putih yang tergeletak begitu saja dilantai dekat brankar. Melihat kaos berwarna putih itu, tatapannya berakhir terpaku menatap punggung pria asing yang hanya berjarak lima langkah dari tempatnya berdiri. Punggung itu terlihat kokoh dan terlihat tidak asing baginya. Perasaan aneh mulai menyeruak membuat perutnya terasa terlilit. Hembusan kencang yang berasal dari jendela yang terbuka seolah menampar dirinya, sekaligus menambahkan keyakinan bahwa ia pernah mengenal sosok pria itu.
Mungkinkah ini alasan mengapa ia bisa merasa khawatir pada orang asing. Apakah karena ia merasa pernah mengenal pria ini dan tubuhnya merespon untuk melakukan hal-hal yang tak seharusnya ia lakukan. Lalu mengapa ia merasa mempunyai ikatan batin yang begitu kuat dengan sosok asing didepannya ini.
Shasa mengalihkan tatapannya ketika suster sialan itu tersenyum meminta izin untuk melakukan pengecekan berkala. Seharusnya suster itu tak menyapanya dan menanyakan hal yang seharusnya tak ditanyakan kepadanya. Seharusnya ia tidak bersandiwara sejauh ini. Dan seharusnya ia bisa mengendalikan rasa penasarannya agar ia tidak merasakan perasaan aneh seperti ini. Perutnya melilit seolah terdapat ribuan kupu-kupu berterbangan mengitari perutnya.
Perasaan tak nyaman itu semakin tak karuan ketika melihat sosok asing didepannya menggeliat pelan. Dengan napas yang tercekat, Shasa menghitung mundur sesuai irama jarum jam yang seakan ikut menanti kejutan apa yang akan didapatkannya.
Tiga...
Dua...
Tepat pada hitungan terakhir, bersamaan dengan suster yang membangunkan pria itu. Getaran pada saku celananya mengalihkan seluruh pusat perhatiannya. Hanya berselang satu detik pria itu terbangun dan merubah posisinya, disaat itu juga Shasa membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa.
Sementara itu, Raihan menatap kepergian wanita berambut pendek yang sepertinya terburu-buru keluar dari ruangannya.
Disaat Shasa akan menutup kembali pintunya, dari celah yang tidak seberapa ia bisa melihat pria asing itu namun dengan pandangan yang buram. Pria itu terlihat menatap kepergiannya yang terkesan terburu-buru, seolah ketahuan sedang melakukan tindak kejahatan.
Suster yang melihat raut wajah pasiennya seperti bertanya-bertanya membuat suster tidak fokus mengganti botol infus yang baru.
"Maaf pak, apakah ada yang dirasa tidak nyaman?" dan bukannya menjawab pertanyaan dari suster, Raihan malah menjawab dengan pertanyaan juga.
__ADS_1
"Yang barusan keluar tadi siapa sus?" Suster mengerutkan keningnya ketika pertanyaan dari pasiennya terdengar tidak masuk akal.
"Loh, masa bapak tidak bisa mengenali istri sendiri?" jawab suster dengan nada bercanda diakhiri kekehan pelan. Raihan semakin mengerutkan dahinya.
Istri?
Bisa-bisanya suster bercanda mengenai penyebab percobaan bunuh dirinya. Karena tak puas dan merasa jawaban suster hanya candaan belaka membuat Raihan berang. Kali ini dengan raut wajah serius Raihan kembali bertanya kepada suster yang tengah membereskan peralatannya.
"Saya tidak bercanda sus, siapa perempuan yang masuk ruangan ini seenaknya!"
Dengan raut wajah yang serius pula suster itu menatap Raihan tajam, "Maaf pak saya juga sedang tidak bercanda. Wanita yang barusan memang mengatakan istrinya bapak, jadi saya mempersilahkannya untuk masuk" setelah mengucapkan kalimatnya suster itu pamit untuk kembali menjalankan tugasnya diruang rawat lainnya.
Raihan mencoba untuk mengingat-ingat kembali, jikalau perempuan itu Donna, hanya dengan melihat bayangannya saja ia bisa mengetahui itu Donna. Lagipula Donna tidak punya alasan untuk berpura-pura menjadi istrinya. Tapi mengapa melihat wanita itu, ia merasa tidak asing dalam ingatannya.
***
"Sorry, gue baru balik dari ruangan dokter" timpal Shasa sebelum Carol melayangkan pertanyaan yang tentunya akan menginterupsinya, ia tidak mau sampai keceplosan telah bersandiwara menjadi istri orang lain.
"Terus gimana kata dokter, Allin udah boleh pulang kan?"
Shasa menghela napasnya kemudian menceritakan apa yang disampaikan oleh dokter beberapa menit lalu.
"Sha, lo jangan terlalu mikirin misi awal lo disana. Gue sama Alan bakalan ngirim seseorang buat nemenin lo, bukan buat apa-apa sih. Tapi gue ngerasa gak tenang kalo lo hidup sebatangkara dan
jauh dari gue"
__ADS_1
"Carol.. gue disini enggak 'sebatangkara' ada Allin disisi gue dan gausah mikirin gue sampe segitunya, gak usah repot-repot nyuruh orang buat nemenin gue karena itu tuh nggak akan ada pengaruhnya sama sekali. Gue bakalan nyelesein misi gue, setelah itu bakalan balik lagi"
Terdengar suara Carol yang protes kepada Alan, wanita itu rupanya tak menyerah begitu saja.
"Gue enggak nerima penolakan, titik"
"Carol... Please, ilangin rasa khawatir lo yang berlebihan. Dini gue baik-baik aja, mungkin sekarang kondisi Allin lagi sakit dan itu nggak akan lama, bentar lagi juga sehat. Udah ya dan stop ngelakuin hal yang berlebihan"
"Shasa!"
"Shasa sialan!"
Tawa Alan menggema ketika melihat Carol mencak-mencak dengan raut wajah marah ketika teleponnya dimatikan begitu saja oleh Shasa.
"Sudah kubilang bukan, Shasa itu keras kepala. Dia tidak akan mau merepotkan orang lain hanya untuk hal-hal yang dianggapnya sepele"
"Tapikan kita sahabatnya, bukan orang lain. Apa maksudmu mengatakan 'merepotkan orang lain' kau tidak menganggap Shasa dan ponakanku yang lucu sebagai keluargamu sendiri?" semprot Carol dengan amarah yang membara.
"Bukan begitu bodoh" sahut Alan sembari menoyor kepala carol hingga wanita itu kehilangan keseimbangannya.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Carol sembari menyilangkan tangannya. Alan kembali terkekeh kemudian mendekatkan wajahnya tepat dihadapan Carol.
"Kita lihat bagaimana rencanaku yang cerdas mengubah kehidupan ibu dan anak itu. Setidaknya Shasa tidak akan terus-menerus lari dari kenyataan dan meninggalkan hak yang seharusnya menjadi miliknya"
Carol terdiam sejenak menatap manik Alan yang tengah menatapnya. Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya, spontan Carol menutup matanya. Namun yang terjadi selanjutnya adalah rambutnya yang diacak-acak oleh Alan serta sisa tawa Alan yang menggema diruangan itu.
__ADS_1
"AARRGH ALAN! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN RAMBUT BARUKU!"