Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Egois


__ADS_3

Ceklek!


Evan menutup pintu kamar hotel menggunakan kakinya kemudian berjalan mendekat kearah ranjang. Setelah sampai ditepian ranjang, Evan membaringkan tubuh Shasa kemudian membenarkan posisi tidurnya.


Diraihnya selimut kemudian ditarik keatas sampai menutupi tubuh Shasa. Sejenak Evan memperhatikan wajah Shasa yang sangat tenang. Evan tersenyum, sebuah kecupan ringan ia berikan di kening Shasa.


Saat Evan hendak kembali ke kamarnya sendiri, tiba-tiba tangannya digenggam oleh Shasa. Mau tak mau Evan kembali berbalik untuk melepaskan genggamannya.


"Van, temenin tidur yah" ucap Shasa pelan sembari menarik tangan Evan.


Evan menggelengkan kepalanya lalu melepaskan tangan Shasa yang menggenggam tangannya.


"Tidak, kau tidak bisa memintanya" jawab Evan tersenyum kemudian mengecup kening Shasa lagi.


Shasa terdiam menatap wajah pria yang selama ini selalu ada untuknya. Perasaan takut kehilangan itu ada, mungkin dirinya terlalu egois. Sudah ada Raihan didalam hidupnya, tetapi ia juga tak ingin kalau Evan dimiliki oleh perempuan lain.


Shasa terpejam air matanya berlinang membasahi pipinya. pencahayaan yang redup membuat Evan tidak mengetahui jikalau wanita yang masih menggenggam tangannya saat ini sedang menangis.


"Ingat, kita bersahabat seharusnya__,"


"Justru karena kau sahabatku, Aku hanya meminta hal kecil dan kau bertindak seolah permintaan ku adalah sebuah kejahatan"


Tak lagi bisa mengontrol emosinya, Shasa menangis membiarkan semua sesak di dadanya keluar melalui air mata.


Evan terkejut, Shasa tak pernah begini sebelumnya. Wanita ini selalu berusaha kuat jika berhadapan dengannya lalu kenapa sekarang menangis. Apakah dirinya melakukan sebuah kesalahan yang membuat Shasa sakit hati.


Seolah terhubung dengan emosi Shasa, Evan bisa merasakan betapa sedihnya sahabatnya saat ini. Hatinya merasakan sakit yang luar biasa melihat wanita kesayangannya menangis.


Evan memeluk Shasa kuat, membiarkan wanita kesayangannya menangis di dadanya. Tangannya menepuk punggung Shasa yang terlihat naik turun.


"Kau tidak akan meninggalkan ku bukan? A-ku akan tetap menjadi sahabat mu bukan? jawab Evan!" Shasa semakin terisak, air matanya meleleh tak kunjung berhenti.


Matanya memerah dan hidungnya tersumbat. Keadaan yang sungguh sangat menyedihkan, bahkan Shasa sudah tidak lagi perduli dengan Evan yang berusaha untuk menenangkannya.


"Dengar! kita adalah sahabat selamanya, Aku bersumpah demi hidupku Aku akan menemani mu apapun yang terjadi"


Setelah Evan mengucapkan sumpahnya Shasa mulai tenang. Punggungnya kini tak lagi naik turun, nafasnya juga semakin teratur.

__ADS_1


Evan membaringkan tubuh Shasa kemudian menyelimutinya. Tak ingin Shasa menjadi histeris lagi, Evan memutuskan untuk ikut merebahkan tubuhnya di samping Shasa.


Sunyi, Shasa sudah tertidur pulas sedangkan Evan masih terjaga dengan pandangan mata lurus menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Ini bukan kali pertama dirinya menemani Shasa tidur, ingat! hanya tidur tidak ada hal lain yang terjadi.


Masalahnya kenapa saat Shasa memintanya menemaninya tidur tadi dirinya menolak?


Evan memejamkan matanya kemudian tersenyum kecut. Perbedaannya, Dulu Shasa belum menikah, sedangkan Shasa sekarang adalah seorang wanita yang sudah memiliki pria lain. Ayolah mana ada wanita yang akan memilih sahabatnya jika wanita itu mencintai suaminya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Evan sadar dari lamunannya. Evan bangun dari rebahan nya lalu beranjak membuka pintu, saat pintu terbuka seorang pria dengan masker hitam menutup setengah bagian bawah wajahnya.


"Ternyata benar, kau mengikuti kami sampai sini" ucap Evan sembari tersenyum kemudian keluar dari kamar dan menutup pintunya. Saat pintu tertutup rapat.


BUGH!


Tiba-tiba pria didepannya menonjoknya kuat setelah itu membuka masker yang dipakainya.


Evan hanya membalasnya dengan senyuman, tak ingin mencoba melawan apalagi memulai pertarungan.


"Tentu, kenapa tidak?"


BUGH!


Lagi-lagi sebuah bogem mentah kembali mendarat diwajah Evan. Kali ini emosi Evan mulai terpancing karena pria yang berstatus sebagai suami dari sahabatnya mulai menyerangnya dengan brutal.


Dengan santai Evan mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sedangkan pria didepannya sudah sangat emosi, bahkan kedua tangannya masih terkepal kuat.


"Santai saja masuklah kalau__,"


"Brengs*k! sekali lagi kau berani menyentuhnya__,"


BUGH!


Evan menendang perut Raihan hingga pria itu terjungkal kebelakang, dengan cepat Evan naik diatas tubuh Raihan kemudian menghunjam wajah pria itu bertubi-tubi.


Tak tinggal diam, Raihan berusaha bangkit dengan menjatuhkan Evan dari atas dadanya. Saat Evan lengah Raihan menggunakannya sebagai kesempatan untuk menjatuhkan Evan.

__ADS_1


Dugh!


Kepala Evan terbentur lantai, sesaat pandangannya mulai buram. Tapi hal itu tak ia biarkan, Evan membenturkan kepalanya keras ke kepala Raihan. Tubuh Raihan oleng menghantam dinding disamping kanannya.


Pertarungan sengit di antara dua pria yang sama-sama kuat itupun tidak dapat dihindari. Dua orang yang awalnya berjanji tidak akan saling menyakiti, kini mereka saling melanggar janji yang telah mereka buat sendiri. Semua itu hanya karena seorang perempuan yang bernama Queensha Zeline.


Napas Evan amburadul, tubuhnya telentang menghadap ke atas. Sedangkan Raihan mulai bangkit dan mengusap wajahnya yang penuh dengan lebam.


"Tidak masalah, kebusukan mu tidak lama lagi pasti akan terbongkar!"


Raihan terdiam, bukan karena wajahnya yang terasa sakit melainkan karena ucapan Evan barusan yang sedikit mencubit jantungnya.


Sebenci itukah Evan kepadanya?


Evan bangkit kemudian berjalan menuju kamarnya yang berada tepat disamping kamar Shasa. Ekor matanya diam-diam melirik Raihan yang terlihat berantakan sama seperti dengannya.


Wajah pria itu nampak menyedihkan, Evan tak perduli. Semua rasa perdulinya kepada Raihan telah hilang sejak lama dan berganti rasa benci luar biasa. Apalagi sekarang pria itu berani menghajarnya yang berarti sama saja dengan memupuk rasa benci dihatinya menjadi semakin banyak.


Brak!


Pintu tertutup kuat seakan Evan sedang menyalurkan amarahnya kepada pintu itu. Kakinya melangkah pelan kearah ranjang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Tubuh lelah itu terbaring dengan berbagai masalah yang menghantuinya. Evan menutup matanya perlahan dengan lengan kirinya yang digunakan sebagai bantalan. Tangan kanannya merogoh saku celana bagian belakang.


Saat Evan menarik tangannya kembali, sebuah dompet berwarna hitam sudah berada digenggamnya. Evan membuka matanya kembali kemudian merubah posisi menjadi duduk bersandar di sandaran ranjang.


Perlahan dibukanya dompet miliknya itu, hal pertama yang terlihat pasti uang berwarna merah dengan jumlah yang lumayan banyak. Tak sampai disitu didalam dompet itu juga terdapat kartu ATM berwarna hitam yang hanya dimiliki segelintir orang.


Tetapi diantara semua barang yang paling berharga didalam dompetnya itu, Evan lebih mementingkan sebuah barang yang juga terselip diantara lembaran uangnya.


Evan mengambilnya kemudian mengusap barang itu dengan senyuman di bibirnya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama, mengingat betapa mengerikannya kejadian yang terjadi saat barang yang ada ditangannya saat ini dibuat.


Selembar foto lama yang menampilkan dua orang anak laki-laki dan satu bocah perempuan yang berdiri ditengah-tengah.


Bocah perempuan itu terlihat sangat bahagia, sama seperti anak laki-laki yang berdiri disebelah kanannya. Tetapi anak laki-laki yang terlihat lebih dewasa di sebelah kiri bocah perempuan itu terlihat murung, lebih tepatnya seperti sedang menahan amarah.


Evan kembali memasukan foto lama itu kedalam dompetnya. Tidak baik jika terlalu mengenang masa-masa dimana ia menjadi seorang bocah laki-laki yang lemah dan tidak berguna.

__ADS_1


__ADS_2