Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Menggoda


__ADS_3

Shasa berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju ke kamar untuk mengambil tas dan jasnya. Jam dinding menunjukan pukul delapan pagi, sudah saatnya berangkat kerja. Sekali-kali Shasa ingin berangkat siang karena biasanya ia datang ke kantor pagi-pagi sekali, sebelum karyawan lain datang.


"Loh! hari ini nggak kerja nak?" tanya nenek ketika Shasa melewati ruang keluarga, kebetulan nenek sedang menonton berita pagi ditelevisi.


Shasa menghentikan langkahnya kemudian ikut duduk disamping Nenek. Tidak sopan jika berbicara dengan orang tua sambil lewat begitu saja, lagian Shasa juga ingin lebih dekat lagi dengan Nenek.


"Hari ini Shasa bekerja kok Nek, palingan bentar lagi juga berangkat"


Nenek menganggukkan kepala mengiyakan jawaban Shasa. Nenek merasa ada yang aneh dengan nada bicara cucu mantunya ini, sedikit lembut daripada biasanya.


Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul pada benak Nenek, ah mumpung orang yang ingin ditanyai ada dihadapannya, Nenek akan menanyai Shasa sekarang saja.


"Kalian kapan berangkat honeymoon? masa pengantin baru kok ndak ada honeymoon nya?" tanya Nenek dengan nada melawak.


Shasa tertegun menatap Nenek dalam diam. Honeymoon? sekalipun kata itu tak pernah muncul dibenaknya selama seminggu pernikahannya berjalan.


"Shasa berangkat kerja dulu Nek" ucap Shasa berdiri lalu meninggalkan Nenek sendirian dengan wajah jengah. Mood untuk mengenal Nenek lebih dekat langsung buyar seketika.


"Hmmm!" Nenek menghela napasnya lalu kembali menonton televisi, dugaannya benar. Hubungan Shasa dan Raihan masih kaku, tidak seperti pengantin baru pada umumnya.


"Ck! apa-apaan Nenek bertanya seperti itu?" gumam Shasa sembari memakai jas kantornya, keyakinan dirinya untuk menjadi wanita baik lama-lama akan pudar jika dirinya terus diuji dengan berbagai hal yang membuatnya merasa jengah dan tak nyaman.


Ceklek!


Suara Raihan menutup pintu kamar mandi dengan pelan, dilihatnya Shasa yang saat ini tengah kesulitan memakai salah satu lengan jas yang tersangkut kedalam.


Dengan senang hati Raihan membantu istrinya untuk membenarkan lengan jas Shasa yang tersangkut kedalam itu.


"Terimakasih" ucap Shasa datar tanpa memandang kearah Raihan, saat ini suasana hatinya sedang buruk karena pertanyaan nenek tadi, sehingga berimbas kena Raihan juga.


"Tunggu!"


Raihan mencekal tangan Shasa lalu menarik Shasa dalam pelukannya, satu ciuman hangat mendarat pada pucuk kepala Shasa.


Diam, Shasa diam tak bergerak sedikitpun, tiba-tiba perasaannya berubah menjadi bercampur aduk. Ada rasa bahagia, bimbang, takut, khawatir semuanya menjadi satu dalam hatinya.


Tangan Shasa mendorong dada Raihan pelan lalu berbalik tanpa mengucapkan apa-apa, jangan sampai nanti Raihan yang akan jadi pelampiasan rasa bimbang serta amarahnya.


Sedangkan Raihan menghela napasnya kasar melihat Shasa meninggalkan dirinya sendirian tanpa berucap apapun, ia sangat ingin Shasa memakaikan dasi padanya seperti kemarin. Tapi pagi ini kelihatannya istri kesayangannya itu terlihat agak murung.

__ADS_1


Saat Shasa ingin memesan taksi online, sekelebat pertanyaan muncul pada otaknya.


Kenapa tidak Raihan saja yang menghantarnya pergi ke kantor?


Shasa tersenyum smirk, mana mungkin Raihan mau mengantarnya. Ya sudahlah daripada memikirkan hal yang membuatnya tambah emosi, lebih baik segera cepat-cepat pergi ke kantor saja.


***


"Selamat pagi Nona Shasa" sapa resepsionis ramah, Shasa menganggukkan kepalanya lalu berjalan kearah lift menuju ruangan kerjanya.


Kebetulan saat di lift Shasa sendirian, memang benar dirinya saat ini sedang berada didalam lift tapi tidak dengan jiwanya. Entah ada dimana saat ini jiwanya, pikiran Shasa sedang kacau.


Honeymoon? Apakah Raihan juga memikirkan hal semacam itu.


Ting!


Shasa melangkahkan kakinya keluar lalu berjalan menuju keruangan nya, suara high heels yang dipakainya menyebabkan bunyi berirama nyaring memenuhi lorong kantor.


Saat pintu ruangannya terbuka, nampak seorang pria dengan kedua tangan yang ditekuk didepan dada. Terlihat sangat jelas pria itu sedang menatapnya dengan wajah yang jengah.


"Apa?"


"Darimana saja kau?"


Shasa tidak menjawab pertanyaan dari Evan, dirinya sudah mulai menyibukkan diri dan tenggelam dalam berbagai dokumen yang akan menjadi pelampiasannya hari ini.


Terdengar helaan napas Evan, pria itu kemudian ikut duduk berseberangan dengan Shasa. Evan harus mengubah sikapnya menjadi lebih lunak dan sabar lagi agar Shasa mau dibujuk untuk tinggal di Markas dengannya


"Sha, kumohon, Lo pulang ke Markas ajaya bareng Gue"


Shasa menggeleng pelan, keputusannya sudah bulat untuk tetap tinggal bersama Raihan. Terdengar helaan napas lagi dari Evan, sangat sulit membujuk Shasa untuk kembali tinggal di markas.


"Kalau begitu temani gue ke club malam ini, sebagai ganti rugi atas penolakanmu tadi pagi dan barusan" tutur Evan tak terbantahkan, senyum smirk langsung mengembang diwajah tampannya tanpa sepengetahuan dari Shasa.


Jemari Shasa berhenti menandatangani dokumen penting. Jika dipikir sekali lagi, ikut pergi ke club malam bersama Evan mungkin akan membuatnya merasa lebih tenang.


Shasa tak ingin saat ia pulang bekerja nenek memberondongi nya dengan pertanyaan tentang honeymoon.


Sudah lama juga Shasa tidak merasakan hebohnya berjoget liar dengan dikerumuni banyak pria. Terakhir kali dirinya ke club waktu itu saat cemburu dengan Dee dan menyebabkan kerusuhan hingga Raihan menjemputnya.

__ADS_1


"Oke, deal!"


Shasa membentuk tanda 'Ok' tepat dihadapan wajah Evan yang terlihat bahagia, ah senang juga bisa memunculkan senyum Evan seperti itu. Padahal dirinya hanya melakukan hal kecil, yaitu menuruti permintaan Evan untuk pergi ke club malam.


***


Jam tangan yang melingkar manis di pergelangan kiri Shasa menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dirinya memang sengaja tidak pulang ke rumah Raihan dan mematikan Handphone miliknya agar nanti saat bersenang-senang dengan Evan tidak ada yang mengganggu.


Sesuai dengan janji yang telah disepakati bersama Evan tadi pagi, saat ini Shasa sedang bersiap untuk pergi ketempat yang Shasa yakini bisa membuat beban masalahnya sedikit hilang.


"Udah belum Sha_,?"


Evan melongo saat masuk kamar pribadi Shasa didalam ruang kerja kantor, penampilan Shasa membuat mata Evan jelalatan tak karuan.


Baju bermodel crop top dengan bagian pusarnya yang terlihat dan bawahan hot pants jeans. Tak lupa dengan bibir seksi yang dipoles lipstik berwarna merah pekat, membuat siapapun yang melihatnya akan tergoda.


"Ayo"


Tas selempang tergantung indah pada pundak Shasa yang sangat terbuka, dengan senang hati Evan menggandeng lengan Shasa menuju ke tempat yang tentunya akan membuat seseorang kecewa, karena melihat istrinya berubah menjadi sosok yang berbeda.


Dentuman keras ditambah teriakan para lautan manusia menjadi satu membuat sebuah kesenangan tersendiri bagi dua pasangan yang baru saja masuk kedalam. Baru saja Shasa melangkah masuk, tatapan memuja dari berbagai kalangan pria terpusat pada dirinya.


Drrrrrrrt! Drrrrrrrrt!


"Sebentar Gue angkat telpon dulu!"


Shasa berdecak kesal lantaran ditinggal Evan sendirian di dalam bar yang ramainya bukan main.


"Tidak masalah, sekarang dia sedang bersenang-senang bersamaku!"


"Kurang ajar! sudah kuperingatkan beberapa kali, jang_,"


Tuut tut tut


Senyuman licik muncul pada wajah Evan, rasanya sangat menyenangkan bisa membuat orang yang menelponnya tadi marah besar.


"Maaf kan Aku Shasa, melibatkanmu dengan masalah rumitku"

__ADS_1


__ADS_2