
Wanita itu mengerjap sesaat setelah merasakan hangatnya sinar matahari yang tembus dari pintu kaca disamping tempat tidurnya. Di detik-detik berikutnya wanita itu tampak tenang dengan wajahnya yang terlihat sembab dan sedikit lebam.
Tak lama kemudian wanita itu tersentak ketika seorang pria memeluk tangan kanannya erat.
Mata pria itu masih terpejam, wajahnya nampak sangat baik-baik saja. Jauh berbeda dengan keadaannya.
Tiba-tiba mata yang terpejam itu terbuka, pria itu tersenyum hangat. Mengecup keningnya sayang lalu mengeratkan pelukan ditangan kanannya.
"Selamat pagi" ucap pria itu menatap mata Shasa yang sedikit membengkak. Namun tak ada jawaban dari wanita yang ditatapnya.
Shasa masih terdiam membalas tatapan Raihan yang semakin lama semakin menajam.
"Apakah kau bisu!"
Shasa menarik lengannya kuat lalu mengalihkan tatapannya dari Raihan. Wanita itu sedikit terkejut mendapatkan bentakan keras disaat matanya baru terbuka.
"Apakah kau benar-benar bisu!" Raihan kembali menggertak keras, wajahnya yang tadi masih terlihat tenang sekarang berubah menjadi menyeramkan.
"Untuk apa aku berbicara dengan pria brengs*k seper__, AARRGH!"
"Seperti apa!"
Shasa memejamkan matanya menahan rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya. Rambutnya ditarik kuat oleh Raihan hingga beberapa helai rontok dan terjatuh di atas sprei.
"JAWAB!"
"K-kau bajing*n!"
BRAK!!
Cairan berwarna merah dengan bau anyir itu mengucur lalu menetes begitu saja. Kepala ranjang juga tak luput dengan cairan merah, yang tidak lain adalah darah segar dari pelipis Shasa.
Shasa terdiam cukup lama hingga kesadarannya kembali, wanita itu membalikkan badannya. Menggigit kuat tangan Raihan yang masih menjambak rambutnya.
Raihan meringis kesakitan, gigi Shasa menancap kulitnya hingga tembus mengenai daging. Pria itu tak tinggal diam.
Tangannya semakin kuat menarik rambut Shasa, kemudian membenturkan kepala wanita itu ke kepala ranjang berkali-kali. Shasa melepas gigitannya, kepalanya berdenyut, wajah mulus putihnya kini berlumuran darah segar.
Wajah Raihan memerah, melotot dengan mata yang sangat tajam. Tak menyangka bahwa gigitan Shasa menimbulkan bekas yang cukup dalam.
"DASAR WANITA JAL*NG!"
CUIH!!
__ADS_1
PLAK!!
Dirinya tidak salah bukan? meludahi seorang bajing*n yang berkedok sebagai ustadz.
Raihan merogoh kantong celana yang masih melekat pada dikakinya, sebuah kunci kecil dipegangnya. Pria itu kemudian berjalan kearah samping ranjang Shasa, menunduk lalu membuka borgol yang yang mengikat kaki Shasa.
"Bangun dan bersihkan tubuh jala*g mu!"
"Atau?"
"Atau kau akan ku bunuh!"
"Kau bisa membunuhku sekarang juga__, AARRGH!!"
Lagi-lagi Raihan menarik rambut Shasa kuat, memaksa wanita itu untuk bangun dari tempat tidur.
Shasa berniat menggigit kembali tangan Raihan, namun niatnya terhenti ketika Raihan menjambak rambutnya hingga tubuhnya jatuh diatas lantai.
Tak segan-segan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu, menyeret paksa dirinya hingga membuat kulit dibeberapa bagian tubuhnya lecet dan berdarah.
Shasa berusaha untuk bangun namun Raihan tak memberikannya kesempatan. Wajahnya yang berlumuran darah itu menetes meninggalkan bekas yang abstrak diatas lantai.
Setelah sampai didepan pintu kamar mandi, Shasa segera bangkit dari lantai. Masuk kedalam kemudian mengunci pintunya dengan tergesa-gesa.
Rasa sakit ditubuhnya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada didalam hatinya. Hal yang tak pernah lewat sekalipun didalam benaknya kini terjadi begitu saja.
Shasa menegakkan duduknya lalu mengusap air matanya yang bercampur dengan darah. Wanita itu menghentikan isakannya, kedua tangannya mengepal erat. Sebuah senyuman tipis muncul disertai beberapa pemikiran yang lewat diotaknya.
***
Wanita itu meringis pelan merasakan perihnya obat antiseptik mengenai pelipisnya yang luka. Bagian tubuhnya sudah selesai ia bersihkan, rasanya tidak terlalu perih.
Namun luka diwajahnya terasa perih tiga kali lipat dari luka yang ada ditubuhnya. Mungkin karena wajahnya dibenturkan lebih dari sepuluh kali pada kepala ranjang.
Beberapa menit yang lalu pria bajing*n itu datang untuk kembali memasang borgol pada kakinya. Tapi anehnya pria itu juga membawa kompres air hangat beserta kotak obat.
Shasa sempat curiga air kompres itu mengandung zat berbahaya namun kecurigaannya salah. Air itu sama sekali tidak mengandung apapun termasuk racun.
Ketika Shasa selesai mengobati seluruh luka yang ada diwajah dan tubuhnya, Terdengar suara pintu yang kembali terbuka.
Seorang wanita tua masuk kedalam kamarnya, wanita tua itu membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas air putih.
Nenek tersenyum hangat berusaha untuk menyembunyikan rasa kasihannya kepada wanita muda yang terduduk dengan kaki yang diborgol.
__ADS_1
Nenek berjalan tergesa-gesa kemudian meletakkan nampannya diatas nakas.
Raut wajahnya berubah menjadi khawatir setelah melihat wajah cucu mantunya memar disertai luka yang terlihat baru.
Kini wanita tua itu tau mengapa Raihan membawa kompres dan kotak obat kedalam kamar.
"Apa yang terjadi padamu Nak?" tanyanya khawatir hampir menangis. Tangan keriputnya ingin menyentuh wajah Shasa, namun Shasa menepisnya.
Tak tertahankan lagi, nenek terisak lalu terduduk tepat dikaki Shasa.
"N-nak maafkan Nenek, N-nenek tidak pernah berpikir kalau Raihan akan menyakitimu sampai seperti ini"
Isakan Nenek semakin kuat, wanita tua itu bahkan memegang kedua kaki Shasa.
Shasa yang melihatnya semakin menjadi tidak tega, wanita tua ini tidak salah tapi cucunya lah yang bersalah.
"Nek apa yang Nenek lakukan?" ucap Shasa pelan sembari meraih tangan Nenek untuk duduk disampingnya.
"Apakah kau akan memaafkan Nenek Nak?"
"Memangnya Nenek punya salah apa?" balas Shasa dengan senyum seolah sedang tidak terjadi apa-apa. Nenek bangun dari lantai kemudian mengusap air matanya.
"Nenek tau, pasti Nak Shasa lapar" ucap nenek sembari mengambil piring yang berisi nasi beserta lauk pauknya.
Nenek tersenyum ingin menyuapi Shasa, namun Shasa menolak dan memilih untuk makan sendiri.
***
Dua wanita yang berbeda zaman itu saling terdiam. Sudah lima menit berlalu Shasa menghabiskan sarapannya namun Nenek juga tak kunjung keluar dari kamarnya.
Shasa mendekatkan duduknya pada Nenek, mengambil tangan keriput itu kemudian menarik nafasnya dalam.
"Apa yang sebenarnya terjadi Nek?"
Sebuah pertanyaan singkat yang membuat wanita tua itu merasa kaget sekaligus bingung.
"Apa yang ingin kau ketahui Nak?" ucap Nenek menjawab pertanyaan singkat tersebut dengan sebuah pertanyaan juga.
"Semuanya!"
Nenek tersenyum pilu, lalu menatap Shasa kasihan. Sebuah perasaan bersalah muncul pada hatinya.
Tanpa diketahui oleh dua orang wanita itu, pria yang menjadi sumber dari masalah berdiri tegak didepan pintu. Bersiap mendengar cerita tentang hidupnya di masa lalu.
__ADS_1