
Prang!
"Aaaaaaaakh!"
Langkah kaki Shasa tergesa-gesa menuruni anak tangga, mendengar kegaduhan dilantai bawah hatinya menjadi was-was. Wanita itu takut terjadi sesuatu kepada putri semata wayangnya.
"Oh astaga, apa yang kau lakukan sayang?"
Gadis manis didepannya menyengir dengan spatula ditangan kanannya. Celemek berwarna merah yang kebesaran juga menggantung dilehernya. Bocah itu menggunakan kursi agar tingginya bisa menyamai set kitchen didepannya.
"Mama tidak marah kan?"
"Tentu saja Mama marah!"
Raut wajah Allin yang semula ceria berubah menjadi sedih setelah mendengar jawaban dari Mamanya. Spatula yang tadinya ia pegang sekarang ia letakkan kembali keatas wajan yang setengahnya hampir gosong.
Astaga ada-ada saja anaknya ini!
Shasa menghela nafasnya lalu mendekat kearah Allin, dipeluknya bocah berumur enam tahun itu.
"Seharusnya kalau Allin pengen belajar masak, panggil Mama biar ada yang nemenin. Mama nggak marah kok, Mama khawatir banget kalau Allin sampai kenapa-kenapa"
Dilepasnya pelukan dari Mamanya, bibir mungilnya mengerucut dengan raut wajah yang sedih.
"Tapi Mama keliatan lagi sibuk, Allin ga mau ganggu Mama cuma gara-gara perut Allin laper"
Hati Shasa benar-benar tersentuh, bagaimana bisa dirinya yang seorang pendosa dianugerahi seorang putri kecil yang begitu menyayanginya. Jikalau dulu ia benar-benar menggugurkannya, ia pasti akan menyesal seumur hidupnya.
Hidup Allin pasti begitu sial karena memiliki Ibu sepertinya, sejak anak itu lahir ia hanya memiliki sedikit waktu untuk bermain bersama. Jarang sekali ia membuat putrinya tersenyum. Apalagi pekerjaannya yang begitu berbahaya membuat Allin menjadi satu-satunya titik terlemahnya, hal itu menjadikan Allin selalu dalam keadaan berbahaya.
Perasaan gadis itu pasti lebih sakit lagi karena hidup tanpa tahu siapa Ayah kandungnya. Memang ada Alan yang selalu bersikap seolah menggantikan posisi Ayahnya, namun gadis itu tahu Alan bukanlah Ayah kandungnya. Sekalipun Alan memperlakukannya seperti anak sendiri, Allin tetap menyimpan keingintahuannya tentang siapa sosok Ayahnya, bagaimana rupa ayahnya dan mengapa Ayahnya tidak pernah menjenguknya sekali saja.
__ADS_1
"Ma, Mama kenapa?"
Shasa tersenyum ketika jemari kecil itu mengusap pipinya lembut. Aaah siapa coba yang hatinya tidak meleleh karena ketulusan gadis kecil ini.
Kruk kruuk
"Ups, perut siapa itu berbunyi?"
"Perut Allin lah, Allin sekarang kan lagi laper. Gimana sih Mama"
Shasa menipiskan bibirnya mendengar jawaban dari Allin, entah mengapa ia merasa menjadi tidak becus sebagai seorang Ibu. Untuk mengisi perutnya yang kosong saja harus berusaha memasak sendiri, ibu macam apa dirinya ini.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan malam diluar saja?"
"Iya Ma, tungguin Allin ganti baju ya"
Allin dengan cepat melepas celemek merah yang digunakannya kemudian menyerahkannya kepada Mamanya. Gadis itu dengan hati-hati turun dari kursi yang dinaikinya tadi. Sebelum berlari kearah anak tangga, Allin menjulurkan lidahnya kearah Shasa.
***
Genggaman tangan Allin begitu kuat pada tangan Shasa, gadis cilik itu takut Mamanya jauh-jauh darinya. Puluhan orang yang berlalu-lalang didepannya membuat Allin merasa semakin takut kehilangan jejak Shasa.
"Allin, tangan Mama berkeringat kalau Allin terus megang tangan Mama kaya gini"
"Tapi nanti kalau Allin lepas tangannya Mama, gimana kalau Allin gak bisa ngikutin langkahnya Mama"
Gadis itu menatap Mamanya dengan tatapan yang tidak senang. Genggaman tangannya semakin ia eratkan agar Mamanya tidak bisa melepaskannya.
"Sini Mama gendong"
Disaat tangan Shasa hampir menyentuh pinggang Allin, bocah itu tiba-tiba menepis tangan Mamanya.
__ADS_1
"Allin gamau digendong Ma, malu ih Allin kan udah gede. Allin pasti juga berat, Mama nanti capek kalau gendong Allin terus"
Shasa menghela nafasnya kembali, wanita itu tidak habis pikir dengan pola pikir Allin yang jauh lebih dewasa dibanding dengan usianya yang baru enam tahun. Lagipula ini juga salahnya sendiri, mengajak putrinya ke restoran yang mewah. Tidak mengherankan jika restoran ini memiliki pengunjung yang begitu ramai.
***
"Misha cepatlah!"
Seorang pria berulang kali melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Ekspresi pria itu terlihat tidak begitu senang.
Hampir setengah jam berlalu dan wanita sialan yang ditunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya. Andai saja wanita itu tidak penting dalam acaranya malam ini, ia pasti tidak segan-segan untuk meninggalkannya.
Baru saja Evan akan membuka mulutnya kembali, seorang wanita turun dari anak tangga disertai bunyi high heelsnya yang menggema. Mata Evan terpaku pada wanita itu sekarang. Namun tatapan Evan bukanlah tatapan kekaguman, tatapan itu terlihat sendu.
Andai wanita itu adalah Shasa, hidupnya pasti sangat bahagia.
"Apa yang kau lakukan selama berjam-jam Misha! kau membuatku terlambat!"
"Aku menghabiskan waktuku selama berjam-jam juga demi menjaga nama baikmu Evan, wanita yang berjalan di sampingmu harus berpenampilan cantik dan anggun bukan seorang wanita murahan"
Evan tersenyum tipis mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Misha. Wanita itu secara tidak langsung sedang memuji dirinya sendiri.
"Secantik apapun dirimu, kau tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya"
Tangan Misha mengepal kuat, lagi-lagi Evan membicarakan wanita yang telah meninggal itu.
"Sayang sekali dia sudah mati, wanita jala*g sepertinya memang pantas untuk mati!"
Plak!
Misha memegang pipinya yang baru saja ditampar oleh pria didepannya. Ia benar-benar tidak menyangka Evan akan menamparnya hanya karena wanita jala*g itu. Seistimewa apa wanita itu sampai membuat Evan tergila-gila kepadanya.
__ADS_1
"Sekali lagi kau mengatakan hal buruk tentangnya, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!"