
Hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, terutama untuk Raihan. Bisa bersantai bersama Shasa dan membuat wanitanya itu tersenyum bahagia sepanjang hari.
Begitupula dengan Shasa yang bahagia karena bisa merasakan bagaimana menjadi orang biasa. Tidak menjadi mafia Queen yang selama ini digelayuti nya.
Andaikan ia bisa memilih, pasti akan memilih untuk menjadi orang biasa dengan kesibukan biasa pula.
Setiap hari harus berpikir dan berpikir, cara memajukan perusahaan dan bagaimana kekuasaannya di dunia mafia tidak oleng.
Baru kali ini Shasa bisa tersenyum tanpa beban yang berat dipunggung nya, dan semua itu karena Raihan. Ingin sekali Shasa mengucapkan terimakasih, tapi lagi-lagi gengsinya lebih tinggi.
Shasa menengok kearah kanan, ia mengamati wajah serius Raihan yang sedang fokus mengemudi, tampan.
Entahlah tapi perjalanan pulang ini rasanya lebih lambat daripada tadi pagi saat berangkat.
Shasa berganti menengok ke jok belakang, Norin tertidur sangat nyenyak sembari memegang permen kapas yang tadi dibelinya di pinggir jalan dekat taman bermain anak-anak.
Dua puluh menit berlalu kini mobil Raihan sudah memasuki pekarangan rumah, Shasa mengernyitkan dahi ketika melihat seorang wanita paruh baya sedang bersenda gurau ditemani Nenek di teras rumah.
Oh, mungkin tamunya Nenek, pikir Shasa lalu membuka sealtbelt nya.
"Terimakasih yah, Raihan sama mbak Shasa udah mau jagain Norin seharian, maaf kalau bibi merepotkan kalian, apalagi tingkah Norin yang pastinya nakal"
"Tidak apa-apa kok Bi, lagipula Norin itu menggemaskan, nggak nakal" terang Shasa menjelaskan yang sebenarnya, seharian ini ia tak merasa Norin bertingkah nakal. Malahan sebaliknya, Norin sangat menggemaskan dan penurut.
"Semoga kalian cepat diberi momongan yah!" Doa bibi sembari tersenyum lalu pergi meninggalkan Raihan dan Shasa yang mematung di teras rumah.
"Memangnya kalian nggak mau punya anak?" tanya nenek tiba-tiba muncul diambang pintu.
"Atau? jangan-jangan Nak Shasa nggak mau punya anak dari Raihan" tutur Nenek sekali lagi membuat Shasa semakin merasa tak karuan.
Wajahnya pucat, bukan karena sakit melainkan khawatir jika Nenek tau kalau selama ini dia dan Raihan belum pernah melakukan hal yang diluar batas.
Shasa akhirnya memilih untuk masuk kedalam rumah melewati nenek yang dari tadi menatapnya.
"Tuh kan! Nenek apa apaan sih, Shasa tuh nggak bermaksud gitu Nek" ucap Raihan protes kepada Nenek, ini salah satu sifat Nenek yang membuatnya jengah.
Ucapan Nenek yang terlalu frontal dan menuduh seenaknya, jangankan Shasa terkadang dirinya juga suka dituduh dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
***
Guyuran air menjalar dari atas kepala sampai ujung kaki, Shasa memejamkan matanya menikmati air dingin yang membuatnya merasa sedikit rileks.
Ucapan Nenek tadi membuatnya merasa sedang disindir halus, membahas tentang anak? tentu saja ada prosesnya agar bayi kecil bisa ada didalam rahimnya.
Masalahnya, Shasa tak ingin ada proses semacam itu, andai saja bayi itu datangnya dari langit langsung turun digendongannya.
"Huh! Gue kayaknya udah gila deh"
Shasa tertawa sendiri dikamar mandi mengingat lamunannya tadi, sungguh pemikiran yang sangat konyol. Bahkan orang gila sungguhan saja tahu jika bayi itu terlahir dari rahim seorang wanita, bukan dari langit lalu jatuh ke bumi.
Tepat saat Shasa sedang tertawa tidak jelas dikamar mandi, Raihan membuka pintu kamar lalu mengernyitkan dahi karena tawa Shasa terdengar sangat jelas.
"Shasa kenapa?"
Tok tok tok
Raihan mengetuk pintu kamar mandi berulang kali berharap Shasa memang sedang mandi dan tidak melakukan hal buruk lainnya, contohnya percobaan bunuh diri karena sindiran halus dari Nenek tadi.
Shasa mulai gemas sendiri karena ketukan suara ketukan pintu berubah menjadi gedoran. Aduh, Raihan ngapain coba gedor-gedor nggak jelas? apa kebelet boker ya?
Shasa membuka sedikit pintu kamar mandi sembari berteriak karena merasa kesal dengan sikap Raihan.
Namun naas, Raihan tidak bisa menjaga keseimbangannya. Hingga jatuhlah Raihan menimpa Shasa bersamaan dengan Shasa yang terpeleset kebelakang karena tubuh Raihan jauh lebih berat dari tubuhnya sendiri.
"Aaaaaaaaa!!!"
Nenek berteriak keras karena melihat adegan yang tak sepantasnya Nenek lihat.
Bagaimana bisa kedua cucunya itu sedang saling menindih di kamar mandi, apalagi Shasa terlihat tidak mengenakan sehelai benangpun.
Dengan cepat nenek membanting pintu, meninggalkan dua sejoli yang masih saling menindih. Dasar cucu tak tahu tempat.
"Raihan! minggir kamu itu berat!"
Saat Raihan ingin bangkit malah ditarik oleh Shasa lebih dekat. Oh astaga! cobaan apalagi ini? bukannya Raihan sok munafik, tapi dua benda yang sedang menonjol tepat di daerah dadanya itu terasa sangat kenyal.
__ADS_1
"Tutup mata Lo!! G-Gue nggak pake baju" Shasa salah tingkah posisi macam apa ini, dirinya sangat tidak diuntungkan. Sudah tertimpa tubuh besar Raihan dan parahnya saat ini dirinya sedang tak mengenakan apapun.
Bukannya menuruti permintaan Shasa untuk menutup kedua matanya, Raihan malah menatap dalam manik Shasa tanpa berkedip.
Saat mata Raihan hampir turun untuk melihat sesuatu yang membuat otaknya berfantasi liar Shasa menutup mata Raihan menggunakan telapak tangannya.
"Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!" ucap Shasa penuh penekanan dalam setiap katanya.
"Emang sempit!" gumam Raihan pelan tapi masih terdengar ditelinga Shasa.
"Minggir!"
Raihan menahan napasnya lalu menutup mata dan bangkit secara perlahan, jangan sampai hal konyol ini harus membuatnya merasakan mandi air dingin dimalam hari.
***
"Ekhem!"
Nenek berdehem keras ketika Raihan dan Shasa berjalan beriringan menuju kearah meja makan. Kejadian tadi masih terngiang dikepala nenek, aduh kenapa mata nenek yang sudah tua harus melihat adegan seperti itu sih?
Suara dentingan sendok bertubrukan dengan piring menghiasi ruang makan yang sunyi. Tiga orang yang sedang makan malam itu saling diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Nenek masih trauma dengan adegan tadi, Raihan takut terkena semburan amarah Shasa, dan Shasa diam karena malu karena kejadian konyol yang menimpanya tadi.
Jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam tetapi Shasa masih fokus menonton film bergenre action yang sedang trending minggu ini.
Shasa menonton sendirian, nenek sudah tidur dari jam delapan sedangkan Raihan, entahlah pria itu sedari makan malam tadi sudah tidak terlihat batang hidungnya.
"Udah malem, sana! tidur gih" suara berat itu mengagetkan Shasa, baru saja diomongin eh orangnya malah muncul seketika.
Shasa masih diam tidak menggubris ucapan Raihan barusan, rasa malunya tadi masih melekat kuat teringat didalam otaknya.
"Astaga!!" Shasa terlonjak kaget ketika Raihan tiba-tiba duduk sampingnya. Apalagi yang akan Raihan lakukan?
Shasa membiarkan Raihan ikut duduk disampingnya, apa masalahnya memang jika Raihan ikut menonton televisi. Lagipula ini rumah Raihan, televisi juga milik Raihan, semua dirumah ini milik Raihan, ia tak punya hak untuk menyuruh Raihan jauh-jauh darinya.
Tak terasa jam didinding semakin berputar, hingga kedua manusia yang sedang menonton televisi itu terlelap. Shasa tidur dipundak Raihan, sedangkan Raihan sendiri tidur diatas kepala Shasa yang menyender dipundaknya.
__ADS_1
****
Jangan lupa dukunganya terus ya, biar thor semakin semangat dan rajin update novel ini.🥰