
Flashback On
Beberapa tahun yang lalu...
Seorang pria paruh baya duduk terikat di sebuah kursi kayu. Pria itu terlihat menyedihkan, seluruh wajahnya lebam dengan darah yang mengucur dari beberapa bagian tubuhnya.
Pria nahas itu seolah ingin berteriak meminta pertolongan namun tidak bisa. mulutnya telah disumpal kain kotor oleh beberapa pria muda yang mengelilinginya.
Dengan emosi meledak-ledak para pria muda itu menumpahkan semua amarahnya pada pria paruh baya yang tak bersalah itu.
Ditengah-tengah suasana yang mencekam, tiba-tiba terdengar benda terjatuh yang mengejutkan mereka semua.
BRAK!!
Beberapa pria muda itu serentak menoleh kebelakang, sejenak mereka menghentikan aksinya pada pria paruh baya itu.
Tak satupun dari mereka yang berniat untuk mengecek penyebab jatuhnya besi tua itu. Mereka nampak tidak perduli jika kelakuannya dilihat oleh orang lain.
Namun satu diantara mereka merasa ada yang tak beres dengan jatuhnya besi tua itu tanpa sebab. Seorang pria muda dengan wajah sangar melangkah pelan menuju pintu belakang tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
"Apa yang kau lakukan disini!"
Pria itu berdesis marah dugaannya ternyata benar, remaja laki-laki didepannya lah yang menjadi penyebab jatuhnya besi tua.
Remaja laki-laki itu merasa tak percaya bahwa diantara segerombolan pria muda itu terdapat saudaranya yang ikut menghajar orang tanpa belas kasihan. Namun setelah salah satu pria muda itu memergokinya, remaja itu benar-benar percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Seharusnya aku yang bertanya, mengapa kau memukuli orang tua yang tidak bersal__,Mmm!"
Belum selesai mengucapkan kalimatnya, pria muda itu membungkam mulut adiknya lalu menyeretnya keluar dari gudang tua yang terletak jauh dari rumah penduduk.
***
"Aku akan mengadukanmu pada papa, agar beliau tau__,"
BUGH!!
Tanpa aba-aba, pria muda bernama Raihan itu memberikan bogem mentah kepada adiknya. Sudut bibir Evan berdarah, remaja itu tidak terkejut, seolah sudah terbiasa dengan pukulan tiba-tiba dari saudara yang tiga tahun lebih tua darinya.
"Papa akan semakin percaya kalau kau benar-benar memukulku"
Evan mengusap sudut bibirnya pelan dengan senyum yang menggambarkan bahwa dirinyalah yang akan menang. Hal itu malah membuat emosi Raihan semakin meninggi.
"Dasar bocah pengadu!"
__ADS_1
Raihan mendorong tubuh Evan perlahan, lalu memukul dada adiknya kuat hingga terpental ke dinding. Wajahnya sama sekali tidak merasa bersalah telah memukul Evan sampai remaja itu terbatuk-batuk.
"Apakah tidak cukup kau meminta belas kasihan dari teman bermainmu sampai kau ingin mengadu kepada papa!"
"Shasa perduli padaku karena dia menganggapku sebagai kakaknya!" Evan berteriak keras tak terima dengan apa yang Raihan katakan.
Evan merasa sedikit tersinggung, dirinya tidak pernah meminta belas kasihan kepada Shasa. Namun bocah cilik yang dianggap sebagai adiknya itu selalu memperdulikannya, mengobati luka-luka yang diperoleh akibat perbuatan kakaknya.
Wajah Raihan semakin memerah, kedua tangannya mengepal erat. Pria muda itu menahan amarahnya agar tidak memukul adiknya kembali. Akan tetapi sedetik kemudian kalimat yang terucap dari mulut adiknya membuatnya benar-benar kehilangan kesabarannya.
"Shasa menganggapku ada, sedangkan kau sama sekali tidak dianggap olehnya!"
***
"Oh astaga, apa yang terjadi pada wajahmu?"
Ibu dari dua anak itu berteriak histeris setelah melihat wajah anak bungsunya babak belur. Dua orang dewasa lainya ikut datang tergopoh-gopoh ke ruang tamu setelah mendengar teriakan histeris Lorena.
Sesampainya di ruang tamu, Alex dan Nenek terkejut mendapati wajah Evan yang babak belur. Nenek kembali masuk kedalam untuk mengambil kotak obat, sedangkan Alex menatap Lorena lalu menggelengkan kepalanya pelan.
Tak lama kemudian Raihan datang dengan wajah yang biasa saja, pria muda itu seolah sudah tau kalau adiknya babak belur. Lorena terdiam begitupula dengan Alex, sekarang mereka berdua tahu siapa orang dibalik wajah Evan yang babak belur untuk kesekian kalinya.
Nenek kembali datang membawa kompres air hangat beserta kotak obat. Alex menyuruh putra bungsunya duduk untuk mengobati luka-lukanya. Sedangkan Lorena menyuruh Raihan untuk mengikutinya ke kamar.
***
Lorena mengunci pintunya kemudian menyuruh putra sulungnya untuk duduk. Ibu dari dua anak itu memijat pelipisnya, merasa lelah karena perbuatan Raihan. Lorena merasa gagal mendidik Raihan.
"Apa yang kau lakukan pada adikmu?" tanya Lorena menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Memukulinya" jawab Raihan tegas tanpa rasa takut sedikitpun.
"Mama mengajarimu bela diri bukan untuk menghajar adikmu habis-habisan"
"Aku tau!"
"Lalu kenapa kau selalu mengulangi kesalahanmu?" Lorena tak habis pikir mengapa ada seorang kakak yang tega menghajar adiknya habis-habisan.
Ia tidak pernah mendidik anak-anaknya untuk melukai sesama saudaranya sendiri. Tapi apa ini? sudah beberapa kali Raihan memukuli adiknya, ia tak ingin menghukum anaknya dengan kekerasan tapi semakin lama Raihan semakin tidak sadar diri dengan perbuatannya.
"Kali ini apa alasan yang membuatmu memukuli Evan?" Lorena kembali bertanya, saat ini wanita itu mengambil segelas air putih dari atas nakas untuk diberikan kepada Raihan.
"Karena Evan terlalu dekat dengan Shasa"
__ADS_1
Lorena memutar bola matanya lelah mendengar alasan yang selalu sama diucapkan oleh Raihan ketika ditanya penyebab dirinya memukuli adiknya.
Lorena menyodorkan gelas berisi air putih itu kepada Raihan, lalu keluar dari kamar dengan raut wajah yang terlihat tegas. sebelumnya wanita itu mengatakan sesuatu yang membuat Raihan mengepalkan tangannya.
"Kau bisa berteman dengan Shasa tanpa memukuli adikmu sampai babak belur"
***
Sudah dua Minggu berlalu dan kakak beradik itu tak pernah saling menyapa satu sama lain, padahal mereka tinggal di satu atap rumah yang sama. Mereka seperti dua orang asing yang terpaksa tinggal serumah, bahkan dua orang itu tak pernah makan dimeja yang sama.
Hari ini Lorena memasak begitu banyak makanan, hal itu membuat Raihan dan Evan bertanya-tanya akan ada acara apa dirumah mereka.
Evan sudah bertanya kepada Nenek namun wanita itu tak memberi jawabannya, sama halnya dengan Raihan yang bertanya kepada Alex tapi juga tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
Tepat pukul delapan malam dua orang tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Orang yang tidak lain adalah Arin dan Adson itu datang bertamu tanpa mengajak putrinya yaitu Shasa.
Merasa tidak ingin ikut campur dengan urusan orang dewasa, Evan memilih untuk pergi ke kamar dan menghiraukan kedatangan orang tua Shasa. Berbeda dengan Evan yang memilih untuk tidak perduli, Raihan sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh orang dewasa itu.
Awalnya kelima orang dewasa itu mengobrol biasa, namun lama kelamaan mereka memasang wajah serius. Salah satu dari mereka membahas tentang masa depan Shasa.
Hingga akhirnya Adson, papa dari Shasa mengucapkan sesuatu yang membuat jantung Raihan berdetak kencang.
"Yah, nanti setelah Shasa dewasa kami pikir akan lebih baik Shasa menikah dengan salah satu putra kalian"
Setelah mengucapkan kalimatnya Adson terkekeh pelan diikuti Arin yang memegang tangan Lorena untuk meyakinkan sahabatnya itu.
"Apakah kita terlalu mencampuri urusan masa depan anak kita?" tanya Alex membuat Adson terdiam sejenak.
"Mungkin ini yang terbaik" jawab Adson yakin dengan keputusan yang diambilnya.
"Baiklah"
Semua orang bersorak senang, apalagi Arin dan Lorena yang tidak sabar untuk menjadi besan. Mereka seolah tak peduli dengan perasaan anaknya jika tau kalau di masa depan mereka akan menikah dengan orang yang sudah ditentukan oleh orang tua mereka.
"Lalu siapa yang kau inginkan untuk menjadi calon mantumu?" tanya Alex kembali serius. Adson dan Lorena terdiam sejenak kemudian mereka tersenyum.
"Bagaimana jika dengan Evan? dia anak yang baik"
Hancurlah sudah keinginan Raihan untuk memiliki bocah manis yang ia sayangi. Raihan mengepalkan tangannya, kemudian berjalan melangkah kearah kamar Evan.
Tanpa minta persetujuan terlebih dahulu, Raihan langsung masuk kedalam kamar adiknya. Memberi beberapa bogem mentah yang membuat Evan keheranan, sedangkan Evan sendiri merasa tidak melakukan kesalahan, mengapa saudaranya ini sangat suka memukulinya.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Raihan, para orang dewasa tidak setuju jika Evan yang akan menjadi pendamping hidup Shasa. Mereka berlima akhirnya memutuskan untuk memilih Raihan Davindra sebagai pria yang cocok menjadi pendamping hidup Queensha Zeline.
__ADS_1