
Disuatu tempat tak dihiraukannya dentuman musik yang begitu keras ditambah suara bising dari orang-orang yang memenuhi tempat itu.
Seorang wanita duduk di depan meja bar dengan penampilan kacau sedang meneguk sebuah gelas berisi vodka untuk kesekian kalinya.
Semakin banyak vodka yang meluncur melewati tenggorokan sebanyak itu pula kesadarannya perlahan mulai menghilang.
"Raihan brengs*k!"
"Raihan bodoh!"
"Raihan gila!"
"Suamiku jahat!"
Racauan demi racauan keluar begitu saja dari mulut kecilnya, tidak peduli dengan beberapa orang yang memandang dirinya aneh tetapi sebagian juga memandangnya dengan tatapan kagum.
Seburuk apapun penampilannya masih tetap menyisakan wajah cantik alami tanpa polesan make up sedikitpun, apalagi rambutnya yang dicepol keatas semakin menambah aura kecantikan yang dimilikinya.
"Hai, sendirian aja"
Seorang pria menyapa Shasa lalu duduk disebelahnya, Shasa yang masih memiliki sedikit kesadaran hanya menoleh pria itu sebentar kemudian kembali bergelung dengan sisa vodka yang belum ia teguk.
Merasa diacuhkan oleh wanita cantik disebelahnya, pria itu dengan lancang meraba paha Shasa yang masih tertutup oleh rok yang dikenakannya.
"Dasar wanita murahan"
Pria asing itu bergumam sembari menampilkan senyuman licik yang sangat mudah untuk diartikan.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
BRAAAAAK!!!
Pria itu terpelanting kebelakang, kepalanya mengenai lantai sedangkan bagian bawah tubuhnya tertindih kursi tinggi yang ditempatinya tadi.
Beberapa orang disekitarnya hanya melihat sebentar, yah mereka pikir mungkin hanya jatuh karena mabuk.
Jangan tanya siapa penyebab jatuhnya pria brengsek itu, karena pelakunya masih duduk anteng tanpa menoleh kepada pria yang telah meraba bagian tubuhnya.
"DASAR JAL*NG KURANG AJAR!!!"
Shasa lumayan tersentak ketika kerah kemejanya dicengkeram oleh pria yang rupanya sudah berdiri tegak di depannya. Bukannya berteriak layaknya perempuan lain yang dianiaya, Shasa malah tersenyum lebar seakan mendapat mainan baru.
"Tunggu! biarkan Aku menghabiskan sisa minumanku..."
Pria itu bergidik ngeri ketika hembusan nafas hangat milik Shasa menyeruak menggelitik indra pendengarannya.
PYARRRR!!
Sloki berisi vodka milik Shasa dengan indahnya meluncur dan pecah di atas lantai
BUGH!!
Satu tinjuan melayang tepat mengenai ujung bibir sebelah kiri pria itu, cengkeramannya pun terlepas begitu saja.
Shasa dengan santai mengayunkan kepalan tangan kanan, karena tidak siap tentu saja pria itu tersungkur kebelakang, ini untuk kedua kalinya pria itu jatuh karena ulah Shasa, semua perhatian pun tertuju pada mereka berdua.
Pria itu mengelap ujung bibirnya yang berdarah dan memandang penuh amarah pada Shasa yang wajahnya terlihat datar-datar saja.
"BERANI-BERANINYA KAU!!"
Shasa memandang pria itu dengan tatapan tajam dan seperti bersiap membunuh. Para pengunjung kelab berdiri bersiap menonton hal apa lagi yang akan terjadi pada kedua manusia itu.
Sebagian orang bahkan sudah meneriaki pria itu karena memilih lawan tanding yang tidak imbang. Tidak butuh waktu lama kini posisi Shasa sudah berada diatas tubuh pria itu.
Pengunjung yang semula hanya bersorak ria sekarang berganti menjadi teriakan histeris karena posisi itu sangat yah begitulah membuat para lelaki berebut untuk menggantikan pria itu, tetapi di detik berikutnya semua penonton melongo tak percaya melihat aksi Shasa.
BUGHH!!
BUGH!!!
BUGHH!!
BUGH!
Hanya beberapa kali tonjokan bisa membuat keadaan pria itu menjadi mengenaskan, hidung berdarah, sudut bibir sobek, dan lebam memenuhi wajahnya.
Para pengunjung ikut tercengang melihat kejadian yang begitu cepat dan tak terduga. Shasa sudah bersiap untuk kembali memberikan bogem mentah.
Hampir saja mengenai wajah pria itu, tiba-tiba sebelah lengannya ditarik oleh orang yang berdiri dibelakangnya. Sial, siapa yang berani menghentikan permainan serunya padahal baru saja akan dimulai.
Mau tidak mau Shasa terpaksa bangkit untuk melihat wajah orang yang dengan berani mencegahnya memberi bogem mentah kepada pria yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Saat Shasa membalikan badan kebelakang matanya menyipit lalu menggeleng mencoba untuk menajamkan matanya. Sekali lagi Shasa mengerjapkan mata tetapi masih saja nampak seseorang yang menjadi alasan dirinya pergi ke tepat laknat ini.
Shasa yang setengah sadar berusaha menepis tangan di lengannya, tetapi pemilik tangan itu malah manarik paksa Shasa keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Para pengunjung berteriak kesal karena pertunjukan seru antara Shasa dan pria itu harus buyar, dikarenakan seorang pria menyeret paksa Shasa keluar dari kerumunan para penonton.
"STOP IT! KAU MAU APA HA!"
Shasa berteriak sekeras mungkin agar terlepas dari genggaman pria di depannya. Enak saja menyeret paksa dirinya keluar, padahal ia masih ingin bermain-main dengan pria tadi.
"Apa yang kamu lakukan di sini!" tanya pria itu dingin dan datar namun terselip nada khawatir.
PLAK!
Bukannya mendapat jawaban tetapi ia malah mendapat sebuah tamparan di pipinya, Raihan masih tetap tenang dan tidak menampilkan ekspresi apapun.
Ya benar pria yang menarik lengan Shasa dan menyeretnya keluar dari tempat laknat itu adalah Raihan suaminya sendiri.
Shasa terengah-engah setelah menampar Raihan bukan karena kelelahan melainkan kesadaran di dalam dirinya sudah hilang.
HENING
"Maaf"
Raihan menarik lembut tubuh Shasa dalam pelukannya, mengelus rambut Shasa sambil mengucapkan maaf berkali-kali karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik dan malah berakhir ditempat yang seharusnya tidak Shasa injak.
"Aaaaaaakh"
Raihan terperanjat rambutnya terasa dijambak, siapa lagi kalau bukan Shasa pelakunya karena disini hanya ada mereka berdua.
Perlahan Raihan mengendurkan pelukannya tetapi masih menyisakan jarak sekitar dua inchi dari wajah cantik istrinya, terlihat senyum manis milik Shasa yang jarang ia lihat, senyum yang ia rindukan sepanjang hari ini.
"Sayang, kamu mau apa?"
Shasa bertanya dengan tampang polos tak berdosa, jangan lupakan jemari lincah miliknya sudah berkeliaran meraba-raba wajah tampan suaminya.
Raihan terkejut bukan main mendengar panggilan 'sayang' terucap dari bibir mungil Shasa untuknya. Hey dimana tampang garang dan dingin Shasa selama ini?
"Kita mau kemana sayang?"
Shasa menatap manik hitam milik Raihan untuk meminta penjelasan, karena saat ini dirinya tengah digendong Raihan ala bridal style, tak lupa kedua tangannya memeluk leher Raihan agar tidak jatuh.
"Sayang, bagaimana kalau kita pergi ke hotel disekitar sini?"
Raihan terkikik geli mendengar ucapan yang baru saja ia lontarkan, bagaimana tidak panggilan 'sayang' belum pernah ia ucapkan kepada siapapun.
Belum lagi ucapan terakhirnya membuat sebagian otaknya untuk benar-benar melakukannya yaitu pergi ke hotel terdekat.
Andai Shasa bisa menjadi sosok yang manis seperti ini.
Shasa dengan tampang polosnya mendekatkan wajahnya ke wajah Raihan, sengaja menggigit bibir bawahnya sensual.
Shasa jangan membangunkan bagian tubuhku yang lain!
Setelah sampai dimobilnya Raihan membuka pintu penumpang lalu mendudukan Shasa di sebelah kursi kemudi, tak lupa untuk menutupnya kembali.
Raihan berlari kecil memutari mobil dan duduk dikursi kemudi. Agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, Raihan perlahan mendekat kearah Shasa untuk memasangkan sabuk pengaman, namun hal yang terjadi membuat Raihan terdiam mematung.
Cup
Shasa mencium pipi Raihan lalu tersenyum lebar seperti seorang yang tak mempunyai dosa. Hampir saja Raihan ingin membalas perbuatan istrinya namun ia masih bisa mengendalikan dirinya.
"Jangan lakukan hal yang aneh, ingat saat ini Shasa dalam keadaan mabuk!"
Sisi malaikat baik Raihan mengingatkan untuk tidak berbuat macam-macam.
"Ayo lah! dia istrimu sendiri, apakah salah melakukan suatu hal padahal dirimu sudah sah menjadi suaminya?"
Sisi iblis jahat Raihan tak mau ketinggalan dengan terus mengkompori Raihan untuk membalas Shasa dengan sebuah ciuman panas.
"Aargghhh!"
Raihan menggerang pelan harus bagamaina ia sekarang, tanpa disadari ternyata Shasa telah memejamkan mata sembari bernapas dengan teratur yang menandakan telah terlelap dalam tidur.
Cup
Raihan mengecup kening Shasa sesaat sebelum melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Selama perjalanan Raihan selalu melirik Shasa, ia baru sadar jika istrinya memakai kemeja miliknya tanpa mengenakan alas kaki pula.
Entahlah apa yang dikatakan nenek sehingga membuat Shasa menjadi seperti ini. Raihan menjadi teringat beberapa jam yang lalu sebelum ia menyadari istrinya marah terhadap dirinya.
FLASHBACK
Beberapa jam yang lalu
"Astaga Nek! sekarang Shasa dimana?"
Raihan mendengus kesal setelah mendengar cerita dari Nenek tentang perginya Shasa entah kemana karena hasutan dari Nenek.
"Rai, seharusnya kamu bahagia Nenek berhasil membuat cucu mantu Nenek cemburu karena bualan dari Nenekmu ini" Ucap Nenek dengan bangga karena bisa membuktikan jika Shasa cemburu mendengar kedekatan Raihan dan Dee, entahlah dari mana Nenek bisa kenal dengan Dee.
"Tapi Nek, masalahnya sekarang Raihan tidak tahu Shasa pergi kemana?"
Haruskah Aku bahagia karena Shasa cemburu terhadapku atau malah khawatir karena Shasa pergi entah kemana. Padahal Aku hanya pergi ke masjid lalu mengajar anak didik ku mengaji. Lagipula aku juga pergi sendirian, astaga Nek! Nenek semakin membuat Shasa marah padaku.
__ADS_1
"Terserah kamu! Nenek mau tidur saja daripada khawatir berlebihan pada Shasa, lagian Shasa itu sudah dewasa, pasti bisa menjaga dirinya sendiri!"
Setelah menceramahi Raihan, nenek melengos pergi ke kamar meninggalkan Raihan sendirian yang sedang diselimuti khawatir akan keadaan istrinya.
Lebih dari lima jam Raihan menunggu Shasa untuk pulang namun masih saja belum ada tanda-tanda kepulangan Shasa. Raihan semakin khawatir karena jarum jam makin naik yang berarti malam semakin mendekati tengah malam, sampai sebuah getaran dari ponsel membuatnya terkejut.
"Halo?" Raihan menyapa seseorang di seberang sana dengan malas
"........"
"APA!"
"........"
"Dimana istriku sekarang?"
"Sebuah kelab malam di jalan xxx, cepat datang atau istrimu masuk penjara!" titah seorang lelaki lawan bicara Raihan ditelpon.
Mendengar istrinya berada ditempat yang tidak baik Raihan memacu mobilnya secepat mungkin untuk menemui Shasa. Otaknya semakin kalut mendengar titah salah satu temannya tadi 'cepat datang atau istrimu masuk penjara', memangnya apa yang Shasa lakukan sekarang?
Raihan memarkirkan mobilnya asal lalu masuk kesebuah kelab dimana temannya tadi katakan. Hal pertama yang ia lihat adalah orang-orang berkerumun menyaksikan sesuatu.
Raihan mulai melihat arah tatapan mereka yaitu seorang perempuan bertubuh seksi bak jam pasir duduk diatas seorang pria yang tergeletak diatas lantai. Perempuan itu terlihat sedang menghujani pria dibawahnya dengan beberapa bogem mentah.
Perasaan Raihan mengatakan ia sangat mengenal perempuan itu. Raihan memberanikan diri untuk mencengkal lengan perempuan itu untuk menghentikan tinjuan kepada pria malang yang tergeletak tak sadarkan diri setelah mendapat bogem mentah.
Ternyata memang benar, setelah perempuan itu berbalik menghadapnya, bisa dengan jelas ia lihat itu adalah Shasa istrinya.
Tidak menghiraukan para kerumunan berteriak karena kesal Shasa dibawa pergi olehnya. Raihan tetap menyeret Shasa keluar untuk memisahkan Shasa dari pria tadi.
Memangnya istrinya ini seorang pegulat? hingga bisa mengalahkan pria dewasa apalagi tadi posisi Shasa membuat dirinya cemburu setengah mati.
Sebenarnya banyak hal yang ingin ia tanyakan tetapi Shasa malah memberikan sebuah tamparan, hal itu tidak membuatnya marah akan tetapi malah membuatnya sadar jika dirinya tidak bisa menjaga perempuan yang statusnya sudah menjadi istri sahnya.
FLASHBACK OFF
Setelah sampai di halaman depan Rumahnya Raihan menggendong Shasa ala bridal lalu membuka pintu rumah menggunakan kaki Shasa yang menggantung.
Ternyata Neneknya sudah tidur dan tidak sadar dirinya menjemput Shasa, terbukti dari pintu rumah yang tidak dikunci sama seperti beberapa saat yang lalu ketika dirinya tergesa-gesa keluar dari rumah.
Raihan masuk kedalam rumah tak lupa salam kemudian menutup pintu agar tidak kecolongan jika ada maling. Yah walaupun Raihan tidak menguncinya karena kedua tangannya digunakan untuk menggendong Shasa.
Sesampainya di kamar Raihan menidurkan Shasa diranjangnya, ia menatap wajah Shasa lekat entah kenapa semakin lama menatap wajah istrinya begitu dekat tatapannya akan terus terkunci padanya.
Raihan ikut berbaring sebelah Shasa lalu menarik lembut kepala Shasa dan mengecup keningnya lama sebelum dirinya juga ikut terlelap menuju alam mimpi. Malam yang dingin membuat mereka tanpa sadar saling memeluk disela tidurnya.
***
Drrrrrrrt Drrrrrrrrt Drrrrrrrrt
Shasa mengerjapkan matanya dan memegangi kepalanya yang terasa begitu berat dan rasanya mau pecah, ia sedikit mengerang akibat rasa pening yang menyerang kepalanya. Shasa mengutuk minuman sialan yang membuatnya menjadi mabuk berat.
Separuh otaknya memikirkan bagaimana menghilangkan rasa sakit yang ia derita dan separuh lagi ia pakai untuk berpikir apa yang terjadi semalam.
Apakah ia berakhir di ranjang bersama pria itu atau apa yang terjadi. Shasa menyesal telah bertindak gegabah dan malah berakhir menjerumuskan dirinya ke lubang buaya.
Wait! sepertinya kamar ini tidak terlihat asing dimataku?
"Kaki ku terasa seperti mati rasa?" Shasa bergumam kecil sembari melihat kebawah kearah dimana kakinya berada.
Bukankah kaki manusia ada dua? kenapa kakiku ada tiga, berarti aku bukan manusia? tunggu sebentar! dua kakiku terlihat sama lalu yang satunya lagi kenapa terlihat lebih besar?
"Aaaa......mmmph"
Hampir saja Shasa berteriak namun ia menutupnya menggunakan kedua tangannya, otak besarnya baru bekerja. Saat ini dirinya seranjang dengan Raihan dan salah satu dari tiga kakinya tadi itu milik Raihan yang berarti Raihan sedang memeluknya.
Drrrrrrrrt Drrrrrrrrt
Shasa mencari sumber getaran dan ternyata getaran tersebut berasal dari handphone miliknya yang berada diatas nakas, dilihatnya benda lempeng canggih itu tertera sebuah panggilan.
Evan calling
Shasa bangkit dari tidurnya lalu menyingkirkan kaki Raihan pelan dan berjalan ke arah jendela yang menunjukan bahwa sekarang masih terlalu pagi untuk bangun.
Apalagi kepalanya yang masih pening harus ia paksa untuk bangun dari bantal empuk, ingin rasanya menabok Evan karena mengganggu tidur nyenyaknya.
"Apa! Lo ngapain ganggu Gue?" ucap Shasa pelan namun ketus karena tenggorokannya masih terasa kering, wajar semalam ia meminum alkohol belum lagi dibuat tidur semakin membuat tenggorokannya serasa seperti tidak minum air selama berhari-hari.
"............"
"Bagaimana itu bisa terjadi? oke, Gue kesana sekarang!"
Shasa keluar dari kamar sembari berjinjit agar tidak membangunkan Raihan ataupun Nenek.
Semoga tidak terjadi apa-apa!
__ADS_1