Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Mama


__ADS_3

Tidak kunjung memberi respon, Evan kembali menyapa gadis di depannya yang terlihat takut kepadanya.


Allin menaikkan selimutnya sampai menutupi tubuhnya, menyisakan kepalanya. Sesuai dengan yang pernah dikatakan oleh mamanya. Ia tidak boleh panik jika ada orang yang tidak dikenalnya mencoba untuk mendekatinya.


"Allin harus tetap tenang dan jangan ngomong apa-apa" kalimat Shasa berputar-putar dalam benak Allin.


"Halo anak cantik, akhirnya kita kembali ketemu lagi" ucap Evan membuat Allin mengernyitkan dahinya, ia merasa tidak pernah bertemu dengan om yang terlihat sangat ramah di depannya ini.


"Oh iya, om belum memperkenalkan diri ya, om lupa" Evan berusaha sekeras mungkin agar bocah di depannya ini meresponnya, ia tidak mau menjadi badut dan dianggap seolah tidak ada.


Sial sekali, baru kali ini ia bertemu dengan bocah yang tidak tersenyum sama sekali padahal ia sudah mengeluarkan sisi ramahnya.


Setelah mengenalkan dirinya, Evan baru bisa melihat bocah itu meresponnya dengan menganggukkan kepalanya. Ia harus berusaha sedikit lagi agar bocah di depannya ini luluh lantah dan merasa nyaman dengan dirinya.


Baiklah Evan, keluarkan sifat bapak-bapak yang terkubur dalam dirimu. Buat bocah ini mengatakan siapa nama ayahnya maka rasa penasaranmu akan hilang.


Beberapa pertanyaan ia layangkan, sebatas pertanyaan biasa ketika bertemu dengan bocah seumuran dengan bocah di depannya ini. Namun gadis ini masih begitu dingin dan enggan mengobrol bersamanya. Anak yang sedikit aneh atau mungkin anak ini terlalu waspada dengan orang asing.


Evan baru tersadar jika tangan kirinya menenteng kantung plastik berisi perbekalannya menghadapi Raihan.


"Oh iya, om Evan punya hadiah perkenalan loh" Evan mengeluarkan boneka beruang mini dari kantong plastik yang dibawanya kemudian menyodorkan kedepan bocah di depannya yang masih saja diam membisu.


Allin hanya memandanginya, boneka beruang itu sebenarnya terlihat sangat lucu. Tetapi ia tidak boleh menerimanya begitu saja.


Pasrah dengan usahanya, Evan kembali menarik boneka yang disodorkannya dan memilih untuk duduk dikursi samping brankar. Melihat mata bocah yang tak menjawab ketika ditanya siapa namanya, membuat Evan mengingat seseorang yang menjadi jantung hidupnya.


Evan mengoceh kesana kemari, mengatakan yang sebenarnya bahwa ia salah kamar saat ingin menjenguk temannya yang sakit. Tapi entah keajaiban apa, bocah itu seolah terhipnotis.


"Ooh, jadi om Evan salah masuk kamar terus malah masuk kamarnya Allin ya om?"


Mata Evan berbinar ketika mengetahui bocah bernama Allin ini mengucapkan kalimat pertama setelah hampir setengah jam ia menjadi badut dadakan.


"Nah gitu dong, masa om Evan nanya Allin malah diem mulu"


Akhirnya suasana tak nyaman yang melingkupi ruangan ini, mencair seiring dengan Allin yang bercerita ngalor ngidul tidak jelas namun malah membuat Evan senang. Terdapat kebahagiaan yang membuat hatinya tersentuh. Apalagi saat Allin terlihat senang setelah menerima boneka beruang mini darinya.


"Eh iya, om Evan kan udah hampir satu jam disini, Allin kenapa sendirian. Orang tuanya kemana nak?" tanya Evan merasa janggal karena bocah sekecil ini ditinggal sendirian tanpa ada satupun orang yang menjaganya.


Allin meminum yogurt yang diberikan oleh Evan kemudian mengerucutkan bibirnya. "Mama lagi ngambil baju ganti buat Allin. Tapi mama udah lama nggak balik-balik, jadi allin sendirian disini dari tadi"


Evan mengangguk kepalanya, merasa iba dengan Allin. Evan juga bertanya mengapa Allin sakit apa dan mengapa bisa masuk rumah sakit. Tapi Allin hanya menjawab ala kadarnya, masuk rumah sakit karena sakit.


Drrrrrt drrrrrrt


Percakapan dua orang itu terhenti ketika handphone Evan berdering, terdapat panggilan dari Donna. Evan menjauh sedikit dari Allin kemudian mengangkat telponnya.


"Van, lo ngapain nelpon gue tadi, lo udah di rumah sakit kan?"


"Kamar Raihan nomor berapa?"


"210"

__ADS_1


Sial, ia lupa tujuannya kesini untuk menjaga Raihan, bukan menjaga gadis manis ini. Tapi daripada menjaga Raihan, ia lebih senang menjaga gadis kecil ini. Tapi mau bagaimana lagi, saudaranya yang gila itu juga perlu pengawasan agar tidak kembali melakukan percobaan bunuh diri.


Dengan berat hati Evan pamitan kepada Allin dan berjanji untuk kembali menemaninya nanti. Allin mengerucutkan bibirnya, wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Yahh, Allin sendirian lagi dong om"


"Sebentar lagi mamanya Allin pasti balik. Nanti kalau urusannya om selesai, om janji deh nemenin Allin main lagi" Dengan perasaan tidak tega, Evan meninggalkan gadis itu dan berjanji untuk kembali menemaninya.


Evan mengecup kening Allin sebentar kemudian melambaikan tangannya sebelum keluar dari ruangan 208.


Setelah keluar dari ruangan Allin, Evan bergegas masuk kedalam ruangan Raihan. Disaat pintu terbuka, Raihan tengah duduk menatapnya tajam tanpa menyapanya sedikitpun. Pria itu tak menghiraukan keberadaannya dan bertingkah seolah tidak ada siapa-siapa.


Ayolah, siapa yang tidak jengkel diperlakukan seperti itu oleh saudaramu sendiri. Kurang ajar memang, tapi mau bagaimana lagi. Tak mungkin ia menyuruh orang lain untuk menjaga Raihan, pria itu punya banyak musuh. Jika berita keadaan Raihan tersebar, bisa-bisa Raihan tewas dikeroyok musuhnya.


***


Shasa mengumpat kesal ketika jalanan berubah menjadi macet, suara klakson mobil saling bersahutan. Suasana semakin rusuh ketika pemilik mobil didepannya berteriak-teriak meminta pengemudi lain agar lebih cepat.


Rasa khawatirnya semakin menjadi-jadi mengingat Allin yang ia tinggal sendirian lebih dari dua jam. Shasa mengusap wajahnya kasar, berdoa agar Allin tidak kenapa-kenapa.


Setelah hampir satu jam terjebak macet akhirnya Shasa sampai di rumah sakit. Langkahnya bergerak cepat menuju kamar Allin, jangan sampai putri tercintanya menunggu terlalu lama.


Allin pasti akan marah, tadi sebelum berangkat ia berjanji hanya akan sebentar saja. Namun kenyataannya, dirinya malah meninggalkan gadis kecil itu hampir tiga jam.


Shasa membuka pintu ruangan Allin secara perlahan, bocah itu ternyata sedang terjaga. Sekarang ia bisa bernapas dengan lega.


"Mamaaaaaaa, humph" Allin mengubah wajahnya menjadi cemberut, menatap kesal kepada mamanya yang tersenyum lebar sembari menenteng sebuah tas.


"Enggak mau!"


Baru saja Shasa ingin protes namun ia urungkan, pandangannya tertuju pada sebuah boneka beruang mini yang tergeletak di atas meja nakas. Begitupula dengan bungkus biskuit yang berada disamping bantal Allin.


"Dari siapa ini?" tanya Shasa serius, tidak mungkin para perawat disini begitu perhatian pada pasien sampai membelikan boneka beruang.


"Itu, itu dari om yang jenguk Allin tadi" Shasa semakin mengerutkan dahinya, sejak kapan Allin punya om disini.


"Memangnya disini Allin punya om? mama kok engga tau"


Shasa membongkar tas yang dibawanya kemudian menatanya didalam nakas, hampir lima belas menit berlalu dan Allin masih terdiam menatapnya ragu. Seolah ingin mengatakan sesuatu namun tidak berani mengatakannya.


"Allin, mama kan sudah bilang nak, jangan sembarangan berinteraksi dengan orang asing. Nanti kalau Allin diapa-apain sama orang asing itu gimana? lain kali jangan diulangi lagi ya sayang" Allin menundukkan kepalanya, rasa bersalah terlihat jelas dari wajahnya.


"Tadi mama lama banget, Allin sampai capek nungguin mama. Lagipula om Evan juga bukan orang jahat kok"


Tunggu sebentar, apakah telinganya sedang bermasalah? mengapa ia mendengar nama sahabat dimasa lalunya disebutkan oleh putrinya.


"Tadi Allin bilang om siapa?" tanya Shasa harap-harap cemas. Meskipun dalam hatinya masih mencoba untuk berpikiran positif, namun tetap saja rasa khawatir kembali menyelimuti dirinya.


"Tadi om Evan salah masuk kamar Allin, katanya mau jenguk temannya, terus malah jadi nemenin Allin soalnya mama nggak balik-balik" jawab Allin sembari memakan biskuit pemberian dari Evan.


Baiklah tidak apa-apa, didunia ini terdapat banyak nama yang sama. Bukan berarti nama Evan hanya ada satu dan yang pasti Evan yang dimaksud Allin bukan Evan dari masa lalunya.

__ADS_1


Shasa hendak mengganti baju Allin namun teringat selimut yang dibawanya dari rumah masih tertinggal di mobil. Entahlah mengapa dirinya akhir-akhir ini menjadi begitu ceroboh.


"Sayang, mama turun kebawah sebentar ya. Ingat! jangan kemana-mana" Allin mengangguk patuh, menatap punggung mamanya yang terburu-buru keluar.


***


"Kurang ajar!"


Mulut Evan komat-kamit tidak jelas kemudian menutup pintu ruangan Raihan dengan keras. Biarkan saja pria itu mati jantungan, pikirnya.


Bisa-bisanya ia tidak dianggap sama sekali, lebih dari setengah jam ia menemani Raihan. Namun apa yang dilakukan Raihan? Pria itu malah menganggapnya tidak ada.


Awalnya memang tidak terlalu ia permasalahakan, tapi lama-kelamaan saat ia mencoba untuk memulai pembicaraan santai, Raihan malah mengacuhkannya. Kurang ajar memang.


Daripada kurang kerjaan karena kesal akan tingkah Raihan lebih baik ia kembali ke ruangan Allin, bocah kecil menggemaskan itu. Siapa tahu nanti bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang hinggap pada benaknya. Tidak perlu berharap terlalu tinggi, setidaknya bisa bertemu dengan ibunya saja sudah cukup untuk memuaskan rasa keingintahuannya.


Evan membuka ruang 208 dengan senyuman lebar, Allin belum menyadari dirinya masuk. Saat tahu dirinya datang untuk menepati janjinya, bocah itu tersenyum kegirangan.


"Loh Allin kok masih sendirian, mama belum kembali ya?" tanya Evan mengambil tempat duduk disebelah ranjang Allin.


"Sudah, mama lagi kebawah, barangnya mungkin ada yang ketinggalan di mobil"


"Ohh gitu ya" Evan menganggukkan kepalanya, bocah sekecil ini saja bisa diajak untuk mengobrol santai. Bukan seperti Raihan yang diajak berbasa-basi saja susah. Bukannya apa-apa, lagipula ia juga tidak akan menyinggung perihal percobaan bunuh diri Raihan yang gagal. Ia tidak mungkin mencoba untuk menyenggol ego Raihan yang sebesar patung Liberty.


***


Allin tertawa lepas ketika Evan menceritakan pengalaman lucunya. Obrolan mereka terus berlanjut hingga melupakan bahwa Allin sedang sakit dan tidak diperbolehkan terlalu banyak melakukan kegiatan yang menguras energi. Sedangkan tawa Allin yang begitu keras bisa saja membutuhkan energi yang besar. Tawa dua orang itu mereda ketika terdengar ketukan pintu dari luar.


"Itu pasti mama" bisik Allin kepada Evan, pria itu kemudian menjawabnya dengan berbisik pula.


"Sepertinya bukan"


"Pasti mama"


"Kita lihat, kalau itu mamamu, nanti om Evan ajak Allin jalan-jalan deh"


"Beneran om?" Evan mengacungkan dua jempolnya, membuat Allin semakin bersemangat.


"Yaaaaaah, bukan mama"


Allin berdecak kesal ketika pintu terbuka bukan mamanya yang masuk, melainkan petugas yang sedang mengantarkan makan malam. Raut kecewa tercetak jelas diwajah Allin, mengapa mamanya tidak juga kembali. Kesempatan untuk bisa jalan-jalan bersama om Evan menjadi hangus.


Setelah mengucapkan terimakasih kepada petugas yang mengantarkan makan malam. Dengan perasaan yang bahagia, Evan menyuapi Allin sepenuh hati. Begitupula dengan Allin yang terlihat senang ketika ia suapi.


Entah mengapa ia merasa terikat dengan gadis kecil didepannya ini atau mungkin karena selama ini ia berharap memiliki seorang anak yang menemani hari-harinya.


Evan menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh berpikiran sejauh ini. Misha tidak akan cocok menjadi ibu dari anak-anaknya.


Tidak berselang lama kemudian pintu kembali diketuk. Allin sudah sangat yakin jika yang masuk kali ini adalah mamanya. Namun lagi-lagi dugaannya salah, karena yang masuk adalah suster yang biasanya melakukan pemeriksaan berkala. Allin mengerucutkan bibirnya kesal, sementara Evan terkekeh pelan.


Tanpa mereka sadari setelah suster masuk ke dalam, tepat di belakang suster tersebut berdiri seorang wanita berambut pendek yang senyumnya perlahan lenyap, berganti dengan raut wajah yang tidak terbaca.

__ADS_1


"Mamaaaa, loh kan itu Mamaaa"


__ADS_2