Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Kedok Wanita Baik


__ADS_3

Suasana sarapan pagi kali ini terasa sangat mencekam bagi Shasa, biasanya akan ada obrolan-obrolan ringan dengan Nenek ataupun Raihan.


Tetapi pagi ini wajah Raihan nampak masam, semenjak keluar dari kamar Raihan sama sekali tidak berbicara dengan Nenek. Sedangkan Nenek terlihat biasa-biasa saja, wajahnya juga nampak bahagia seperti pagi-pagi sebelumnya


"Sha, kamu kapan kasih Nenek cicit?"


"Uhuk, uhuk, uhuk"


Raihan terbatuk-batuk karena ucapan yang baru saja diucapkan oleh Neneknya. Matanya melirik kearah Shasa yang juga sedang menatapnya.


Bagaimana bisa menghasilkan anak, jika Nenek kesayangannya itu selalu menggagalkan usahanya untuk mencetak anak.


"Aku berangkat dulu" pamit Raihan setelah sarapannya habis, pria itu keluar rumah dengan wajah ditekuk masam dan tidak mengucapkan salam.


"Itu Raihan kenapa Sha?" tanya Nenek menatap punggung cucunya yang mulai menghilang dari pandangannya.


"Tidak tahu Nek, mungkin sedang pms" jawab Shasa disertai kekehan yang membuat Nenek ikut tertawa juga. Andai Shasa mengatakan yang sejujurnya, kalau Raihan sedang ngambek karena aktivitasnya diganggu Nenek tadi malam.


***


"Gue gak mau!"


"Cuma makan malam doang, Van, masa Lo gak mau sih"


Ah entah sudah berapa kali Shasa mengajak Evan untuk makan malam bersama dengan Nenek dan Raihan, tetapi pria itu tidak pernah mengiyakan satu kali saja permintaannya.


Ada banyak hal yang sebenarnya Shasa ingin ketahui antara hubungan Raihan, Evan, dan juga Nenek. Setiap kali mereka bertiga bertemu, pasti akan ada keributan yang terjadi.


"Selesaikan pekerjaanmu dan kita makan siang bersama" ucap Evan santai menatap sahabatnya yang sedang sibuk bergulat dengan lembaran-lembaran kertas yang menumpuk diatas meja kerja.


"Hmm"


Shasa menatap punggung Evan yang semakin menjauh dari pandangannya, punggung yang ia lihat sejak kecil itu nampak sangat kokoh, namun menyimpan banyak misteri dan rahasia.


Siapapun wanita yang nantinya akan menjadi pendamping hidup Evan, wanita itu pasti akan sangat beruntung.


Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh menit, sudah waktunya untuk istirahat dan makan siang.

__ADS_1


Baru saja Shasa meletakan dokumen terakhir yang baru saja diselesaikannya, Raihan datang ke ruangannya membawa dua kantong berwarna cokelat.


"Hai, mau makan siang bersama?" tanya Raihan sembari duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan.


Shasa hanya mengangguk pelan kemudian berjalan menghampiri Raihan yang sibuk menyajikan makanan tadi diatas piring yang tersedia.


Inilah Raihan, semarah apapun pria itu masih perduli padanya. Lagipula ini bukan kali pertama Raihan datang ke kantornya dan mengajak makan siang bersama. Pria dihadapannya ini rela meluangkan waktu sibuknya hanya untuk menemaninya makan siang.


"Sha, pekerjaanmu sudah selesai be-"


Evan menghentikan kalimatnya ketika melihat sepasang suami-istri itu sedang makan siang bersama. Evan kembali berputar lalu berjalan keluar dari ruangan Shasa, bibirnya tersenyum namun bukan senyum bahagia melainkan senyuman kecewa.


Bukankah yang ditakutkannya sama sekali tidak terjadi, pernikahan sahabatnya itu berjalan dengan baik-baik saja. Raihan tidak menyakiti Shasa, cukup hal itu saja sudah membuatnya merasa lega.


***


Shasa melepaskan high heelsnya kemudian kembali diletakkan diatas rak bagian sepatu. Tepat pukul lima dirinya baru sampai dirumah, bekerja di perusahaan sendiri rasanya seperti diperbudak oleh bebagai masalah yang terus menerus datang.


Setelah meletakkan high heelsnya, Shasa melempar tas keatas ranjang bersamaan dengan tubuh lelah dan letihnya.


Namun dibalik semua kerja keras ini pasti akan ada hasilnya, mengapa? karena hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Shasa masih bersyukur bisa meneruskan perusahaan yang dibangun oleh kerja keras orang tuanya dulu.


Suara berat itu mengagetkan Shasa, tetapi beberapa detik kemudian Shasa tersenyum sembari menatap Raihan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Baju koko lengkap dengan sarungnya melekat pada tubuh kekar itu, Shasa melihat penampilan Raihan dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Senyum dibibirnya mengembang secara tidak sengaja, Raihan yang melihat kelakuan Shasa hanya diam sembari mengangkat kedua alisnya, meminta penjelasan, apa yang salah dengan penampilannya.


"Apakah ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Raihan melihat bajunya kemudian membenarkan sarung yang dipakainya.


"Tidak, tidak ada" Shasa menggelengkan kepalanya sembari terkekeh, masih dalam posisi telentang. Raihan memutar bola matanya, kemudian ikut tersenyum melihat Shasa bisa tertawa seperti itu.


Setelah mengambil peci dari dalam lemari, Raihan menghampiri Shasa yang posisinya sedang duduk dipinggiran ranjang, memainkan benda berbentuk persegi nan canggih itu.


"Aku berangkat yah" ucap Raihan sembari menatap wajah Shasa yang masih terfokus pada hp yang dipegangnya.


Shasa mendongak lalu tersenyum kepada Raihan, senyum terbaik yang dimilikinya. Raihan ikut tersenyum kemudian menunduk dan mengecup kening Shasa pelan.

__ADS_1


Setelah punggung Raihan hilang dibalik pintu, debaran jantung Shasa masih terasa seperti berdetak empat kali lipat dari biasanya.


Namun didetik berikutnya senyum Shasa hilang, apakah ia pantas mendapatkan pria sebaik Raihan? sedangkan dirinya hanya seorang pendosa yang berkedok menjadi wanita baik.


Apa yang akan terjadi jika kedok aslinya terbuka? Apakah Raihan masih mau bersamanya? Atau Raihan akan menceraikannya


Rasa takut kehilangan itu benar-benar nyata terjadi pada Shasa. Hanya dalam waktu kurang dari empat bulan, rasa nyaman itu muncul menggerogoti Shasa hingga perasaan takut kehilangan semakin lama semakin membesar.


Tetapi Shasa yakin jika dirinya bisa menjaga Rahasianya dengan baik pasti Raihan tidak akan curiga, ya begitulah, dan harus begitu.


Drrrrrrrt Drrrrrrrrt


Shasa menekan tombol hijau kemudian menempelkan benda persegi itu ditelinga kirinya.


"Ada apa?"


"Lo baik-baik aja kan?"


"Iya, emangnya kenapa?"


"Senjata Lo masih lengkap? kalau kurang besok Gue bawain"


"Masih lengkap kok, makasih udah ngingetin"


"Sama-sama"


Setelah panggilan terputus, Shasa memperhatikan nama dari orang yang menelponnya barusan.


Evan selalu menanyakan apakah dirinya baik-baik saja atau tidak dan hal itu selalu ditanyakan saat dirinya sedang berada di sekitar Raihan. Rasanya ada banyak kejanggalan dalam hidupnya.


Shasa menggeleng pelan sembari tersenyum, suatu saat nanti semuanya pasti akan terbongkar dengan sendirinya. Shasa turun dari ranjang kemudian berjalan pelan kearah lemari dan membuka lemari kayu tersebut.


Sebuah koper hitam yang dulu dibawakan oleh Evan, ia turunkan dari lemari. Shasa mengambil kunci sedang yang diselipkan ditumpukan dalam pakaiannya, kemudian membuka koper hitam itu.


Saat koper terbuka, berbagai senjata ada didalam koper sedang tersebut, paling banyak adalah pisau tajam yang sering digunakan oleh Shasa.


Bahkan didalam koper tersebut terdapat beberapa setelan baju wanita berwarna hitam lengkap dengan berbagai macam pernak-pernik membahayakan.

__ADS_1


Baju yang didesain khusus untuk seorang Mafia Queen, hitam, ketat, dan tentunya dapat digunakan untuk meletakkan berbagai senjata didalamnya.


"Sudah lama Aku tidak lagi memakaimu" ucap Shasa mengusap pelan setelan bajunya yang berada ditumpukan paling atas.


__ADS_2