Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Pizza


__ADS_3

Sama seperti wanita dihadapannya saat ini, Raihan tak kalah terkejut karena wanita yang tengah berdiri tegak itu sama sekali tidak menunjukan akan tanda-tanda kedatangan nya.


Setidaknya ada suara langkah kaki ataupun ketukan pintu, bukan seperti hantu yang bisa muncul secara tiba-tiba.


"Ya ampun Nek, untung Raihan nggak punya riwayat jantung" ucap Raihan memutar bola matanya jengah, nenek selalu membuatnya jantungan.


Tiada hari tanpa Nenek membuatnya jantungan, hatinan, ususan dan lambungan.


Bukannya menanggapi omongan Raihan seperti biasanya kali ini ekspresi Nenek terlihat marah, ah entahlah siapa yang seharusnya marah dalam hal ini.


"Kamu mengulangi nya lagi!" ucap Nenek datar tapi terlihat jelas terdapat amarah dalam setiap ucapan nya tadi. Raihan yang memang otaknya masih dalam mode off hanya keheranan dengan ucapan Neneknya barusan.


"KAU MENGULANGINYA LAGI!" teriak Nenek mengacungkan jari telunjuknya tepat diwajah Raihan, amarah Nenek yang sudah mengumpul sejak tadi kini dimuntahkan dengan teriakan yang keras.


"Maksud Nenek apa?" tanya Raihan melunak bermaksud untuk mengimbangi amarah Neneknya.


Sudah lama sekali Nenek tidak semarah ini kepadanya, sekarang malah marah tanpa adanya penyebab yang jelas.


"Huuuuuuft"


Nenek menghembuskan napasnya pelan mencoba untuk meredam amarahnya, tidak baik memarahi Raihan tanpa menyebutkan permasalahan terlebih dahulu.


"Lihat apa ini?"


kecepatan tangan Nenek yang secepat kilat itu kini sudah berhasil merampas putung rokok yang tadinya dipegang Raihan.


Astaga!


Raihan hanya bisa diam tanpa membantah ataupun menyangkal kepada Nenek karena dirinya sendiri juga sedang berpikir siapa pemilik putung rokok itu.


Untuk sementara waktu biarlah Nenek mengira putung itu miliknya, apapun resikonya Raihan akan menerima dengan ikhlas karena ia harus berkorban demi melindungi pemilik putung rokok yang ditemukannya.


"Jangan pernah ulangi lagi!" Nasehat Nenek lalu keluar dari kamar Raihan dengan wajah yang nampak lesu dan penuh penyesalan.


Sekelebat kejadian beberapa tahun yang lalu membuat Raihan menutup matanya rapat-rapat lalu mengucap istighfar berulang kali.


"Setidaknya Aku sudah menepati janjiku" ucap Raihan pada dirinya sendiri untuk tetap semangat menjalankan janjinya kepada nenek tercinta.

__ADS_1


Beberapa tahun yang lalu Raihan pernah berjanji kepada Neneknya untuk tidak lagi menyentuh barang bernama rokok beserta teman-teman yang biasanya selalu hadir saat rokok itu ada.


Raihan menyambar jas dan kunci mobil kemudian memakai sepatu dan menutup kamar sebelum dirinya berangkat ke kantor.


"Nek Raihan berangkat dulu, Assalamualaikum" Pamit Raihan kepada Nenek yang tengah menyapu dedaunan di halaman depan rumah.


"Iya waalaikumsalam, hati-hati" jawab Nenek dengan seulas senyum, Nenek hanya bisa menghela napas mengingat amarahnya tadi.


Bagaimanapun juga, Raihan harus bisa menjadi orang yang lebih baik, jangan sampai kejadian dulu terulang!


***


Seorang wanita dengan tugas menggunung sedang menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Berbagai sumpah serapah sudah keluar berkali-kali dari mulutnya tetapi malah semakin membuat otak nya pusing tak karuan.


"Dasar pemalas!!" Hardik Evan ketika melihat sahabatnya sudah mirip orang utan, ya karena selalu menggaruk kepala.


"Eh! disini itu Gue boss nya, bukan Elo!" sahut Shasa tak kalah tajam. Bukannya memberi semangat seperti rekan kerja umumnya, Evan malah membuat moodnya semakin memburuk.


Sudah berbagai cara yang Shasa lakukan untuk fokus bekerja. Tetapi sepertinya otaknya sedang konslet, karena sedari tadi hanya bisa melamun, entah apa yang dilamunkan. Shasa sendiri bahkan tidak tau ia sedang melamun apa.


Shasa akhirnya pasrah lalu menenggelamkan kepalanya diatas lipatan kedua tangannya diatas meja. Tak terasa matanya mulai terpejam hingga napasnya mulai terdengar sangat teratur


"Terjadi lagi!"


Evan menggerutu ketika melihat sahabatnya sudah terlelap di meja yang penuh map berisi dokumen penting. Padahal baru sekitar dua jam yang lalu Shasa datang dengan semangat yang menggebu-gebu tapi sekarang malah tertidur.


Tidak tega melihat Shasa tertidur dengan posisi duduk, akhirnya dengan senang hati Evan menggendong Shasa ala bridal style lalu memindahkannya ke sofa panjang di sudut ruangan.


"Maaf kan Aku Sayang" Evan mengecup dahi Shasa untuk mengungkapkan rasa sayangnya sebagai seorang sahabat.


"Selama ini hanya menjaga jodoh orang huh!" Evan mendengus kesal lalu beranjak menggantikan posisi Shasa mengerjakan berbagai tumpukan dokumen diatas meja kerja Shasa.


***


Lima jam kemudian


Shasa menggeliat merenggangkan otot-otot nya yang kaku, tidak heran dirinya bisa berteleportasi dari kursi kerja sampai ke sofa panjang diujung ruangan.

__ADS_1


Siapa lagi jika bukan Evan yang memindahkannya, ini bukan kali pertama ia bisa berteleportasi namun sudah berkali-kali. Saat pandangan mengadah keatas kearah jam dinding, bukan main Shasa terkejut.


"Bagaimana aku bisa tidur selama ini?" ucap Shasa setelah melihat jam menunjukan pukul satu siang, tepatnya saat ini jam makan siang sudah selesai.


"Dasar pemalas!" tiba-tiba Evan datang dari arah pintu menenteng bungkusan berwarna coklat dan dua cup kopi di tangan kirinya.


Wajah Evan nampak letih membuat Shasa semakin merasa bersalah karena meninggalkan semua pekerjaan nya kepada Evan.


"Sorry Gue gak butuh rasa iba Lo!" ucap Evan setengah menggertak bukan bermaksud untuk meluapkan amarah kepada Shasa. Hanya saja Evan ingin membuat sahabatnya itu merasa sedikit bersalah karena melimpahkan begitu banyak masalah kepadanya.


Evan ikut duduk disamping Shasa lalu membuka bungkusan coklat yang dibawanya tadi.


"Waw, nyami" Tangan Shasa mencomot satu potongan pizza tanpa melihat ekspresi Evan yang semakin jengah karena diperlakukan seperti pembantu.


"Makan dulu aja, Gue keluar bentar" Evan pamit meninggalkan Shasa sendirian dalam kesibukan mengunyah pizza pemberian darinya.


Rasanya sangat menyenangkan bisa membuat Shasa sebahagia itu tanpa ada beban sedikitpun. Ada sedikit rasa bangga bisa menghilangkan beban Shasa walau hanya secuil dari seumbruk masalah sahabatnya itu.


"Mmmmm"


Shasa merasa sangat beruntung bisa bersahabat dengan Evan, sejak ia kecil sampai bisa sebesar ini Evan setia menemaninya dalam suka maupun duka.


Andai dulu ia tidak bertemu dengan Evan, mungkin saat ini dirinya pasti luntang-luntung hidup sendirian tanpa seseorang yang memberi motivasi untuk tetap berjuang hidup.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu menyadarkan Shasa dari lamunannya tentang persahabatan dengan Evan. Shasa bingung apakah harus mengizinkan tamu itu masuk atau tidak, karena jujur saat ini dirinya masih belum siap bertemu dengan siapapun.


Akan sangat memalukan jika seseorang melihatnya baru saja bangun tidur dan sedang memakan pizza dengan lahap. Apa jadinya jika tamu itu adalah klien penting dan Shasa malah tidak bersikap profesional.


"Ya, silahkan masuk!" ucap Shasa setengah berteriak, ya sudahlah daripada mengecewakan tamunya lebih baik Shasa mengizinkan orang itu masuk keruangannya.


Orang itu celingkungan ketika masuk ruangan Shasa, ini bukan kali pertama orang itu kesini melainkan kedua kalinya. Saat pemilik ruangan sudah mengizinkan masuk tapi malah tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali, jadi orang itu agak bingung karena mencari Shasa di ruangan kerja yang luas ini.


"Hai, selamat siang" sapa orang itu ramah saat mengetahui pemilik ruangan sedang sendirian sibuk bersantai memakan pizza di ujung ruangan.


"Yah, Selamat sia_,?"

__ADS_1


__ADS_2