Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz

Mafia Queen Menikah Dengan Ustadz
Honeymoon yang berbeda


__ADS_3

"Apa, tidak tahu?"


Raihan mengusap wajahnya kasar, lalu beralih menatap Donna yang sedang berdiri tegak didepannya.


Bagaimana bisa seorang wanita hebat seperti Donna tidak bisa menemukan keberadaan Shasa.


Kemana perginya Shasa dari tadi pagi sampai sore hari hari ini, karyawan lain sudah pulang sejak tadi. Sedangkan Raihan rela duduk di ruangannya sendirian demi menunggu Donna memberikan kabar dimana keberadaan Shasa.


Tetapi Donna malah memberikan kabar yang mengecewakan, tidak tahu dimana keberadaan Shasa sama sekali.


Jelas Donna tidak tahu keberadaan Shasa, Markas yang ditempati Mafia Queen itu sulit disentuh oleh orang lain.


"Pulang! lain kali kerjakan tugasmu dengan baik" titah Raihan dengan ekspresi kecewa.


"Maaf Tuan, lain kali saya akan mengerjakan tugas dari anda lebih baik lagi" ucap Donna sebelum pamit untuk pulang.


Sebenarnya Raihan sangat kecewa, tetapi bukan kepada Donna melainkan kepada dirinya sendiri. Seharusnya dirinya tahu kemana saja Shasa pergi, bukan malah seperti ini.


Terkadang Shasa pergi selama berhari-hari, saat pulang dan ditanya darimana wanita itu akan menjawab dengan santai bahwa melakukan perjalanan bisnis itu melelahkan.


Raihan tahu dibalik sifat Shasa yang kalem itu terdapat banyak kebohongan yang disembunyikan. Raihan juga ingin mengetahui semua hal yang dilakukan oleh istrinya namun rasa takut kehilangan itu ada. Raihan takut Shasa akan meninggalkannya saat Raihan bertanya lebih tentang apa saja yang Shasa lakukan diluar rumah.


Dalam perasaan kecewa bercampur sedih Raihan pulang ke rumah, mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria ini tak ingin cepat-cepat pulang ke rumah, nanti Nenek pasti akan menanyakan keberadaan Shasa dan Raihan akan menjawabnya dengan kebohongan.


Pukul delapan malam Raihan baru sampai di rumah, setelah macet selama dua jam cukup membuat Raihan lelah dan ingin segera pulang untuk istirahat.


Tok tok tok


Saat pintu terbuka seorang wanita berkacak pinggang, wajahnya cemas bercampur cemberut.


"Darimana saja!" tanya Shasa sedikit kesal, dirinya rela pulang dari Markas untuk bisa bersama dengan Raihan, tetapi orang yang ingin ditemuinya malah tidak datang-datang.


Entahlah seharusnya siapa yang marah, Raihan juga ingin bertanya darimana saja wanitanya ini. Tapi rasa bahagia lebih mendominasi pada dirinya, Raihan mengangkat tubuh Shasa kemudian berputar-putar di ruang tamu.


"Raihaaaan, apa yang kauu lakukan?"


Shasa tertawa kepalanya terasa pusing tetapi melihat wajah bahagia Raihan rasanya tidak tega untuk menghentikannya.

__ADS_1


"Raihan, Aku pusing..... Oek"


Shasa menutup mulutnya kemudian berusaha turun dan segera berlari menuju ke kamar mandi dekat dapur. Nenek yang melihat Shasa barusan hanya terbengong, tak lama Shasa pergi ke kamar mandi Raihan menyusul dengan wajah yang khawatir.


Nenek tersenyum kemudian mengangkat kedua tangannya.


"Akhirnya Aku punya cicit"


***


"Jawab pertanyaan Nenek! Shasa hamil ya?"


Shasa dan Raihan saling berpandangan sebentar lalu kembali menatap Nenek. Nenek pasti berpikir bahwa Shasa sedang hamil karena kejadian satu jam yang lalu.


"Nek, Shasa belum hamil akan tetapi.... Segera Nek, jadi doakan saja dan tunggu hasilnya" jelas Shasa kepada Nenek yang membuat Wanita berumur itu memajukan bibirnya.


"Iya nanti kalau Nenek sudah meninggal" jawab Nenek asal kemudian memutuskan untuk berdiri dari duduknya.


"Nenek tahu, Minggu depan kami akan pergi Honeymoon, Nenek jaga kesehatan ya"


***


Hari yang ditunggu-tunggu dua orang itu pun akhirnya tiba. Shasa dan Raihan pergi kesebuah kota yang terkenal dengan bangunan kuno dan makanannya yang lezat.


Selama perjalanan Shasa tidur menyender di bahu Raihan, sedangkan pria itu tetap terjaga untuk menjaga istrinya. Jangan lupakan senyum dibibir Raihan yang tidak luntur sejak dari rumah, apalagi mengingat pesan dari Neneknya tadi.


Jangan lupa, buatkan Nenek cicit sebanyak-banyaknya!


Lucu sekali Neneknya, memangnya mudah membuat anak. Pembuatannya sih mudah tetapi proses perkembangan dan pengeluarannya yang susah.


Pukul delapan malam Shasa dan Raihan sampai di hotel yang telah di booking sebelumnya. Shasa langsung tidur sedangkan Raihan membereskan dua koper besar bawaannya.


Saat ingin membuka koper milik Shasa, koper itu menggunakan password angka untuk membukanya. Karena berkali-kali tidak bisa membukanya, akhirnya Raihan menyerah dan ikut pergi ke alam mimpi bersama Shasa.


Pagi-pagi sekali Shasa terbangun, ia menutup matanya sejenak lalu turun dari ranjang dan mencari keberadaan kopernya. Saat kopernya ketemu Shasa segera membuka password angka lalu membuka kopernya.


Saat koper terbuka bukannya membawa bikini, lingerie atau pakaian seksi lainnya. Shasa malah membawa beberapa senapan, pistol dan juga pisau tentunya. Entah bagaimana caranya Shasa bisa melewati keamanan di bandara.

__ADS_1


Hanya beberapa pasang pakaian yang dibawanya sedangkan ruang kosong dikopernya diisi dengan senjata api ataupun senjata tajam. Namanya juga Mafia Queen, pasti Honeymoon nya berbeda dengan kebanyakan Honeymoon yang lainnya.


Puas melihat barang bawaannya, Shasa mencari keberadaan handphone miliknya entah kemana perginya benda berbentuk persegi itu. Shasa berjalan pelan kearah Raihan yang masih tidur pulas menghadap ke samping.


Tangan Shasa merogoh kantung celana bagian belakang Raihan, tak lama kemudian Shasa tersenyum mendapatkan hpnya.


"Halo?" sapa Shasa saat panggilannya sudah terhubung dengan pria diseberang sana.


"Ya, halo, ngapain malam-malam ganggu tidur Gue?"


Shasa memejamkan matanya kemudian tersenyum sekilas, bodoh sekali dirinya. Tempat Evan dan ditempatnya saat ini memiliki perbedaan waktu yang cukup lama.


"Hehe, makasih ya udah bantu nyelundupin barang bawaan Gue"


"Hmm, Evan gitu Loh, jangan lupa...... Eeeh bentar-bentar jangan-jangan sekarang Lo lagi mantap-mantap ya?"


"Ha? dasar ban*ke Lo!"


Shasa menutup teleponnya kemudian tertawa, apa kata Evan tadi? mantap-mantap. Jika dipikir kembali untuk apa menelpon Evan saat sedang mantap-mantap, ingin pamer desahan? begitu.


Tanpa Shasa sadari Raihan baru saja bangun lalu memeluk istrinya dari belakang, awalnya Shasa terkejut. Shasa juga takut kalau percakapannya dengan Evan tadi didengar oleh Raihan.


"Selamat pagi, Sayang" ucap Raihan menciumi pipi kanan Shasa dari belakang, Shasa tertawa merasa geli karena bulu-bulu halus yang tumbuh disekitar rahang Raihan.


"Sayang siapa?" tanya Shasa sembari membalikan badannya menghadap kearah Raihan.


"Sayang kamu lah, masa sayang gorden" jawab Raihan menarik pinggang Shasa agar lebih dekat dengannya. Bibir mereka hampir menyatu, hingga.


Krrrrrruk kruuuuuuk


Shasa dan Raihan tertawa lepas mendengar jeritan perut mereka yang meminta untuk di isi. Raihan mengambil telepon di atas nakas untuk memesan makanan, ia tak ingin calon ibu dari anak-anaknya kelaparan.


Sambil menunggu pesanan datang, Raihan mandi terlebih dahulu sedangkan Shasa mencari setelan pakaian yang tepat untuk digunakan. Saat sudah menentukan untuk memakai apa, Shasa menyelipkan holster paha beserta dua pistol dan beberapa pisau kedalam pakaian gantinya.


Holster paha: Semacam tempat untuk menyimpan pistol dan senjata lainya yang dipakai di paha.


#Tidak paham silahkan website sendiri

__ADS_1


__ADS_2