
Evan terkejut ketika mendengar suara gaduh di belakangnya, saat ia ingin berbalik untuk mengecek apa yang sedang terjadi, lengannya ditarik kuat oleh Donna.
"Tuan, sudah saya katakan tadi, saya dan tuan Raihan tidak bermaksud untuk mengancam anda, semua ini hanya untuk kebaikan anda sendiri, tolong berdamai lah dengan tuan Raihan"
Senyuman miring muncul pada bibir Evan, pria itu menghentakkan tangan Donna kasar hingga terlepas. Tadinya ia ingin mengecek keadaan di luar gang, tetapi serentetan kalimat dari Donna membuat amarahnya tersulut.
"Jangan bermimpi! sekalipun sampai mati, Gue gak bakal pernah mau berdamai sama pria brengs*k itu!"
"Tapi tu__,"
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, Donna sudah ditinggal sendirian di gang sepi seperti ini. Kalau saja Tuan Raihan tidak memberi perintah untuk tidak menyakiti Tuan Evan, mungkin Donna sudah menghajar pria itu habis-habisan.
Dahi Evan berkerut setelah melihat mobil hitam melaju kencang kearah kota, mobil itu terlihat tidak asing dimatanya.
Terserah lah di kota ini pasti banyak yang memiliki mobil dengan merek dan warna yang sama. Saat ini pikiran Evan hanya terfokuskan pada satu wanita yaitu, Shasa.
Evan mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, sekitar dua puluh menit kemudian Evan sampai di depan kafe yang tadi.
"Dimana Shasa?"
Kepala Evan celingkungan mencari sahabatnya itu, meja yang ditempatinya tadi sudah ditempati oleh orang lain, lalu Shasa pergi kemana?
***
Perlahan mata Shasa mulai terbuka, kali ini bukan kepalanya yang terasa berat melainkan bahu kanannya. Bau obat-obatan khas rumah sakit langsung menyeruak masuk hidungnya, tembok serba putih dan sebuah jendela beserta gorden berwarna putih menghiasi ruangan.
Gue udah mati nih, kira-kira masuk surga atau neraka ya?
Bukankah orang mati tidak bisa merasakan sakit lagi, kenapa tangan gue berat gini?
Shasa mencoba untuk duduk bersandar di sandaran ranjang, apa? bukankah ruangan ini terlihat seperti kamar rumah sakit. Oh astaga! bagaimana dengan kuntilanak tadi yang membekap mulutnya.
Holy shit!!
Umpatan keras Shasa teriakan dalam hatinya, pantas saja tangannya terasa keram ternyata ada pria yang sangat-sangat ia kenal sedang tertidur sembari menjadikan tangannya sebagai bantalan.
Oh astaga, kenapa setiap bangun dari pingsan atau tidur pasti ada Raihan di dekatnya, mengapa disetiap ia baru membuka mata pasti Raihan lah orang yang dilihat pertama kalinya.
Shasa mencoba untuk menarik tangannya pelan, setelah berhasil menarik tangannya tanpa membangunkan Raihan, Shasa lalu berdiri kemudian berjalan pelan menuju ke pintu yang diyakini sebagai pintu keluar.
"Shasa! Udah sadar?"
Baru saja tangan Shasa menyentuh handle pintu tetapi suara berat Raihan berhasil mengejutkannya.
"Udah" jawab Shasa malas, percuma dirinya tadi diam-diam melepas tangannya dari Raihan jika akhirnya pria itu tetap terbangun juga.
__ADS_1
"Kenapa Gue bisa ada disini?"
Raut wajah Raihan nampak bingung mendengar pertanyaan barusan yang terlontar dari mulut Shasa. Harus bagaimana ini, menjawab jujur kalau yang membekap Shasa sampai pingsan itu dirinya sendiri ataukah berbohong saja.
"Emh, tadi..."
"Oke, tidak perlu dijawab!"
Huh Shasa tidak akan memperbesar masalah ini, lagipula kan dirinya juga baik-baik saja. Palingan juga musuhnya yang membekap mulutnya, ini bukan kali pertama dirinya diserang secara tiba-tiba oleh musuh.
Tentang spekulasi nya yang diculik oleh kuntilanak itu mustahil, mana mungkin ada setan di siang bolong.
Oh my god!
Astaga sampai lupa, bagaimana dengan Evan, apa pria itu baik-baik saja. Shasa bingung harus apa sekarang, hp tidak bawa, uang tidak ada lalu bagaimana caranya bertanya keadaan Evan.
Oh iya, kan ada Raihan!
Shasa tersenyum sekilas lalu menatap Raihan yang juga sedang menatapnya. Aih tidak apalah demi Evan, Shasa akan menurunkan gengsinya untuk meminjam hp milik Raihan.
"Sini, Gue pinjem hp Lo!" ucap Shasa sedikit ketus sembari melangkah pelan kearah Raihan yang sedang duduk di kursi samping ranjang.
"Lo?" jawab Raihan mengernyitkan dahinya sembari menoleh ke kanan lalu kekiri.
"Siapa?" lanjut Raihan dengan wajah seolah tak tahu apa-apa.
Sabar, demi Evan, oke
"Mas, Aku pinjem hp nya boleh?"
Sumpah demi apapun Raihan sangat ingin memeluk Shasa, mengecup wajahnya bertubi-tubi. Panggilan 'Mas' barusan membuat hatinya meleleh, yah walaupun tidak ikhlas tapi tetap saja panggilan itu terucap langsung dari bibir istrinya untuk kali pertamanya.
"Raihan!"
Shasa menggeram marah, tangannya lelah karena sejak tadi terulur tapi tidak juga diberi hp milik Raihan. Pria itu malah tersenyum tidak jelas, apa ada yang salah dengan penampilannya?
"Wajah Gue ada yang salah yah?" tanya Shasa meraba wajahnya, jangan bilang kalau makeup nya luntur.
"Kamu cantik"
"Iya Gue juga udah tau, siniin hp Lo!"
Tak ingin membuat Shasa semakin kesal, Raihan akhirnya memberikan hp miliknya kepada Shasa.
Setelah benda berbentuk persegi itu berada digenggamnya, jemari Shasa sibuk menggulir puluhan nomor untuk mencari nomor Evan.
__ADS_1
Tap! akhirnya ketemu juga, Shasa menekan tombol telepon kemudian menempelkan benda pipih itu di telinga kirinya.
"Halo?" sapa Shasa setelah tersambung dengan Evan, ada nada cemas yang terselip disana.
Lama tak kunjung terdengar suara dari seberang sana, Shasa menggigit bibir bawahnya, berbagai spekulasi buruk langsung muncul di otaknya.
"Sha! sekarang Lo baik-baik aja kan?"
Terdengar suara Evan dengan nada yang sama khawatirnya seperti Shasa. Mendengar jawaban dari Evan, Shasa menghela nafasnya lega.
"Seharusnya Gue yang nanya Lo baik-baik aja atau enggak! Lo sih pake ninggalin Gue sendirian di kafe!"
"Iya Gue minta maaf, lagian tas sama hp Lo masih Gue bawa!"
"Eh! iya yah, pokoknya balikin sekarang juga! Gue ga ma__,"
Shasa terdiam, ia tak melanjutkan ucapannya lagi, pelukan hangat dari belakang membuatnya menjadi mematung.
"O-okey, bye Evan" Ucap Shasa gugup lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. Shasa menggeliat mencoba untuk lepas dari dekapan orang yang berada di belakangnya.
"Sssst, sebentar saja"
Suara Raihan benar-benar berhasil membuat Shasa tersihir untuk melakukan permintaan Raihan.
"Kita pulang ya, Aku minta maaf kalau selama ini Aku buat kamu jadi nggak nyaman" Tangan Raihan yang semula diam kini melingkar pada perut Shasa.
Lagi-lagi rasa aneh itu muncul pada hati Shasa, sebenarnya ia ingin kembali tinggal di Markas bersama Evan. Tetapi ada rasa aneh atau apalah itu yang membuatnya enggan untuk menolak permintaan Raihan.
"Gue gak bisa!!" sarkas Shasa sembari menyikut perut Raihan, jangan sampai niatnya untuk kembali tinggal di Markas goyah hanya karena mulut manis Raihan yang berusaha membujuknya kembali tinggal serumah.
"Kumohon, jangan membuat Nenek menjadi kecewa karena kamu tidak ingin tinggal serumah lagi sama Aku"
Wajah Shasa nampak sedang berpikir keras, ada benarnya juga yang dikatakan oleh Raihan. Tidak mungkin kan dirinya meninggalkan Raihan hanya karena alasan sepele.
Tapi bagaimana dengan Evan, ah sudahlah Evan pasti mengerti dengan kondisinya sekarang.
"Oke-oke, Gue gak bakal kemana mana, tapi lepasin! apa-apaan sih!"
Andaikan Raihan tau kalau saat ini Shasa sedang tersenyum tipis, mungkin kebahagiaannya akan bertambah berkali lipat.
"Baiklah Nyonya Davindra, sekarang sudah saatnya untuk pulang ke rumah" ucap Raihan terkekeh pelan.
Kalimat barusan seakan sedang menandai jika Shasa itu istrinya, yang berarti miliknya dan tidak ada orang yang boleh mengambil ataupun merebut apapun yang sudah menjadi miliknya.
"Baiklah Tuan Raihan" jawab Shasa sembari terkekeh, suara Raihan yang terdengar bahagia itu membuatnya ikut menjadi bahagia pula. Rasanya seperti ada bunga bermekaran mengelilingi tubuhnya yang sedang dipeluk Raihan dari belakang.
__ADS_1
Bahkan Shasa sendiri sudah lupa jika dirinya sedang dalam mode marah, semuanya mulai berubah ketika pria bernama Raihan itu masuk didalam kehidupannya. Emosinya bagaikan roller coaster jika sudah berdekatan dengan Raihan.