Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Gara-gara vodka


__ADS_3

"Sini lo!!" gertak Shasa lalu menarik tangan Evan secara paksa tanpa menghiraukan tatapan bertanya-tanya dari beberapa pegawai yang lewat.


"Eh! Shasa lo apa-apaan sih!" ucap Evan tak mengerti dengan sikap Shasa barusan. Tiba-tiba datang menemuinya lalu menarik paksa dirinya yang tengah menunggu didepan lift.


Memalukan, apalagi saat lift terbuka beberapa pegawai wanita menahan tawa setelah melihat dirinya diseret oleh Shasa.


Ceklek!


Shasa mengunci pintu dengan rapat setelah dirinya dan Evan masuk kedalam ruangan sepi dan sunyi. Sungguh Shasa butuh penjelasan langsung dari Evan karena sikap Evan yang berubah 180 derajat setelah masuk keruangan nya dan bertemu dengan Raihan.


"Lo kenapa sih Van?" tanya Shasa dengan raut wajah khawatir bercampur amarah. Siapa coba yang tidak khawatir ketika melihat sahabat satu-satunya sejak kecil itu murung karena dirinya.


"Hmmm"


"EVAN!!" ucap Shasa setengah berteriak, duh lama-lama kesabarannya habis.


"Huuuuft!" Evan mengembuskan napasnya lelah, " Gue ga suka Raihan datang kesini" jelas Evan menatap manik Shasa dalam.


Hening sejenak, tidak ada tanggapan dari Shasa.


Astaga!! apa yang Evan katakan barusan? bagaimana bisa menjadi seperti ini, bahkan aku setiap hari bertemu dengan Raihan.


"Lo, kapan pulang ke markas? nggak kangen sama anak-anak?" tanya Evan sembari tersenyum menggoda, mana mungkin Evan tega membiarkan Shasa sedih seperti itu.


"Ogah! Gue gak punya anak, anak Lo kali?" jawab Shasa dengan terkekeh pelan, Evan sangat pandai membuat moodnya kembali membaik.


Yah, walaupun harus dengan mengucapkan kata 'anak' yang terdengar sedikit menggelikan ditelinganya.


"Terserah! intinya mereka adalah anak-anak kita" jelas Evan tak terbantahkan, lalu merangkul pundak Shasa kencang.


***


To: 085347863218


Raihan, gue malam ini bakal pulang telat, ada meeting penting!!


Evan menyimak tiap huruf yang diketik Shasa pada handphone mahal yang selalu digenggam sahabatnya itu.


Setidaknya Shasa masih peduli pada anak-anak dan memilih berbohong kepada Raihan demi ikut dengannya ke markas. Ada sedkit rasa bahagia karena Shasa ikut bersamanya daripada pulang kerumah Raihan.


Mobil tipe BMW X5 Security itu melaju membelah jalanan kota yang ramai menuju kepinggiran kota dekat hutan.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit Shasa dan Evan sampai didepan sebuah bangunan besar dan mewah yang nampak menyeramkan dari luar.


Pepohonan rimbun disekitar bagunan itu membuat cahaya matahari sulit untuk menembusnya. Alahasil markas yang selama ini ditempati Shasa mirip seperti bangunan angker yang sudah lama tidak ditempati.


"Selamat sore Bos!" sapa seorang pria bertubuh besar dan wajah garang, seulas senyum tulus Shasa berikan kepada Anton, salah satu anak buahnya yang selama ini setia kepadanya.


Kesan pertama saat Shasa masuk kedalam rumah mewahnya adalah, ramai. Puluhan pria dengan perawakan besar dan tangguh itu tersenyum lebar kearah bossnya yang saat ini sedang mematung di ambang pintu.


"Selamat datang kemabali Boss!" ucap mereka hampir bersamaan, senyum Shasa mengembang lebih lebar dari yang sebelumnya. Duh, rasanya Shasa sangat bahagia disambut oleh anak-anaknya seperti ini.


"Eh! emang Gue Boss kalian?" ucap Shasa menaikan nada suaranya.


Sedetik kemudian kerumunan itu tertawa, menertawai Boss wanita mereka yang memang sangat friendly itu. Shasapun ikut terkekeh pelan lalu berjalan ke lantai dua, dimana kamarnya berada.


Markas ini milki dua lantai dan satu ruang bawah tanah yang luas sebagai tempat persediaan senjata mauapun barang lainnya. Sedangkan lantai satu digunakan sebagai kamar anak-anak buahnya.


Markas yang luasnya hampir dua hektar itu dibangun dulu saat kedua orang tua Shasa saat masih hidup dan hanya sesekali ditempati.


Tetapi saat kedua orang tua Shasa meninggal, Shasa lebih memilih untuk tinggal disini dan memboyong sebagian anak buahnya tinggal bersamanya, termasuk Evan yang ikut tinggal dengannya pula dimarkas ini.


"Shasa?"


Evan masuk kedalam kamar Shasa membawa dua botol vodka, yang nantinya akan ia minum bersama Shasa. Sebagai ucapan terimakasih karena mau ia ajak pulang dan bertemu anak-anak. Yah, yang Evan maksud anak-anak adalah anak buahnya dan anak buah Shasa.


"Evan, ada apa?" tanya Shasa saat dirinya sadar Evan duduk disebelahnya, manik Shasa turun melihat dua botol yang saat ini masih digenggam oleh Evan.


Evan menyodorkan satu botol vodka yang ia bawa tadi ke arah Shasa, tanpa menolak sedikitpun Shasa langsung menerima dan membuka botol vodka tersebut.


"Jadi, apa yang membuatmu sedih seperti ini?" tanya Evan setelah meneguk vodka langsung dari botolnya, begitupun dengan Shasa yang juga menyesap vodka itu langsung dari botol.


Tidak ada jawaban dari Shasa, matanya masih fokus ke rerimbunan pohon yang semakin gelap karena matahari yang mulai tenggelam.


***


Sementara itu ditempat lain, dimana seorang pria sedang mondar mandir tidak jelas dihalaman rumahnya. Terlihat sangat gelisah karena memikirkan istrinya yang belum pulang bekerja.


Satu pesan yang ia terima tadi sudah jelas dari Shasa, pesan itu berisikan istrinya akan pulang telat karena ada meeting penting.


Apakah meeting penting itu harus sampai jam segini? pikir Raihan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Jam dinding menunjukan pukul sebelas malam. Bukan main Raihan khawatir pada Shasa, takut kalau ada sesuatu terjadi pada istrinya.

__ADS_1


Sudah berkali-kali dirinya menelpon nomor Shasa tapi jawabannya selalu sama, tidak dapat dihubungi. Raihan juga sudah mendatangi kantor Shasa tetapi sang resepsionis mengatakan istrinya itu sudah pulang sejak jam empat sore.


Ingin sekali rasanya Raihan memutari seluruh kota demi mencari Shasa, tapi nenek melarangnya keras dengan alasan yang membuatnya semakin merasa jengkel.


"Shasa itu sudah dewasa, jadi jangan terlalu mengekangnya" ucap nenek tadi saat Raihan meminta ijin kepada nenek untuk mencari Shasa.


Waktu terus berlalu jam dinding terus berputar dan menunukan jarum pendek berada diangka satu, Raihan masih setia duduk diruang tamu menunggu kepulangan istrinya.


"Van.. Gue pe-pengen ppulang..."


Shasa merengek meminta laki-laki disampingnya itu menghantarkannya pulang kerumah Raihan. Niatnya tadi ia akan menginap dimarkas saja tetapi ada gelenyar aneh yang membuatnya ingin pulang ke rumah Raihan.


Evan mengusap kasar wajahnya, bisa-bisanya Shasa meminta dirinya mengantar pulang kerumah Raihan pada dini hari seperti ini. Lagipula saat ini sahabatnya itu sedang mabuk karena kebanyakan minum vodka bersamanya tadi.


Bagaimana mungkin dirinya membiarkan Raihan tahu kalau Shasa suka mabuk dan minum alkohol. Tidak, tidak, tidak, ia tak mau mengantar Shasa apapun alasan yang diberikan oleh Shasa.


"Evaaaan....kumohoooon...." Kali ini Shasa meraung-raung tidak jelas sembari menarik narik ujung kemeja yang dikenkan oleh Evan.


Akh! Evan menyesal mengajak Shasa pulang ke markas dan meminum vodka langsung dari botolnya. Kalau kejadiannya seperti ini Evan seharusnya tadi lebih memilih Shasa pulang bersama dengan Raihan.


Mau tak mau, Evan menggendong Shasa lalu mendudukkannya disamping kursi kemudi. Evan janji ini terakhir kalinya dirinya mengantar Shasa pulang kerumah Raihan dengan keadaan mabuk.


Benerapa menit berlalu, sampailah mobil Evan didepan rumah Raihan. kelihatannya ruang tamu Raihan masih menyala, berarti masih ada orang yang terjaga. Mungkin saja itu Raihan yang menunngu wanita digendongannya ini pulang kerumah.


Tok tok tok!!


Raihan berdiri dengan cepat lalu membuka pintu utama rumahnya, sesosok pria sedang menggendong wanita dengan penampilan yang sangat kacau. Tidak itu saja bau mereka sangat menyengat, bau alkohol.


Secepat kilat Raihan menggantikan Evan menggendong Shasa, tatapan amarah langsung ia layangkan kepada Evan karena membuat istrinya menjadi mabuk dan pulang di jam dini hari. Saat Evan ingin berbalik meninggalkan rumah Raihan, sebuah suara menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu disini!" titah Raihan lalu membawa Shasa kedalam kamar, dilihatnya saat ini penampilan istrinya, kantung mata menghitam, rambut acak-acakan, baju sudah lungset tak berbentuk dan bau alkohol menyeruak dari tubuh Shasa.


Raihan membaringkan Shasa lalu menyelimutinya sampai diatas dada, sebelum ia keluar menemui biang kerok dari semua ini Raihan mengecup kening Shasa terlebih dahulu.


"Sudah kuperingatkan, jangan pernah membuat masalah dengan istriku!" Gertak Raihan datar dan dingin kepada Evan yang saat ini sedang duduk di teras depan rumah Raihan. Sontak Evan menengok kearah suara yang membuatnya lumayan terkejut, sesaat kemudian muncul senyum smirk dibibir Evan.


"Memangnya kenapa?"


Tantang Evan kepada laki-laki yang usianya lebih tua darinya, mata Raihan mengkilat merah lalu menarik kerah kemeja yang digunakan Evan sampai Evan ikut berdiri karena ditarik Raihan secara paksa.


"Jangan ulangi kesalahanmu lagi!" ucap Raihan penuh penekanan setiap katanya, ia menarik tangannya dari kerah baju Evan, lalu masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan Evan yang saat ini amarahnya berada diubun-ubun.

__ADS_1


"Awas saja kau!" gumam Evan tertahan sebelum dirinya masuk kedalam mobil.


__ADS_2